
“Selamat pagi Tuan, Nyonya….didepan ada Nona Amanda.”
“Apa? Amanda? Mau apa lagi dia datang kesini?” tanya Mosha pada pelayan itu.
“Katanya mau bertemu Tuan dan Nyonya.” jawab pelayan itu. "Tadi penjaga didepan sudah mengusirnya tapi Nona Amanda keukeh mau bertemu."
“Ya sudah suruh saja dia masuk dan suruh tunggu sampai kami selesai sarapan.” ujar Mosha seolah enggan untuk bertemu Amanda.
Tapi karena melihat tatapan suaminya yang memberinya kode, dia pun mengatakan itu pada pelayan. Dengan sengaja sepasang suami istri berlama-lama diruang makan dan berbicara.
“Menurutmu, mu apalagi anak itu datang kesini?” tanya Yadid pada istrinya. "Setelah apa yang terjadi, kukira dia tidak akan berani lagi datang kesini."
“Mana aku tahu! Mungkin dia kehabisan uang makanya datang mencari kita. Memangnya alasan apa lagi yang bisa dia pakai?”
“Ayo kita temui dia.” kata Yadid. Keduanya pun berjalan menuj keruang tamu. Mereka melihat Amanda yang duduk sambil mengedarkan pandangannya keseluruh ruangan. Dia berjalan dari satu sudut ke sudut lainnya. Banyak yang berubah dirumah itu sejak dia pergi, interior rumah sepenuhnya diganti.
Kini rumah itu terlihat lebih ceria dan berwarna cerah, dan perabotan juga banyak yang sudah diganti, ‘Sepertinya mereka mengubah semuanya setelah aku pergi, wallpaper dan perabotan semuanya baru dan taman depan rumah juga sudah berubah. Didepan dijaga pengawal yang ta seorangpun kukenal.’ gumamnya didalam hati.
Tanpa Amanda sadari sepasang suami istri Yadid dan Mosha sudah duduk di sofa memperhatikan Amanda yang sepertinya larut dalam pikirannya
“Ehem……” Mosha berdeham membuyarka lamunan Amanda.
Dia pun langsung tersenyum berusaha bersikap tenang dan biasa saja. Namun Amanda bisa merasakan kalau sikap kedua orang itu sudah sepenuhya berubah. Tak ada kehangatan dibinar mata mereka.
Sepasang suami istri itu menatapnya tanpa ada kehangatan sedikitpun. Seola Amanda adalah orang luar yang tidak pernah ada kedekatan dengan mereka. Dan hal itu terasa menyakitkan bagi Amanda.
Selama lebih dua puluh tahun dia hidup bersama mereka dan menganggapnya sebagai orangtua kandungnya tapi kini mereka seperti orang lain saja. Kemana perginya kehangatan dan kasih sayang selama dua puluh tahun ini?
"Ayah! Ibu!" panggilnya. Tapi Amanda melihat Mosha yang langsung mendengus dan membuang wajahnya enggan menatap Amanda.
"Sepertinya kamu sudah lupa status dan hubungan yang ada diantara kita! Kamu bukan putriku lagi dan berhentilah memanggilku dan suamiku seolah kami ini orang tuamu! Apakah kamu paham?"
"Ma---maafkan aku."
"Ada apa kamu datang kesini menemui kami sepagi ini? Apa kamu sudah kehabisan uang?" tanya Yadid tanpa basa basi karena hanya alasan itu saja yang menurutnya bisa membawa Amanda kesana.
"Bukan. Bukan uang. Bisakah aku bekerja kembali di perusahaan? Sampai sekarang aku masih belum mendapatkan pekerjaan. Aku mohon, sekali ini saja! Aku butuh biaya untuk membesarkan anakku nanti." ujarnya memelas.
Amanda sudah kehilangan akal, sejak dia keluar dari rumah keluarga kandungnya, dia menyadari betapa besarnya biaya hidup yang harus ditanggungnya setiap bulannya.
Apalagi sampai sekarang dia masih belum mendapatkan pekerjaan. Sewa apartemen mewahnya pun tidak murah, dia sudah berkeliling mencari rumah sewa yang murah. Tapi tidak ada yang sesuai keinginannya.
Amanda yang sudah terbiasa hidup mewah selama ini merasa tak sanggup tinggal di apartemen murah. Hingga akhirnya dia memutuskan menyewa apartemen sesuai seleranya.
