
Arimbi berkata dengan suara tulus dari hatinya, “Emir, kamu sangta…..sangat tampan dan baik sekali padaku. Ajari aku untuk tidak mencintaimu. Aku sudah jatuh kedalam pusaran pesonamu yang menenggelamkanku.”
Emir sangat baik padanya serta penuh perhatian dan memperlakukannya dengan penuh kasih sayang dan memanjakannya dengan caranya yang unik. Itu membuat Arimbi jatuh cinta dan dimabuk cinta.
“Kamu sungguh mencintaiku?” tanya Emir.
Arimbi menatapnya dengan waspada, penasaran dengan hal apa yang akan dikatakan Emir kepadanya dan apa yang akan dilakukan suaminya itu. Dia menyadari kalau dia sudah terjatuh kedalam perangkapnya lagi, Arimbi sangat ketakutan terhadap pertanyaan dadakan.
“Sayang, kamu mau apa?” tanyanya dengan suara manja mencoba merayunya.
“Aku tidak ingin apapun. Kamu masih ingin dihukum dengan tulisan? Kalau kamu tidak ingin aku melakukannya, kamu bisa mengganti caramu untuk menerima hukumanmu. Ini juga adalah kesempatanmu untuk beraksi tidak hanya bicara saja.”
Arimbi yang melihatnya dengan seksama masih menunggunya untuk melanjutkan perkataannya. Dia tidak berani langsung setuju kepada suaminya yang licik itu karena Arimbi takut akan masuk kedalam perangkapnya lagi.
“Cukup kirimkan padaku rekaman ucapan ‘Sayang, aku mencintamu’ sebanyak seratus kali.” ucap Emir akhirnya mengatakan apa hukuman yang tepat untuk istri nakalnya itu. Rino dan supir tidak bisa lagi menahan tawa saat mendengar perkataan Emir.
Rino merasa simpati kepada Arimbi, yang selalu saja dirundung oleh Emir atas hatinya yang polos.
“Sesederhana itu?” tanya Arimbi memastikan. Dia sudah masuk jebakannya dan tak mau masuk kedalam jebakan berikutnya.
“Iya.” jawab Emir singkat.
“Tidak ada yang lain?” Arimbi kembali bertanya karena dia tidak yakin jika suaminya itu akan melepaskannya semudah itu hanya dengan hukuman kata-kata yang simpel.
“Tidak ada. Itu saja!” jawab Emir.
“Setelah aku selesai merekamnya, aku tidak perlu menulisnya kan?” tanya Arimbi ulang.
“Tidak.” jawab Emir tersenyum. “Cukup lakukan itu saja.” tambahnya lagi.
Arimbi memberikan tepukan pada Emir lalu berkata dengan senyum, “Setuju!”
Cukup katakan ‘Sayang, aku mencintaimu’ sebanyak seratus kali lebih baik dan lebih mudah daripada dia menulisnya bukan? Jadi Arimbi tanpa pikir panjang langsung menyetujui. Arimbi yang percaya kalau hukumannya semudah itu pun merasa senang.
Saat Emir melihat betapa senangnya istrinya itu, dia pun langsung menyemunyikan tawanya dengan senyum. Sepuluh menit kemudian mobil Emir sudah tiba di kediaman keluarga Rafaldi. Setelah keluar dari mobil, Arimbi melihat ada mobil baru terparkir di halaman rumah.
Dia mengitari mobil itu dan menyentuhnya. Dia tidak berani menyentuh kemudi mobil lagi atau dia akan dicabik-cabik oleh suaminya. Saat dia melihat keberadaan mobil baru disana, Arimbi hanya bisa menyentuh mobil itu dan mengitarinya. Dia membayangkan kalau dia bisa mengemudikannya.
“Kesini, Emir. Cepat masuk….diluar cuacanya panas.” Mosha keluar sendirian, tampak dia mengenakan celemek. Ketika dia melihat menantunya dia tersenyum lebih lebar dan berjalan kearahnya sambil tersenyum menyambutnya.
Emir membiarkan istrinya mengitari mobil baru itu sementara dia mengikuti Mosha masuk kedalam rumah bersama pengawalnya. Seusai Arimbi berhenti menyentuh mobil, dia membalikkan tubuhnya dan berkata, “Emir, mobil baru ini apakah ibuku yang membeli atau…..Dimana Emir?”
Melihat ada pelayan lain yang sedang berdiri tidak begitu jauh, Arimbi bertanya, “Dimana Emir? Mereka semua sudah masuk ya?”
