
“Dimana perempuan itu sekarang?” tanya Amanda yang sedang berbicara ditelepon.
“Masih berada dirumahnya nona! Kami masih terus mengawasinya. Dia tidak punya pengawalan ketat, kami melihat dirumahnya hanya ada sekuriti yang berjaga didepan rumah. Hanya ada dua orang sementara di halaman rumah itu tidak ada orang lain.”
“Bagus! Pantau terus perempuan itu dan lakukan sesuai perintahku! Kalau kalian bisa melakukannya dengan cepat maka aku akan memberikan bonus pada kalian.”
“Wah, Nona Amanda selalu murah hati! Tenang saja nona. Kami tidak akan pernah mengecewakan nona. Tunggu kabar baik dari kami.” ujar pria itu lalu memutuskan panggilan teleponnya.
Amanda tersenyum sinis setelah memasukkan ponsel kedalam tasnya. ‘Heh! Dia bukan putri seorang pengusaha kaya raya! Mana mungkin dia punya pengawal! Lagipula Reza itu bodoh sekali! Apa dia tidak khawatir dengan keselamatan Ruby? Haha…..sepertinya kamu memang terlalu serakah Reza! Kamu sengaja mendepakku supaya kamu bisa menjalankan rencanamu sendiri. Dengan begitu, kamu yang akan menikmati semuanya sendiri!”
Memikirkan hal itu membuat Amanda semakin kesal dan marah. Dia mencengkeram kemudi mobilnya dan tatapan matanya lurus kedepan. “Aku harus segera mendapatkan uang yang banyak! Aku mengeluarkan uang terus untuk orang-orang itu tapi sampai saat ini aku masih belum punya pekerjaan. Dimana dan bagaimana caranya supaya aku bisa dapat uang banyak dalam waktu singkat?”
Amanda duduk dibelakang kemudi untuk beberapa saat sambil memikirkan sesuatu. Tiba-tiba sudut bibirnya naik membentuk senyuman.
‘Ah, Amanda! Kamu memang briliant! Ya, aku akan dapat uang banyak dengan cara itu.” Amanda pun mengeluarkan ponselnya lagi setelah memikirkan matang-matang.
“Hahahaha……kenapa aku tidak pernah berpikir kesitu?”
Dia menghubungi ibunya, Pratiwi yang selalu senang jika Amanda menelepon dan bicara padanya. Namun setelah mendengar apa yang dikatakan oleh Amanda padanya, senyum diwajah wanita paruh baya itupun sontak hilang.
“Amanda! Kenapa kamu mendesakku sampai keujung jurang? Aku ini ibumu! Aku tidak bisa melakukan itu! Ibu dan ayahmu punya uang sedikit yang kami simpan selama ini. Kamu boleh pakai uang itu.”
“Tidak perlu! Uang segitu tidak cukup untuk memulai bisnisku! Apa ibu memang tidak menyayangiku? Kenapa ibu menolak membantuku? Aku tidak meminta ibu melakukan hal yang buruk! Bukankah permintaanku sangat sederhana bu?” Amanda bicara dengan berapi-api setelah mendengar penolakan ibunya. Sedangkan Pratiwi yang berada diseberang telepon sudah meneteskan airmata.
“Bu! Tidak apa-apa kalau ibu menolak membantuku! Jangan salahkan aku kalau aku tidak akan menemui ibu lagi setelah ini. Mungkin ini yang terbaik untuk kita! Aku hanya ingin memulai kehidupan baru dan memulai bisnis untuk mensupport kehidupanku dan calon anakku! Sakit sekali bu, saat ibu menolak permintaanku.” ujar Amanda yang mulai menangis tersedu-sedu.
“Amanda! Semua yang terjadi padamu adalah hasil perbuatanmu sendiri! Sebagai ibumu, aku hanya bisa memberimu nasehat! Berubahlah dan berhenti membuat masalah pada dirimu dan juga orang lain! Ibu tidak akan pergi menemui Arimbi dan meminta bantuannya. Dia sudah banyak membantu keluarga kita selama ini! Sekarang hubungan kami tidak sedekat dulu!”
“Bu! Kenapa? Kenapa? Apa karena ibu lebih menyayangi Arimbi makanya ibu tidak mau meminta bantuannya untukku? Bu, Arimbi itu menikahi Emir Serkan! Keluarga paling kaya dan uang bukanlah masalah bagi keluarga mereka! Apa ibu tidak tahu kalau Arimbi sangat kaya? Dia bukan saja pewaris Rafaldi Group tapi Keluarga Serkan bahkan memberinya perusahaan dan juga pusat perbelanjaan mewah!”
“Lalu? Memangnya kenapa kalau kehidupannya berubah menjadi sangat baik sekarang? Arimbi adalah anak yang baik dan rendah hati. Meskipun dia sudah kembali pada keluarga kandungnya tapi dia tidak memperlakukan keluarga kita berbeda. Dia masih menyayangi kami seperti dulu. Ibu mohon Amanda, jangan ganggu Arimbi lagi.”
“Baiklah! Jadi ibu memang bersikeras tidak mau membantuku? Iyakan? Karena ibu lebih peduli pada Arimbi daripada aku anak kandung ibu sendiri! Oke tidak masalah bu! Aku akan menemui Arimbi.”
