
Mungkin juga karena Emir masih bekerja dan karena efisieninya yang tinggi, maka bawahannya juga harus bekerja keras. Jika mereka pergi duluan, pekerjaan mereka akan menumpuk.
Pekerjaan yang sangat intens membuat para karyawan di perusahaan itu tegang. Alhasil suasananya pun jadi tegang. Arimbi mengetuk pintu ruang direktur.
Awalnya dia ingin Rino atau Ciara ikut dengannya tetapi mereka berdua menolaknya. “Masuk!” suara Emir terdengar dari dalam. Arimbi menarik napas dalam-dalam sebelum mendorong pintu dan masuk.
“Tutup pintunya.” perintahnya dengan dingin.
Arimbi berbalik dan menutup pintu ruang direktur sementara Emir membelakanginya seraya duduk didepan jendela besar.
Arimbi bertanya-tanya apakah diasedang melihat langit biru diluar atau sedang memikirkan sesuatu. Selain itu, dia juga mencium bau tembakau memenuhi ruangan itu.
Ketika Arimbi mendekat dia melihat rokok menyala yang terselip di jemari tangan kanan Emir. Selama mereka menikah, ini pertama kalinya dia melihat suaminya itu merokok.
Selama ini Arimbi mengira bahwa dia tidak merokok. “Emir.” dia berjalan ke hadapan suaminya, kemudian membungkuk dan menyunggingkan senyum manis seraya berkata, “Sudah waktunya makan siang. Ayo pergi!”
Kemudian Arimbi mengulurkan tangan dan mengambil rokok dari jemari suaminya sambil berkata, “Kenapa kamu merokok? Mulai sekarang kurangilah merokok.”
“Apa kamu ikut campur urusanku?”
“Ya, aku memang ikut campur urusanmu. Mau bagaimana lagi, kamu kan suamiku. Aku mempedulikan kesehatanmu, tentu saja aku harus ikut campur.” jawabannya praktir terdengar mendominasi.
Dengan tenang Emir memperhatikan Arimbi yang mematikan rokok itu dan membuangnya sebelum kembali kehadapannya. Lalu Emir mengisyaratkan padanya untuk membungkuk.
“Apa kamu mau menceritakan sebuah rahasia padaku?”
Ketika Arimbi menurut, pria itu menyentil dahinya dengan sangat keras.
“Aduh! Kamu menyentil dahiku lagi! Emir, firasatku sudah tidak enak saat kamu menyuruhku untuk membungkuk.” dengan cepat Arimbi menegakkan tubuhnya dan mengusap-usap keningnya sambil menatapnya sedih. Hati Emir melunak saat melihatnya. Dia menghela napas diam-diam sebelum menarik istrinya ke pangkuannya dan memeluknya.
“Katakan apa yang kamu lakukan pagi ini. Apakah kamu melakukan apa yang aku larang? Kamu bilang kamu ikut campur dalam hal kesehatanku karena aku adalah suamimu. Ini juga sama, demi keamananmu aku harus tahu apa yang terjadi karena aku suamimu.”
“Berapa kali aku bilang kalau kamu tidak boleh mengemudi? Apa lagi kamu tadi mengebut. Seru ya? Balapan dijalan raya dan hampur tabrakan tidak, tadi?”
Arimbi terdiam. Dia penasaran jangan-jangan suaminya punya indera keenam. Bagaimana bisa dia tahu bahwa Arimbi ngebut lagi?
‘Ngebut tentu saja seru! Apalagi kalau lawannya adalah pembalap profesional! Wah aku tidak bisa bayangkan bagaimana serunya. Sudah lama sekali aku tidak ikut balapan! Tapi tadi lumayanlah, bisa ngebut karena wanita gila saingan cintaku itu!’ bisik Arimbi didalam hatinya.
“Emir….” panggilnya dengan lembut.
“Bahkan jika kamu memanggilku kakek, itu tidak akan ada gunanya.”
“Apa kamu rela kalau aku cepat jadi janda? Terus siapa yang akan menjagaku? Apa kamu rela istrimu yang sangat cantik ini menikah lagi dengan pria lain?”
Emir tidak tahu dia harus berkata apa, apa dia harus senang atau sedih setelah mendengar jawabannya. Dia pikir istrinya ini sangat pandai bicara. Kalau diadakan kompetisi lomba berdebat pasti Arimbi akan menang.
Memikirkan Arimbi jadi janda dan menikah lagi dengan pria lain saja sudah membuat rahang pria itu mengeras dan marah karena cemburu.
