
Sejak sikap Layla Serkan pada Arimbi berubah, tak ada seorangpun wanita di keluarga itu yang berani memperlakukan Arimbi dengan buruk. Empat menantu Layla Serkan lainnya kini pun bersikap lebih baik pada Arimbi.
Apalagi sekarang Arimbi yang bertanggung jawab pada keluarga besar itu. Yang artinya Arimbi memiliki kekuasaan yang sama seperti Emir.
Siapa yang berani menentang Arimbi? Bukankah itu sebuah kebodohan? Emir adalah kepala keluarga Serkan, dia yang membiayai keluarga besar itu. Dan Arimbi sebagai istrinya kini memegang peranan penting dalam keluarga itu.
Jika mereka tidak bersikap baik pada Arimbi, kemungkinan wanita itu bisa memotong jatah bulanan mereka. Apalagi Emir selalu menuruti keinginan istrinya itu.
“Arimbi!” Elisha berjalan menghampiri mereka. Sejak tadi dia sudah menunggu kedatangan Arimbi, dia menyukai hadiah yang diberikan Arimbi padanya tempo hari.
“Nona Elisha!” sapa Yaya dan pelayan lainnya yang ada disana. Mereka berdiri agak jauh dari Arimbi dan Layla Serkan berada.
“Hai Elisha! Aku pikir kamu masih tidur.” ucap Arimbi.
“Hehehehe……aku bangun pagi lebih awal sekarang.” jawab Elisha malu.
Biasanya dia memang akan bangun agak siang, sekitar jam sepuluh pagi. Sebagai Putri kesayangan keluarga Serkan tidak ada yang memaksanya harus bangun pagi.
Namun setelah pembicaraannya dengan Arimbi tempo hari, Elisha pun mulai merubah pola hidupnya. Dia mulai bangun pagi, jam tujuh pagi dia sudah menemani ayah dan neneknya sarapan bersama.
Perubahan Elisha ini pun disadari semua anggota keluarga Serkan lainnya. Layla Serkan yang paling senang dengan perubahan cucu perempuan satu-satunya itu.
“Baguslah kalau begitu. Aku ikut senang! Jadi kita bisa sarapan bersama lain kali.” ucap Arimbi.
“Iya benar! Aku merindukan masakanmu Arimbi.”
“Elisha, kamu tidak boleh merepotkan kakak iparmu! Kamu bisa meminta koki memasak apapun yang kamu mau! Arimbi sedang hamil!” protes Layla Serkan.
“Nenek, aku cuma bilang rindu masakan Arimbi! Aku tidak memintanya memasak sesuatu.”
“Tidak apa-apa nek. Lagipula sudah lama aku tidak memasak. Aku akan memaksa makan siang untuk Emir nanti dan mengantarnya ke kantor! Aku akan memasak lebih untuk kalian.”
“Wah, terima kasih Arimbi! Kamu memang kakak ipar terbaik! Apa aku boleh ikut denganmu nanti?”
“Elisha, pergilah nanti temani Arimbi! Emir pasti sibuk, Arimbi akan bosan menunggunya disana.”
“Iya iya nek! Aku akan menemani kakak iparku kemanapun dia pergi! Setelah itu kita pergi kemana?”
“Ehm, semalam Emir bilang akan menemaniku belanja pakaian. Semua pakaianku sudah tidak muat! Perutku semakin besar jadi aku harus membeli pakaian lain.” jawab Arimbi lagi.
“Bagus! Aku tahu butik yang khusus menyediakan pakaian ibu hamil! Kemarin aku melihat butik itu punya koleksi terbaru! Bagus-bagus!”
“Kamu ini kalau sudah bicara soal belanja pasti semangat!” ujar Layla Serkan.
“Nenek, sudah lama sekali kita tidak pergi belanja bersama. Iyakan? Mungkin kita harus mengatur waktu untuk pergi bersama? Bagaimana?” Elisha memberikan saran.
Padahal sebenarnya dia hanya ingin menghabiskan lebih banyak waktu bersama Arimbi. Dia senang punya kakak ipar yang menjadi temannya sekarang.
“Ya, benar juga Elisha! Nenek akan pergi bersama kalian nanti!” ucap Layla Serkan membuat kedua cucunya itu saling pandang dan tersenyum.
“Asyikkkkk…..nenek ikut!” pekik Elisha kegirangan.
“Kamu ini seperti anak kecil saja! Seharusnya kamu mulai memikirkan cari pacar atau menikah.” ucap Layla Serkan membuat Elisha langsung terdiam.
“Sibuk? Memangnya kamu sibuk apa?” tanya Layla Serkan. “Biasanya kamu juga sibuk urus binatang peliharaanmu dan tidur.”
“Nenek, beberapa bulan lagi keponakanku akan lahir. Aku pasti sibuk mengurusi mereka.”
“Elisha…..Elisha……aku akan menyediakan babysitter untuk mengurusi cicitku! Memangnya kamu bisa mengurusi anak kecil? Mereka bukan boneka!”
“Tenang saja nenek! Aku banyak menonton video cara mengurus bayi. Aku mau keponakanku kelak dekat denganku.” ucap Elisha. Memang itulah yang diinginkannya.
