
Begitu melangkah memasuki gazebo, Arimbi langsung meletakkan dua buah kotak itu tepat didepan Emir sambil tersenyum manis dan berkata, “Emir, ini hadiahmu untuk hari ini.”
“Baiklah.” ucapnya singkat.
Sambil mengangguk Emir berkata, “Saat kamu keluar jangan lupa beritahu Rino untuk mencarikan seseorang yang bisa menjadi supirmu. Jangan mengemudi sendiri.”
“Aku tahu. Tapi sebenarnya, kemampuan mengemudiku tidak seburuk itu.”
“Oh ya? Siapa yang kemarin menabrak pohon?” dengus Emir meliriknya sekejap.
“Aku pergi sekarang.” ujar Arimbi tak tahu harus mengatakan apalagi.
Akhirnya, Emir memang benar-benar tidak mengizinkannya mengemudi sendiri lagi, jadi dia pergi dengan memasang wajah cemberut.
Baru setelah wanita itu pergi, Agha yang duduk segera mengangkat tangannya untuk mengambil salah satu kotak itu dan bertanya, “Hei Emir, apa yang diberikan kakak ipar padamu?”
Emir merebut kembali kotak itu dari tangan adiknya dan dengan suara dingin dia menjawba, “Kamu tahu ini hadiah dari kakak iparmu, kenapa kamu masih menyentuhnya? Apa kamu mau tanganmu dipotong?”
“Aihh….aku cuma mau melihat. Lagipula aku tidak membukanya kan? Ayolah Emir cepat buka kotaknya, aku penasaran ingin melihat apa yang ada didalam kotak itu.” Agha penasaran sekali ingin tahu isinya apalagi melihat reaksi kakaknya yang sangat melindungi kotak-kotak hadiahnya itu. Belum pernah dia melihat kakaknya bersikap protektif seperti ini sebelumnya, disatu sisi dia merasa senang.
‘Kira-kira apa yang Arimbi berikan pada pada kakakku sehingga membuatnya tersenyum bahagia seperti itu? Sudah lama sekali sejak terakhir kali aku melihatnya tersenyum. Tapi kali ini senyumnya jauh berbeda. Itu senyuman bahagia seperti seorang anak yang baru mendapatkan mainan kesukaannya. Apakah kakak sebahagia ini karena Arimbi mampu membahagiakannya?’ gumamnya didalam hati.
Untuk memenuhi permintaan adiknya, Emir membuka kotak-kotak itu dan mengeluarkan dua buah boneka sapi yang terbuat dari wol. Boneka-boneka itu dibuat sendiri oleh Arimbi, lalu Emir mengangkat kedua boneka itu lalu meremasnya.
Moooo……
“Ah? Dia benar-benar bersuara!” pekik Agha terkejut dan dengan penasaran dia mengulurkan tangannya berniat untuk mengambil salah satu sapi itu dan memeriksanya. Tetapi dia kembali menarik tangannya kembali setelah menyadari tatapan tajam dari kakaknya.
“Darimana Arimbi membeli semua ini? Selain terlihat kecil, mereka juga terlihat begitu hidup seperti sapi benaran! Kalau saja mereka lebih besar sedikit, kita bisa menjadikannya bantal. Wah bagus sekali.” ujar Agha yang malah merasa senang dan ingin memiliki boneka seperti itu. Tapi apa daya, mana mungkin kakaknya akan memberikan satu boneka itu padanya.
“Arimbi membuatnya sendiri.” jawab Emir singkat. Sambil meletakkan mainan-mainan itu ke atas meja, Emir mengelus lembut dan menatapnya dengan penuh perasaan dan tersenyum puas. Hal itu langsung membuat Agha menatapnya tak percaya.
‘Inikah kakakku? Dia terlihat sangat senang hanya menerima hadiah boneka dari kakak ipar?’
“Emir, kamu benar-benar jatuh cinta!” ucapnya penuh harap. Tanpa membalas pandangannya Emir menyingkirkan kedua boneka sapi itu dan menjawab ucapan adiknya.
“Apakah itu berarti kamu akan menceraikannya nanti?” tanya Agha lagi.
Emir melotot dan balik bertanya, “Apa kamu sudah tidak sabar menantikanku bercerai?”
“Apa aku terlihat seperti orang semacam itu? Meskipun aku tidak terlalu menyukainya tapi anggapanku tentangnya berubah setelah dia menjadi kakak iparku.” jawab Agha mengatakan yang sejujurnya.
