
Emir menghubungi Yadid terlebih dahulu untuk meminta izin karena pagi ini dia mau mengantarkan Arimbi ke rumah sakit untuk pemeriksaan. Setelah selesai menelepon, Rino mendorong kursi roda menuju keluar rumah bersama Arimbi. Seperti biasa Arimbi akan bermanja-manja didalam mobil setiap kali dia bersama Emir. Level kemanjaannya meningkat setelah kehamilannya.
Pagi ini suasana rumah sakit belum begitu ramai, mereka menuju ke bagian kandungan. Karena Emir sudah membuat janji sebelumnya jadi mereka tidak perlu menunggu.
Tiga puluh menit kemudian mereka sudah selesai pemeriksaan dan Rino pergi ke apotik untuk menebus resep vitamin untuk Arimbi. Emir memandangi foto USG bayinya sambil tersenyum.
Sementara itu disaat bersamaan Dion juga ternyata berada dirumah sakit itu juga menemui dokter lain. Dia masih saja mengalami mimpi yang sama hampir setiap malam. Saat Emir dan Arimbi meninggalkan bagian kandungan tanpa sengaja Dion melihat mereka dari kejauhan.
Dahinya mengeryit melihat Arimbi bersama seorang pria di kursi roda yang tak lain adalah musuh bebuyutannya baru saja keluar dari bagian kandungan. Pikirannya lantas berkecamuk dan merasa penasaran. “Apa yang mereka lakukan dirumah sakit? Kenapa mereka pergi ke bagian kandungan?”
“Pergi ke bagian kandungan dan tanyakan pada dokter disana, apa yang dilakukan Arimbi disana? Apakah dia sedang hamil?” perintah Dion kepada pengawalnya.
“Baik Tuan. Segera saya laksanakan.” ujarnya tanpa basa basi dan segera pergi menuju bagian kandungan. Tak berapa lama dia kembali dengan tergesa-gesa dan berdiri dihadapan Dion.
“Cepat katakan!”
“Tuan, menurut dokter itu Nona Arimbi datang untuk memeriksakan diri.”
“Hem...apa lagi? Kenapa kamu bicara setengah-setengah!”
“Saya minta maaf Tuan, kata dokter itu kalau Nona Arimbi sedang hamil.”
DEG!
‘Dia hamil? Berarti mimpiku itu benar? Aku tidak berhalusinasi, dia sedang hamil? Apakah itu anakku? Aku harus mencari tahu secepatnya! Arimbi…..Arimbi…...apa kamu sengaja membohongiku? Lalu, kenapa dia datang bersama pria lumpuh itu?
Apakah Emir ingin mengakui kalau anak itu adalah anaknya? Cih! Tidak akan kubiarkan….aku tahu kalau mimpi itu nyata. Aku dan Arimbi memiliki anak! Mungkin belum lahir tapi akan segera lahir.’ bisiknya didalam hati.
“Sudah berapa lama?”
“Maksudnya Tuan?”
“Kehamilannya sudah berapa bulan?” tanya Dion marah.
“Memasuki minggu ketiga, Tuan!”
Dion terdiam sejenak, minggu ketiga? Dia teringat terakhir kali dia bertemu dengan Arimbi. Dia hanyut dalam pikirannya mencoba untuk mengingat-ingat sesuatu. Mungkin, jika dia bisa mengingat kembali kapan dia dan Arimbi melakukannya? Apakah ada yang terlewatkan?
Dengan kondisinya sebelumnya, pasca operasi tumor otak dia banyak kehilangan ingatannya. Tapi rasa penasaran Dion semakin besar dan didalam hatinya dia sangat senang karena mengira bayi yang dikandung Arimbi adalah miliknya. Mungkin saja dia lupa kapan mereka melakukannya. Tapi dia tak peduli yang penting sekarang dia semakin yakin pada mimpinya.
Dion pergi meninggalkan rumah sakit menuju ke kantornya. Selama dalam perjalanan, dia kembali disibukkan dengan pemikirannya tentang Arimbi.
‘Aku harus mencari cara untuk bertemu dengannya! Aku harus menanyakan langsung padanya! Pasti dia sengaja berpura-pura dan menutupi kebenaran dariku! Arimbi….kamu milikku!’ bisik hatinya.
“Wakil Direktur Rafaldi! Coba tebak siapa yang baru masuk kerja jam segini.” ujar Sandra.
