GADIS BERGAUN MERAH

GADIS BERGAUN MERAH
BAB 255. KARENA CINTA


Pratiwi tahu bahwa ini akan sangat sulit untuk anak perempuannya menyatu dengan orang-orang dari kalangan kelas atas setelah kembali ke keluarga kaya.


Meskipun keluarga Darmawan memberikannya pendidikan terbaik dan tidak pernah membuat Arimbi menderita. Hal itu tidak akan menutup fakta bahwa mereka adalah keluarga yang berasal dari pedesaan.


Mau bagaimana lagi, orang-orang dengan status sosial berbeda memiliki kelompoknya masing-masing. Rasanya sulit dan melelahkan bagi orang-orang di luar status sosial itu untuk benar-benar bisa menyatu dengan mereka.


Pratiwi mengetahui dengan baik siapa itu keluarga Serkan. Mempertimbangkan identitas Arimbi, dia tidak cocok menjadi Nyonya Tertua dari keluarga Serkan. Namun seperti biasanya, Emir mengatakan satu kalimat yang membuat Pratiwi terdiam seribu bahasa.


“Arimbi yang memaksaku untuk menikahinya.” ucap Emir.


“Hah? Dia memaksamu untuk menikahimu?” wajah Pratiwi lamgsung memerah. Dia pikir kalau Emir sudah salah menilai anaknya tapi yang terjadi malah sebaliknya. Bahwa anak perempuannya yang memaksa untuk melakukan pernikahan itu.


“Bu, itu semua sudah berlalu. Aku tidak ingin mengulangi apa yang telah terjadi. Karena Arimbi sudah menikah denganku, aku ingin hidup dengannya hingga akhir hayatku.” jawab Emir lagi. Emir menjelaskan dengan sabar.


“Ini bukan berarti kami tidak akan mengumumkannya ke masyarakat. Aku masih harus menyelesaikan beberapa hal untuk mrmpersiapkan. Setelah semua perencanaannya selesai maka pernikahan kami akan diumumkan ke masyarakat. Tenang saja Bu, aku akan memberikan Arimbi pernikahan yang layak.” kataEmir dengan serius.


“Aku tidak akan membiarkan dia masuk ke keluarga Serkan secara diam-diam seperti ini. Apalagi, kondisi Arimbi saat ini sedang mengandung anakku. Aku akan pastikan keamanannya dan calon anak kami.” Emir enggan membiarkan Arimbi dirugikan. Tidak peduli orang lain memiliki hal yang sama atau tidak, istrinya harus punya segalanya.


Jadi apa yang bisa Pratiwi katakan? Toh dia bukan ibu kandung Arimbi? Sementara Mosha, ibu kandung Arimbi bahkan tidak terlalu banyak berkomentar seperti itu. Dia hanya mengharapkan dan meminta Emir berjanji untuk selalu melindungi Arimbi.


“Baiklah…..baiklah.”ucap Pratiwi menjawab. Akhirnya Emir berhasil membuat Pratiwi berkata, “Emir, Arimbi itu anak yang baik dan polos. Walaupun sesekali dia suka bertingkah nakal, tapi dia aslinya memiliki sikap yang baik dan tulus.”


“Aku dengar kalau keluarga kaya punya masalahnya sendiri. Temperamen Arimbi membuatku khawatir padanya. Kamu harus berjanji untuk melindunginya. Jika kamu benar-benar lelah menghadapinya suatu saat nanti, jangan memarahi atau memukulnya.” kata Pratiwi yang memang benar-benar mengkhawatirkan Arimbi.


“Jika kamu sudah tidak menginginkannya lagi, cukup katakan saja pada kami, dan kami akan datang menjemputnya secepatnya. Kami tidak akan membiarkannya bergantung padamu. Kami tidak mau jika dia akan membuatmu menghadapi masalah.” ujar Pratiwi menegaskan.


Dengan tenang Emir menjawab, “Bu, tidak peduli seberapa buruk diriku ini, aku tetap akan melindungi istriku dan anakku. Tidak peduli seberapa apatisnya diriku, aku tidak akan pernah memarahi dan memukulinya. Semua hal yang ibu khawatirkan tidak akan pernah terjadi.”


“Terima kasih.” ucap Pratiwi singkat.


