GADIS BERGAUN MERAH

GADIS BERGAUN MERAH
BAB 286. TUKANG TIDUR


Keesokan harinya Arimbi masih tidur pulas saat Emir bangun. ‘Apa-apaan wanita ini? Kenapa semakin hari dia semakin malas? Kerjanya tidur saja. Pantang tergeletak langsung pulas. Ini sudah jam segini juga belum bangun?’ Tiba-tiba dia mendapatkan ide untuk mengusili Arimbi.


Emir menurunkan selimut yang menutupi tubuh Arimbi. Wanita itu tidur telentang sehingga memudahkan Emir melakukan aksinya. Dia membuka kancing piyama Arimbi satu persatu, tapi wanita itu seperti tidak terpengaruh. Sepertinya dia sudah berada di planet lain saat Emir melucuti pakaiannya.


Udara dingin dari AC yang sama sekali tidak mempengaruhinya. Saat Emir menatap tubuh mulus itu, dia menahan salivanya. Perlahan dia memulai aksinya di bagian dada, dia membuat satu tanda disana lalu melirik Arimbi yang masih pulas. Melihat istrinya seperti tidak terganggu sama sekali, Emir dengan cepat membuat tanda di sekujur tubuh Arimbi.


Lehernya dipenuhi tanda sampai ke bagian dada dan lengannya. Emir mengeryitkan dahinya saat melihat wanita itu tak bergeming. Dia menepuk-nepuk pipinya karena cemas jika Arimbi kenapa-napa.


“Ehm…….” suara lenguhan terdengar lirih saat Emir kembali menepuk-nepuk pipinya.


“Arimbi…..Arimbi bangun! Hei, cepat bangun! Kamu sudah terlambat ke kantor.”


Dia bergerak sedikit lalu tertidur kembali, merasa usahanya membangunkan wanita itu sia-sia. Lantas Emir mencium bibir Arimbi sampai wanita itu sulit bernapas lalu membuka matanya, “Eghh…...Ahhh….ahh…..kenapa kamu mau membunuhku?”


“Dasar tukang tidur! Ayo bangun! Aku bangunkan dari tadi, kamu tidur seperti kerbau saja!”


Arimbi memasang wajah cemberut dan mengerucutkan bibirnya. “Emir, aku masih mengantuk. Biarkan aku tidur beberapa menit lagi.” ucap Arimbi dengan suara lirih dan mata terpejam.


“Tidurlah! Jangan salahkan aku kalau kamu terlambat ke kantor!” ujar Emir menggeser tubuhnya.


“Hah? Kantor? Ini sudah jam berapa?” Arimbi terduduk skaing terkejut.


“Jam enam lewat dua puluh menit.” jawab Emir datar.


“Ahhh….rasanya aku mau tidur sepanjang hari. Aku mengantuk sekali!”


“Apa kamu mau ambil cuti lagi? Kemarin kamu sudah pulang lebih awal, apa kamu yakin?”


Arimbi terdiam sejenak lalu menggelengkan kepala. “Kalau aku tidak bekerja maka Amanda akan mudah memprovokasi semua karyawan untuk menyulitkanku.” Arimbi langsung berdiri dari ranjang dan hendak pergi ke ruang pakaian.


“Mau kemana?”


“Aku mau siap-siap ke kantor. Aku mau menyiapkan pakaian untukmu dan untukku juga.”


“Oh….”


“Begitu saja? Emir, kamu ini benar-benar tidak romantis.” ujarnya sambil berlalu. Saat dia berdiri didepan lemari yang bersebelahan dengan kaca besar dia baru sadar kalau dari tadi dia hanya memakai pakaian dalam saja. Lalu dia melihat sekujur tubuhnya yang penuh dengan tanda.


“EEMMMIIIIRRRRRRR!” suara teriakannya menggelegar. Untungnya kamar itu kedap suara jika tidak, suara teriakannya akan terdengar sampai ke rumah utama dan membangunkan nenek Serkan.


Emir sampai menutup kedua telinganya mendengar teriakan itu.


“Arimbi! Ada apa? Kecilkan suaramu…..!” ujar Emir. Dari arah ruang pakaian muncul Arimbi dengan tatapan menghunjam menatap Emir dengan napasnya yang menderu.


“Apa kamu segairah itu? Aku akan menuntutmu karena pelecehan! Emir, kamu benar-benar tidak tahu malu! Lihat semua ini, ya ampun! Bagaimana bisa aku keluar dengan semua tanda ini?” bibirnya mengerucut dengan wajah menunduk memperhatikan sekujur tubuhnya yang penuh tanda.


“Hah? Kemarilah. Jangan menangis.” bujuknya melihat istri nakalnya itu menangis. Hatinya jadi tak tega untuk mengerjainya kembali. “Arimbi kenapa malah menyalahkanku? Tadi malam kamu yang langsung tidur! Kamu lupa kebiasaan tiap malam, iyakan?”


