
Suara ketukan di pintu terdengar, “Masuk!”
Pengawalnya membuka pintu tanpa melangkah masuk dan dengan hormat mengatakan,”Dokter Cantika sudah tiba disini.”
“Suruh dia segera masuk.” perintah Dion.
Mendengar itu, pengawal pun menyamping saat Dokter Cantika masuk mengenakan pakaian kasual.
Dia adalah seorang wanita yang tampak lembut berusia sekitar empat puluhan yang tampak seperti orang yang baik untuk bergaul.
“Direktur Harimurti!” Dokter Cantika menyapa sopan saat dia masuk.
Dion mengangguk, “Tolong periksa dia.”
“Baiklah.”
Dion berjalan keluar dari kamar dan menutup pintu dibelakangnya untuk memberi para wanita privasi mereka setelah itu. Dokter Cantika akhirnya keluar lagi setelah sepuluh menit. Dion tidak mengatakan apa-apa tapi dia terus menatapnya dengan bibir mengerucut.
“Direktur Harimurti, wanita itu masih perawan.” ucap Dokter Cantika. Hanya dengan satu kata, dokter telah membuktikan bahwa Arimbi tidak pernah mengandung anak. Ekspresi wajah Dion pun langsung muram saat mendengar itu. Mungkinkah ada yang salah dengan mentalnya sampai-sampai dia emnganggap dirinya memiliki anak?
Dion melambaikan tangannya untuk memberi isyarat pada pengawalnya agar membawa dokter itu keluar dari hotel Harimurti melalui jalan rahasia. Sehingga tidak ada yang mengetahui bahwa dia ada disini. Tak lama kemudian, Arimbi pun keluar dari ruangan dan bertanya dengan nada tenang, “Dokter yang kamu bawa sudah membuktikan bahwa aku tidak bersalah. Bisakah aku pergi sekarang?”
“Aku telah membuatmu tidak nyaman Nona Arimbi! Aku minta maaf atas semua ini.”
Dion mungkin pria yang keras kepala dan suka memerintah, tetapi dia masih memiliki sopan santun. Arimbi mungkin akan mengubah pendapatnya tentang dia jika saja dia bukan ayah kandung bayi itu. “Aku harap kamu melakukan apa yang tadi kamu katakan.” ucap Arimbi.
Arimbi tidak mau pria itu mengganggunya lagi, dia adalah orang yang merenggut kesuciannya di kehidupan sebelumnya namun dia mengijinkannya menikahi Reza. Dia bahkan tidak menunjukkan banyak reaksi ketika mereka secara kebetulan bertemu beberapa kali di jamuan makan. Kemungkinan besar seperti apa yang dikatakannya tentang dia yang menjalani operasi kepala sebelumnya yang menjadi alasan mengapa dia kehilangan ingatan tertentu.
Bayinya sudah mati, anak manis itu mungkin tidak akan terlahir kembali sebagai anaknya di kehidupan ini. Nasib mereka sebagai ibu dan anak berumur pendek. Meski begitu, Arimbi tidak ingin menyimpan dendam pada Dion. Karena tidak ada yang terjadi diantara mereka didalam kehidupan ini dan Arimbi juga tidak ingin ada hubungan dengan dia.
Dion meminta salah satu pengawalnya untuk membawa Arimbi melalui jalan rahasia untuk meninggalkan hotel. Setelah kehebohan itu, Arimbi memutuskan tidak pergi ke rumah sakit. Dia menghentikan taksi dan meminta supir membawanya ke Rafaldi Group. Sebagai putri kandung Keluarga Rafaldi, semua petugas keamanan maupun resepsionis tidak menghentikannya saat dia masuk ke perusahaan dan langsung menuju ke lantai atas ke kantor ayahnya.
Yadid baru saja akan pergi menemui klien saat sekretarisnya memberi tahunya melalui telepon bahwa Arimbi ada disini. Jadi dia menunggu dikantornya, dia mendengar suara ketukan di pintu. Saat pintu terbuka muncul Arimbi yang berjalan masuk sambil tersenyum manis dan menyapanya, “Ayah.”
Mendengar suaranya yang indah itu, Yadid langsung memberikan senyum pada putrinya itu.
“Apa yang kamu lakukan disini? Apakah kamu datang kesini sendiri? Kamu tidak pulang kerumah menemui ibumu?” tanya Yadid dengan penuh kasih sayang.
Arimbi berjalan terhuyung-huyung kearahnya sebelum dia melingkarkan tangannya dilengan ayahnya, “Apakah ayah tidak mau melihatku? Aku tidak peduli! Aku mau melihatmu setiap hari, ayah.” Arimbi pura-pura menggerutu manja.
