GADIS BERGAUN MERAH

GADIS BERGAUN MERAH
BAB 315. PERGILAH KE DESA


“Sialan! Arrrgggggg! Amanda…..kamu perempuan murahan!” teriak Zivanna yang membaca trending news di ponselnya. “Aku harus menemui Amanda! Apa yang sebenarnya terjadi tadi malam? Seharusnya Arimbi yang meminum wine yang sudah dibubuhi obat perangsang itu! Tapi kenapa Reza malah berada disana?”


 


Zivanna yang marah pun segera mengambil ponselnya untuk menghubungi Ruby sepupunya. “Halo, Zivanna.” sapa Ruby saat panggilan terhubung.


“Apa kamu sudah melihat berita hari ini?” tanya Zivanna. Yang diseberang sana tidak langsung menjawab selama beberapa detik lalu terdengar desah panjang.


“Aku sudah lihat! Kedua orang tuaku sangat marah. Apa yang harus ku lakukan? Pernikahan kami minggu depan, Zivanna tapi Reza mengkhianatiku!”Suara isak tangis Ruby terdengar.


 


“Apa kamu masih mau menikah dengan pria brengsek itu?” tanya Zivanna.


“Aku tidak tahu Zi! Kenapa Reza tega melakukan itu? Dulu dia menjalin hubungan dengan Arimbi, sekarang dia malah tertangkap basah berduaan dengan Amanda dikamar hotel?”


“Apa Reza ada menghubungimu tadi malam?”


 


“Ya, ada. Aku yang meneleponnya tapi dia tidak menjawab panggilanku. Dan pagi ini aku melihat berita penggerebekan di media sosial! Zi, apa yang harus kulakukan sekarang?”


“Kamu belum menjawab pertanyaanku! Apa kamu masih mau menikah dengannya?”


“A—aku mencintainya! Persiapan pernikahan sudah rampung hanya menunggu hari H!”


 


“Aku akan mencari tahu tentang kejadian ini! Ada kemungkinan mereka juga dijebak untuk mengacaukan pernikahan kalian!” ujar Zivanna.


“Apa Reza sudah menghubungimu?” tanya Zivanna lagi.


“Benarkah Zivanna? Siapa yang melakukan itu?” tanya Ruby. “Dia belum ada menghubungiku.”


“Menurutmu siapa?”


“Hanya ada satu orang yang kupikirkan saat ini. Apakah dia yang melakukannya?” tanya Ruby.


 


“Bisa saja. Aku tutup teleponnya dulu! Sebaiknya kamu jangan kemana-mana sampai berita ini meredup. Fokus saja pada pernikahanmu, aku akan mencari tahu kebenaran dari kejadian itu! Aku tidak akan membiarkan udik desa itu hidup tenang jika dia yang melakukan itu.”


“Baiklah, Zivanna! Terima kasih.”


 


“Kamu adalah sepupuku! Aku tidak mau ada orang yang ingin merusak reputasi dan nama baik keluargaku.” jawab Zivanna lalu menutup teleponnya.


‘Aku harus menghubungi Johan dan Gio. Aku tidak melihat mereka sejak tadi. Kemana mereka pergi pagi-pagi sekali? Apakah mereka sudah tahu masalah ini?’ ujar Zivanna dalam hatinya.


 


Di rumah keluarga Rafaldi.


Di ruang makan duduk Yadid dan Mosha serta Amanda yang sejak tadi malam lebih memilih diam. Dia tidak tahu bagaimana menjelaskan kejadian tadi malam kepada kedua orang tuanya. Jika dia mengatakan yang sebenarnya, maka akan ketahuan kalau sebenarnya dia berniat menjebak Arimbi dan Jordan.


 


Tapi malah dia yang terjebak permainannya sendiri. Pikiran Amanda berkelana berusaha mengingat-ingat kembali apa yang terjadi tadi malam dimulai dari saat mereka ada di ruang VIP itu.


Memang Amanda yang memesan semuanya, dia yang menghubungi Jordan dan memberinya ide untuk makan malam itu karena kerjasama perusahaan mereka.


 


 


Suasana diruang makan hening dan sunyi, tak ada seorangpun yang bicara. Hanya ada suara denting alat makan saja yang terdengar. Para pelayan pun melirik Amanda yang sejak tadi menundukkan kepalanya.


Para pelayan sudah melihat berita terkini yang menyangkut Amanda, tak menyangka jika putri angkat keluarga Rafaldi itu akan melakukan perbuatan memalukan itu.


