
“Nenek, aku baru tahu kalau Arimbi adalah kakak iparku. Tapi, sepertinya dia tidak seburuk yang kita kira dan yang orang lain katakan. Kita tidak harus percaya rumor yang beredar kan nek?”
Nenek Serkan memeluknya dengan penuh kasih sayang, “Aku tahu cucu perempuanku yang paling baik hati dan tidak licik seperti sudara laki-lakinya yang berbohong.”
“Aku akan sedih jika menikahkanmu begitu cepat! Jangan khawatir, tidak akan ada kencan buta untukmu. Tapi aku tidak suka Arimbi menjadi istri kakakmu! Etikanya sangat buruk dan dia kasar tidak tahu sopan santun. Dia berani menjawabku dan tebal muka!” dengusnya kembali merasa kesal.
“Nenek, jangan membenci seseorang yang belum kita kenal betul. Nenek pernah bilang padaku kan tak kenal maka tak sayang. Sikap Arimbi itu wajar karena dia berasal dari pedesaan dan dia tidak tumbuh dikalangan kelas atas. Tapi setidaknya dia tidak berpura-pura seperti orang lain. Yang terpenting adalah kakakku menyukainya dan dia bisa membuat Emir bahagia. Apakah nenek tidak suka melihat Emir bahagia dan tersenyum kembali?”
“Kenapa kamu malah membelanya?”
“Aku juga perempuan, nek! Aku bisa bayangkan kalau aku diposisi Arimbi, Fuhhh! Pasti sangat berat baginya apalagi Amanda tidak menyukainya. Tidak bisakah kita memberinya sedikit kesempatan? Dia dirundung oleh Amanda, dan dirumah ini kita juga merundungnya. Kasihan sekali?”
Elisha memasang wajah sedih, bagaimanapun dia menyukai Arimbi dan dia ingin neneknya bisa menyukai Arimbi juga. Dengan begitu posisi Arimbi akan aman di keluarga itu sekalipun ada anggota keluarga yang lain yang tidak menyukainya. Mereka tidak akan bisa melakukan apapun untuk menyakiti Arimbi. Dan Elisha merasa kalau Emir dan Arimbi itu pasangan yang serasi.
“Kamu ini memang cucuku yang hebat! Pikiranmu sangat dewasa, aku memang tidak menyukainya karena apa yang dia lakukan sebelumnya! Ah…..cucuku yang malang.”
“Nenek, jangan bersedih lagi. Ada aku disini yang akan selalu menemani nenek.”
“Kamu memang cucuku yang paling kusayang. Aku tidak akan pernah memaksakan kehendakku padamu, Elisha. Jika kamu menyukai seseorang dan orang itu baik, nenek akan merestuimu.”
“Terima kasih atas belas kasih nenek.”
“Kamu terlalu banyak nonyon drama.” Sang nenek mencubit pipi Elisha dengan ringan sebelum tersenyum geli. Elisha akhirnya berakhir mencairkan suasana cemberut nenek Serkan dan membuat wanita tua itu kembali tersenyum.
*******
Sementara itu disebuah villa, Amanda memarkirkan mobilnya di depan villa Reza. Karena kebiasaan, Amanda mengedarkan pandangannya ke sekeliling untuk memastikan bahwa dia tidak diikuti sebelum dia keluar dari mobilnya dengan tas mewahnya. Kemudian dia berjalan cepat ke arah pintu masuk dan membunyikan bel pintu.
Tak berapa lama, terlihat Reza keluar untuk membukakan pintu untuknya sambil melemparkan senyum. “Amanda, ayo masuklah. Kupikir kamu akan datang lambat karena jalanan macet.”
“Tidak. Dimana pelayanmu? Kenapa bukan mereka yang membukakan pintu?” tanyanya.
“Oh itu, aku sengaja meliburkan mereka karena kita akan menghabiskan waktu berdua saja.”
Setelah Reza keluar dari rumah sakit, dia tidak kembali ke rumah Keluarga Kanchana tetapi pindah ke villa sendirian. Amanda tersenyum dan berkata, “Bahkan jika ada mereka, kita juga bisa bicara secara pribadi. Aku yakin mereka bahkan tidak berpikir untuk menguping pembicaraan kita, iyakan?”
Reza meraih tangan Amanda untuk segera masuk kedalam villa bersamanya.
“Kapan kamu diperbolehkan pulang dari rumah sakit?” tanya Amanda.
“Tadi siang.”
