
Dan semua jepit rambut itu sangatlah indah serta ada beberapa jepit rambut bertahtakan berlian. Emir mengambil jepit rambut dan menggunakan tangannya sendiri menyisir rambut panjang Arimbi lalu membantunya memasang jepit rambutnya. Emir menyodorkan jepitan rambut lainnya padanya dan berkata dengan tenang, “Letakkan di meja riasmu dan gunakan mana saja yang kamu suka.”
“Terima kasih Emir.” jawab Arimbi.
Emir meliriknya dengan instens lalu berdiri dan berkata dengan acuh tak acuh. “Aku mau makan malam sendiri.” sambil mengatakan itu,dia berjalan sambil berpegangan pada sofa dan menolak bantuan Beni. Ketika tidak ada yang bisa dipegangnya, dia berjalan sendiri.
Namun dia belum sepenuhnya pulih, dan dia tidak bisa berjalan sendiri ke pintu masuk. Saat dia berjalan, dia jatuh ke lantai setelah kehilangan kekuatan di kakinya.
“Tuan Muda Emir!”
“Emir!”
Beni dan Arimbi berlari untuk membantu menopangnya secara bersamaan. Tetapi Emir mendorong mereka berdua dengan wajah cemberut dan bangkit sendiri lalu mulai berjalan lagi.
Tapi sayangnya, dia hanya mampu mengambil dua langkah lalu jatuh ke lantai lagi. Ketika Beni pergi untukmembantunya, dia berkata dengan dingin, “Aku tidak butuh bantuanmu! Aku bisa pergi sendiri bahkan jika aku harus merangkak keluar!”
“Tuan Muda Emir!” Beni merasa hatinya sangat sakit.
Sedangkan Arimbi berdiri dan memperhatikannya mengambil napas lalu bangkit dan terus berjalan hanya untuk jatuh lagi dan bangun lagi berulang kali. Setelah melihat hal yang sama terjadi berulang kali, Arimbi merasa hatinya sangat hancur saat melihatnya jatuh lagi ke tanah.
Dengan kecepatan kilat Arimbi membantunya berdiri, tetapi dia kehilangan keseimbangannya dan mereka berdua jatuh ketanah bersama-sama dengan Emir berada diatas Arimbi dan menekan seluruh berat badanya pada tubuh Arimbi. Wanita itu merasa seperti sedang tertimpa gunung dan kepalanya membentur ke tanah dengan keras.
“Tuan Muda Emir! Nyonya Muda Arimbi!” teriak Beni terkejut.
“Arimbi!”
Ketika Emir menyadari bahwa dia sedang meremukkan wanita dibawahnya, dengan cepat dia menopang dirinya dan duduk disebelahnya lalu membantunya berdiri. Dia mengusapkan telapak tangannya yang besar dibelakang kepala Arimbi.
Wajahnya yang gagah penuh kecemasan saat dia bertanya dengan nada sedih, “Arimbi, apakah itu sakit?”
Saat terjatuh, Arimbi merasa penglihatannya berputar karena kepalanya terbentur ke tanah dan butuh beberapa saat untuk pulih. Melihat wajahnya yang cemas, Arimbi memeluknya dengan erat dan berkata dengan nada sedih.
“Emir jangan menyiksa dirimu seperti ini oke? Jika kamu marah padaku, luapkan saja kemarahanmu padaku. Bahkan jika kamu memukulku dan memarahiku, aku tidak akan melawanmu. Jadi aku mohon, jangan menyiksa dirimu sendiri.”
Tubuh Emir menegang. Melihat pasangan itu, Beni hanya bisa menghela napas dalam hati pada pertengkaran kekasih itu lalu dia secara diam-diam melangkah mundur.
“Tidak ada apa-ada antara aku dan Dion! Jika pun ada, aku memiliki seorang putri bersamanya didalam mimpiku….”
“Arimbi! Kamu istriku!”
“Iya….iya...Emir. Aku ini istrimu. Aku mengatakan itu adalah mimpi. Aku tidak ada hubungan apapun dengan Dion Harimurti! Tidak dulu, sekarang bahkan dimasa depan!”