 


“Kamu tidak usah datang ke kantor hari ini.” ucap Yadid memecah keheningan. “Tinggallah dirumah untuk sementara sampai masalah ini reda. Berita itu sudah viral dan perusahaan sedang ada masalah besar.”


Pria paruh baya itu bicara tanpa menatap Amanda sedikitpun. Kekecewaan demi kekecewaan yang dia rasakan membuatnya marah tapi dia berusaha terlihat tenang.


 


“Mungkin ada baiknya kamu mengunjungi keluargamu. Renungi semua perbuatanmu selama disana.” kata Mosha menimpali. “Aku akan menghubungi Pratiwi nanti untuk memberitahunya.”


Perkataan Mosha itu membuat Amanda berpikir jika ibunya mengusirnya secara halus. Tapi dia tidak mau pergi kepedesaan dan tinggal sementara disana bersama keluarga kandungnya.


 


Mana mungkin dia tinggal di desa? Dia sudah terbiasa hidup di kota yang penuh dengan semua kemewahan selama lebih dari dua puluh tahuan. Membayangkan harus pergi ke desa dan tinggal bersama keluarga kandungnya membuat Amanda bergidik.


Lalu kemana dia akan pergi untuk sementara? Amanda teringat pada Gio, pasti pria itu sudah mengetahui kejadian malam tadi. Ini sangat memalukan, bagaimana dia menghadapi Zivanna nanti? Tapi Amanda tidak terlalu memikirkan apa tanggapan Gio karena dia tidak memiliki perasaan apapun pada pria itu.


 


“Bu, aku mungkin akan pergi liburan ke luar negeri untuk beberapa hari.” jawab Amanda yang langsung mendapat tatapan tajam dari Mosha.


“Apa liburan ke luar negeri itu jauh lebih penting ketimbang menghabiskan waktu bersama ibu kandungmu dan keluargamu di desa? Disana kamu bisa menghabiskan waktu dengan mereka.”


 


“Mosha! Tenangkan dirimu. Tidak perlu marah-marah begitu.” ucap Yadid yang diam saja sejak tadi. Bukan dia tak peduli tapi dia sedang memikirkan sesuatu yang serius.


“Tenang? Bagaimana aku bisa tenang setelah hari ini? Aku tidak mungkin pergi keluar! Orang-orang akan menertawaiku dan merendahkanku karena gagal mendidik putriku!” ujar Mosha marah.


 


“Bu, lebih baik aku ke luar negeri saja untuk sementara waktu.” Amanda mencoba mendapat persetujuan ibu angkatnya itu karena dia memang tak ingin pergi kerumah keluarga kandungnya.


“Kenapa? Apa kamu malu dengan keluarga kandungmu yang tinggal didesa? Arimbi tumbuh dan besar disana selama lebih dua puluh tahun! Tapi dia tidak pernah merasa malu sampai sekarang dia masih berhubungan baik dengan keluargamu!” ujar Mosha.


 


“Amanda, apa yang dikatakan ibumu itu benar. Akan lebih baik kalau kamu tinggal dirumah keluargamu sementara. Pergilah ke desa! Disana kamu bisa belajar banyak hal dan mendekatkan dirimu dengan keluarga kandungmu! Anggaplah ini sebuah kesempatan untukmu membangun hubungan dengan keluargamu.” kata Yadid menimpali.


 


“Apa ayah dan ibu mengusirku dan tidak menginginkan aku dirumah ini lagi?” tanya Amanda.


“Kalau kami ingin mengusirnya, sudah kami lakukan sejak lama. Bisa saja kami mengusirmu saat Arimbi kembali ke keluarga ini! Tapi kami tidak melakukan itu karena kami tetap menganggapmu sebagai putri keluarga Rafaldi! Tapi bukan berarti kamu memutuskan hubungan dengan orang tua kandungmu?” ujar Mosha yang jengah melihat Amanda.


 


“Apa masalahmu Amanda? Mengapa begitu sulit bagimu menerima orang tua kandungmu? Apa karena mereka tidak sekaya keluarga Rafaldi?” sindir Mosha terang-terangan.


Dia tak dapat menahan diri lagi untuk meluapkan semua isi hatinya yang sudah dia pendam selama ini. Semua perlakukan Amanda pada Arimbi dan apa yang terjadi tadi malam adalah batas kesabaran Mosha pada Amanda.