GADIS BERGAUN MERAH

GADIS BERGAUN MERAH
BAB 23. KEDATANGAN EMIR


Yadid mengarahkan jarinya ke wajah Arimbi lalu berkata, “Dia tak menyukaimu tapi kamu bersikeras untuk tetap tingga; dan membuatnya semakin marah. Aku tidak tahu kalau kamu wanita bodoh Arimbi! Dimana otakmu? Kenapa kamu tidak memikirkan masib keluargamu sebelum bertindak?  Apa kamu ingin Rafaldi Group bangkrut, he?”


“Ayah jangan marahi Arimbi lagi,  dia dibesarkan di pedesaan dan tidak mengerti beratnya konsekuensi dari tindakannya.” Amanda menarik lengan ayahnya. Dia terdengar seperti sedang berusaha membantu Arimbi tetapi disaat yang sama dia merendahkan Arimbi.


“Aku tidak butuh perhatianmu yang sok suci Amanda! Memangnya kenapa kalau aku dibesarkan dipedesaan? Apa itu membuatmu malu?” balas Arimbi mencemooh.


Plaaakkk! Yadid kembali menampar pipi Arimbi. Sekarang kedua pipinya sama-sama bengkak dan merah. “Kamu keterlalun Arimbi! Cepat ambil tongkat ayah, Amanda? Aku harus menghukumnya dengan cara keluarga Rafaldi. Ayah akan memberi pelajaran kepada putri ayah karena pengasuhnya itu telah gagal mendidiknya!”


Cara keluarga Rafaldi menghukum seseorang adalah menggunakan tongkat berduri. Mereka akan tahu betapa sakitnya setelah dipukul dengan tongkat yang dibuat khusus itu.


“Ayah!” protes Amanda berpura-pura simpati pada keadaan Arimbi.


“Aku menyuruhmu untuk mengambil tongkat itu!” teriaknya. Amanda tidak punya pilihan selain memenuhi permintaan ayahnya. Dia lalu pergi mengambil tongkat itu dan memberi pada ayahnya.


“Ayah, Arimbi masih belum dewasa kita harus mengajari dia lebih sabar lagi. Dia sudah berumur dua puluh empat tahun sekarang, bagaimana dia akan menghadapi orang-orang jika dia dihukum dengan tongkat ini?” kata Amanda masih berusaha bersikap sebagai putri yang baik hati dan peduli.


Yadid mengambil tongkat itu bersiap memukul Arimbi tapi tiba-tiba seorang pelayan berlari masuk sambil berteriak ketakutan.


“D---dia disini Tuan! Dia datang…..” ujar pelayan itu menyela.


Amanda sangat kesal dengan kedatangan pelayan itu sehingga Arimbi tidak jadi dipukul dengan tongkat itu. Dia menggertakkan rahangnya dan kedua tangannya mengepal menahan amarah.


“Siapa yang datang?” tanya Amanda.


Pelayan itu mengacungkan jari kearah depan pintu dan bicara dengan gagap, “T—t----Tuan Emir…...Tuan E...E….Emir disini.”


Brak…..tongkat yanga di tangan Yadid jatuh ke lantai, dia terkejut mendengar kedatangan Emir.


“Tuan Emir disini pasti untuk membuat masalah, ayah.” Amanda memprovokasi sambil membungkuk mengambil tongkat.


Dia menatap tajam kearah Arimbi, “Lihatlah Arimbi, kamu mengabaikan ucapanku dan terus saja menganggu Tuan Emir. Sekarang dia datang kesini untuk menghukum kita. Jika dia menghancurkan keluarga Rafaldi, itu gara-gara ulahmu!” teriak Amanda penuh amarah pada Arimbi.


“Kunci Arimbi didalam kamarnya! Biar ayah yang menemui Tuan Emir!” Yadid langsung membuat keputusan, dia ingin anaknya itu dikunci dikamar atas karena dia tidak ingin Arimbi mengganggu Emir.


Dia bergegas melangkah keluar rumah sedangkan Amanda menarik lengan Arimbi dan memaksanya naik ke atas tapi Arimbi menepis tangannya.


“Aku bisa jalan sendiri!” Arimbi mencibir saat menepis tangan Amanda.


