
“Dan jangan lupa singkirkan Arimbi si udik itu! Dia harus mati! Aku tidak mau dia berkeliaran didekat Emir! Emir milikku dan tidak boleh ada wanita manapun yang bisa mendekatinya, aku akan menghancurkan mereka semua. Dengan begitu tidak akan ada lagi yang bisa menguasai Rafaldi Group selain Amanda. Mengenai kedua orang tuamu, jangan khawatir! Kami yang akan mengurusnya!” ujar Zivanna.
“Hei! Kenapa kalian semua diam saja? Cepat matikan itu dan cari keberadaan Tuan Emir! Mungkin dia sedang dalam bahaya.” teriak seorang tamu yang tampak bergegas melangkah meninggalkan area itu.
Joana berjalan mencari Dion, dia melihat pria itu sedang berbincang dengan dua orang pria yang tampaknya adalah seeseorang yang dikenal oleh Joana.
‘Aduh! Mati aku, mau apa dia bicara dengan ayah dan kakakku? Fuuhhhh! Arimbi…..arimbi…...bagaimana caranya aku mengajak dia pergi ke kamar 408? Ada-ada saja!’
Joana menghempaskan napasnya kasar, memejamkan matanya. Dengan langkah mantap dia menghampiri Dion dengan berlari, lalu menarik lengan Dion dengan cepat, “Ayo ikut denganku.”
Ayah dan kakak Joana terkejut melihat kedatangan Joana saat mereka sedang membicarakan tentang tayangan yang baru saja selesai mereka tonton di layar.
“Apa?” Dion mengeryitkan keningnya dan melirik tangan Joana yang melingkar di lengannya.
“Maafkan aku Tuan Dion! Tolong ikut denganku, cepat! Ada yang penting harus kita lakukan sekarang.” ujar Joana tak mempedulikan apapun menarik tangan Dion. Dengan terpaksa pria itu mengikuti langkah Joana.
“Kemana kamu mau membawaku Joana?”
“Ke kamar 408!” jawab Joana sekenanya.
Mendengar itu Dion menarik Joana sehingga berhenti, “Apa kamu sudah tidak sabar lagi? Hem? Apa uang seratus milyar yang kamu ambil dariku tidak cukup?”
“Tuan Dion, aku tidak punya waktu menjelaskan sekarang ikut saja denganku.” Joana kembali menarik tangan Dion namun pria itu tak bergeming.
“Aku tidak akan ikut denganmu! Apa mau mu Nona Joana? Katakan!”
“Tolong aku! Arimbi tadi memintaku untuk membawamu ke kamar 408, ada hal penting terjadi disana. Aku mohon! Eh...begini saja. Aku akan melakukan apa yang kamu minta jika kamu bersedia ikut denganku sekarang.”
Dion adalah seorang pebisnis yang licik seperti Emir. Melihat ada peluang menguntungkan, seorang pebisnis tidak akan membuang peluang itu begitu saja. Dengan tatapan tajam dia menatap Joana, “Kamu yakin? Apapun yang kuminta?”
Joana hanya menganggukkan kepalanya tanpa berpikir panjang. “Aduh! Ikut saja, ayo…..” dia kembali menarik tangan Dion menuju kearah lift.
Sementara di area perjamuan kehebohan terjadi, saat Gio dan Amanda kembali kesana. Tatapan tajam semua orang tertuju pada mereka berdua membuat keduanya mengeryitkan dahi dan saling pandang. Amanda yang merasa masih malu karena insidennya bersama Reza hanya menundukkan kepala sedangkan Gio masih bersikap tenang.
“Huh! Tak disangka, ternyata moral dari keluarga Lavani sangat buruk!” ujar Ernest menatap tajam.
“Maaf? Apa yang anda katakan? Saya tidak mengenal anda dan seenaknya menghina keluarga saya?”
“Tuan Gio! Apakah anda menikmati semua permainan licik yang keluargamu lakukan selama ini? Ternyata begitu cara kalian merebut satu persatu perusahaan yang kini berada dibawah kekuasaan Lavani Indoraya!”
Gio semakin bingung dengan apa yang dikatakan orang itu padanya. “Apa yang anda bicarakan? Saya tidak mengerti. Jangan sembarangan bicara ya.”
“Apakah anda terlalu sibuk dengan putri angkat yang sudah dibuang keluarga Rafaldi itu? Sampai anda melewatkan pertunjukan yang luar biasa!”
“Aku tidak menyangka betapa liciknya keluarga Lavani selama ini!”
“Pantas saja perusahaan mereka bisa berkembang secepat itu. Selama ini aku merasa aneh bagaimana bisa mereka mengakuisisi perusahaan-perusahaan yang bangkrut itu.”
