GADIS BERGAUN MERAH

GADIS BERGAUN MERAH
BAB 262. SYARAT DARI ZIVANNA


Di kediaman Kanchana, setelah selesai makan malam tampak sepasang suami istri Harry Kanchana dan istrinya Yessi sedang duduk bersantai diruang keluarga sambil menonton TV.


“Apa sudah ada kabar selanjutnya dari keluarga Zimena?” Harry pada istrinya.


“Belum. Mereka hanya menunggu kabar dari kita. Kata Reza, Keluarga Zimena menunggu keputusan kita agar secepatnya menentukan tanggal pernikahan.”


“Sebaiknya dilakukan secepatnya. Keadaan perusahaan semakin kacau.” ucap Harry dengan suara cemas. Semakin hari dia kehilangan banyak uang karena masalah beruntun yang menimpa perusahaannya.


“Saat Reza pulang nanti, tanyakan bagaimana hasilnya.”


“Dia pergi kerumah Keluarga Lavani bersama Ruby untuk meminta maaf.” ujar Yessi.


“Memang itu yang seharusnya dilakukan sejak awal. Bagaimana pun kita akan membutuhkan dukungan dari mereka nanti.”


“Tapi…..”


“Ada apa lagi? Kamu masih mau bilang kalau kamu tidak menyukai Ruby?”


“Dia bukan gadis yang selevel dengan kita! Akhh semua ini gara-gara Arimbi! Semuanya menjadi kacau, keluarga kita kacau!” kesal Yessi yang masih saja terus menyalahkan Arimbi.


“Itu kesalahan Reza sendiri! Andai dia tidak melakukan hal memalukan itu, apa keluarga kita akan berada disituasi ini?” ujar Harry yang tak senang mendengar perkataan istrinya.


“Jangan menyalahkan Reza terus menerus! Dia jadi seperti itu karena ulah Arimbi! Jika bukan karena perempuan itu, Reza tidak akan bertindak segila itu!”


“Sudahlah! Semua sudah terjadi, sekarang yang terpenting adalah segera menemui keluarga Zimena untuk melamar dan membicarakan pernikahan. Semakin cepat semakin baik!”


Saat Harry baru menyelesaikan perkataannya, Reza kebetulan baru saja memasuki rumah dan berjalan kearah ruang keluarga. Melihat kedatangan putranya, wajah Yessi langsung bersinar dan berkata.


“Reza, kamu sudah makan? Ayah dan ibu sudah makan duluan. Aku akan meminta pelayan menyiapkan makan malam untukmu.”


“Bu, tidak perlu. Aku dan Ruby sudah makan malam tadi sebelum mengantarnya pulang.”


“Bagaimana hasilnya?” tanya Harry yang tak sabar ingin mendengar apakah Reza berhasil mendapatkan maaf dari Zivanna atau tidak.


“Bagus. Ruby sudah berbicara dengan Nona Zivanna dan menyampaikan permintaan maafku.”


“Apa? Anak bodoh! Aku sudah bilang untuk meminta maaf langsung! Kenapa kamu malah meminta Nona Ruby untuk meminta maaf mewakilimu, hah?” emosi Harry meledak setelah mendengar perkataan anaknya. Satu tangannya memijit pelipisnya. “Tadi kamu bilang pergi ke kediaman Lavani bersama Ruby untuk meminta maaf.”


“Iya ayah….kami memang pergi kesana. Tapi saat hampir tiba disana mobil mogok, karena aku tidak mau Ruby menunggu lama apalagi kami sudah berjanji dengan Nona Zivanna. Makanya Ruby pergi menemui Nona Zivanna setelah aku memesankan taksi untuknya.”


“Tidak mungkin aku meninggalkan mobil di pinggir jalan, ayah! Aku menelepon servis dan menunggu sampai mereka datang dan memperbaiki mobilku. Bukankah hasilnya sama saja? Ruby adalah calon istriku dan dia tidak keberatan untuk mewakiliku meminta maaf pada Nona Zivanna.”


“Reza! Sampai kapan kamu mau bersikap sebodoh ini hah? Aku mau kamu meminta maaf langsung pada Nona Zivanna! Bukan Ruby! Keluarga Lavani bukan keluarga yang bisa kamu bertindak seenaknya. Meskipun Ruby adalah kerabat mereka tapi kamu bukan siapa-siapa! Sudah berulang kali aku mengatakan padamu agar bertindak yang benar!”


“Aku tidak mau dengar! Kamu harus pergi menemui Nona Zivanna besok dan meminta maaf lagi padanya. Atau kamu ingin keluarga ini dan perusahaan hancur?” teriak Harry murka.