‘Mana mungkin aku mau cepat mati! Enak sekali dia bisa menikah lagi? Tidak akan ku ijinkan dia menikah lagi dan disentuh pria lain kalau aku mati! Akan kuhantui dia dan kutakut-takuti semua pria yang mendekatinya! Awas saja!’ geramnya didalam hati.
“Aku mengirimkan anak buahku untuk mengikuti Zivanna.” ucap Emir tiba-tiba yang membuat Arimbi terkejut dan syok. Dengan cepat dia berdiri dari pangkuannya dengan tangan mengepal.
Ekspresi dingin menghiasi wajah mungilnya. Matanya yang berbentuk bulat mempesona dipenuhi dengan kecemburuan.
Dengan marah, Arimbi bertanya, “Emir Rayyanka Serkan! Apa kamu menyuruh anak buahmu mengikuti Zivanna Lavani hanya untuk melindunginya? Aku ini istrimu! Tapi kenapa kamu tidak menyuruh orang untuk melindungiku? Aku mengerti sekarang! Dulu kamu tertarik padanya tapi kamu mengalami kecelakaan sebelum sempat mengakui perasaanmu padanya!”
“Setelah itu, karena kamu tidak ingin membuatnya malu, jadi kamu benar-benar mengabaikannya supaya dia menyerahpadamu. Aku benarkan? Kamu tipe orang yang suka membuat rencana rahasia. Pasti begitu! Katakan sesuatu Emir! Aku tidak peduli kalau kamu pernah jatuh cinta pada siapa! Tapi aku ini istrimu kamu harus setia padaku setelah menikah. Karena aku tidak mau diduakan! Itu menjijikkan!”
Emir menunggu sampai dia selesai bicara berprasangka buruk kemudian berkata tanpa daya, “Tidak bisakah kamu menunggu sampai aku selesai bicara sebelum curiga? Sepertinya kamu sangat cemburu sekarang.” Tentu saja dia merasa senang istrinya cemburu, karena itu berarti dia mempedulikannya.
Dengan gusar Arimbi membentak penuh amarah, “Aku tidak mau dengar apa-apa lagi darimu! Sangat menjijikkan! Pergi saja kamu mengejar cintamu itu kalau kamu mau! Kamu memang tidak peduli padaku! Bahkan statusku pun kamu rahasiakan sehingga orang-orang bisa menghinaku dan bicara seenaknya padaku! Kamu bahkan lebih memilih mengirim orang untuk mengawasi perempuan lain daripada aku! Aku ini istrimu Emir!”
“Kenapa kamu menyakiti hatiku? Apa kamu tidak berpikir aku sendirian diluar sana dan orang lain menjebakku atau menggangguku? Apa kamu pernah berpikir mengirim orang untuk menjagaku? Kamu-----” Arimbi mengacungkan jari telunjuknya pada Emir. Dia sangat marah!
Tidak biasanya dia bersikap seperti ini, dia selalu lembut dan bersikap manja pada Emir meskipun pria itu mengganggunya, Arimbi selalu berusaha tenang. Tapi entah apa yang terjadi, emosinya memuncak setinggi menara eiffel. Wajahnya menegang dan memerah penuh emosi.
Tidak heran dia bisa tahu bahwa Arimbi ngebut. Anak buahnya mengawasi Zivanna, sedangkan dia mengejarnya sepanjang jalan. Arimbi sangat marah sehingga moodnya memburuk dan nafsu makannya hilang saat itu juga. Sudut matanya sudah dipenuhi airmata siap meluap kapan saja.
Dia biasa dimanjakan oleh Emir dan hari ini dia mendapati kenyataan kalau suaminya malah mengirim orang untuk mengawasi Zivanna membuatnya tidak terima! Ini sangat buruk!
Dengan menghentakkan kakinya dia membalikkan badan bersamaan dengan air matanya yang menetes. Emir melihat istrinya itu sudah menangis sambil berjalan cepat.
Saat Arimbi hampir sampai di pintu, tiba-tiba dia memegang kepalanya. Kepalanya sakit. Pandangannya mengabur dan dia merasa tubuhnya lemas.
Tangannya terulur hendak memegang sesuatu tetapi sebelum sempat dia memegang handle pintu, tubuhnya sudah melorot jatuh ke lantai. Emir terkejut!
“Arimbi!” teriaknya kaget. Dia melihat tubuh Arimbi meluruh ke lantai tanpa sempat Emir membantunya. Dengan cepat Emir bergerak ingin melangkah kesana tapi kakinya tidak cukup kuat untuk berjalan cepat. Dia langsung menghubungi seseorang melalui interkom. “Cepat datang kesini!"