
“Siapapun pelakunya aku pastikan akan mendekam di penjara. Jadi lebih baik mengaku saja, mungkin aku masih berbelas kasihan padanya.” ucap Arimbi.
“Meskipun tempat ini sudah jadi milikmu, kamu tetaplah pencuri! Entah apa yang sudah kamu lakukan pada Tuan Emir sehingga dia memberikan seluruh tempat ini padamu! Arimbi, apakah kamu semurah itu merayunya dengan tubuhmu? Cih!” ucap Zivanna.
“Ya, mungkin kamu benar! Aku merayunya, menggodanya tapi dia membayarku sangat mahal bukan?” ucap Arimbi dengan angkuhnya.
Zivanna semakin marah karena direndahkan oleh Arimbi didepan semua orang. Dia sadar sejak tadi dia melihat beberapa orang menertawakannya dan memandangnya sinis. “Lihat saja Arimbi! Aku tidak akan melepaskanmu! Dasar perempuan murahan! Apa kamu pikir keluarga Serkan akan senang jika mereka mendengar tentang ini?”
Arimbi tidak membalas, dia senang bisa membuat Zivanna marah dan mengamuk. Setelah polisi selesai mengambil sidik jari semua orang dan hendak mencocokkan dengan sidik jari yang ada digelang itu. Tiba-tiba….
Pegawai itu menangis bersimpuh dilantai dan berkata, “Saya tidak sengaja melakukan itu. Nona Zivanna yang menyuruhku!” ucapnya.
“Apa kamu bilang? Berani kamu menuduhku hah? Apa kamu lupa siapa aku?” Zivanna mengamuk mendengar ucapan pegawai toko itu. Meskipun dia yang menyuruh pegawai itu melakukannya tapi dia akan melemparkan semua kesalahan pada orang itu.
Bukankah pegawai toko itu hanya orang biasa? Jika dia masuk penjara atau lenyap sekalipun tidak akan ada yang peduli.
“Nona Zivanna silahkan ikut kami ke kantor polisi untuk memberikan keterangan.” ucap salah seorang petugas kepada Zivanna. Dia langsung menolak dan membentak petugas itu.
“Kamu tidak tahu siapa aku, hah? Keluargaku bisa membuatmu kehilangan jabatanmu dan menghancurkan keluargamu!” ancam Zivanna.
“Aku tidak bersalah, Nona Zivanna yang mengancamku. Dia bilang dia mengenal pemilik toko dan menjamin aku akan aman karena dia akan melindungiku! Aku sudah menolak tapi dia mengancam akan menghancurkan keluargaku.” ucap pegawai itu menangis terisak-isak.
“Oh begitu? Apa sekarang dia terlihat melindungimu?” ujar Arimbi pada pegawai itu. “Sudah berapa banyak pelanggan yang kamu perlakukan seperti ini?”
“Sa---saya belum pernah melakukannya. Ini pertama kalinya! Maafkan saya. Saya mohon jangan masukkan saya ke penjara. Saya tidak bersalah.”
“Kamu tidak bersalah? Jelas-jelas kamu bersalah! Kamu sengaja memasukkan gelang itu kedalam tas ku lalu memfitnahku. Kamu mempermalukan aku didepan banyak orang! Dimana letaknya kamu tidak bersalah? Makanya berpikir sebelum kamu berpihak pada wanita iblis itu! Apa kamu pikir dia peduli padamu, hah? Wanita itu tidak pernah peduli pada orang-orang seperti kamu.”
“Nona Zivanna, mohon kerjasamanya dan jangan mempersulit keadaan. Di rekaman CCTV sudah jelas terlihat anda membisikkan sesuatu pada pegawai itu. Dan satu hal lagi yang anda harus tahu, CCTV ini juga merekam audio jadi kami bisa mendengar apa yang anda katakan pada pegawai itu meskipun anda berbisik padanya.” ucap petugas itu lalu memberi kode pada temannya untuk memborgol Zivanna.
“Lepaskan! Lepaskan aku! Aku akan membalas kalian semua! Awas kalian! Arimbi….aku akan membalasmu lebih dari ini.” teriak Zivanna yang meronta-ronta berusaha melepaskan diri.
“Jangan takut! Saya yang menjamin kalau Tuan Emir akan melindungi kalian dari ancaman keluarga Lavani! Proses saja secara hukum, orang-orang seperti mereka sudah hidup tenang sekian lama membuli dan semena-mena pada orang lain! Sekian lama tidak tersentuh hukum karena semua orang takut pada keluarga Lavani!”
