GADIS BERGAUN MERAH

GADIS BERGAUN MERAH
BAB 114. GODAAN ISTRI NAKAL


“Reza! Apa yang Arimbi lakukan saat kamu menemukan Arimbi di Rafaldi Group?”


“Entahlah. Dia berada dilantai atas tempat ayahmu bekerja.” jawab Reza.


Mata Amanda langsung berkedut. “Aku tahu. Sandra sudah bilang padaku. Sekarang Arimbi berada dibawah pengawasan ayahku. Ayah malah menjadikannya asistennya. Ayah ingin melatihnya untuk menggantikan posisiki. Dulu aku banting tulang bekerja dari nol tapi sekarang dia malah langsung dilatih ayahku . Enak sekali ya menjadi anak kandung?”


Kata-kata Amanda penuh kebencian terhadap Arimbi. ‘Mengapa bukan aku yang menjadi anak kandung Keluarga Rafaldi? Aku tidak ingin kehilangan segalanya. Aku telah bekerja keras untuk menjadi ahli waris yang sah. Disaat aku akan mengambil alih perusahaan, mereka malah menemukan si anak kandung. Sekarang Arimbi benar-benar mengancam statusku!’ bisiknya didalam hati.


“Jangan khawatir Amanda. Aku akan berusaha sebaik mungkin untuk menjadikanmu Direktur Rafaldi Group! Kamu jauh lebih unggul dari Arimbi. Meskipun dia dilatih langsung oleh ayahmu, dia tidak akan bisa menjadi kupu-kupu jika dia gagal bermetamorfosis.” ucap Reza untuk menenangkan Amanda. Bagaimanapun dia masih membutuhkan Amanda untuk berada disisinya dan mendukungnya.


“Saat Tuan Rafaldi tahu bahwa Arimbi hanya orang biasa tak punya keahlian apapun, dia akan menyerah dan menyerahkan perusahaan padamu. Sekarang kamu harus makin mendesak Arimbi dan jangan biarkan dia berkutik. Jangan biarkan dia dekat dengan pihak eksekutif perusahaan.”


“Ya, aku mengerti.”


Amanda jauh lebih licik daripada Reza, dia tidak akan membiarkan Arimbi naik jabatan dengan mudah. Amanda menderita dalam genggaman Arimbi karena Amanda ceroboh dan tidak mengira jika Arimbi bisa berubah secepat itu.


Setelah menenangkan dirinya, Amanda tidak akan lagi menghadapi Arimbi secara langsung. Karena kedua orangtuanya masih hidup, mereka pasti berpihak pada Arimbi si anak kandung dan itu akan merugikan Amanda. Aman akan tersingkirkan jika dia terus melawan Arimbi.


Sekarang saja Mosha sudah tidak berpihak pada Amanda dan secara terang-terangan menunjukkan sikapnya yang berpihak pada Arimbi.


“Amanda, aku belum makan dan aku merasa lapar. Bisakah kamu membelikan aku makanan?” rengek Reza yang menggosok perutnya.


“Baiklah. Aku akan pergi beli makanan untukmu. Kamu berbaringlah dan istirahat. Aku akan segera kembali.” Amanda menghampirinya dan mencium pipinya.


Reza mengangguk, lalu dia menatap Amanda yang pergi. Setelah wanita itu keluar dari ruang rawatnya Reza tersenyum angkuh. ‘Aku pasti akan menikahi Arimbi Rafaldi! Aku juga akan mengikat Amanda. Sebentar lagi kedua putri Rafaldi akan menjadi milikku! Aku bisa menikmati harem!’


‘Tetapi sikap Arimbi padaku semakin dingin dan acuh. Padahal aku sudah menggunakan semua siasat tapi dia masih tidak tergoyahkan. Apa yang harus kulakukan agar Arimbi menikahiku dengan sukarela dan tanpa perlu aku paksa?’


Tiba-tiba Reza ingat sesuatu, ‘Besok malam adalah ulang tahun Zivanna. Pasti Amanda dan Arimbi akan datang ke pesta ulang tahun itu. Ah, aku punya ide bagus. Aku akan menjebak Arimbi di acara besok dan aku akan memanfaatkan Amanda untuk menjebak Arimbi.’


Senyum licik muncul diwajah Reza yang sedang memikirkan rencana yang sangat baik. Dia pikir besok di acara ulang tahun Zivanna adalah waktu yang tepat untuk menjalankan rencananya. Kali ini dia akan memantapkan siasatnya dan dia sangat yakin kalau kali ini rencananya tidak akan gagal. Reza pun senyum-senyum sendiri membayangkan rencana jahatnya.


Sedangkan Arimbi tidak tahu kalau Reza memiliki rencana jahat untuk menjebaknya. Saat ini dia sedang berbahagia menemani Emir makan di The Palm Bliss Hotel.


Setelah selesai makan, Agha meninggalkan presidential suite untuk memberikan waktu pada pasangan suami istri itu. Saat Emir melihat betapa bahagianya istrinya, tatapannya menjadi lebih hangat.