“Jangan! Amanda jangan lakukan itu! Kamu sudah melukainya, ibu mohon jangan ganggu kehidupan Arimbi lagi! Dia sedang hamil dan jangan ganggu dia.”
“Hahahahaha…..bu….bu…..aku juga sedang hamil! Tapi ibu memilih untuk melindungi Arimbi, dan bukan aku? Anak kandung ibu sendiri! Bu, aku akan membuat ibu menyesal telah memperlakukanku seperti ini.” ucap Amanda menghapus airmatanya.
“Aku harus pergi sekarang, aku akan menghubungi ibu lagi kalau aku punya waktu!” Amanda memutuskan panggilannya.
Senyum menyeringai muncul diwajahnya. Dengan penuh amarah dia memukul kemudinya, “Arimbi! Arimbi! Kenapa semua orang menyayangimu? Kenapa? Lihatlah, kamu bahkan tidak pernah menanyakan kabarku! Heh, mentang-mentang hidupmu sudah enak, kamu bahkan tidak mau ada hubungan denganku! Hahahaha…….” Amanda tertawa terbahak-bahak lalu menangis.
*****
“Bagaimana? Apa sudah ada kabar tentang Joana?” tanya Dion pada anak buahnya,
“Tidak ada! Aku sendiri yang akan membuatnya keluar dari persembunyiannya dan memohon pengampunan padaku.” Dion memegang gelas berisi anggur ditangannnya.
‘Jika dengan cara baik-baik, kamu tidak mau kembali. Jangan salahkan aku jika aku harus melakukan kekerasan untuk mendesakmu! Joana, kamu milikku! Dan selamanya akan menjadi milikku!’ Dion menggenggam erat gelas ditangannya hingga terdengar suara gelas itu pecah.
Pelayan bergegas menghampiri dan membersihkan pecahan gelas lalu menyodorkan gelas baru berisi anggur pada Dion.
“Kalian serang perusahaan keluarga Ganesha! Buat semua klien menghentikan kerjasama dengan mereka. Jangan beri ampun sampai perusahaan itu hancur!” Dion menatap kepala pengawalnya dengan tajam dan serius.
“Pastikan semuanya berlangsung cepat dan jangan meninggalkan clue apapun yang mengarah pada kita. Ingat! Jangan beri ampun!” Dion bicara penuh penekanan.
Untuk pertama kalinya dia dipermainkan oleh seorang perempuan. Dan wanita itu adalah Joana, ini yang kedua kalinya dia membuat masalah dengan Dion tapi kali ini Dion ingin memberinya pengajaran yang tidak akan pernah bisa dilupakan Joana.
“Kalian semua keluar!” perintah Dion. Satu persatu pelayan dan pengawalnya meninggalkan ruangan itu. Kini hanya ada Dion yang duduk di sofa sendirian.
Sementara itu, menjelang sore hari sebuah bencana besar menimpa Ganesha Group. Satu persatu klien perusahaan itu membatalkan pemesanan barang dan memutuskan kerjasama.
Ruben dan ayahnya berusaha untuk menghentikan serangan yang datang. “Ayah, apa yang harus kita lakukan sekarang? Kita sudah memproduksi barang-barang pesanan dan semuanya malah dibatalkan tiba-tiba.”
“Fuuuhhh! Kenapa bisa begini? Gudang kita juga diserang preman!” keluh Tuan Ganesha memegangi kepalanya yang pusing. Semua kerja kerasnya hancur dalam sekejap.
Bukan itu saja, dia juga dihadapkan pada kebangkrutan! Pria paruh baya itu tiba-tiba memegangi dadanya lalu terjatuh disofa membuat Ruben terkejut dan langsung memeluk ayahnya.
“Ayah……ayah…….apa ayah bisa mendengarku?”
Mata pria paruh baya itu tertutup rapat dan dia kesulitan bernapas membuat Ruben semakin panik berteriak memanggil staff nya untuk membawa ayahnya kerumah sakit. Suasana menjadi kacau, kabar tentang Tuan Ganesha yang dilarikan kerumah sakit pun membuat keadaan perusahaan kacau balau.
Sementara itu, Dion yang sedang mendengarkan laporan anak buahnya pun terlihat tersenyum puas. ‘Aku tidak mau melakukan ini, tapi kamu membuatku terpaksa melakukan ini Joana? Apa yang terjadi pada keluargamu kelak, semua itu adalah kesalahanmu.’ gumamnya dalam hati.
“Bayarkan semua biaya pengobatan pria itu! Pindahkan dia keruang terbaik.” perintah Dion lagi.
“Baik Tuan.” jawab asistennya yang langsung melakukan perintah Dion.
Tempatkan beberapa orang untuk mengawasi dirumah sakit! Joana akan muncul kapan saja dan saat dia muncul, kalian harus membawanya pergi. Bawa dia ke villa di pulau!”
“Baik Tuan. Segera dilaksanakan.” jawab pengawalnya. “Apa masih ada tugas lain lagi Tuan?”
“Pergilah! Laporkan semuanya padaku!”
Pengawal itupun pergi meninggalkan ruang kerja Dion. Pria itu kembali melamun dan tatapan matanya tanpa ekspresi dan dingin.
‘Kenapa sulit sekali bagi wanita itu untuk tidak membuat masalah? Apakah dia lahir dari masalah? Kemanapun dia pergi, yang ada hanya masalah demi masalah.’ keluhnya.