
“Arimbi dibesarkan dipedesaan, kadang dia bertindak tanpa berpikir, Tuan Emir! Jadi, jika dia menyinggung anda dengan cara apapun kami harap anda bisa berbaik hati untuk memaafkannya. Aku akan membuatnya mengirim hadiah untukmu besok. Dia akan minta maaf atas apa yang telah dia lakukan padamu.”
Emir menatap Yadid dengan tatapan sedingin es sebelum mengulangi kembali pertanyaannya.
“Aku hanya ingin tahu dimana Arimbi! Jangan sampai aku bertanya tiga kali!” bentak Emir.
“D---dia ada diatas,” jawab Yadid dengan suara bergetar.
“Pergi dan suruh dia turun sekarang. Aku ingin melihatnya.” ucap Emir.
Mata Yadid berbinar sebelum dia segera menganggukkan kepalanya. “Tentu. Saya akan menyuruhnya segera turun menemui anda, Tuan!”
Pria itu pun langsung berlari menaiki tangga lalu menuju kamar Arimbi. Dia mengetuk pintu kamar itu dengan keras sambil memanggilnya kencang.
“Arimbi! Buka pintunya Arimbi! Tuan Emir ingin bertemu denganmu. Cepat! Jangan buat dia menunggu!” ujarnya sambil terus mengedor-ngedor pintu kamar itu. Namun tak ada sahutan dari dalam kamar, hanya keheningan tanpa ada suara apapun. Raut wajah yadid langsung berubah, tangannya mulai gemetar saat dia mengenggedor pintu itu lagi.
“Arimbi! Jangan melakukan hal konyol lagi! Aku hanya menghukummu untuk kebaikanmu sendiri,” teriaknya. Tapi tetap saja tak ada reaksi apapun, Arimbi mungkin telah menyinggung Emir tapi dia tetaplah putri kandungnya Yadid yang harus dia didik dengan baik.
“Amanda mengunci pintunya dari luar!” suara dingin Arimbi menyahut dari dalam.
Yadid berhenti menggedor pintu dan melihat kebawah, pintunya memang digembok.
‘Ya Tuhan! Apa aku buta ya? Bagaimana bisa aku tidak melihat gembok sebesar ini dipintu?’
Amanda bergegas menyusul ayahnya ke lantai dua sambil mengeluarkan kunci untuk membuka gembok. “Ayah, menurutmu apa yang akan Tuan Emir lakukan padanya?” tanya Amanda.
Yadid masih belum sepenuhnya sadar dari pikiran-pikiran yang memenuhi benaknya, jadi dia menjawab dengan nada yang agak sinis.
“Kenapa kamu ingin tahu? Dia bisa bertemu dengan Arimbi kapanpun dia mau. Arimbi dapat meminta maaf padanya dan berjanji padanya akan menjauhinya dimasa yang akan datang.” Yadid tidak lagi menyinggung soal hukuman Arimbi.
Amanda membuka mulutnya seolah ingin mengatakan sesuatu pada ayahnya tapi akhirnya dia menahan diri karena merasa kata-kata yang akan diucapkannya tidak pantas. Sepuluh menit kemudian Aydid berhasil membujuk Arimbi untuk turun kebawah menemui Emir.
‘Huf! Hari ini bukan hari keberuntunganku! Aku bertemu orang ini dua kali hari ini. Ayah bahkan menghukumku gara-gara orang ini.’ Arimbi mengomel dihatinya dan wajahnya tampak murung saat dia berjalan kearah Emir.
“Apa yang kamu inginkan dariku Emir?” dia bertanya dengan nada yang bermusuhan dan tatapan mata yang tajam pada Emir.
Arimbi tidak tahu apa yang diinginkan suaminya itu tapi dia melakukannya. Arimbi berlutut didepan Emir setelah dia melihat ekspresi wajah pria itu terlihat muram.
Emir mengulurkan tangannya menyentuh pipi Arimbi yang bengkak, dia menekankan telapak tangannya yang besar ke pipinya. Arimbi bisa merasakan ujung jarinya menyentuh kulit wajahnya, hal itu mengejutkannya. Dia tidak menyangka seorang Tuan Muda yang mahakuasa dari Keluarga Serkan dan raja industri bisnis di Metro memiliki tangan yang sangat halus dan lembut.