“Bu, jangan terlalu kaku denganku. Aku disini hari ini sebagai anak menjenguk ibu mertuaku. Ibu sudah berada di rumah sakit sangat lama dan aku belum pernah menjengukmu sekalipun. Akulah satu-satunya yang pantas disalahkan.”


Emir tidak bisa berkata-kata lagi. Demi Arimbi, Pratiwi berani membujuknya untuk menceraikan Arimbi saat itu juga meskipun Emir sudah mengatakan kalau Arimbi sedang mengandung anaknya. Saat Arimbi tidak terlinat disana, sosoknya sama seperti Mosha, nampak ketakutan dihadapan Emir.


“Arimbi sangat beruntung karena dia punya dua ayah dan dua ibu. Walaupun ibu bukanlah ibu kandungnya, ibu akan selalu menjadi ibunya karena ibu yang membesarkannya. Karena dia memanggilmu begitu maka aku juga akan mengikuti caranya memanggilmu, ibu akan menjadi ibu mertuaku juga.” ucap Emir dengan sopan.


Pratiwi benar-benar kehabisan kata-kata. Apa yang dikatakan Emir membuatnya sangat puas. Orang yang punya kekuasaan seperti dia bisa berbicara dengan rendah hati dan tulus serta menghormatinya dengan baik. Yang pertama, sudah jelas kalau dia adalah orang baik.


Yang kedua. Sudah pasti kalau dia peduli pada Arimbi. Jika dia tidak mencintainya, dia tidak mungkin bersikap seperti tadi. Seperti yang Emir katakan, Pratiwi berada dirumah sakit dalam waktu sangat lama, tapi dia belum pernah menjenguknya sebelumnya.


Itu bukan karena dia tidak punya waktu luang, tapi karena dia tidak mencintai Arimbi sebelumnya. Sekarang dia telah berubah, dia menaruh perhatian kepada orang-orang yang dicintai Arimbi.


Sementara itu, Adrian menarik wanita itu keluar dari bangsal dan mulai menghujaninya dengan pertanyaan. Arimbi tidak mengatakan apapun tentang pengulangan kehidupan atau mimpinya. Dia dengan putus asa berkata kalau dia sudah muak dengan Reza jadi dia harus menikahi Emir.


Mau bagaimanapun, Adrian adalah kakaknya. “Arimbi….kau serius? Apa yang harus aku lakukan terhadapmu? Kalaupun kau muak dengan Reza jangan menganggap remeh masa depanmu. Emir memang lebih baik daripada Reza, tapi dia---”


Adrian melihat kearah pintu bangsal dengan waspada untuk memastikan tidak ada orang yang keluar dari sana. Lalu dia merendahkan suaranya dan berkata lagi, “Dia sekarang cacat, dan adadesas desus kalau dia tidak bisa menghasilkan anak. Kamu masih muda tapi kamu sudah memberikan kepadanya seluruh hidupmu.”


Arimbi tetap diam saja mendengarkan apa yang dikatakan Adrian tanpa berusaha menghenttikannya. Dia membiarkan pria itu menyelesaikan apa yang ingin dia katakan.


“Kamu sudah gila? Kecuali kalau kamu menikahinya saat berumur tujuh puluh tahun, aku tidak masalah dengan hal itu.”


Arimbi tertawa, “Adrian! Kalau aku sudah tujuh puluh tahun, aku seharusnya menjadi neneknya kan?


Adrian menjawab, “Kamu ini hanya sedang stress. Kamu tidak pernah mendiskusikan hal-hal besar dengan kami, dan kamu tetap merahasiakannya dari kami untuk waktu yang cukup lama.” Adrian menatap Arimbi dengan intens.


“Bukan maksudku begitu. Aku dan Emir memang sengaja merahasiakan ini untuk sementara sampai pesta pernikahan kami nanti. Dan tentang rumor yang beredar itu. Apakah rumor selalu benar? Dengarkan aku baik-baik ya Adrian dan aku harap kamu tidak akan mengatakan kepada siapapun tentang hal yang akan aku katakan ini.”


“Apa itu?”


“Tidak selamanya rumor itu benar, kalau memang Emir dikabarkan tidak bisa mempunyai anak, maka bagaimana bisa aku mengandung anaknya sekarang.” ujar Arimbi tersenyum. Mendengar perkataan itu mata Adrian membelalak tak percaya apa yang baru saja didengarnya.