
“Dion Harimurti! Apa kamu sudah gila, hah?” Arimbi tidak menyangka kalau saran seperti itu akan keluar dari mulut Dion. Apakah dia masih ingin mengotori kesucianku dan memaksaku untuk melahirkan anaknya juga? Emir, memang benar apa katamu tentang pria brengsek ini! Pikirnya.
Arimbi menatap Dion dengan tajam bak belati tajam yang siap membelah-belah tubuh Dion hingga menjadi potongan-potongan kecil.
“Aku tidak akan pernah memiliki anak denganmu karena kamu bukan pria yang kusukai! Dan aku tidak akan pernah menghabiskan waktu menyukai pria seperti anda!” ucap Arimbi lagi dengan marah. “Aku paling benci dengan orang yang tidak menepati janji! Anda sudah berjanji padaku tidak akan pernah menggangguku lagi dan menyinggungku!”
Setelah beberapa saat diam namun Dion masih tetap menatapnya tanpa berkata-kata, dia pun meminta maaf, “Maafkan aku soal itu Arimbi. Sepertinya aku benar-benar terganggu oleh mimpi itu sampai-sampai membuatku mencampur adukkan imajinasi dan kenyataan.”
“Direktur Harimurti! Saya sarankan anda membuat janji temu dengan psikiater setelah saya pergi. Saya rasa anda harus lebih fokus pada kesehatan mental anda daripada pekerjaan anda.”
“Terima kasih Arimbi. Aku akan mempertimbangkannya.” ucap Dion tidak marah dengan kata-kata kasar yang sudah diucapkan Arimbi.
Setelah itu Arimbi membuka tasnya dan meletakkan diatas meja beberapa jenis obat yang dia beli dari apotek saat dia dalam perjalanan. Obat itu untuk luka memar dan radang. “Direktur Harimurti, sekali lagi saya minta maaf atas kelakuan saya malam itu telah menginjak kaki anda. Saya membelikan obat-obatan ini untuk anda. Ini sangat efektif untuk meredakan peradangan dan pembengkakan. Anda akan pulih lebih cepa jika anda mengoleskan obat ini pada luka anda.”
“Terima kasih.” kata Dion setelah mengambil salah satu obat untuk dilihatnya.
“Tidak perlu berterima kasih karena hanya ini yang dapat saya lakukan. Saya harap luka anda lekas sembuh.” ujar Arimbi. Dengan melakukan ini maka Dion tidak akan bisa menggunakan lukanya sebagai alasan untuk mengganggunya lagi.
Lagipula, tidaklah benar jika mengatakan Dion mengganggunya tapi memang begitulah yang dirasakan oleh Arimbi. Hanya ingin pria ini menjauh darinya dan kalau bisa hilang selamanya. Sejak awal, Arimbi tidak suka dengan sikapnya.
Meskipun Emir adalah pria yang dingin dan kejam tapi aura kebaikan masih terpancar darinya. Tapi tidak dengan Dion, tidak ada satupun aura kebaikan yang bisa dia lihat ataupun rasakan.
“Direktur Harimurti.”
“Katakanlah. Aku akan mendengarkan.” ucap Dion yang tahu apa yang akan dikatakan wanita itu.
Arimbi berusaha bersikap sopan sambil menahan kekesalannya, “Direktur Harimurti, ini tentang teman saya Joana Ganesha yang telah melakukan kesalahan atas postingan foto-foto anda yang diambilnya secara diam-diam. Namun saya yakin dia sudah meminta maaf pada anda. Dan anda juga sudha menghapus foto-fotonya. Bisakah anda melepaskannya sekarang?”
Ada kilatan dimata Dion karena dia sudah tahu tujuan kedatangan Arimbi adalah demi Joana. “Arimbi, kamu berbicara seolah-olah aku sedang menahan temanmu.” lalu dia berdiri dan berjalan ke pintu lain dikantornya yang sepertinya mengarah ke dapurnya. “Aku akui kalau aku memang menyuruh seseorang untuk memanggil Nona Joana.” ucapnya lagi.
“Tidak.” jawabnya. Sepengetahuan Arimbi, keluarga Ganesha panik karena khawatir. Mereka bahkan meminta teman dan keluarganya mencari Joana yang masih belum ada kabar sampai sekarang.