Ketika Yadid mendengar ucapan putrinya, dia mencubit lembut hidung putrinya dan berkata, “Oh---aku senang sekali melihatmu! Bagaimana mungkin aku tidak ingin melihatmu?”
“Ah, itu lebih baik,” jawabnya dan hanya melepaskan lengan Yadid setelah menggosoknya lembut. Bukannya dia berpura-pura akrab, Arimbi sebenarnya tidak bisa menahan rasa malu ketika dia melakukan itu. Dia senang tidak ada orang ketiga di kantor bersama mereka yang menyaksikan dia begitu penuh kasih sayang dengan ayahnya.
Kemudian yadid menyuruhnya untuk duduk, “Apakah kamu mau minum sesuatu?”
Karena tidak mau terlalu sopan pada putrinya sendiri, Yadid membicarakan hal lain untuk dibicarakan.
“Aku mau kamu meminta ijin pada Tuan Emir. Bagaimana mengenai itu? Apakah dia setuju dan mengijinkanmu bekerja disini?” tanya Yadid.
“Dia setuju, ayah! Aku sudah bisa mulai bekerja kapan saja sekarang.” Arimbi tersenyum.
“Benarkah.” Yadid sangat senang mendengarnya.
“Aku tidak berani bercanda dengan Emir. Aku tidak akan datang untuk memberitahu ayah jika dia sudah menyetujuinya. Dia juga bilang kalau dia akan mengajarimu saat dia luang.”
Emir terlalu picik untuk hal seperti itu. Kalau di pikir-pikir, dia masih marah pada Arimbi dan dia sudah mencoba mengiriminya pesan dan meneleponnya beberapa kali tetapi Emir mengabaikan semua yang dilakuka Arimbi untuk menghubunginya.
Sementara Yadid memikirkan ucapan Arimbi, dia berpikir bahwa putrinya tidak akan pernah berani menentang kata-kata Emir.
“Karena Tuan Emir telah memberimu ijin, kamu sudah bisa mulai bekerja senin depan. Kamu harus banyak belajar denganku sebagai mentormu. Kamu adalah satu-satunya anak akndungku jadi rafaldi Group dengan begitu akan menjadi milikmu suatu hari nanti. Jangan mengecewakanku Arimbi.”
“Terimakasih ayah! Aku janji akan bekerja keras.”
Yadid mengangguk merasa lega. Memiliki menantu seperti Emir memberinya keyakinan bahwa putrinya akan cepat belajar. “Arimbi, apakah kamu dan Tuan Emir...”
Pipi Arimbi langsung memerah dan dengan malu-malu dia memotong ucapan ayahnya, “Ayah!”
“Aku ayah kandungmu Arimbi. Aku hanya khawatir padamu.”
Bukan hanya Arimbi, bahkan Yadid pun merasa malu untuk menanyakan hal seperti itu.
“Ayah, aku sudah menikah dengannya. Aku tidak akan pernah menyesalinya. Selama dia tidak meninggalkanku dan aku tidak menyerah pada pernikahan kami, aku akan bersamanya seumur hidupku.” jawab Arimbi penuh percaya diri.
Yadid mungkin merasa sangat senang memiliki menantu seperti Emir, tapi sebagai seorang ayah sangat menyakitkan baginya memikirkan bahwa putrinya harus menjalani hidupnya seperti seorang wanita yang belum menikah.
“Ayah?” Arimbi memanggilnya dengan ragu-ragu.
Yadid menatapnya memberinya tatapan bahwa Arimbi bisa mengatakan apapun yang ingin dia katakan.
“Uh...ayah hadiah seperti apa yang disukai pria?” tanya Arimbi.
“Apakah kamu ingin membelikan hadiah untuk Tuan Emir?” tanya yadid setelah terdiam sejenak. Pria itu tersenyum melihat ekspresi putrinya yang tampaknya bahagia. “Setiap orang kesukaan masing-masing. Aku suka mengoleksi barang antik, tapi itu belum tentu disukai oleh Tuan Emir. Aku juga tidak tahu apa yang dia sukai. Mengapa kamu tidak mencoba memberinya dasi?”
Selera Emir sangat tertutup. Tidak mungkin ada orang yang tahu selera pria itu. Karena tidak pernah ada diberitakan di media bahkan tak ada seorangpun yang mengetahui tentang hal-hal pribadi pria itu. Bahkan orang normal tidak bisa mendekati pria itu, begitu mereka mencoba mendekatinya maka para pengawalnya akan segera bersiap diri untuk bertarung melindunginya.