
“Konyol! Jangan pernah melakukan sesuatu yang berbahaya lagi. Bagaimana jika aku benar-benar menjadi gila lalu menyakitimu?”
Arimbi menempelkan pipinya ketelapak tangan yang besar itu, “Aku percaya bahwa suamiku tidak akan pernah menyakitiku.”
Rasanya sangat menyenangkan bisa dipercaya olehnya. Emir akhirnya kembali dalam suasana hati yang baik. “Arimbi, tetaplah bersamaku untuk pemulihan, tinggal lebih lama menemaniku.”
Arimbi mengangguk dan berdiri kembali lalu dia membuat gerakan lain agar Emir terus berusaha. Melihat Tuan Muda mereka telah ditenangkan oleh Nyonya Muda, para pengawal itu menghela napas lega.
Setelah Emir cukup beristirahat, mereka kembali ke posisi semula yang jauh dari pasangan itu untuk memastikan kehadiran mereka tidak mengganggu keduanya. Berkat dukungan dan dorongan Arimbi kali ini Emir berhasil menjalani rehabilitasi fisik selama beberapa jam.
“Emir sayang, ini sudah malam. Ayo pulang kerumah.” Arimbi mengingatkan Emir karena dia sudah melakukan pelatihan fisik untuk waktu yang cukup lama.
Pria itu sangat serius melakukan latihan fisiknya dan sudah waktunya untuk kembali kerumah dan beristirahat. Selama pelatihan fisiknua Arimbi mengingatkan kembali berulang-ulang agar Emir kembali kerumah dan beristirahat tetapi tidak berhasil, karena saat Emir serius dalam melakukan sesuatu maka dia akan sangat keras kepala.
Emir melirik jam tangannya dan menyadari bahwa sudah lewat jam sembilan malam. Di masa lalu dia akan berpikir bahwa ini masih pagi karena dia biasanya tidur tengah malam.
Namun sejak dia kehilangan fungsi kakinya, dia berhenti keluar larut malam yang membuatnya tidur lebih awal dari sebelumnya. “Baiklah, kita pulang.”
Arimbi segera kesisinya dan menyeka keringatnya dengan tisu. Melihat keindahan didepannya, Emir menatap istrinya dengan lembut dan menundukkan kepalanya untuk memudahkannya menyeka keringatnya.
“Emir sayang, kamu tinggi sekali.” setelah Arimbi selesai menyeka keringat Emir, dia melanjutkan dengan menepuk dadanya.
“Meskipun untuk ukuran wanita, aku dianggap tinggi tapi aku terlihat sangat lemah dan tak berdaya berdiri disampingmu. Ditambah lagi dadamu sangat keras!”
Emir adalah sosok yang sempurna untuknya, kemudian dia mundur dua langkah dan mengamatinya lebih jauh. “Ya anggun dan tampan. Benar-benar pemandangan yang indah untuk dilihat. Aku harap hanya aku saja yang bisa menikmati keindahan ini.”
Emir bertanya dengan nakal, “Puas? Kamu bisa kurung aku dikamar kalau kamu tidak mau orang lain memandang keindahan suamimu ini.”
Arimbi sengaja meletakkan tangannya di bahu Emir lalu menepuk dadanya dengan ringan dua kali sambil berkata, “Pasti terlihat bagus! Aku akan membawamu kemanapun aku pergi agar semua orang tahu siapa pemilik pria tampan ini jadi para wanita penggemarmu bisa berhati-hati. Aku tidak mau mengurungmu dikamar.”
Sayangnya, Emir menangkap apa yang dimaksud oleh Arimbi. Dia mengulurkan tangannya dan mencubit wajahnya tanpa penjelasan apa pun lalu dia berkata denganauch tak acuh. “Bisakah kamu membantuku mengambil kursi roda kesini?”
Arimbi segera menghampiri dan mendorong kursi rodanya. Kemudian dia membantu Emir duduk di kursi rodanya lalu mendorongnya kembali kerumah.
Sedangkan di rumah utama tepatnya di balkon lantai atas tampak Layla Serkan mengenakan kacamata rabun dekatnya berdiri didekat pagar sambil terus menatap kesatu arah untuk waktu yang sangat lama.