Sentuhan tangannya lembut selembut kulitnya, dia mengusap pipi Arimbi dengan sangat hati-hati tak ingin memberikan tekanan karena akan terasa sakit dan memperburuk lukanya. Arimbi terkejut dengan tindakan pria itu dan dia hanya menatap wajah Emir dengan tatapan tak percaya. ‘Inikah pria yang sama dengan pria yang memberinya makan sambal tempo hari? Pria yang pedas dan kejam yang tak berperasaan itu? Kenapa sentuhannya sangat lembut dan halus?
Kedua suami istri itu saling menatap, tiba-tiba Emir menarik tangannya dengan cepat seolah ingin menghindari racun yang ada diwajah Arimbi. Baik Yadid dan Amanda melihat semua yang dilakukan oleh Emir pada Arimbi. Pikiran kedua orang itu benar-benar kacau dan hancur! Mata Yadid tampak seolah akan keluar dari rongganya, dia tidak percaya dengan apa yang baru saja dilihatnya.
Ketika Emir mengusapkan jarinya ke wajah Arimbi, dia melihat pria itu menatap Arimbi dengan sorot mata penuh simpati. Namun, saat Yadid mencoba untuk melihat lebih baik, yang dia temukan adalah sorot mata tajam dan dingin yang biasa ditunjukkan oleh Emir.
“Siapa yang memukulmu?” tanya Emir dengan suara yang dalam, “Dia atau ayahmu?” sudut matanya menatap Amanda lalu melirik ke tangan Amanda. Dia sedang mempertimbangkan apakah dia harus memotong salah satu tangan itu atau kedua tangan Amanda! Berani-beraninya dia menyentuh wanitaku! Apa dia sudah bosan hidup?
Dia tidak peduli seberapa besar dia tidak menyukai Arimbi tetapi dia tetap istri sahnya. Dia adalah satu-satunya orang yang berhak untuk menyentuhnya. Wajah Amanda memucat saat melihat cara Emir menatapnya tajam.
“Aku tidak memukulnya, Tuan Emir! Malah dia yang memukulku. Lihatlah wajahku bengkak karena dia memukulku. Dia bahkan menendangku.”
Ekspresi wajah Emir tetap tenang dan tegas seolah-olah dia tidak heran dengan kenyataan bahwa Arimbi telah memukul seseorang.
“Sayalah yang memukul Arimbi untuk memberinya pelajaran, Tuan Emir! Ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan Amanda. Sejak Arimbi kembali kerumah ini, Amanda selalu memperlakukannya seperti adik perempuannya yang berharga!” kata Yadid.
Arimbi tidak bisa menahan senyum sinis diwajahnya setelah mendengar kata-kata ayahnya. Dia mencibir dan ekspresi wajahnya mengejek dan Emir pun menyadarinya. Meskipun dengan cepat ekspresi wajahnya kembali seperti biasa.
“Arimbi adalah putri kandungmu, Direktur Rafaldi! Karena itu, aku tidak berhak berkomentar apapun atau mencampuri urusanmu jika kau ingin memberinya pelajaran. Kau itu ayahnya kan. Tapi, aku sangat suka melihat wajah Arimbi jadi kuharap kau tidak memukul wajahnya lagi jika kau ingin menghukumnya di masa depan.” ujar Emir.
Kemudian dia mengalihkan tatapannya pada Arimbi, “Apa yang terjadi antara kamu dan Amanda? Kenapa kau akhirnya memukulnya?”
Arimbi mengatupkan bibirnya tak menanggapi, begitupun Amanda. Karena Amanda bukan ornag bodoh dan dia tahu Emir ada disana bukan untuk membuat masalah dengan Arimbi.
Emir mengerutkan dahinya, ketika dia tidak mendapatkan jawaban apapun dari istri barunya itu. Suasana hatinya langsung berubah masa, “Apa kamu bisu Arimbi? Aku bertanya padamu! Aku memberimu satu kesempatan lagi, aku akan memotong lidahmu jika kamu tidak menjawabku kali ini. Kenapa kamu butuh lidah jika tidak menggunakannya, ha?”
Temperamennya yang buruk membuat Arimbi jadi marah, “Kamu ingin tahu kenapa kami bertengkar hah? Semua ini gara-gara kamu Emir! Hari ini pasti hari yang paling sial bagiku! Fuuh….aku terus saja bertemu denganmu, ketika aku berada di M&J Butik sepatah kata darimu membuat para karyawan disana mengusirku. Amanda mengira aku telah menyinggungmu lagi jadi dia menceramahiku karena itu.” ujar Arimbi lalu berhenti sejenak menghela napas.