GADIS BERGAUN MERAH

GADIS BERGAUN MERAH
BAB 354. ANDAIKAN KAMU HAMIL


“Ya sudah! Tenangkan dirimu. Coba kamu pikir baik-baik…..bukankah kamu sendiri yang bilang kalau kamu menyukai Dion sejak lama? Dan kita sudah mengambil uangnya seratus milyar! Apa dia memarahimu? Tidak kan? Atau dia menyiksamu? Apa dia melakukan hal-hal buruk padamu?” Arimbi memicingkan matanya menatap sahabatnya itu.


 


Joana menggelengkan kepalanya. Memang tak ada apapun yang dilakukan Dion padanya, hanya anak buahnya yang menguntit terus-terusan dan baru tadi dia menculiknya.


Dion kemungkinan marah padanya karena pakaiannya. Tapi kenapa juga dia harus marah? Dia masih berpakaian sopan, tidak berbikini ria lalu apa yang salah dengan pakaiannya.


 


“Lalu? Apa yang kamu takutkan? Ada yang tidak kamu ceritakan padaku Joana?” Arimbi semakin penasaran dengan sahabat satu-satunya itu.


“Katakan! Apa kamu mulai main rahasia-rahasiaan denganku? Hem?”


“Tidak. Bukan begitu Arimbi. Aku cuma bingung saja harus cerita yang mana dulu.” Joana terdiam sejenak memikirkan bagaimana dia mengatakan pada Arimbi apa yang dialaminya sejak insiden itu.


 


“Eheem…..begini! Sebenarnya…….Dion menculikku! Dia membawaku ke rumahnya.”


“Hah? Menculik? Kapan? Terus bagaimana caranya kamu masih ada disini kalau kamu diculik?”


“Dengarkan dulu. Dia datang ke lokasi cafe lalu menyeretku dari sana. Dia terlihat sangat marah tapi aku juga tidak tahu apa yang membuatnya marah!”


 


“Fuuuuhhh! Pria itu memang gila! Aku sudah pernah bilang padamu! Dia sulit diprediksi sama seperti Emir tapi setidaknya Emir masih bisa kukendalikan.”


“Ha ha ha….sepertinya aku harus belajar padamu bagaimana caranya.” ujar Joana tertawa.


“Ya, menikah! Setelah aku menikahi Emir dan tinggal bersama akhirnya aku bisa belajar tentang dia. Emosinya, apa yang dia suka dan tidak suka. Pokoknya semuanya! Emosinya memang sulit ditebak!”


 


“Apa? Jadi maksudmu aku harus menikah dengan Tuan Dion gitu? Aihhhh…...meskipun aku menyukainya tapi aku tidak akan pernah mau menikah dengannya!” ujar Joana mendengus kesal.


“Kamu yakin tidak mau?” tanya Arimbi tersenyum.


“Apa kamu pernah terpikir jika kejadian malam itu, kamu hamil?”


 


“Ha---hamil? Hamil? Oh Tuhan!” Joana menepuk keningnya dengan wajah polos merutuki dirinya sendiri karena tak pernah terpikirkan tentang itu.


Dia ingat jika malam itu Dion melakukannya beberapa kali, dan yang pasti tanpa pengaman. Tiba-tiba mata Joana melotot memandang Arimbi dengan serius.


 


“Apa yang harus kulakukan kalau benar begitu?” tanya Joana mengerjapkan matanya.


“Ya, aku tidak tahu! Tergantung apakah kamu mau mempertahankan atau tidak.” jawab Arimbi.


“Keluargaku pasti akan marah besar padaku! Aduh Arimbi…..aku bodoh sekali!”


“Ha ha ha ha…...” Arimbi tak tahan tertawa melihat ekspresi wajah Joana yang lucu.


“Kenapa kamu malah tertawa? Bukannya merasa kasihan padaku?”


 


“Memangnya kamu siap punya anak? Sepertinya punya anak itu asyik! Seperti aku selama hamil banyak tantangannya. Seru tahu!” ujar Arimbi tersenyum dengan sengaja memprovokasi Joana. “Jangan takut Joana, seandainya kamu hamil aku yakin keluargamu tidak akan membuangmu!”


 


“Bagaimana jika Tuan Dion tahu dan dia memintaku menggugurkan kandunganku? Kamu tahu dia seperti apa kan? Aku yakin dia pasti akan melakukan itu!”


Arimbi berpikir sejenak, ‘Mengingat karakter Dion, waktu itu dia sangat ingin melihat anaknya! Dia terus menerorku karena menganggap aku memiliki anak dengannya. Rasanya tidak mungkin dia akan meminta Joana menggugurkan kandungannya seandainya dia hamil.’


 


“Arimbi? Kenapa kamu diam saja?”


