
Meskipun sebelumnya Nenek Layla Serkan yang menginginkan Emir melamar Arimbi tapi Agha yakin kalau Emir tidak akan pernah berminat untuk menikahi Arimbi.
“Kenapa kamu bertanya padanya? Kamu bisa meminta jawaban langsung dariku dan biarkan Beni pergi melakukan pekerjaannya, Agha? Kamu hanya mengganggunya saja.”
Emir membuka pintu dan mendorong kursi rodanya keluar dari kamar. Karena letak kamarnya yang strategis di lantai satu, dia bisa dengan mudah mendnegar siapapun yang berbicara di ruang tamu.
“Selamat pagi Emir.” sapa Agha tersenyum. Meskipun dia sudah tertangkap basah ingin mengorek informasi tentang hubungan Emir dan Arimbi, tapi Agha tidak merasa malu sama sekali. Dia malah menyapa kakaknya seolah-olah tidak terjadi apapun.
Kemudian dia berjalan untuk mendorong kursi roda Emir, saat itu dia memperhatikan bahwa bibir Emir yang bengkak. Dia pikir ini agak aneh dan pasti terjadi sesuatu lalu dia memperhatikan lebih dekat dan ternyata dugaannya benar. ‘Tunggu sebentar! Bibirnya benaran bengkak? Ada yang tidak beres disini.’ pikirnya. Saat dia sedang sibuk memikirkan bibir bengkak Emir, Agha pun tersenyum dan bertanya.
“Emir, bibirmu digigit nyamuk ya? Bibirmu sampai bengkak begitu.”
“Iya memang digigit nyamuk. Nyamuknya sangat besar yang menggigit bibirku.” jawab Emur.
“Oh ya? Seberapa besar nyamuk itu?” tanya Agha tersenyum nakal.
“Arimbi yang melakukannya. Apa kamu sudah puas sekarang? Kendalikan dirimu kalau tidak ada sesuatu yang penting untuk ditanyakan.” ujar Emir menatap adiknya dengan tatapan marah. Tapi Agha tidak merasa tersinggung dengan ucapan kakaknya. Sebaliknya ekspresinya nampak terkejut.
“Tunggu! Emir….kamu sudah pulih sepenuhnya?”
Wajah Emir berubah sehingga membuat Agha jadi gugup, “Aku bukan mau ikut campur urusan pribadimu dengan Arimbi. Aku hanya khawatir tentang kesehatanmu.Paling tidak kita semua bisa menenangkan pikiran sekarang.”
Nenek dan orang taunya berkata kalau Emir tidak bisa bertahan hidup dan memiliki keturunan. Jadi Agha dan adik laki-lakinya harus mempunyai banyak anak. Lalu mereka akan memberikan beberapa anak mereka untuk jadi anak Emir setidaknya dua orang anak mereka harus diberikan untuk jadi anaknya Emir. Meskipun Agha masih lajang tapi dia tidak ingin anak-anaknya diberikan pada orang lain walaupun itu kakak kandungnya sekalipun.
Jika kondisi Emir pulih total maka dia dan adik laki-lakinya tidak akan tertekan lagi tentang masalah anak-anak tersebut dan masalah ini sudah terselesaikan. Sedangkan Emir yang mendengar ucapan adiknya tidak langsung merespon. Lalu dia ingat perkataan Arimbi waktu dikamar tadi.
“Apa kamu pikir Arimbi mencabuliku? Wajar kan kalau istriku melakukannya dan menggigitku? Aku mau sarapan pagi istimewa dari istriku. Katanya aku sangat tampan dan saking gemasnya dia menggigitku.”
Agha sudah tak bisa berkata apa-apa lagi, apakah ini masih kakaknya? Emir yang dia kenal tidak pernah bicara sevulgar ini apalagi jika itu berkaitan dengan hubungan suami istri. Kenapa Emir jadi tidak tahu malu begini menceritakannya? Jadi, Emir benar-benar sudah pulih? Wah ini bagus sekali….hahahaha...aku tidak perlu bekerja keras membuat anak nantinya. Emir sudah bisa membuat anaknya sendiri…..ini bagus….
Pada saat itu Arimbi membawa makanan keluar dan meletakkannya di meja makan. Saat dia mendengar Emir dan adiknya berbicara dia berjalan cepat dan bertanya, “Agha, kamu mau ikut makan atau tidak?”
Sebelum Agha sempat menjawab, Emir sudah duluan bicara, “Dia ini tukang pilih-pilih makanan. Dia hanya mau makan yang sudah disiapkan khusus untuknya di dapurnya sendiri. Semua makanannya harus mewah dan menggunakan bahan makanan premium.”
Agha tidak bisa berkata apa-apa, satu-satunya yang pilih-pilih makanan bukan dia tapi Emir. Walaupun Agha cukup hati-hati dalam hal makanan, itupun karena dia bertanggung jawab mengurus hotel The Palm Bliss. Dia sudah mencicipi beragam hidangan lezat sebelumnya. Lidahnya sudah terbiasa dengan makananan namun itu tidak sebanding dengan Emir.