“Siapa? Jika karyawan itu tidak bisa disiplin katakan pada manajer departemennya untuk memecatnya!” ujar Amanda sebelum Sandra mengatakan siapa orang yang dimaksud.
“Nona Arimbi baru saja datang ke kantor. Ini sudah jam sembilan lewat!’ Ucap Sandra.
“Arimbi?” tanya Amanda ulang.
“Iya, barusan resepsionis yang memberitahu. Nona Arimbi baru saja datang, ini tidak bisa dibiarkan. Akan mempengaruhi karyawan lain, dan takutnya mereka malah ikut-ikutan!”
Amanda terdiam, dia semakin kesal dan cemas dengan tingkah laku Arimbi belakangan ini. Sepertinya dia harus bergerak cepat dari rencananya.
Tiba-tiba dia teringat tentang kontrak kerjasama dengan PT. Libra Elektroindo. Lalu senyum seringai muncul diwajahnya, sebuah ide terbit dibenaknya. Ya, ini saat yang tepat untuk memulai rencananya.
Setelah kemarin Yadid secara terang-terangan menasehatinya, padahal selama ini ayahnya tidak pernah bicara seperti itu padanya. Membuat Amanda semakin ingin melancarkan aksinya.
“Sandra, bagaimana hasil pekerjaannya selama ini?”
“Biasa saja! Mana mungkin dia bisa melampauimu Nona. Tidak peduli betapa kerja kerasnya dia, takkan mampu merebut kekuasaan darimu.” ujar Sandra memuji dan menjilat Amanda. Dia tidak akan pernah membiarkan Arimbi merebut Rafaldi Group dari Amanda.
“Apa kamu tahu alasannya dia datang terlambat?”
“Aku tidak tahu, tapi akan kucari tahu segera! Apa yang akan Nona lakukan? Apakah akan mengadukannya pada Direktur Rafaldi?”
“Tidak! Aku tidak bisa melakukan itu, Sandra! Kemarin ayahku sudah menasehatiku, dia tidak pernah seperti itu sebelumnya. Sikapnya juga sudah mulai berubah sama seperti ibuku.”
“Lalu apa yang akan Nona lakukan? Nona sudah bekerja keras selama bertahun-tahun untuk sampai di posisi ini. Meskipun dia putri kandung tapi dia tidak berhak atas posisi itu! Jangan khawatir aku akan membantumu, katakan saja apa yang akan Nona lakukan dan aku akan melakukan apapun untuk mendukungmu.” ucap Sandra.
Amanda yang tidak mempercayai siapapun dan sangat berhati-hati, dia pun tidak percaya pada Sandra. Dia hanya mempercayai asistennya itu sedikit! Karena dia berpikir bahwa setiap orang bisa berubah pikiran kapan saja dan dia harus berhati-hati dalam melakukan aksinya.
Saat ini dia tidak punya dukungan kuat, bagaimanapun dia harus memiliki seseorang yang punya kuasa untuk melakukan semua rencananya. Dia sudah tidak mempercayai Reza lagi, bahkan untuklepas dari pria itu dia pun tak bisa. Reza sudah mengikat lehernya dengan rantai besi yang kuat.
Mengingat Reza akan segera menikah, hatinya kembali sakit tapi dia masih berharap bahwa semua akan berjalan sesuai dengan rencana mereka. Dia teringat Gionino Lavani, Zivanna sudah berulang kali menawarkan padanya untuk menjalin hubungan dengan Gio. Tapi ada keraguan besar dihati Amanda.
Bagaimana jika Gio sampai tahu tentang hubungannya dengan Reza? Apa reaksi pria itu jika tahu kalau dia sudah tidak perawan lagi, apakah dia akan tetap menerimanya? Amanda mencoba menimbang-nimbang untuk mencoba. “Sandra, bagaimana menurutmu tentang Gionino Lavani?”
Sandra yang ditanya pun langsung bingung, kenapa Amanda tiba-tiba menanyakan tentang putra kedua Keluarga Lavani itu? Bukankah selama ini Amanda selalu menunjukkan ketidak tertarikannya pada pria manapun? “Maksudnya Nona?”
“Lupakan saja!” ucap Amanda. Dia baru menyadari sesuatu, bagaimanapun dia tidak boleh gegabah dalam hal ini. Jangan sampai ada yang mengetahui rencananya.
“Apakah Tuan Gio mencoba mendekati anda?” tanya Sandra yang merasa penasaran.