“Jangan bicara sembarangan anda! Saya bisa menuntut anda telah fitnah!” teriak Gio marah.
“Saya memang bukan putri kandung keluarga Rafaldi tapi saya tetap putri mereka.” ujar Amanda yang terpancing emosinya mendengar ucapan beberapa orang.
“Pantas saja Yadid mengumumkan menghapusnya dari daftar keluarga, kelakuan anak angkat memalukan! Aku juga akan melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan Yadid.”
Seorang pria paruh baya pun menimpali, “Tuan Gio mendatangiku beberapa waktu lalu dan mengancamku untuk membatalkan kerjasama dengan Rafaldi Group! Kami terpaksa melakukan itu! Ternyata demi anak angkat ini, putra keluarga Lavani ternyata memiliki selera yang rendah.”
“Betul! Putri keluarga bangsawan meskipun dibuang ke lumpur akan tetap tampil sebagai putri bangsawan. Lihatlah, putri kandung keluarga Rafaldi menikahi pria terkaya dan terhormat dari keluarga Serkan. Sedangkan putri angkat malah mempermalukan keluarga angkatnya, bahkan berencana merebut harta yang bukan haknya!”
Gio yang tak dapat mengendalikan emosinya menggebrak meja disampingnya lalu menerjang hendak memukul pria paruh baya yang barusan bicara. Dia sangat marah dengan ucapan pria itu yang merendahkan dan menghinanya juga Amanda. Sedangkan Amanda yang sangat malu dan masih bingung akan apa yang terjadi hanya bisa menahan amarahnya.
“Coba lihat ke layar itu! Mungkin kalian kenal dengan orang-orang yang ada dilayar itu!” teriak seorang tamu seraya mengarahkan telunjuknya ke layar yang masih menampilkan wajah tiga orang yang sedang bicara. Mata Gio dan Amanda membelalak melihat kalau yang dilayar itu adalah mereka.
Dan itu adalah di ruang VIP restoran yang mereka datangi tempo hari. Gambar berubah menunjukkan Zivanna yang sedang duduk diatas tubuh seorang pria yang sudah bertelanjang dada.
Sementara itu dilantai empat, saat pintu lift terbuka Arimbi bergegas mencari kamar nomor 408. baru saja dia keluar dari lift sebuah tangan kekar menghentikannya.
Sorot mata Arimbi menyiratkan kemarahan tapi dia terlihat tenang. “Nyonya, anda mau kemana?” tanya pria yang terlihat seperti seorang pengawal itu. Arimbi memicingkan matanya menatap pria itu.
“Aku ingin bersenang-senang sebentar disini! Bolehkan?” balas Arimbi sama sekali tidak mempedulikan pria itu, dia menghempaskan tangan pria itu. Dia tak ingin melakukan tindakan apapun yang akan beresiko pada kandungannya.
“Maaf Nyonya, area ini tidak untuk umum. Sebaiknya anda segera pergi dari sini.”
Arimbi tak peduli, dia berbelok kesebelah kanan dimana kamar yang ditujunya berada.
Dia yakin Zivanna sudah berada disana bersama seseorang. Pria itu dengan cepat kembali menyentuh lengan Arimbi namun kali ini wanita itu bergerak cepat menghindar.
“Jangan berani menyentuhku! Aku tidak akan membiarkanmu menghalangiku.” sentak Arimbi pelan.
“Tapi aku harus menghentikanmu Nyonya! Sudah kubilang ini area privasi dan tak seorangpun yang diperbolehkan masuk kesini.” kembali pria itu mencoba menghalangi Arimbi. Namun dia tetap berusaha menahan diri agar tidak menghajar pria itu. Dia menarik napas dalam-dalam lalu menatap tajam kepada pria itu.
Pria itu memiliki wajah sangat licik, rahangnya keras, otot wajahnya tertarik dan Arimbi cukup tahu ketangguhan pria itu dan saat ini pengawal itu kembali hendak menangkap Arimbi.
“Siapa kamu berani menghentikanku? Apa kamu tidak tahu siapa aku, heh?” Arimbi menatap tajam kearah pengawal yang sudah berdiri dihadapannya.
“Maaf Nyonya. Saya harus segera membawa anda ke tempat perjamuan. Tempat ini area privasi dan anda sudah melanggar peraturan dengan masuk kesini.”
“Pergi! Jangan halangi aku!” perintah Arimbi penuh ancaman.
Pengawal itu menatap Arimbi sebentar lalu terkekeh pelan, “Sepertinya anda tidak tahu aturan ditempat ini, Nyonya. Perintah bahwa siapapun dilarang memasuki area ini, meskipun anda Nyonya Serkan sekalipun tidak mempengaruhi!”