Setelah beberapa waktu, Dion keluar dengan nampan berisi dua piring cemilan manis yang tampak berkualitas dan secangkir kopi yang masih beruap. Lalu dia meletakkan kue dan kopi diatas meja dan berkata, “Arimbi, kemarilah dan makanlah. Ada banyak cemilan dan kopi untukmu. Kamu pasti tidak tidur dengan baik tadi malam karena aku bisa melihat tatapanmu yang tajam.”
Dion kembali duduk di sofa sesaat setelah dia menyelesaikan perkataannya. Meskipun Arimbi lah yang mengunjungi Dion tapi dia menolak tawaran Dion. “Terima kasih atas tawarannya tapi aku tidak begitu lapar karena sudah sarapan banyak tadi sebelum berangkat.”
Walaupun begitu, cemilan yang disuguhkan terlihat lezat dan menggiurkan. Jika orang yang ada didepannya ini adalah Emir, dia pasti akan melahap habis apapun yang ada dipiring itu meski dia sudah kenyang. Tapi, karena ini adalah jajanan yang diberikan oleh Dion, dia tidak berani untuk menurunkan kewaspadaannya.
Apalagi dia tahu pria itu sangat menginginkan bayi darinya, Arimbi semakin waspada jika dimakanan dan minumannya dibubuhi obat bius. “Tolong cobalah. Ini adalah cemilan yang dibuat oleh koki dirumahku. Cemilan yang dia buat sangat enak dan tidak bisa ditemukan diluaran sana.” Dengan tatapan yang dapat menenggelamkan seseorang, Dion mengambil piring yang berisi cemilan itu kedepan Arimbi.
Melihat betapa bersikerasnya dia, apalagi sampai mengulurkan tangannya, meskipun Arimbi telah menolaknya akhirnya Arimbi menyerah dan mengambil satu biji cemilan dari piring itu. Dion memperhatikan setiap gerak gerik Arimbi akhirnya meletakkan piring itu dimeja sambil menunjukkan ekspresi puas diwajahnya.
“Ini kopi, minumlah. Kopi ini akan membangunkanmu.”
“Terima kasih Direktur Harimurti. Tapi aku sudah cukup terbangun saat ini.” Arimbi kembali menolak tawaran Dion.
“Arimbi, jika kamu meminum kopu ini dan memakan cemilan itu. Aku mungkin akan membantumu mencari Nona Joana.” Dion memberikan tawaran yang menggiurkan, dengan suaranya yang dalam dia berusaha menjelaskan pada Arimbi.
“Kamu tahu sendiri betapa besarnya koneksiku. Mungkin dalam satu jam saja sudah cukup bagiku untuk mencari tahu keberadaan Nona Joana.”
Arimbi terdiam, tidak tahu harus berkata apa, apakah dia berjalan menuju jebakan Dion? Pikir Arimbi. Dia mengingat kembali ucapan Emir untuk menjauhi Dion tapi dia terpaksa melanggar itu karena dia harus bertemu dengannya demi Joana.
Lagipula tadi dia sudah memberitahukan Emir soal ini agar tidak ada kesalahpahaman diantara mereka nanti. Namun dia sepertinya malah terjerumus terlalu dalam sekarang karena bertemu langsung dengan Dion. “Apa kamu takut aku memberikan sesuatu kedalam kopi itu? Apakah itu alasanmu tidak mau meminumnya?” Dion tersenyum dan kemudian berusaha menjelaskan.
“Aku mengaku kalau aku memang bukan orang yang baik, tapi aku tidak serendah itu meracuni seorang wanita.” ucapnya. Dengan wajahnya yang tampan, jika dia menginginkan seorang wanita, hanya dengan satu ketukan jari saja, sudah pasti akan ada banyak sekaliwanita yang ingin bersamanya. Bahkan Zivanna Lavani mulai jatuh dan terperangkap dengan pesona Dion.
“Direktur harimurti, anda memiliki selera humor yang cukup unik. Tapi sayangnya aku memang tidak suka kopi. Aku tidak akan bisa tidur malam kalau aku minum kopi di pagi hari. Apalagi kopi mempengaruhi jantungku. Kalau aku minum dadaku akan sesak dan jantungku berdebar-debar tidak karuan.” ujar Arimbi memberikan alasan yang masuk akal.