“Ibu tidak pernah memanggilku saat dia melihatku. Apalagi dengan menantu seperti Emir, anaknya sendiri pasti tidak dipedulikannya lagi. Huh! Ibu lebih sayang pada menantunya daripada aku!”
Pelayan itu tidak mengatakan apapun lagi dan menatap Arimbi yang sedang menatap mobil baru itu.
“Mobil siapa ini?” tanya Arimbi pada pelayan itu lagi. “Sepertinya ini mobil baru ya?”
“Iya Nona. Itu mobil baru Nyonya Rafaldi, tadi pagi diantar kesini.”
“Oh ya? Apakah ibuku yang membeli mobil ini? Dia masih punya mobil lain kenapa membeli mobil baru lagi?” tanya Arimbi yang berpikir alasan ibunya membeli mobil itu.
“Bukan Nona. Nyonya Rafaldi tidak membeli mobil itu. Tadi pagi Tuan Emir datang membawa mobil ini dan memberikannya kepada Nyonya Rafaldi.” jawab pelayan itu memberitahu apa yang diketahuinya. Karena memang benar seperti itu yang terjadi tadi pagi sebab dia ada disana saat Emir datang dengan mobil itu.
“Apa? Benarkah?” tanya Arimbi tak percaya. Kenapa Emir memberikan mobil baru pada ibunya? Dan mobil ini sama persis seperti mobil yang telah rusak akibat ulahnya tempo hari. Arimbi mengerjapkan matanya lalu dengan langkah cepat dia bergegas masuk kedalam rumah.
Saat dia sudah berada didalam rumah, dia melihat Emir berada diruang tamu bersama ayahnya sedang berbincang-bincang. Dia pun langsung menghampiri suaminya dan berkata, “Emir, apakah benar kamu yang memberikan mobil yang diluar itu untuk ibuku?”
Emir tak langsung menjawab dan hanya memandangnya saja, setelah beberapa saat dia berkata, “Apakah kamu tidak mau bertanggung jawab atas perbuatanmu? Itu hanya hadiah untuk ibumu. Bagaimanapun kamu adlaah istriku, setiap kamu melakukan perbuatan seperti itu maka aku akan bertanggung jawab untukmu.” jawab Emir dengan santainya.
Arimbi yang merasa tersentuh dengan perkataan Emir pun merasa bahagia dan semakin tergila-gila padanya. Dia mendekat lalu memeluk suaminya dan berkata, “Terima kasih sayang. Tapi aku akan lebih senang lagi kalau aku bisa berada dikemudi mobil itu bersama anakku.”
“Arimbi!” baik Emir dan Mosha yang baru saja masuk berteriak menyebut namanya bersamaan.
“Arimbi, kamu sedang hamil tidak boleh mengemudikan mobil! Itu tidak baik buat keselamatanmu dan calon bayimu.” ucap Yadid lalu melirik Emir untuk melihat ekspresinya.
Yadid pun sebenarnya sama terkejutnya seperti Arimbi saat dia pulang kerumah tadi sore. Dia melihat mobil itu dan mengira kalau mungkin mobil itu milik Amanda atau mungkin Arimbi.
Tapi saat Mosha mengatakan kepadanya bahwa Emir datang tadi pagi dan memberinya mobil itu sebagai ganti untuk mobilnya yang telah rusak.
Saat itu juga, Yadid pun merasa senang dan puas hati atas perlakuan menantunya itu. Entah bagaimana reaksinya jika Mosha istrinya memberinya daftar hadiah pertunangan dan pernikahan padanya nanti. Karena Emir mengatakan padanya akan datang makan malam, Mosha belum memberitahu suaminya tentang itu.
“Ayah, bayiku maunya begitu.”
“Arimbi, jangan gunakan kehamilanmu sebagai alasan untuk mendapatkan keinginanmu!” ucap Mosha.
“Bu, apakah aku ini masih anakmu?”
“Ya tentu. Kenapa kamu berkata seperti itu?” tanya Mosha mengeryitkan dahi.
“Tapi aku merasa ibu sekarang pilih kasih. Ibu lebih menyayangi menantu ibu itu daripada aku. Dengan menantu seperti Emir, lihatlah bagaimana tadi ibu langsung menyambutnya dan bahkan mengacuhkanku diluar. Apa ibu sekarang menjadi pendukung Emir?”
Mosha tidak tahu bagaimana menjawab putrinya itu, apakah dia harus tertawa atau menangis mendengar perkataannya. Dia hanya diam dan menatap Arimbi dengan serius.