“Suamiku, aku rasa kamu terlalu berlebihan. Ruby adalah sepupu Nona Zivanna dan dia meminta maaf atas nama Reza. Mana mungkin Nona Zivanna ataupun keluarga Lavani tidak memaafkan Reza? Mereka akan segera menikah! Dan menjadi bagian dari keluarga mereka juga kan?”


“Kalian berdua ini yang selalu membuat masalah dan mengacaukan semuanya! Reza! Apa kamu masih mau menjadi pewaris PT. Kanchana Semesta atau tidak? Sepupu-sepupumua saat ini sedang mengincar posisi sebagai pewaris tapi jika sampai perusahaan bangkrut maka kalian harus siap kehilangan semuanya!”


“Ayah, kita tidak akan kehilangan apa-apa. Aku berjanji akan mengembalikan keadaan perusahaan seperti semula dan bahkan akan lebih baik lagi. Tadi Ruby sudah mengatakan padaku bahwa Nona Zivanna memaafkanku tapi dengan satu syarat.”


“Huh! Aku sudah bisa menebak itu! Mereka itu keluarga yang licik dan akan menggunakan berbagai cara untuk menekan! Apa syarat yang dia minta?”


Nona Zivanna meminta agar pernikahan dilaksanakan secepat mungkin. Aku rasa kita bisa melakukan pernikahan dua minggu lagi?”


“Apa kamu bilang? Dua minggu lagi?” ujar Harry.


“Tidak masalah. Kita toh tidak perlu mempersiapkan pernikahan mewah. Masih syukur Reza mau bertanggung jawab dan menikahi Ruby!” ujar Yessi.


“Meskipun keluarga Zimena itu jauh dibawah kita tapi mereka adalah kerabat dari Keluarga Lavani. Jadi jangan menganggap sepele masalah ini. Aku setuju jika pernikahan dilaksanakan secepatnya. Kalau Nona Lavani sudah memaafkan Reza maka keluarga Lavani pun sudah memaafkan juga.”


...*****...


Keesokan harinya Amanda dan Arimbi akan pergi bersama ke PT. Libra Elektroindo yang terletak di zona industri teratas di Metro dan jauh dari kota. Sandra mengemudi selama setengah jam sebelum akhirnya tiba disana. Ada banyak perusahaan di kawasan industri ini. Setelah mereka sampai disana dan masuk kedalam ruang kantor perusahaan itu.


Sekretaris dari manajer umum meminta mereka untuk duduk dan menunggu sebentar sembari dia menghubungi Manajer Umum. Beberapa menit kemudian, “Selamat pagi Tuan Jordan.”


Amanda membawa Arimbi dan Sandra kekantor manajer umum.


Dia dengan sengaja mengambil langkah lebih besar sehingga dia bisa meninggalkan Arimbi dan Sandra dibelakangnya. Dia ingin menciptakan kesan bahwa dialah pemimpinnya. Dan nyatanya memang terlihat seperti itu. Arimbi hadir hanya untuk menimba ilmu dan pengalaman dalam bidang bisnis.


Dia tetap bersikap tenang karena dalam pertemuan sebelumnya dengan Tuan Jordan, pria itu sudah mengatakan pada Arimbi bahwa dia akan menandatangani kontrak dengan perusahaan mereka.


“Selamat pagi wakil direktur Rafaldi. Selamat pagi Arimbi…..senang bertemu lagi.” ujar Jordan sambil berjalan mengitari meja kerjanya untuk menyambut mereka bertiga.


Dia menjabat tangan Amanda pertama kali lalu Arimbi dan Sandra. Mereka bertiga duduk di sofa yang ada di area santai. Setelah saling menyapa percakapan pun secara alami beralih ke topik kerja sama mereka. Amanda yang terlebih dulu mengajukan penawaran kepada Jordan sangat yakin kalau dia yang akan mendapatkan peluang kontrak itu.


Sementara Arimbi hanya diam dan duduk tenang. Sandra yang berada disamping Amanda tersenyum penuh kemenangan. Dia melihat Arimbi dan tersenyum sinis, gadis udik itu tidak akan mendapatkan kontrak kerjasama ini pikirnya. Dia selalu menjilat Amanda karena Amanda adalah pewaris Rafaldi Group pada awalnya sebelum kemunculan Arimbi.


Sesekali tampak Jordan melihat kearah Arimbi yang terlihat sangat tenang. Amanda yang sadar jika Jordan sesekali melirik Arimbi pun tersenyum didalam hatinya bahwa rencana yang telah dia buat akan berhasil.


Dia senang kalau Jordan menyukai Arimbi dan mendekatinya. Tapi Amanda juga merasa kesal karena setiap lelaki selalu menyukai Arimbi ketimbang dirinya.