Tapi harga sewa apartemen itu sangat mahal sedangkan kondisi keuangannya tidak lagi seperti dulu. Saat mendengar permohonan Amanda, sepasang suami istri itu saling melempar pandangan dan tersenyum tipis.
"Ayah------ Maaf! Maksudku Tuan Rafaldi! Aku bisa bekerja di departemen mana saja. Aku tidak meminta posisiku sebelumnya karena aku sudah mendengar kabar kalau posisi itu sudah di isi orang lain." ucapnya dengan suara lirih.
"Aku mengatakan yang sebenarnya! Saat ini semua posisi manajerial diisi oleh orang-orang kepercayaan Emir, menantuku. Dan kuakui sejak orang-orang itu berada disana kondisi perusahaan semakin membaik dan berkembang."
"Bagaimana kalau kamu mencoba perusahaan lain. Jujur saja Amanda, jika kamu ingin kembali bekerja di perusahaan maka kamu harus mendapat ijin dan persetujuan dari Emir."
"Kenapa begitu? Bukankah Rafaldi Group adalah perusahaan milik keluarga Serkan? Bukankah Arimbi yang menjadi pewaris perusahaan?" tanya Amanda yang mulai merasa penasaran.
"Ya benar. Perusahaan memang milik dan terap akan menjadi milik keluarga Rafaldi. Tapi Emir Serkan adalah menantu kami dan dia ingin membantu mengembangkan perusahaan."
"Seperti kamu juga tahu kalau Arimbi sedang hamil dan Emir tidak mengijinkannya bekerja intuk sementara waktu. Oleh sebab itulah Emir menempatkan orang-orang kepercayaannya di perusahaan untuk membantu."
"Sudahlah Amanda! Kamu itu berpendidikan tinggi, bukankah mudah bagimu untuk mendapatkan pekerjaan? Banyak perusahaan diluar sana yang akan bersedia menerimanu." ucap Mosha.
Didalam hati sepasang suami istri itu ada keengganan untuk menerima Amanda. Apalagi setelah mengetahui betapa jahatnya wanita itu.
"Aku sudah banyak mengirimkan CV ku ke perusahaan rekanan Rafaldi Group yang mengenalku dengan baik. Tapi tidak ada yang mau menerimaku! Makanya aku datang kesini memohon pada kalian berdua untuk membantuku."
"Amanda! Sepertinya kamu masih belum mengerti juga. Semua keputusan ada ditangan Arimbi sebagai pewaris dari Rafaldi Group. Dan berhubung Emir adalah suaminya, Arimbi menyerahkan kewenangan penuh pada suaminya jika bersangkutan dengan perusahaan."
"Jadi jika kamu ingin bekerja lagi di Rafaldi Group maka kamu harus melewati proses seperti karyawan lainnya. Dan keputusan kamu diterima atau tidak sepenuhnya ada di tangan Emir."
********
Amanda berada dalam suasana hati yang sangat buruk setelah meninggalkan kediaman keluarga Rafaldi. Tadinya dia berpikir jika Yadid mungkin masih memberinya sedikit kesempatan mengingat prestasi kerjanya selama ini di perusahaan.
Tapi siapa yang menyangka jika Yadid bahkan bilang kalau Rafaldi Group sepenuhnya berada dibawah wewenang Emir.
'Sialan! Aku tidak mungkin lagi bisa masuk ke perusahaan itu kalau begini! Emir? Bisa-bisa aku ditelan hidup-hidup kalau sampai muncul dihadapannya.' gumam hatinya.
'Apa yang harus kulakukan sekarang? Saru-satunya harapanku sudah tidak mungkin lagi! Kalau aku sampai tidak bisa mendapatkan pekerjaan, bagaimana aku membiayai hidupku?'
Amanda melakukan mobilnya tanpa tujuan hingga tanpa dia sadari dia berada di depan gerbang kediaman Serkan. Saat dia menatap gerbang itu, muncul rasa penasarannya.
Sudah lama dia tidak mendengar kabar Arimbi. Dia pun menurunkan kaca mobilnya saat seorang pria bertubuh tinggi kekar keluar dari pis keamanan dan menghampiri mobil Amanda.
"Maaf nona! Tolong pinggirkan mobil anda. Ini kawasan pribadi." ucap pengawal itu tanpa memandang Amanda.
"Oh maaf. Saya saudaranya Arimbi. Apakah Arimbi ada dirumah sekarang?" tanya Amanda dengan asal.
"Maaf nona, Nyonya sedang pergi ke luar negeri bersama Tuan Besar."