“Tapi Emir, aku benar-benar menyarankanmu untuk mengajarinya satu atau dua hal kalau kamu berencana untuk tinggal bersamanya sepanjang hidupmu. Karena kepribadiannya saat ini mungkin tidak sesuai dengan keluarga kita. Kamu paham kan maksudku?”
Kalimat adiknya itu membuat Emir merasa marah karena dia tidak suka jika ada orang yang mendikte istrinya apalagi kepribadian istrinya.
“Aku yang bercengkerama dan tidur bersamanya! Lagipula aku tidak keberatan dengan kepribadiannya, jadi apa masalahnya dengan kalian semua? Dia tidak menikah dengan seluruh keluarga Serkan! Dia hanya menikah denganku, entah dia cocok atau tidak, aku yang memutuskan! Dia tidak perlu merubah dirinya hanya untuk menyenangkan anggota keluarga yang tidak menyukainya! Biarkan dia menjadi dirinya sendiri selama ini dia tidak melakukan hal buruk apapun!” tegasnya. Lalu dia melirik adiknya yang sedang menatapnya.
“Apa yang nenek katakan pada kalian berdua tadi? Jangan pikir aku tidak tahu kamu dan Elisha sedang menemani nenek memata-matai kami darikejauhan. Apa dia bilang kalau dia ingin mengusir Arimbi jika aku sembuh nanti atau semacamnya?”
“Emir…..: Agha tak tahu harus menjawab apa. Dia tak melanjutkan kalimatnya dan hanya diam.
Di rumah ini, Layla Serkan-lah yang tertua sementara Emir adalah kepala keluarga, Mereka berdua adalah orang yang tak ingin Agha ganggu. Jadi dia memutuskan untuk menghindari pertanyaan itu.
“Kakak iparmu adalah tipe orang yang berkembang. Dia hanya perlu waktu saja, aku yakin dia akan membuat kalian semua terkesan. Dan bahkan jika dia gagal melakukannya, itu juga bukan salahnya.”
“Kalian semua yang buta! Apapun yang terjadi karena aku sudah menikah dengannya, dia adalah istriku. Kalau dia tidak membenciku ataupun meninggalkanku, aku tidak akan menyerah! Agha,aku berharap kamu sebagai saudaraku bisa menghormati Arimbi seperi kamu menghormatiku. Lagipula dia adalah kakak iparmu. Perlakukanlah dia sebagaimana mestinya.”
Agha tertegun mendengar kalimat Emir, dengan tulus dia menjawab, “Emir! Asalkan kamu menerimanya maka dia akan menjadi kakak iparku.” ujar Agha yang merasa lega karena akhirnya Emir punya seseorang yang ingin dia lindungi. Dan sepertinya kakaknya itu tidak berniat bermain-main dengan pernikahannya dengan Arimbi.
“Tapi, Emir! Tidakkah kamu berpikir kalau dia memanfaatkanmu? Melihat betapa besar perbedaan sikapnya dibandingkan dengan sebelumnya? Atau dia mungkin berusaha untuk mendapatkan sesuatu darimu?” ujar Agha lagi.
Setelah diam beberapa saat, Emir menatap adiknya dan berkata, “Tak peduli apapun yang dia inginkan aku akan memberikannya sesuai dengan kemampuanku.”
Akhirnya Agha pun tak tahu harus berkata apalagi. Sambil menatap adiknya, Emir mencemooh dirinya sendiri dan berkata, “Agha! Dengan keadaanku seperti ini aku bahkan bukanlah pasangan yang setara dengan Arimbi. Dia gadis yang sangat cantik dan baik, dia tidak berpura-pura dalam bersikap. Bisa dibilang bahkan aku sudah menyeretnya kedalam hidupku dengan menikahinya.. Dengan siapa lagi nenek ingin menikahkan aku? Siapa lagi yang bisa kunikahi?”
“Emir, kamu akan segera sembuh.”
Sambil menghela napas Emir menjawab, “Kalau nenek benar-benar berencana untuk mengusir Arimbi, mungkin akan lebih baik kalau aku tetap seperti ini saja. Dengan begitu, sekalipun aku tidak sepadan dengannya, nenek tidak akan mempersulit Arimbi saat mengetahui bahwa kami suami istri. Sebaliknya dia mungkin akan takut Arimbi akan meninggalkan aku.”