Arimbi menghela napas sejenak lalu melanjutkan, “Jadi setelah melihatku, dia mulai bertanya kepadaku apakah aku melahirkan seorang putra atau putri dan menanyaiku dimana aku menyembunyikan bayi itu…..sejak kapan aku punya anak? Tapi dia tidak percaya padaku lalu meminta dokter untuk melakukan pemeriksaan padaku dan dokterbilang bahwa aku masih perawan. Tidak mungkin aku memiliki anak, jadi dia tidak menggangguku lagi.”
Emir mengerutkan keningnya dalam pemikiran yang dalam. “Dia juga memimpikannya?” mengapa hal aneh itu terjadi pada dirinya dan Dion secara bersamaan? Dia terus-menerus diganggu sebuah mimpi, begitu pula dengan Dion.
Arimbi pun terkejut dan bertanya, “Juga? Apakah dia juga sering bermimpi?”
“Apakah kamu punya anak perempuan dengan Dioan?” tanya Emir.
“Emir, itu hanya mimpi yang berliku-liku dan aneh yang kualami. Itu tidak nyata. Aku masih gadis lugu dan aku bahkan belum pernah mencicipi laki-laki sebelumnya. Apalagi punya bayi? Baru kamulah laki-laki pertama yang kucicipi dan semoga aku bisa punya bayimu!”
Emir menegurnya, “Kamu masih tidak tahu malu seperti biasanya.”
Wajah Arimbi memerah, “Lagian, aku kan mengatakan yang sebenarnya. Kamu pria pertama yang menyentuhku. Yang mencuri ciuman pertamaku dan mengambil kesucianku.”
“Cih! Bukankah kamu yang menerkamku duluan? Dasar tidak tahu malu!” balas Emir lagi.
Emir dengan lembut menyentuh wajahnya dan berkata dengan suara rendah, “Dion dan aku saling kenal sejak kami masih kecil. Kami sudah bertengkar sejak kami masih muda karena dia selalu ingin berkelahi denganku. Aku sangat mengenalnya. Dia memiliki kepribadian yang keras kepala. Dan jika dia menginginkan sesuatu maka dia akan melakukan apa saja untuk mendapatkannya.”
Sama seperti bagaimana Dion berjuang dan selalu kalah dari Emir selama dua puluh tahun. Dion masih tidak menyerah juga dan mencari setiap kesempatan untuk menenggelamkannya ke tanah.
“Dia juga pernah menjalani operasi kepala sebelumnya. Jadi dia mungkin curiga bahwa mipi yang dia alami itu benar. Tetapi dia mengalami amnesia dan lupa sebagian ingatannya.”
“Bahkan jika dia meminta dokter untuk memeriksa tubuhmu, dia pasti masih berpikir kamu berbohong tentang semuanya padanya dan mengira kalau mimpinya berasal dari ingatannya yang hilang itu.”
Arimbi tercengang. Emir memang mengenal Dion dengan baik karena itulah yang dia pikirkan.
Jari-jarinya masih menyentuh wajah Arimbi dengan lembut saat suaranya yang rendah kembali terdengar.
“Jika dia mengira kamu telah melahirkan anaknya, perlahan dia akan menjebakmu dan kemudian memaksamu untuk menyerahkan anak itu padanya. Jika kamu tidak memberikan apapun padanya, dia akan membuatmu memilikinya bersamanya.”
Arimbi berkata, “Tapi aku tidak menyukainya. Kenapa aku harus punya anak dengannya?”
Emir malah mencibir, “Dia akan melakukan segala cara yang diperlukan untuk mendapatkan apa yang dia inginkan. Jika kamu tidak datang kepadaku dan memintaku menikahimu, maka kamu sekarang pasti telah terpenjara disisinya dan dipaksa untuk melahirkan anaknya sekarang.”
Arimbi terpelongo mendengar perkataan Emir. Apakah Dion akan memaksakan dirinya pada seorang wanita? Kedengarannya sangat mengerikan!
“Dia tidak tertarik pada wanita lain tetapi dia pasti akan mendapatkan wanita yang dia sukai. Bahkan jika dia harus memaksakan diri pada mereka. Jadi….” Emir berkata pelan ditelinga Arimbi. “Jauhi Dion. Aku tidak mau diselingkuhi. Selain itu blokir nomor teleponnya dan berhenti menjawab panggilannya.”