Makanannya jadi lebih enak saat dia makan bersamanya.


“Emir sayangku, kamu ingin istirahat?” tanya Arimbi tersenyum sambil mengedipkan satu matanya.


“Bantu aku.” ucap Emir serius. ‘Dasar istri nakal! Terus saja menggodaku! Apa dia tidak kapok setelah malam itu? Apa dia ingin aku menerkamnya lagi sekarang? Ah, waktunya tidak akan cukup, mana enak kalau tanggung?’ gumamnya didalam hati.


“Apa kamu masih sanggup sayang?” tanya Arimbi.


Emir terdiam. Namun dia masih melangkah maju. Melihat Emir masih ingin berjalan, Arimbi terus menopangnya hingga sampai ke kamar tidur. Keduanya basah bercucuran keringat saat dia menopang Emir menempelkan seluruh bobot tubuhnya di Arimbi.


Meskipun Arimbi sering berlatih dan ototnya lebih kuat dari wanita pada umumnya tapi dia tetap kelelahan dan terengah-engah. Saat mereka sampai di ranjang, dia tidak tahan lagi dan langsung jatuh ke ranjang besar itu bersama Emir.


Keduanya berbaring menatap langit-langit kamar tanpa berkata-kata. Setelah beberapa menit, Arimbi membalikkan tubuhnya menghadap Emir yang terbaring disebelahnya. Melihat Emir dalam posisi itu, membuat Arimbi ingin menggodanya.


Dia kan suamiku aku bisa menggodanya kapan pun aku mau, pikirnya. Arimbi pun mulai melakukan pergerakannya. Tangannya yang lembut dia letakkan diwajah Emir dan membelainya dengan lembut.


“Emir sayang, kamu ini seorang pria tapi kultimu mulus sekali. Kulitmu lebih halus dari kulitku.”


Emir tidak mengatakan apapun, dia hanya memandangnya dengan tatapan kosong. Saat Arimbi menatapnya dia merasa masuk kedalam pusaran air lalu terhanyut kedalamnya tak bisa keluar lagi dari pusaran itu. Tak peduli seberapa kerasnya dia berusaha untuk keluar.


Dia serasa terhipnotis oleh pesona mata pria itu. Perlahan dia menundukkan kepala dan mendekat hingga dia bertemu dengan bibirnya. Bibir dinginnya, Arimbi sangat ingin menghangatkan bibir itu. Ciuman Arimbi lembut dan bergairah membuat Emir melemah, hasrat yang tadi sudah teredam kini bangkit kembali membuat Emir merasa sakit kepala.


Dia ingin memimpin dan menguasai ciuman itu tetapi Arimbi bangun dari ranjang saat Emir ingin memimpin permainan siang ini.


“Emir, kamu ini seperti papan kayu. Meski aku sudah mendorong tapi kamu tidak akan bergerak. Menciummu sama saja seperti mencium mayat!” ucap Arimbi.


“Kamu menyalahkanku karena tidak romantis setelah memanfaatkanku?” ujar Emir tak senang.


Arimbi tertawa kecil, “Hehe, ya kamu memang tidak romantis. Coba tunjukkan padaku betapa romantisnya dirimu.” Setelah mengatakan itu Arimbi mencubit gemas Emir. Dia tidak mencubitnya keras karena tidak mau menyakitinya.


“Kamu harus melatih kakimu, sayang. Lihatlah dirimu berjalan beberapa meter sudah basah kuyup.


Arimbi mengambil tisu lalu menyeka keringat diwajahnya. “Jika kakimu berfungsi, kamu boleh menindihku saat aku bilang kamu tidak romantis. Gunakan tindakan untuk menunjukkan bahwa kamu itu pria romantis.”


“Arimbi! Kamu memang tidak tahu malu. Tidak ada yang bisa menyaingimu soal itu.” ucap Emir.


“Hah! Aku pikir juga begitu. Emir apakah ada penghargaan untuk orang paling tidak tahu malu? Aku bisa mencetak rekor baru.” ujar Arimbi mengelus wajahnya lalu mencium pipinya.


Sekali lagi Emir merasa kesal. Setelah melepas sepatunya, Arimbi naik keatas ranjang. Emir memelototinya. Arimbi memeganginya dan menyeretnya naik ke ranjang. Emir tak mengatakan apapun lagi, hanya diam dan membiarkan Arimbi.


‘Huh! Rasanya seperti anjing saat dia menyeretku seperti ini!’ gerutunya didalam hati. ‘Aku tidak suka. Semua ini karena kakiku!’


Kakinya terasa agak nyeri setelah berjalan sedikit dari ruang makan ke kamar tidur. Kata dokter itu bagus, sakit berarti Emir tak sepenuhnya lumpuh. Dia bisa berdiri lagi kalau dia terus melakukan terapi. Setelah menarik Emir keatas tempat tidur, Arimbi membantu melepaskan sepatunya lalu berbaring disampingnya dan merangkulnya. “Emir, ayo kita tidur. Aku mengantuk.”