GADIS BERGAUN MERAH

GADIS BERGAUN MERAH
BAB 422. SERATUS MILYAR


"Nona, bisa anda tunjukkan dimana AC yang harus kami servis dulu? Apakah kamar utama dulu atau di ruang tamu atau dimana?" tanya salah satu pria itu kepada Ruby. Saat ini kondisi rumah sepertinya sepi karena mereka hanya melihat Ruby saja.


Sedangkan seorang pelayan sedang berada di halaman belakang dan tidak mengetahui ada orang yang datang kerumah itu. Satu orang pelayan lagi sedang pergi keluar, Ruby memintanya pergi ke supermarket untuk membeli kebutuhan rumah.


Sehingga hanya ada dia dan seorang pelayan saja dirumah itu. Kedua pria itupun menatap Ruby dengan santai dan seringai jahat diwajah mereka. Sebelum mereka masuk kedalam rumah itu tadi rekan mereka sudah mensabotase CCTV dirumah itu. Jadi mereka harus bergerak secepat mungkin.


Sebelum Ruby sempat menjawab tiba-tiba mulutnya ditekan dengan sebuah sapu tangan. Matanya terbelalak kaget dan ingin berteriak namun dia merasakan tubuhnya melemas. Kedua pria itu langsung membopong tubuh Ruby yang sudah pingsan dan membawanya keluar rumah.


Memasukkan tubuh Ruby ke jok belakang dan melakukan mobilnya meninggalkan tempat itu. Saat pelayan yang tadi berada dihalaman belakang masuk kerumah, dia hanya melihat pintu depan terbuka sedikit. Tanpa merasa curiga sedikitpun dia menutup pintu itu dan pergi ke lantai atas.


Sementara di waktu bersamaan kedua pria yang membawa Ruby sudah melajukan mobilnya dengan kencang menuju ke arah luar kota. Di daerah pinggiran yang sudah tidak berpenghuni karena dulunya adalah bekas pelabuhan kecil yang sudah lama ditinggalkan.


Mereka memasukkan mobil kedalam salah satu bangunan tua yang dikelilingi oleh rerumputan. Didalam bangunan itu sangat kotor dan tak terawat karena sudah lama ditinggalkan. Hanya ada sebuah dipan kayu tua yang tergeletak disudut salah satu ruangan.


Sepertinya bangunan itu dulunya adalah gudang dan memiliki beberapa ruangan yang dulunya digunakan sebagai kantor. Mereka meletakkan tubuh Ruby di atas dipan lalu mengikat kedua tangan dan kakinya.


Mereka pun duduk dengan santai menyulut rokoknya. "Wanita ini boleh juga! Wajahnya tidak secantik bos, tapi lihatlah kulitnya mulus!"


"Ya, wanita inikan anak orang kaya juga! Suaminya adalah seorang pengusaha! Pasti dia akan memberikan uang yang banyak untuk menebus istrinya ini."


"Cepat laporkan pada bos sekarang! Biar aku menghubungi suami wanita ini dan meminta uang tebusannya."


"Baiklah! Aku keluar dulu menelepon bos! Segera kau selesaikan urusan kita ini! Aku sudah tidak sabar mendapatkan uang banyak dari bos dan bersenang-senang dengan gadis-gadis di kelab. Hahaha." ujar pria itu sembari berjalan keluar dari ruangan itu.


Dia segera menghubungi Amanda dan melaporkan misi mereka yang sudah berhasil. "Bos! Kami sudah mendapatkan wanita itu! Apa langkah berikutnya? Temanku sedang menghubungi suami wanita itu untuk meminta tebusan."


"Bagus! Aku suka cara kerja kalian! Ingat ya kalian harus meminta seratus milyar dari pria itu! Suruh dia mengantarkan uang itu ke tempat yang sudah ku tentukan! Paling lama besok pagi!"


"Wah, seratus milyar bos? Apa wanita ini seberharga itu? Bos yakin suami wanita itu akan memberi kita uang sebanyak itu?" tanya pria itu tak percaya. Uang seratus milyar itu sangat banyak dan dia belum pernah melihat uang sebanyak itu sebelumnya.


"Kenapa? Uang sebanyak itu tidak seberapa bagi suami wanita itu! Aku yakin dia akan mengusahakan untuk mendapatkan uang itu!" ujar Amanda tersenyum sinis.


