GADIS BERGAUN MERAH

GADIS BERGAUN MERAH
BAB 165. KEMARAHAN NENEK


Sementara itu di rumah utama, Nenek Layla Serkan memasang ekspresi kecewa setelah mendengar laporan dari Yaya kepala pelayan kepercayaannya.


“Apakah benar Arimbi meletakkan kepalanya dipangkuan Emir?” tanya Layla mengulang.


“Desi melihat dengan mata kepalanya sendiri. Dia pergi kesana untuk mengantarkan beberapa bahan makanan untuk Nona Elisha dan dia melihat langsung pemandangan itu dari jauh.” jawab Yaya.


Layla dengan tenang pun berkata, “Beritahu Desi untuk pergi kerumah Emir dan beritahu pada Arimbi kalau aku ingin bertemu dengannya.”


“Baik.” jawab Yaya mengindahkan perintah dari Layla dengan hormat.


Sedangkan Arimbi sama sekali tidak menyadari bahwa tindakannya yang tidak disengaja tadi telah sampai ke Layla Serkan setelah dilihat oleh para pelayan lainnya.


Dia terus saja memanggang ikan dan terus mengingat bahwa dia harus memberi makan Emir dengan baik. Saat matahari terbenam, kelompok memancing itu akhirnya kembali kerumah.


Dari kejauhan Arimbi melihat Desi sudah berdiri didepan kamarnya dan yang pertama merasakan kelopak mata kanannya berkedut. Arimbi awalnya berpikir dalam hati, jika kedutan dikelopak kiri berati akan mendapat rejeki tetapi sisi kanan  menandakan bencana. Nenek Layla Serkan pasti mencoba untuk mencari-cari kesalahnnya lagi, pikirnya.


Saat Arimbi mendorong Emir lebih dekat, Desi melangkah maju untuk menyambut Emir dengan hormat sebelum dia berbalik dan bicara dengan Arimbi.


“Nona, Nenek Serkan ingin bertemu denganmu. Apakah anda berkenan untuk ikut denganku?” ucap Desi sambil terus menatap wajah Emir saat dia bicara.


Dia menghela napas setelah menyadari bahwa ekspresi wajah Emir tidak terbaca dan sangat dingin seperti biasanya. Desi pun menoleh dan menatap kearah Arimbi lagi untuk menunggu jawabannya.


“Baiklah.” jawab Arimbi melepaskan cengkeramannya dikursi roda Emir dan berbalik untuk bertanya padanya, “Emir, nenek Serkan ingin bertemu denganku, jadi aku akan pergi kesana ya dan tidak akan lama. Kamu masuklah dulu.”


“Pergilah, jangan biarkan nenek menunggumu lama.” jawab Emir tenang.


Desi memberikan isyarat pada Arimbi agar mengikutinya. Arimbi pun diam-diam mengikuti Desi dan tak ada satupun diantara mereka yang berbicara sepanjang jalan menuju kerumah utama. Tak lama mereka pun tiba dirumah utama.


Desi berkata pada Arimbi segera setelah mereka memasuki rumah utama, “Nona Arimbi, Nenek Serkan ada didalam. Silahkan masuk.”


“Terima kasih Desi.” ucap Arimbi.


Desi menatap wanita itu dengan penuh arti lalu dia berbalik dan pergi. Setelah kepergian Desi, arimbi pun memasuki rumah utama sendirian. Layla adalah satu-satunya orang yang terlihat diruang tamu yang mewah itu. Wanita tua itu sedang duduk di sofa sedang memegang majalah sambil membolak baliknya.


Layla bahkan tetap mengacuhkan Arimbi, lalu dia berkata dengan suara bengis. “Sudah berapa lama kamu tinggal disini? Bukankah kamu sudah diberitahu bahwa aku tidak suka ada yang bicara saat aku sedang membaca?”


Arimbi terdiam dan mengerucutkan bibirnya sebagai jawaban. Setelah Layla mengatakan itu,dia terus saja membolak balikkan majalahnya dan membuat Arimbi menunggu disana selama setengah jam.


Akhirnya Layla menutup majalah ditangannya lalu meletakkany dimeja disampingnya. Lalu dia mengangkat tangannya dan membetulkan letak kacamatanya saat dia mengarahkan pandangan tajam kepada Arimbi. Saat itu Arimbi jelas melihat adanya permusuhan dari Layla.


“Arimbi apakah kamu tahu peranmu setelah dibawa kembali kerumah ini oleh Emir?” tanya Lalya.