Lagipula tidak ada koki khusus yang bertugas didapur kecilnya karena Agha adalah koki terbaik.
Agha pun bertahan tetap tinggal tanpa rasa malu sedikitpun.
“Ya benar. Kita sarapan bersama, mumpung kamujuga ada disini.”
Arimbi sudah tinggal di Villa Serkan selama beberapa minggu dan villa Emir adalah wilayah terlarang bagi anggota keluarga serkan yang lain. Mereka jarang datang berkunjung kecuali pengawal pribadi Emir. Bahkan saat Desi datang untuk menyampaikan pesan dari Nenek Serkan, dia menunggu diluar dan tak berani masuk kedalam. Sedangkan adiknya Emir tidak pernah masuk kerumah itu sebelumnya dan kunjungan Agha hari ini adalah sebuah kejutan.
Agha yang kahwatir jika Emir akan mengusirnya langsung pergi keruang makan dengan cepat. Saat dia melihat hidangan yang disiapkan oleh Arimbi hanyalah bubur dan dua hidangan sederhana lainnya, wajah Agha langsung cemberut dan berkata, “Begini caramu melayani Emir? Semangkuk bubur dan dua makanan sederhana?”
Agha merasa kalau tadi dia mencium aroma sup ayam saat dia masuk tadi tapi tidak ada sup ayam diatas meja. Tak berapa lama Emir masuk keruang makan dan mendengar perkataan adiknya.
“Kalau kamu tidak suka kamu bisa pergi dan makan dirumahmu saja.”
“Emir, makanan ini terlalu sederhana untuk sarapan. Nutrisinya tidak cukup dan saat ini tubuhmu butuh nutrisi yang banyak sepanjang waktu supaya kamu sehat.”
Agha pikir kalau sarapan yang disiapkan Arimbi terlalu sederhana. Bagaimanapun juga semua anggota keluarga Serkan selalu makan makanan enak setiap harinya. Sebagai kepala keluarga Serkan, sarapan untuk Emir harusnya lebih baik dari yang disiapkan oleh Arimbi yang hanya semangkuk bubur dan dua hidangan pendamping sederhana.
Agha pikir makanan itu tidak cocok untuk Emir dan dia merasa kalau Arimbi sudah gagal menjadi seorang istri. Sarapan yang disiapkan untuk Emir didapur utama bahkan lebih baik dan cocok untuknya. Emir merasa tak senang mendengar ucapan adiknya, bagaimanapun Arimbi istrinya dan tidak ada seorangpun yang boleh menilainya kecuali Emir.
“Kan sudah kubilang, kalau kamu tidak suka cukup tinggalkan tempat ini dan kembali saja kerumahmu. Makan saja makanan dirumahmu!” ujar Emir ketus. Agha pun tak berani berkata-kata lagi.
“Aku hanya menyiapkan sarapan untukku dan Emir, kalau kamu tetap disini maka kami harus mengurangi separuh porsi bubur kamu untuk membuat satu porsi bubur baru untukmu. Kalau kamu tidak menyukainya, kamu tidak perlu memakannya. Jadi kami bisa makan lebih banyak.” ujar Arimbi.
Agha terpelongo mendengar ucapan Arimbi padanya. Sungguh pasangan yang serasi! Sama-sama kejam dan tak punya hati, tega mengusirnya.
Arimbi pergi ke dapur lagi lalu kembali ke ruang makan dengan membawa semangkuk sup ayam untuk Emir. Kemudian dia mengambil satu potong paha ayam dan meletakkan didalam mangkuk. Kemudian dia mengambil dua mangkuk lagi dan menempatkan di tempat duduk Emir.
Arimbi membantunya untuk duduk dimeja makan sambil berkata dengan lembut, “Sup ini untukmu, aku sudah memilihkan sepotong paha ayam untukmu. Sup yang lain untuk ibuku.”
Tidak ada ekspresi di wajah Emir, tapi dari gerak geriknya terlihat kalau perasaannya sedang baik hari ini. Arimbi mencuci kotak makan dan mengisinya dengan sisa sup ayam. Arimbi menaruh beberapa potong ayam ke kotak makanan lalu menaruh sisa ayam ke piring lalu membawanya keruang makan.
Dia menaruh didepan Agha dan berkata, “Karena kamu bilang sarapan buatanku kurang nutrisi, kamu bisa makan sepiring penuh ayam ini.”
Agha hanya diam tapi saat dia melihat tatapan mengerikan Emir, dia langsung ketakutan. Dia menundukkan kepalanya dan dengan cepat memakan beberapa potong ayam. Hanya Tuhan yang tahu kalau Agha tidak pernah makan ayam sebelumnya.