“Apa kamu sudah baikan sekarang? Apa masih merasa pusing atau perasaan sakit?”
“Aku baik-baik saja Amanda. Aku meninggalkan rumah sakit karena dokter mengizinkanku pulang. Aku tidak beruntung akhir-akhir ini dan aku selalu harus pergi kerumah sakit. Sepertinya kesialan selalu datang beruntung menimpaku sejak terakhir kali aku bertemu dengan Arimbi.” ujar Reza sedih.
‘Mengapa kita tidak pergi berdoa agar dijauhkan dari nasib buruk?” Amanda juga merasa bahwa keberuntungannya memburuk akhir-akhir ini, yang juga sangat mempengaruhinya.
“Aku tidak percaya jika hanya dengan berdoa saja akan berhasil mengusir kesialan dan nasib buruk.” jawab Reza yang bukan seorang yang taat beragama.
Keduanya memasuki rumah sambil bebrincang. Begitu sudah masuk kedalam rumah, Amanda bingung dengan jumlah bunga yang sangat banyak memenuhi ruangan itu.
Semua itu adalah bunga mawar favoritnya. Ada mawar-mawar indah dimana-mana, dilantai, di meja, sofa dan disudut ruangan.
“Ah, indah sekali!” dia melepaskan tangan Reza dan berjalan kearah bunga sambil membungkuk.
Matanya menyipit dengan ekspresi gembira saat dia menghirup aroma bunga mawar. Setelah itu Reza mendekati Amanda dari belakang dan ketika wanita itu berdiri, Reza melingkarkan lengannya di pinggang Amanda.
Kemudian dia membenamkan wajahnya di ceruk lehernya sambil menghirup aroma tubuhnya. “Apa kamu menyukainya Amanda?”
“Ya, aku sangat menyukainya.” jawab Amanda tersenyum menatap Reza.
“Baguslah. Berarti usahaku tidak sia-sia. Oh iya apa yang membuatmu lama di kediaman keluarga Lavani? Kamu sepertinya menghabiskan sepanjang hari disana.”
Amanda melangkah maju sedikit sebelum dia meraih buket bunga diatas meja kopi. Dia mencondongkan tubuhnya ke Reza dan berkata, “Itu semua karenamu. Aku harus pergi berenang dengan Zivanna di sore hari dan aku kelelahan.”
Setelah mendengar ucapan Amanda, pria itu langsung menunjukan eskpresi puas dan senang diwajahnya lalu mulai memuji Amanda dan berkata, “Kamu memang yang terbaik Amanda.Apa Nona Zivanna akan memaafkanku?”
“Bunga-bunga itu wanginya luar biasa dan mereka juga mekar dengan indah. Aku menyukai semuanya.” ujar Amanda alih-alih menjawab dia memilih mengalihkan topik pembicaraan.
Dengan sikapnya itu, Reza langsung tahu jawabannya, Amanda bahkan tidak bisa membuat Zivanna melepaskannya.
‘Berarti aku sudah tidak punya pilihan lain. Hanya ada satu jalan untuk masalah ini, aku hanya bisa melakukan apa yang disarankan ayahku. Menikahi Ruby Zimena.’ gumamnya dalam hati.
Reza pun membulatkan tekadnya untuk mengambil keputusan terbaik. Hanya dengan cara itu dia bisa menyelamatkan keluarga Kanchana.
Demi menjadi kerabat dari keluarga Lavani, agar tidak dimintai pertanggung jawaban karena merusak pesta ulang tahun Zivanna. Reza tiba-tiba merasa malu menggunakan taktik ini.
“Amand.” Reza menekannya ke sofa sebelum membawa dua gelas anggur merah yang telah disiapkannya sebelum Amanda datang.
“Mari kita bersulang untuk malam yang indah ini.” kata Reza dengan penuh keleumbutan dan kasih sayang sambil menyerahkan satu gelas padanya. Amanda mengambil gelas anggur itu lalu meletakkan buket bunga dan keduanya saling mendentingkan gelas. Setelah itu mereka menyesap anggur dan saling bertatapan.
Reza menghabiskan anggurnya dalam satu tegukan sehingga membuat Amanda pun melakukan hal yang sama. “Reza,apa kamu ingin mengatakan sesuatu?” tanya Amanda.
“Amanda, apa kamu benar-benar mencintaiku?” tanya Reza dengan lembut. Tatapan matanya terpaku pada Amanda tidak ingin melewatkan perubahan apapun di ekspresi wajahnya.