Arimbi menatap Layla tanpa tergoyahkan. “Ya, saya tahu tugas itu.” jawabnya tenang. Arimbi sudah mengatakan kalau dia akan bertanggung jawab penuh atas Emir jadi dia membawanya pulang ke kediaman Serkan. Karena itulah, Emir menjadi tanggung jawabnya.


“Karena kamu sadar akan hal itu, pastikan kamu tidak melampui batasan. Memang benar kami pernah pergi ke keluargamu dan meminta restu untuk meminangmu tetapi kamu menolak lamaran itu. Keluarga kami tidak menggunakan taktik atau tipuan apapun untuk mendapatkan apa yang kami inginkan. Jadi, karena kamu menolak menikahi Emir maka kami tidak akan mengejarmu lebih jauh,”


“Seharusnya kamu dan Emir berpihsah sejak saat itu. Saat ini satu-satunya peranmu adalah menjaga Emir dengan baik dan membantunya berdiri dengan kedua kakinya sendiri seperti dulu. Jangan berani-beraninya kamu menyimpan angan-angan lain. Kamu pernah memiliki kesempatan tetapi telah melewatkannya.”


“Keluarga kami punya prinsip yang kuat! Jadi setelah kesempatan itu hilang, jangan pernah berharap akan mendapatkan kesempatan lain. Kamu beruntung kami masih menginjinkanmu tinggal disini.”


Saat itu juga Arimbi merasa bingung, “Nenek Serkan, apa yang sudah saya lakukan sehingga nenek menganggap aku sudah melampaui batas? Saya tidak menyimpan angan-angan sama sekali.”


Layla menjawab dingin sedingin tatapan matanya pada Arimbi, “Mengapa kamu bersandar pada Emir dan menciumnya? Arimbi meskipun kamu dibesarkan di pedesaan aku mendengar bahwa orang tua angkatmu menyayangi dan memberimu pendidikan terbaik yang mereka mampu. Mereka menghabiskan banyak waktu untuk mendidikmu.”


“Apakah kamu tidak belajar untuk menjaga jarak dengan lawan jenis? Apakah kamu berpikir bahwa dengan merayu Emir, kamu akan bisa mendapatkan apa yang kamu inginkan? Dalam keluarga ini, kamu tidak akan bisa mendapatkan apapun bahkan jika kamu merencanakan dengan keras kecuali kami yang memberikannya padamu dengan sukarela!” ujar Layla Serkan.


“Waktu itu kamu tidak senang untuk menikahi cucuku yang cacat dan terus saja memikirkan kecacatannya ditempat tidur, jadi berhentilah merayunya. Dasar perempuan tidak tahu malu!” teriak Layla Serkan dengan marah dan meninggikan suaranya.


“Nenek, saya tidak pernah meremehkan Emir yang cacat dan semua kekurangannya. Saya juga tidak tahu tentang ketidak mampuannya di tempat tidur. Dimata saya, dia adalah pria yang hebat. Mulai sekarang saya bersumpah untuk tidak pernah memandang rendah Emir lagi. Jika ada yang menjadi perhatian saya, hal itu adalah kurangnya rasa percaya diri didalam dirinya.” jawab Arimbi tegas.


“Saya juga tidak pernah berpikir untuk mendapatkan apapun dari keluarga anda, sehingga anda dapat percaya dan melihat apakah saya ada mengambil kekayaan anda. Saya tidak pernah mengambil apapun yang bukan milik saya. Namun saya pastikan bahwa saya akan memperjuangkan apa yang menjadi milik saya meski nyawa taruhannya! Misalnya Rafaldi group milik keluarga saya. Saya akan mencegah siapapun untuk mengambil alih milik keluarga saya!”


 “Kamu berbohong! Kamu memiliki kemampuan mengatakan bahwa kamu tidak memandang rendah Emir! Siapa yang memotong pergelangan tangannya untuk menolak pernikahan, hah?” amarah Layla Serkan pun semakin menjadi-jadi karena keberanian Arimbi membalas perkataannya.


“Nenek, saya akui bahwa waktu itu tindakan saya agak ceroboh tetapi saya telah mengambil pelajaran. Sekarang saya mencoba yang terbaik untuk memperbaiki kesalahan saya. Seperti yang saya katakan tadi, mulai sekarang saya tidak akan memandang rendah Emir dan saya akan sangat menyesal atas hal-hal yang pernah terjadi dimasa lalu.”