“Tapi mulai hari ini, aku jamin keamanan semua orang untuk tidak perlu takut. Jika kalian membiarkan tindakan semena-mena seperti ini maka selamanya mereka akan berlaku seenaknya!” ucap Arimbi. Dia sudah merasa lelah dengan semua kelakuan Zivanna dan dia yakin setelah kejadian hari ini pasti keluarga Lavani tidak akan membiarkannya begitu saja.
Maka Arimbi ingin menggunakan opini publik untuk menyerang keluarga Lavani. Pasti diluar sana banyak sekali orang-orang yang dendam dan sakit hati atas perlakuan semena-mena keluarga itu selama ini. Tapi karena mereka tidak kuat dan tidak mempunyai kuasa seperti Keluarga Lavani, tidak ada yang bisa mereka lakukan selain diam.
Mereka berpikir mungkin orang yang memposting video itu adalah seseorang yang berkuasa sehingga punya keberanian melakukan itu.
...****...
Seluruh keluarga Lavani mengamuk setelah video Zivanna menjadi viral dimana-mana. Ayah Zivanna memerintahkan orang kepercayaannya untuk menghapus postingan itu. Tapi sepertinya sulit karena video itu sudah disebarkan ribuan kali sehingga sulit untuk menghapus seluruhnya.
“Cepat keluarkan Zivanna dari kantor polisi dan cari tahu siapa yang memposting video itu! Tangkap orang itu dan hancurkan dia beserta keluarganya!” perintah Johan yang sedang berada diruang kerjanya.
“Arimbi! Wanita ini semakin berani! Apa hubungan wanita itu dengan Emir? Kenapa Emir begitu melindunginya?” geramnya.
“Kenapa bisa seperti ini?” tanya Gio yang tiba-tiba masuk keruang kerja Johan. “Aku akan pergi ke kantor polisi. Apa kamu mau kesana juga?”
“Pergilah! Ayah sudah pergi duluan bersama pengacara! Biar aku bereskan masalah video itu dulu.”
“Baiklah! Sebaiknya pikirkan cara untuk memberi pelajaran pada Arimbi! Dia selalu saja mengganggu Zivanna! Aku akan meminta anak buahku untuk mencari tahu tentang Arimbi dan Tuan Emir.”
“Lakukan! Aku mencurigai sesuatu! Bagaimana mungkin seorang Emir membela dan melindungi seorang pengasuh seperti Arimbi?”
“Apa maksudmu? Apakah Tuan Emir ada disana waktu kejadian?” tanya Gio.
“Tidak! Tapi dia yang meminta pemilik toko untuk datang kesana.” ucap Johan.
Satu hal yang mereka tidak tahu bahwa Emir bukan hanya melindungi Arimbi tapi membelikan pusat perbelanjaan itu atas nama Arimbi untuk membalas Zivanna.
Karena mereka belum melihat video lainnya yang merekam saat Arimbi menghina Zivanna yang hanya dihadiahi sebuah vas bunga murah sedangkan Emir menghadiahi Arimbi sebuah pusat perbelanjaan mewah. Hanya dalam sekejap dia menjadi pemilik gedung mewah itu dan jadi wanita kaya raya.
Sementara itu, di kediaman Harimurti seorang anak buah Dion pun melaporkan kejadian itu kepadanya. “Apa kamu bilang? Nona Arimbi dituduh mencuri gelang?” tanya Dion mengeryitkan dahinya.
“Iya Tuan. Bahkan videonya sudah viral dan dibagikan ribuan kali.” ucap pengawal itu.
Dion terdiam sejenak, dia menyukai Arimbi dan tidak sangat membenci orang yang mengganggu wanita yang dia sukai.
“Pantau terus perkembangannya. Pastikan Nona Zivanna ditahan, pasti keluarganya akan berusaha membelanya! Biarkan dia menginap di kantor polisi malam ini! Pastikan juga pegawai toko itu mendapatkan hukumannya.” perintah Dion pada pengawalnya yang langsung menganggukkan kepala lalu pergi untuk melaksanakan perintah Dion.
“Zivanna…..berani-beraninya kamu menyakiti wanita yang kusukai! Aku tidak akan membiarkanmu begitu saja!” gumamnya. Lalu Dion mengambil ponselnya dan segera menghubungi anak buahnya. Setelah dia selesai memberikan perintah, dia memasukkan ponselnya kembali kedalam saku lalu pergi ke kamarnya. Sepertinya malam ini Zivanna terpaksa menginap di kantor polisi.