GADIS BERGAUN MERAH

GADIS BERGAUN MERAH
BAB 76. BERLATIH CIUMAN


“Emir, ingatlah untuk berlatih denganku nanti. Aku suka latihan ciuman ini, jadi teleponlah aku kapan saja ya untuk latihannya!” senyum manis Arimbi menggoda Emir, dia mengedipkan satu matanya pada pria itu.


Emir mengeryitkan dahinya tak senang. ‘Ya Tuhan tolong pukul wanita tak tahu malu ini. Kalau mau cium kenapa harus pake alasan berlatih ciuman? Dasar istri gila!’


“Emir,” ucap Arimbi sambil merebahkan kepalanya di bahu Emir, “Kapan kamu tiba dirumah sakit?” tangannya mengelus lengan suaminya. Benar-benar terlihat seperti istri penggoda.


Emir tidak merespon dan membiarkan Arimbi bersandar dibahunya. “Aku sudah ada disana saat kamu mendorong pengawal Dion ke lantai.”


“Jadi kamu melihatku berkelahi dengan pengawal itu?”


Emir bergumam dalam-dalam.


“Emir! Kamu tahu tidak? Aku itu biasanya baik dan lemah lembut loh! Kamu tahu segalanya tentangku iyakan? Jadi aku sebenarnya bukan orang yang kasar. Mereka terlalu banyak menggertakku jadi aku dengan lembut melemparkan salah satu dari mereka ke lantai! Aku melakukannya dengan lembut, tidak kasar, tidak ada kekerasan. Percayalah!” bola matanya besar bersinar dan berkedip dengan ekspresi polos seorang anak kecil.


Emir terdiam. ‘Apa yang dia maksud ‘dengan lembut’ melempar salah satu pengawal itu? Setelah diserang olehnya, pengawal itu tertegun dan tetap di lantai. Jelas-jelas itu tidak lemah lembut sama sekali! Untuk latar belakangnya….’ Emir sendiri merasa bingung dengan latar belakang Arimbi. Meskipun dia sudah menyuruh anak buahnya memeriksa latar belakangnya, dia menemukan bahwa Arimbi itu seperti buku bersambung yang diperbaharui setiap hari. Tidak dapat di prediksi untuk mengetahui apa isi halaman berikutnya.


Arimbi terus menerus mengejutkannya jika dia tidak mengejar akhir.


“Emir, aku ini istrimu! Beraninya kamu bersembunyi saat aku diganggu! Aku benar-benar hancur, tahu? Emir, aku ingin makan malam denganmu saat kita kembali kerumah sebagai imbalan darimu.”


Emir mencibir,”Siapa yang bisa menggertakmu ketika kamu bisa melempar orang ke lantai?”


Mendengar ucapan suaminya itu Arimbi pun langsung terdiam tak tahu harus mengatakan apa.


“Emir…..”


“Jangan panggil aku dengan nada seperti itu! Bicara normal tidak usah dilembut-lembutkan begitu.”


Sekujur tubuh Emir merinding mendengar suara lembut dan manja Arimbi.


“Kamu tidak menyukainya? Aku pikir semua pria menyukai nada merengek seperti ini Emir. Aku tidak sengaja menabrak kepala keluarga Harimurti dan lupa meminta maaf. Lalu dia sangat picik dan mengirim orang padaku agar aku segera meminta maaf. Yah, memang ini salahku karena tidak langsung minta maaf saat aku menabraknya. Tapi, hari ini benar-benar pertama kalinya aku bertemu dengannya.”


‘Jika aku melakukannya, itu dikehidupan sebelumnya.’ bisik hati Arimbi.


Arimbi memang tidak bertemu dengan Dion Harimurti sebelum hari ini di kehidupannya saat ini. Arimbi yakin bahwa dia tidak berbohong. “Tolong jangan salah paham. Aku setia kepada siapapun yang aku nikahi! Aku pasti tidak akan pernah mengkhianatimu.”


Ekspresi dingin diwajah Emir sedikit demi sedikit mencair setelah mendengar itu.


“Aku mengenal Dion dengan baik. Dia tidak akan menyuruh seseorang mengejarmu hanya karena kamu menabraknya. Pasti ada sesuatu dalam dirimu yang membuatnya tertarik untuk melakukan itu.” ucap Emir dengan tenang.