'Rasakan kau Reza! Begitu aku mendapatkan uang itu, maka aku akan pergi sejauh mungkin dari sini dan tidak akan pernah kembali lagi! Aku akan menikmati hidupku dengan uang darimu!' gumam Amanda merasa senang.


Dia sudah membayangkan uang sebanyak itu ada ditangannya. Dia hanya perlu memberikan beberapa ratus juta saja pada kedua pria itu sebagai upah dan uang tutup mulut. Sedangkan dia akan menikmati sisanya yang jumlahnya sangat banyak.


Hanya membayangkan saja sudah membuat Amanda senang dan suasana hatinya yang tadinya muram kini berubah menjadi bahagia. Tapi satu hal yang tidak dia ketahui adalah, Reza tidak mempunyai uang sebanyak itu. Apakah Reza akan menebus Ruby seharga seratus milyar?


"Apa? Ruby diculik?" Yessi terkejut dan langsung berdiri dari duduknya memandang suaminya yang sedang berbicara ditelepon dengan Reza.


Beberapa waktu lalu Reza menerima telepon dari si penculik yang meminta uang tebusan sebanyak seratus milyar. Tentu saja Reza merasa keberatan dengan jumlah sebesar itu. Dia pun menghubungi ayahnya untuk meminta bantuan namun ayahnya juga tidak bisa membantu.


Kondisi keuangan keluarga mereka saat ini sedang terpuruk. Perusahaan juga bermasalah dan dalam keadaan kacau balau. Bagaimana bisa mereka mengeluarkan uang sebanyak itu untuk menebus Ruby? Tapi mereka juga tidak mungkin membiarkan Ruby disekap oleh penculik.


"Ayah, aku sudah sampai didepan rumah. Kita bicara didalam saja." ujar Reza menutup teleponnya. Dia sudah tiba di rumah orangtuanya. Tadi saat si penculik menghubunginya, Reza sedang dalam perjalanan hendak pulang kerumah.


Namun setelah dia mendapat kabar penculikan, dia pun memutuskan pergi ke kediaman orangtuanya dan menelepon mereka. Begitu Reza masuk kedalam rumah, Yessi langsung mencecarnya dengan pertanyaan beruntun.


"Reza, apa yang terjadi? Siapa yang menculik istrimu? Apa yang terjadi? Kamu punya musuh diluar sana? Atau orang yang membenci keluarga kita? Katakan Reza!"


"Istriku, tenanglah! Biarkan Reza duduk dulu dan jangan membuatnya bertambah panik begitu."


"Bagaimana tidak panik? Ruby sedang mengandung anak Reza! Bagaimana kalau sesuatu terjadi padanya dan bayinya?" ujar Yessi panik.


"Bu, si penculik sudah menghubungiku tadi." ucap Reza memberitahu orangtuanya.


"Lalu? Dimana dia sekarang? Apa kamu sudah lapor polisi?" cecar Yessi lagi.


"Bu, kita tidak bisa bertindak gebabah dalam hal ini! Mereka hanya menginginkan uang saja." jawab Reza.


"Ya sudah berikan saja uangnya, yang penting Ruby selamat dan kembali kerumah. Berapa juta yang mereka minta?" tanya Yessi.


Reza menghela napas panjang lalu menatap kedua orang tuanya bergantian, "Mereka meminta seratus milyar."


"Apa? Apa katamu? Aku tidak salah dengar? Oh ya Tuhan! Seratus milyar? Memangnya darimana kita bisa mendapatkan uang sebanyak itu?" ujar Yessi. Lalu dia memandang suaminya dan berkata, "Apa pendapatmu?"


"Fuuuhhh! satu milyar pun tidak mungkin kuberikan untuk menebus Ruby!" ujar Harry Kanchana. "Kita tidak punya uang."


"Ya benar suamiku! Lagipula, uang seratus milyar itu banyak sekali! Kalau kita punya uang sebanyak itu, mending kita pakai untuk perusahaan. Agar perusahaan bisa stabil kembali." Yessi berkata dengan lirih.


Dia kini bahkan terlihat tenang dan tidak panik seperti tadi. Melihat sikap kedua orangtuanya Reza mengeryitkan dahinya dengan bingung.


"Lalu, apakah kita akan mendiamkan saja? Bagaimana kalau keluarga Ruby tahu tentang ini? Mereka pasti akan menyalahkan kita karena tidak mau membayar uang tebusan." ujar Reza sedikit cemas.