
Rasanya Emir ingin berteriak dan mencekik wanita itu karena dia tahu Arimbi hanya pura-pura menggodanya. Dia tahu Arimbi tidak takut padanya karena dia terlalu memanjakannya. ‘Tunggu! Aku memanjakan Arimbi?’ Dahi Emir berkerut dan berpikir bahwa tanpa sadar dia memang sudah memanjakan wanita itu.
Tiba-tiba ponsel Arimbi berdering lagi dengan nada ringtone yang sama dan langsung merusak suasana hati yang sedang bahagia. “Emir, aku membutuhkan beberapa anjingmu. Tolong beritahu Beni untuk membawakannya. Si Reza itu sudah datang kesini.”
Dia tidak mengangkat panggilan itu tapi dia tahu pasti Reza sudah datang lebih cepat sebab kalau tidak dia tidak akan menghubunginya.
Emir tetap diam dan tak mengatakan apapun sedangkan Arimbi mengikutinya dari belakang. Emir tak menoleh sembari mengambil ponselnya dan menghubungi Beni. Kepala pelayan itu telah siap menunggu mereka saat keduanya keluar.
“Apa yang anda butuhkan Tuan Emir?”
“Bawakan anjing-anjing paling garang yang kita punya dan pergilah dengan Nyonya.” perintah Emir.
“Baik Tuan Emir!” ujar Beni patuh meskipun dia merasa heran dan bertanya-tanya.
Sepuluh menit kemudian Reza melihat seseorang berdiri tepat diluar rumah besar keluarag Serkan. Jika dilihat dari penampilannya, orang itu adalah Arimbi. Bibirnya melengkung membantuk senyuman bahkan sebelum dia mendekati wanita itu. Lebih tepatnya, senyuman pria itu menyeringai. ‘Benar dugaanku! Selama aku minta maaf pasti Arimbi akan kembali padaku. Huh! Dia bilang dia tidak akan datang padaku tapi semua bohong! Dia malah sudah menungguku.’ bisik hati Reza.
Rasa percaya dirinya semakin tinggi, dia pun langsung menghubungi Amanda.
“Ah Amanda! Kamu harus melihatnya! Sesuai dengan rencana kita, Arimbi sudah menungguku. Kami akan segera kesana.”
“Baguslah!” Amanda sangat senang. Baru-baru ini hidupnya bermasalah terus karena Arimbi. Orang tua angkatnya telah melihatnya dengan aneh dan ia merasa bahwa itu karena mereka mempercayai cerita Arimbi dan menyangka Reza mencintainya.
“Reza! Aku sudah hampir sampai disana! Kita akan bicara nanti, ini adalah saatnya untuk perayaan! Malam ini Arimbi akan masuk jebakan kita!”
“Tunggu saja disana! Aku akan menyiapkan champagne!” Reza menutup panggilan teleponnya dan melihat kearah bunga dan dua set perhiasan dikursi penumpang.
Senyumnya melebar, dia memarkirkan mobilnya agak jauh beberapa meter jauhnya dari rumah besar itu. Dengan begitu dia bisa membawa bunga dan hadiah dihadapan Arimbi dengan berjalan dengan sinar bulan sebagai latarnya. Arimbi akan mengira dirinya sebagai pangeran tampannya, manis sekali. Reza sibuk dengan khayalannya sendiri.
Dia menghentikan mobilnya dan berjalan menuju kursi penumpang. Dia mengambil buket bungan berisi mawar dan gypsophilia seperti biasanya. Dia masih saja memikirkan bahwa dia harus memberi mawar pada Arimbi walaupun wanita itu tidak menyukainya. Reza menoleh dan berjalan mendekatinya dengan tersenyum. Dia memutuskan untuk memberikan perhiasan padanya setelah Arimbi masuk ke mobil.
“Arimbi!” Reza memanggilnya dengan suara tenang.
Arimbi pun tersenyum, dia telah bersikap acuh pada Reza akhir-akhir ini dan pria itu terkejut melihat Arimbi tersenyum padanya. Dia pun bergegas mempercepat langkahnya namun saat dia akhirnya sudah dekat dengan Arimbi, beberapa anjing yang mirip serigala keluar dari rumah dan membuat Reza lari.
Anjing-anjing itu menggonggong kearahnya seraya menerjang pria itu. Wajah Reza mencadi pucat pasi dan dia melemparkan buket bunganya untuk segera kabur dengan mobilnya.
Namun dia terkejut karena ancaman mendadak dan terjatuh sebelum sampai ke mobilnya. Rasa sakit akibat terjatuh tidak seberapa dibandingkan dengan rasa malu. Lolongan anjing itu semakin keras sehingga Reza berdiri memaksakan dirinya mengabaikan rasa sakitnya. Reza terus beralri menuju mobilnya, saat itu juga dia menyesali karena memarkirkan mobilnya jauh.