“Kurasa Dion tidak akan melakukan itu! Sepertinya dia juga menginginkan anak! Seandainya ya kamu hamil, itu hal mudah! Kamu bisa pergi keluar negeri dan melahirkan anakmu disana tanpa sepengetahuan dia kan? Tapi seandainya dia tahu kamu mengandung anaknya dan dia menginginkannya, ya tunggu dan lihat saja selanjutnya bagaimana.”


 


Joana terdiam memikirkan semua kata-kata Arimbi. Meskipun dia memang menyukai Dion tapi tak pernah terlintas di pikirannya menjalin hubungan dengan pria dingin itu.


Membayangkannya saja membuatnya takut, dia masih ingat bagaimana malam itu Dion memperlakukannya. Pria itu sangat kuat, bisa-bisa dia cepat mati jika bersamanya.


 


“Kenapa?” tanya Arimbi heran melihat sahabatnya yang tiba-tiba bersikap aneh.


“Ha…..tidak apa-apa. Aku hanya sedang teringat sesuatu.” jawab Joana mencoba tenang kembali.


“Jangan di ingat kalau tidak menyenangkan. Ayo, kita pergi!” Arimbi mengambil tasnya dan berdiri.


 


Saat keduanya hendak beranjak dari kursinya, ponsel Arimbi berbunyi. Dia mengeluarkan ponsel dari tasnya dan melihat jika Emir yang menghubunginya. “Emir menelepon.” ucapnya pada Joana.


“Halo sayang…..”


“Dimana kamu?” tanya Emir.


 


“Ehm….masih di mall tapi baru saja mau pergi. Ada apa? Kamu merindukanku ya?”


“Tidak! Hanya mau tahu kamu dimana.” jawab Emir dingin.


“Emir! Tidak bisakah kamu sedikit romantis? Aku ini istrimu, sedang hamil pula! Bisa tidak kalau bicara itu manis sedikit. Apa sulitnya bilang kamu merindukanku?”


“Aku memang begini! Kenapa kamu protes? Aku memang tidak merindukanmu.” ujar Emir.


 


“Ya sudahlah! Kamu mau apa?” tanya Arimbi tak kalah ketusnya. Sedangkan diseberang sana Emir menahan tawanya, sudah lama dia tidak mendengar suara marah-marah Arimbi.


“Tunggu aku disana! Aku datang menjemputmu!”


“Tidak usah! Aku bersama supir, ada Joana juga bersamaku! Kita jumpa dirumah saja nanti. Kamu mau makan apa malam ini?”


 


“Kenapa kamu melawan suamimu? Aku bilang tunggu disana! Suruh supirmu mengantarkan Joana pulang! Aku akan menjemputmu!” kata Emir penuh penekanan tak ingin dibantah Arimbi.


“Terserah!”


“Arimbi!”


“Iya…..iya…...aku tunggu!” ujar Arimbi dengan mendegus.


 


“Sepertinya sudah lama kamu tidak menerima hukumanmu!” ucap Emir.


“Emir! Suami seperti apa kamu ini? Istrimu sedang hamil dan kamu masih mau menghukumku?”


“Ya! Istri yang tidak patuh harus menerima hukumannya! Ingat ya! Jangan kemana-mana!”


Klik….


 


“Ada apa?” tanya Joana melihat wajah kesal Arimbi. “Tuan Emir memarahimu lagi?”


“Emir bilang dia akan menjemputku. Kamu diantar pulang sama supirku ya? Begitu pesan Emir.”


“Oh, ya sudah tidak apa-apa. Kita tunggu dia didepan saja.” kata Joana. Keduanya meninggalkan restoran dan masuk ke lift yang berada tak jauh dari restoran.


 


Saat keduanya baru saja keluar dari lift, Joana menarik lengan Arimbi kearah tanaman hias dan berdiri disana. “Ada apa? Kenapa kita sembunyi disini?” tanya Arimbi menatap Joana.


“Sssttt…..coba lihat itu! Bukankah itu Amanda?” Joana menunjuk kearah seorang wanita yang mirip seperti Amanda. Terlihat wanita itu berjalan bersama seorang pria sambil berbincang.


 


“Ya itu Amanda! Fuuuhhhh! Dia bersama Gio! Kenapa dia ada disini bersama pria itu?” ujar Arimbi.


“Siapa itu?” tanya Joana yang tak begitu mengenal anak-anak keluarga Lavani kecuali Zivanna.


“Saudara laki-lakinya Zivanna! Setahuku dia menyukai Amanda!” jawab Arimbi.


“Hah? Jadi….maksudmu mereka pacaran?” tanya Joana kaget.


“Tidak tahu juga. Amanda berhubungan dengan Reza selama ini!” ujar Arimbi. Dia mulai penasaran dengan Amanda. 'Apalagi yang akan dilakukan wanita itu?' bisik hatinya.