“Hu...hu….hu…..kenapa kamu enak-enak sendiri?” isaknya.”Tidak adil! Aku mau menuntutmu!”


Pletak! Emir menyentil dahinya, “Jadi kamu menangis karena itu? Kamu bahkan menuduhku melakukan pelecehan? Aku ini suamimu, itu bukan pelecehan. Wajar aku melakukannya dengan istriku. Untung tidak dengan orang lain.”


“Emir, awas saja kamu kalau sampai berani melirik perempuan lain! Aku akan mengambil semua uangmu dan hartamu lalu aku akan pergi bersama anakku menghabiskannya.”


“Apa sekarang kamu mengancamku? Bagaimana kalau aku menelepon ayah dan mengatakan padanya kalau kamu tidak akan bekerja lagi karena sedang hamil.”


“Hah? Tidak...tidak….tidak…..jangan begitu! Kamu yang salah kenapa jadi aku yang menanggung? Emir, kamu menjebakku lagi, iyakan?” Arimbi tak mau kalah. Bagaimanapun suaminya itu tidak boleh menang.


Dia langsung duduk diatas pangkuan Emir lalu melingkarkan kedua lengannya dilehernya. Dia mencium Emir dengan ganas lalu membuat beberapa tanda dilehernya.


“Itu hukumanmu!” ucap Arimbi.


“Aku mau dihukum olehmu setiap hari.” ucap Emir tersenyum. “Kenapa tidak sekalian buat tanda di bibir, terus disini.” ucap Emir menunjukkan kebagian rahangnya. “Kamu sengaja kan melakukan ini supaya orang berpikir aku sudah mempunyai kekasih rahasia?”


Tanpa mempedulikan perkataan Emir, wanita itu tersenyum. Ternyata suaminya malah memberikan ide padanya. Arimbi langsung mencium kembali bibir Emir dan tak berhenti sampai bibir itu agak bengkak dan dia menggigit bibir bawah Emir.


Membuat tanda di bagian rahangnya, setelah puas barulah Arimbi melepaskannya dan langsung berdiri. “Begitu lebih bagus! Terimakasih sudah memberiku ide ya sayang.” ucapnya lalu bergegas setengah berlari menuju ke kamar mandi.


Melihatnya yang berlari, Emir hendak memarahinya tetapi Arimbi sudah menghilang dibalik pintu kamar mandi.


Keduanya kini sudah berada di pavilliun. Saat Beni dan yang lainnya melihat ada yang berbeda pada Emir tapi tak ada seorang pun yang berani mengatakannya. Bibir pria itu bengkak dan terluka. Sudah bisa dipastikan betapa ganasnya Nyonya Muda-nya.


Sementara itu  di rumah utama terjadi kehebohan pagi ini. Rania ibunya Emir terlihat marah-marah setelah membaca berita viral. Suaminya hanya diam saja tak menanggapi. “Suamiku, kenapa kamu diam saja dari tadi? Arimbi sudah mempermalukan keluarga ini! Coba kamu lihat betapa arogannya dia bicara pada Nona Zivanna.”


“Sudahlah! Lagipula berdasarkan laporan dia memang tidak bersalah. Sebaiknya kamu menahan diri dan jangan mengatakan sepatah katapun pada Arimbi! Mungkin memang Nona Zivanna sengaja menjebaknya.” ucap Alarik Serkan.


“Dia sudah berani mempermalukan Nona Zivanna! Selama ini keluarga kita tidak pernah ada masalah dengan keluarga itu. Nona Zivanna juga mempunyai hubungan baik dengan keluarga kita selama ini.”


“Rania, berhentilah ikut campur urusan mereka! Kenapa sepertinya kamu selalu membela Nona Zivanna? Apa kamu sudah membacar seluruh berita itu? Memang bukan Arimbi yang melakukan itu.”


“Mana bisa begitu? Coba lihat berita viral ini, Nona Zivanna dipermalukan di toko perhiasan. Apa yang dilakukan Arimbi di toko perhiasan?”


“Ck! Mau apalagi kalau bukan beli perhiasan? Memangnya mau beli pisang goreng ke toko perhiasan?” ucap Alarik suaminya dengan sekenanya. “Makanya baca beritanya yang benar! Tonton videonya dari awal sampai selesai! Yang ada Nona Zivanna yang ingin menjebak Arimbi.”


“Kenapa kamu sepertinya membela Arimbi? Apa kamu menerima dia sebagai menantumu? Aku tak sudi! Sampai kapanpun wanita itu tidak layak!”


“Sudahlah! Jangan menambah masalah. Bagaimanapun dia dan Emir sudah menikah!” ujar Alarik yang pusing mendengar omelan istrinya pagi-pagi. “Ayo. Ibu pasti sudah menunggu kita sarapan.”