Dia berusaha membebaskan dirinya dari anjing-anjing itu dan berteriak minta tolong disaat bersamaan. Arimbi melihat dari kejauhan dengan diam, dia ingat waktu Reza dan Amanda membunuh putrinya di kehidupan sebelumnya. Arimbi saat itu menangis namun bayinya tidak bersuara lagi membuat Arimbi ketakutan. Dia bahkan bersujud memohonh pada Reza dan Amanda agar membawa bayinya kerumah sakit namun mereka tak bergeming.
Mata Arimbi berkilat penuh kebencian, tak ada satu hal burukpun yang akan terjadi setelah kelahirannya kembali karena dia akan mengubah alur cerita hidupnya. Dia membenci Reza dan Amanda dan akan membalaskan rasa sakitnya seribu kali lebih sakit dari apa yang pernah mereka lakukan padanya dikehidupan sebelumnya.
Teriakan Reza masih terdengar dan dia hanya memandang saja dari kejauhan membiarkan pria itu merana dan menderita. Anjing-anjing Keluarga Serkan mungkin tampak galak tetapi mereka dilatih secara profesional. Beni telah menyuruh mereka untuk melepaskan Reza sebelum dia mengusir anjing-anjing itu kembali kerumah. Yang ingin anjing-anjing itu lakukan hanyalah merobek pakaian Reza dan menerjang kepalanya untuk menakutinya.
Emir berjalan keluar rumah dan dia melihat reaksi Arimbi saat melihat apa yang terjadi pada Reza. Dia bisa melihat bahwa istrinya itu tak bereaksi dan itu membuat Emir mengeryitkan dahinya. ‘Aku harus mencari tahu tentangnya. Apa yang telah Reza lakukan sehingga membuat Arimbi sangat membencinya?’ bisik hati Emir.
“Beni! Bawa kembali anjing-anjing itu! Aku tidak mau Tuan Kanchana mati akrena terkejut.” ujar Emir memerintahkan Beni.
Arimbi menoleh dan terkejut melihat Emir ada disana, “Oh kamu sudah lama disini Emir?”
Pri itu tak menjawab dan hanya menatap Arimbi sesaat lalu meminta para pengawal untuk kembali masuk kedalam.
“Emir!” Arimbi memanggilnya lalu menyusulnya. Pengawal langsung berhenti dan mundur membiarkan Arimbi membawa Emir masuk. Pria itu tak menghentikanna meskipun akhirnya dia menyuruh Arimbi untuk berhenti.
“Ada apa Emir?”
“Kamu yakin ini jalan pulang kerumahku?” tanya Emir.
‘Sialan! Aku tersesat lagi?’ Arimbi mengomeli dirinya dalam hati seraya tersenyum malu-malu, “Maaf ya Emir! Sekarang sudah gelap dan aku tidak bisa melihat terlalu jelas. Pasti kita sudah melewati jalan yang salah. Aku akan….Emir kamu adalah kepala keluarga ini. Kamu putuskan saja disini! Tolong beritahu aku kemana kita pergi.”
Emir mentatap Arimbi tanpa suara kemudian dia menjentikkan jarinya di kening Arimbi dua kali.
“Aduh!” Arimbi mengatupkan bibirnya karena merasa sakit sedangkan Emir merasa suasana hatinya lebih baik setelah menyentil dahi istrinya itu. Arimbi akhirnya mengambil jalan pulang yang benar dibawah tuntunan Emir.
“Kamu kuberi waktu satu minggu! Jika kamu masih tidak bisa mengingat jalan pulang…..” Emir tak menyelesaikan ucapannya tapi Arimbi tahu bahwa dia akan menghukumnya jika dia gagal.
“Baiklah Emir. Aku akan mencoba sebisaku untuk mengingat jalan pulang.” jawab Arimbi mengerucutkan bibirnya. ‘Huh! Satu minggu kurasa aku bisa mengingat jalan pulang! Ya, aku harus bisa kan tidak selamanya aku harus bergantung pada seseorang untuk membawaku masuk kedalam?’ bisik hati Arimbi bertekad untuk mengingat jalur pulang kerumah Emir.
Keduanya tak lagi bicara hanya diam dan sibuk dengan pikiran masing-masing. Emir teringat saat melihat betapa acuhnya Arimbi saat Reza dikejar anjing. ‘Sebenarnya Arimbi senang atau tidak ya? Aku heran melihatnya, apa yang dia pikirkan saat itu?’ bisik hati Emir.
‘Ah aku senang sekali melihatnya ketakutan oleh anjing-anjing itu! Ini belum seberapa, akan ada kejutan lainnya lagi nanti Reza, Amanda! Apa yang dipikirkan Emir tentangku ya? Apa Emir mengira aku ini wanita tanpa rasa belas kasihan?’ bisik hati Arimbi.