Layla tetap berdiri disana mengawasi Emir selama dia melakukan pelatihan fisiknya. Dia secara diam-diam menemani cucu kesayangannya selama pemulihan dengan caranya sendiri.
“Nenek!” Elisha datang lalu berkata dengan lembut, “Sudah larut nenek. Kamu harus turun dan beristirahat sekarang.” Namun Layla tetap diam tak bergeming sehingga membuat Elisha mengikuti arah pandangan neneknya. Dia hanya melihat beberapa sosok samar yang bergerak. “nenek, Emir sudah selesai dengan terapinya.”
Meskipun tempat dimana kakaknya menjalani pemulihan fisiknya untuk sementara ditutup, tapi itu tempat terbuka sehingga neneknya memilih untuk berdiri ditempat yang paling tinggi sehingga dia bisa melihat sekilas.
Sejujurnya dengan jarak yang jauh Layla hanya bisa melihat sosok emir yang samar meskipun memakai kacamata. Meskipun dia tidak bisa melihat Emir dengan jelas, dia masih suka berdiri disini diam-diam mengawasinya. Yaya telah memberi tahu Elisha bahwa Layla telah berdiri disana selama beberapa jam.
Karena mempertimbangkan usia neneknya serta fakta bahwa dia telah berdiri lama. Elisha khawatir neneknya akan merasakan sakit dilututnya, itulah sebabnya dia dengan cepat datang kesana untuk membujuk neneknya agar turun.
“Aku hanya menikmati keindahan pemandangan malam disini. Damai dan tenang namun keindahannya menenangkan orang-orang yang melihatnya.” Layla secara tidak langsung membantah bahwa dia melihat cucunya menjalani pelatihan fisik.
Elisha tersenyum, “Ada keindahan unik dirumah kita setiap saat nenek. Tidak peduli kapan pun itu akan selalu ada damai dan tenang.”
Karena komplek villa itu sangat besar, ada jarak antara setiap halaman dan ruangan. Bahkan jika orang berisik disuatu tempat disana, tidak akan mempengaruhi rumah mereka.
Lalu para karyawan disana juga mengerti tentang aturan dan ketentuan yang berlaku di Keluarga Serkan. Jadi mereka tidak pernah berisik untuk menjaga kedamaian dan ketenangan villa Serkan.
Jika tidak ada orang yang sering berjalan-jalan, orang lain pasti sudah salah berasumsi bahwa tempat itu adalah rumah kosong. Layla mengulurkan tangannya pada cucunya. Untungnya cucunya ada disampingnya karena dia mulai merasa lelah saat dia mulai berjalan.
“Nenek pasti sudah lama berdiri ya. Aku akan meminta Suganda untuk membangun dan memasang kursi tinggi disini untuk nenek.”
“Juga memasang kanopi payung juga disini, dengan begitu kalau nenek kesini bisa duduk dan memandangi pemandangan rumah kita.” ujar Elisha lagi memberikan saran pada neneknya.
Suganda adalah kepala pelayan di Villa Serkan. Dia bertanggung jawab atas semua kepala pelayan lainnya dan juga bertanggung jawab atas segala sesuatu dihalaman.
Layla menyetujui saran cucunya dan berkata, “Aku menginginkannya dengan tambahan bangku dan meja luar ruangan. Dengan begitu aku bisa menikmati pemandangan sambil minum dan makan juga.”
Elisha tersenyum dan menjawab, “Baiklah nenek. Aku akan membuat desainnya dan memberikannya pada Suganda besok. Jadi dia akan tahu apa yang harus dilakukan.”
Meskipun Elisha belajar desain, dia mahir di desain arsitektur dan juga desain furnitur juga.
“Eli!” panggil nenek Serkan.
“Iya nenek.”
“Menurutmu apa yang baik dari Arimbi Rafaldi itu? Bagaimana dia bisa menenangkan amarah Emir?”
Layla telah melihat bagaimana Emir mengamuk beberapa saat tadi. Meskipun dia tidak bisa melihat keseluruhannya dengan jelas tapi dia melihat bagaimana Emir memukul kakinya sendiri dengan keras.
Pada saat itu dia merasa cemas dan hendak melompat turun dari lantai atas untuk menenangkan Emir. Namun dia memilih untuk tetap berdiri saat melihat Arimbi menenangkan Emir.