Arimbi tanpa malu-malu dan percaya diri berkata, “Pasti karena kecantikanku yang membuatnya tertarik, iyakan? Apalagi tubuhku boleh dibilang montok. Kamu sangat beruntung punya istri secantik aku dan punya tubuh seksi, Emir.” ujarnya sambil membuat gerakan tubuh menggoda pada Emir.


“ARIMBI! Hentikan! Tolong seriuslah sedikit.”


“Aku serius sayang! Jika tidak, aku akan menggodamu.” Arimbi mengedipkan satu mata pada Emir sambil terkekeh. Melihat itu Emir merasa dia memiliki perasaan benci dan cinta kepadanya.


‘Pasti salahku yang sudah membuatnya genit! Baru beberapa hari sejak kami menikah dan aku sudah kehilangan kendali? Apa-apaan ini?’ bisik Emir dalam hatinya.


“Aku tidak bertanya siapa yang meneleponmu.” balas Emir dengan dingin.


“Emir, aku lebih suka jujur padamu.” Arimbi tersenyum sedangkan Emir mendengus.


Arimbi kembali menyandarkan kepalanya dibahu Emir sebelum menjawab panggilan ibu kandungnya.


Mosha menelepon Arimbi beberapa kali hari ini. Emir mendorong wnaita tak tahu malu itu menjauh tapi akhirnya dia menahannya. ‘Aku ini seorang pria. Aku harus sabar menghadapi istriku.’


“Halo, Ibu.”


“Arimbi! Apa kamu masih dirumah sakit?”


Mosha segera menelepon Amanda ketika dia tahu Pratiwi mengalami kecelakaan mobil. Jelas dia berharap Amanda akan merawat Pratiwi bukan Arimbi yang harus berada disana. Itu karena Pratiwi adalah ibu kandung Amanda. Hubungan Mosha dan Arimbi meningkat dan Arimbi akan bertingkah seperti anak manja dihadapannya. Tapi Mosha mengaku bahwa dia masih takut hubungan Arimbi dengan Pratiwi akan semakin dalam.


“Aku meninggalkan rumah sakit. Aku akan kembali ke Villa Serkan. Kenapa ibu?”


Arimbi sadar kalau Mosha tidak ingin dia terlalu dekat dengan Pratiwi namun Pratiwi membesarkannya dan memberinya pendidikan terbaik sehingga Arimbi tidak tega memutuskan hubungan dengan Pratiwi dan keluarga Darmawan.


“Tidak ada. Aku hanya penasaran saja. Kembali ke Villa Serkan katamu? Arimbi, kapan kamu akan pulang untuk makan malam denganku?”


Arimbi merasa bersalah pada ibunya dan dengan cepat berkata, “Besok aku akan kembali ya Bu.”


Arimbi menjauhkan ponselnya dari telinga dan menutupinya lalu berbisik pada Emir dengan suara lembut nan manja bertanya, “Emir, bisakah aku pulang?”


“Aku tidak menghalangi.” jawab Emir dingin.


“Terimakasih Emir.” ucapnya tersenyum lalu mencium pipi pria itu.


Emir mendorongnya menjauh dan memperingatkannya dengan tatapan matanya. “Jika kamu masih saja memanfaatkanku, aku akan segera mengeluarkanmu dari mobil.”


Arimbi membalasnya dengan menjulurkan lidahnya dan berkata pada Mosha, “Bu, aku akan kembali besok untuk makan siang ya.”


Amanda tidak akan kembali kerumah untuk makan siang dengan begitu Arimbi bisa menghindari makan dimeja yang sama dengan Amanda dan itu tidak akan mempengaruhi selera makannya.


Mosha bisa menebak bahwa Emir pasti ada disamping Arimbi jadi dia tidak banyak bicara dan menutup telepon setelah mengucapkan beberapa patah kata.


...*******...


Sebuah ferrari berwarna merah berhenti didekat M&J butik. Setelah melihat mobil sport itu, manajer toko secara pribadi bergegas keluar dari toko. Zivanna melepas kacamata hitamnya sebelum membuka pintu untuk keluar dari mobilnya.


“Nona Zivanna!” manajer butik menyambutnya dengan ramah.


Saat Zivanna akan masuk kedalam butik dia bingung, “Edwin! Sejak kapan kamu dipindahkan ke toko utama? Bukankah kamu betranggung jawab atas cabang utara kota?”


Edwin membawa Zivanna masuk kedalam toko menjelaskan, “Belum lama ini Direktur Michele melakukan mutasi karyawan di perusahaan. Dia memecat semua orang kecuali satu akryawan di toko utama. Lalu dia memindahkanku kesini.”