Kejadian ini menyadarkan Arimbi bahwa satu-satunya orang yang peduli padanya adalah ibunya. Apapun yang Amanda katakan padanya dikehidupan yang lalu pasti sebuah kebohongan. Dilihat betapa biasnya Yadid terhadap Amanda, dia tidak bisa menyerahkan segalanya untuk Arimbi. Arimbi berjalan melewati Amanda dan berjalan menaiki tangga sedangkan Amanda dengan cepat segera menyusulnya.


Meskipun Amanda takut pada Emir, dia tetap ingin mempertahankan citra dirinya yang tangguh tapi lembut didepan Emir. Saat itu sebenarnya dia sangat ingin bersembunyi tetapi dia tak berkutik saat melihat pengawal mendorong kursi roda Emir masuk kedlaam rumah. Amanda mengalihkan pandangannya ke kiri dan kanan sebelum menemukan sebuah ide.


Akhirnya dia memegang tongkat dan berdiri didepan sofa. Begitu pengawa; membawa Emir mendekat, dia dengan berseri-seri langsung menyapa, “Selamat siang Tuan Emir.”


Pria itu menoleh untuk bicara dengan Yadid, “Suara putri anda sangat mengerikan Direktur Rafaldi! Belum pernah saya mendengar suara sejelek itu!”


Amanda membisu ditempat mendengar ucapan Emir. Dia adalah seorang wanita cantik dan bersikap tegas, dia sukar didekati saat bekerja. Setiap kali dia berbicara lembut maka semua wajah pria akan memerah. Mereka semua akan menatap matanya dengan bergetar bahkan Reza selalu merasakan isi perutnya akan meleleh setiap kali mendengar suara Amanda. Beraninya Emir mengatakan kalau suaranya mengerikan dan jelek? Wajah Amanda memerah menahan amarah atas sindiran Emir.


“Dia biasanya tidak begitu, Tuan Emir.” Yadid langsung melangkah maju untuk menjelaskan atas nama putrinya. “Baru-baru ini dia bermain drama teater jadi dia kadang-kadang bicara seperti karakternya. Jangan merasa terganggu dengan hal itu, Tuan.” Emir mengatupkan bibirnya tanpa mengucapkan sepatah katapun. Dia sangat tidak menyukai Amanda. Dia membenci Amanda yang bicara dengan nada sok didepannya.


“Silahkan duduk Tuan Emir.” Yadid berseri-seri dan berjalan membantu Emir tetapi pengawal Emir segera memberikannya tatapan tajam yang membuat Yadid menahan diri untuk tidak mendekat.


“Aku sudah duduk!” jawab Emir datar.


Nada bicara Emir terdengar sangat tidak bersahabat membuat Yadid bergidik ngeri dan ketakutan.


“Bukan begitu maksud, Tuan Emur.” ujarnya berusaha tenang.


Lalu Emir melirik tongkat di tangan Amanda, “Apa itu?”


“Itu tongkat, Tuan Emir. Begitulah cara kami di Keluarga Rafaldi menghukum orang-orang.” jawab Yadid dengan senyum tipis.


Emir memandangi wajah Amanda yang bengkak sebelum kembali menatap Yadid. Meskipun Yadid adalah pria yang lebih tua tapi dia sangat takut pada Emir.


Dia bahkan tak berani menatap mata Emir, sebaliknya Yadid hanya menundukkan kepalanya karena malu. Sedangkan Amanda masih tetap berdiri tenang memegang tongkat dengan bangga, seolah-olah dia adalah seorang hakim yang akan menengakkan keadilan!


“Sepertinya aku datang di waktu yang tidak tepat!” kata Emir. “Apa anda menghukum Amanda, Direktur Rafaldi?”


“Tidak! Saya sedang menghukum Arimbi. Karena Arimbi sudah membuatmu marah Tuan Emir! Jadi sebelum…..” Yadid belum lagi selesai bicara tapi Emir langsung memotongnya.


“Dimana Arimbi?” tanya Emir dengan ekspresi sangat tegas dan tampak marah saat dia mengambil tongkat dan memperhatikan ada paku di tongkat itu.


Dia bisa membayangkan betapa sakitnya jika seseorang menggunakan ini untuk memukul wanita itu. ‘Kurang ajar! Berani sekali mereka memukul wanitaku! Hanya aku yang bisa menghukumnya!’ geramnya didalam hati.


“Tuan Emir….Arimbi…..Arimbi adalah.....” Amanda terkejut dengan ekspresi wajah Emir dan dia tidak tahu bagaimana menjawab pertanyaannya. Yadid lah yang akhirnya menjawab pertanyaan Emir.