Mendengar perkataan cucu perempuannya, Layla Serkan memandang Elisha dan tersenyum. Sejak dia melihat kedekatan Elisha dan Arimbi, dia bisa melihat cucu perempuannya itu sudah banyak berubah.
“Bagus kalau begitu! Karena suatu hari nanti kamu juga akan menjadi seorang ibu. Bagus kalau kamu belajar mulai dari sekarang.”
“Iya nenek. Aku senang! Sepertinya menyenangkan, bukan? Aku tidak akan kesepian lagi. Aku bisa bermain bersama keponakanku. Apa aku boleh pindah ke villa Emir kalau Arimbi sudah melahirkan?”
“Soal itu baiknya kamu tanyakan pada kakakmu saja.” jawab Arimbi.
“Tidak usah! Elisha hanya kan mengganggu ketenangan kalian saja nanti.” ucap Layla Serkan.
“Heh? Kenapa nek? Aku tidak akan mengganggu mereka. Justru aku membantu mereka, Arimbi bisa istirahat dengan tenang dimalam hari. Aku bisa membantunya mengurusi anaknya. Iyakan?” Elisha masih bersikukuh agar bisa tinggal di villa Emir agar selalu bisa dekat dengan Arimbi.
“Terserahmu saja! Tapi kalau Emir tidak setuju, kamu tidak boleh memaksanya.” akhirnya Layla Serkan pun mengatakan itu. Dia paham maksud dari cucu perempuannya itu.
Selama ini Elisha memang kesepian karena semua saudaranya laki-laki. Dia satu-satunya cucu perempuan di keluarga itu dan hanya ditemani pengasuh sejak kecil.
Elisha tidak terlalu suka berteman dengan gadis-gadis kaya lainnya. Baginya para gadis kaya itu tidak sepikiran dengannya, mereka hanya suka hidup berfoya-foya dan bersenang-senang saja.
Sementara Elisha adalah tipe orang yang sebenarnya suka beberja dan mandiri. Namun sebagai tuan putri di keluarga Serkan, dia tidak diizinkan bekerja. Semua kebutuhannya sudah terpenuhi.
Meskipun Elisha berasal dari keluarga terkaya dinegeri ini, tapi sebenarnya dia sangat ingin merasakan penghasilan sendiri. Dia ingin merasakan bekerja seperti Arimbi, makanya dia senang saat Arimbi menentang keluarga Serkan agar tetap bisa bekerja. Mungkin tidak lama lagi dia juga bisa mendapat kesempatan untuk bekerja seperti Arimbi.
“Elisha, kamu adalah adik iparku. Aku tidak akan pernah melarangmu datang kerumahku. Aku senang kamu selalu menemaniku.” ucap Arimbi sejujurnya.
“Kakak iparku, kamu memang yang terbaik dan bahkan lebih baik dari kita semua. Kamu punya dukungan Emir dan ayah serta nenek yang menyayangimu. Kamu berbeda dengan yang lainnya.”
Hal yang paling disukai Elisha dari Arimbi adalah keberanian wanita itu. Dia melihat kalau Arimbi tidak memiliki rasa takut sedikitpun dan dia selalu memuji Arimbi dihadapan neneknya sejak awal.
Cara berpikir Arimbi dan kemandirian wanita itu menjadi inspirasi bagi Elisha. Dia ingin seperti kakak iparnya itu, bisa menjadi wanita mandiri.
“Jangan dengarkan dia, mulutnya selalu manis! Itu karena ada maunya.” ucap Layla Serkan.
“Hehehe….nenek! Kenapa bicara begitu? Aku mengatakan yang sejujurnya. Arimbi memang berbeda kan dengan semua menantu nenek? Setidaknya Arimbi tidak mau bergantung pada suami ataupun keluarganya. Dia mau mandiri dan bekerja keras.”
“Apa kamu mau bilang kalau kamu juga mau bekerja? Elisha, itu tidak akan pernah terjadi! Kamu cucu perempuanku satu-satunya! Kamu tidak kekurangan.” Layla Serkan langsung menolak keras.
“Nenek, aku tidak bilang mau bekerja kan. Tidak lama lagi pasti akan ada bayi perempuan dikeluarga ini. Aku harap Arimbi melahirkan anak perempuan yang cantik dan lucu.”
“Hmmm……kedengarannya menyenangkan.” Layla Serkan tersenyum lalu menatap Arimbi. ‘Ya sudah lama sekali tidak ada suara bayi dirumah ini. Ah, semoga Arimbi melahirkan bayi kembar sepasang. Menyenangkan sekali! Keluarga Serkan akan punya pewaris dan juga putri kecil! Aku sudah tidak sabar mengendong cicitku.’ gumam Layla Serkan dihatinya.
Ketiga wanita beda generasi itu berbincang-bincang cukup lama sambil menikmati cemilan. Para pelayan memasang senyum bahagia. Sudah lama sekali suasana dikediaman Serkan tidak seceria ini, semuanya berubah sejak kehadiran Arimbi menjadi Nyonya Muda dikeluarga itu.