
‘Eh, bukannya dulu Reza adalah tunangannya Arimbi ya? Arimbi memutuskan hubunga, jangan-jangan karena dia tahu Amanda selingkuh!’
Komentar-komentar tak sedap membuat kepala Amanda berputar! Hancur! Itu yang dirasakannya kini! Dia merasa dikhianati dan dibohongi! Yadid memintanya pulang ke keluarga kandungnya untuk sementara tapi nyatanya itu untuk selamanya!
...******...
Akhirnya Sandra memutuskan menghubungi Zivanna. Satu-satunya harapan terakhir untuk bisa menghubungi Amanda.
“Halo, Nona Zivanna!”
“Ada apa kamu menghubungiku?” suara ketus Zivanna terdengar dari seberang telepon.
“Ehm….Nona saya mau minta tolong mencari Amanda!” ujar Sandra memberanikan diri bicara.
“Tidak perlu dicari, kan dia sedang pergi ke luar negeri! Ada apa denganmu?” tanya Zivanna ketus.
“Nona sudah melihat berita terbaru? Nona Amanda dihapus dari daftar keluarga Rafaldi dan Tuan Yadid sudah mengumumkan kalau pewaris adalah Arimbi!”
“Apa? Hei…..jangan asal bicara kamu ya?”
“Benar Nona! Aku bahkan sudah dipecat! Dan, satu hal lagi….Nona Amanda tidak pernah pergi keluar negeri! Saya sudah mengecek.”
“Hah? Kamu yakin? Kalau begitu dia ada dimana sekarang?
“Aku juga tidak tahu Nona! Makanya aku menghubungi Nona Zivanna, mungkin bisa membantu mencari Amanda! Aku khawatir sesuatu terjadi padanya! Keluarga Rafaldi pasti sudah merencanakan ini semua! Setelah Amanda pergi, mereka langsung membuat pengumuman itu dan mengganti posisi Amanda di perusahaan.”
“Apa kamu tahu dimana alamat keluarga kandungnya?” tanya Zivanna.
“Oh, mungkin dia pergi kesana! Tapi aku rasa tidak mungkin Nona! Keluarga kandung Nona Amanda tinggal di pedesaan! Tidak mungkin dia pergi kesana, tidak mungkin…...”
“Cari tahu alamat keluarganya! Bisa jadi dia pergi kesana.”
“Ya, akan aku cari tahu.”
Klik….
“Dasar bodoh! Kenapa Amanda diam saja setelah berita itu muncul ke publik? Gio….Gio…..kalau bukan karena kamu mencintai Amanda, tidak akan kudukung! Sekarang dia bukan lagi anggota keluarga Rafaldi! Statusnya tidak pantas untuk masuk kedalam keluarga Lavani! Ck!”
Tok tok tok
“Zivanna!”
“Ya masuk saja.”
Pintu kamarnya terbuka, muncul Gio yang tersenyum tipis pada Zivanna. “Apa sudah ada kabar dari Amanda?” tanya Gio yang tak langsung dijawab oleh Zivanna.
“Kamu sudah lihat berita terbaru? Tuan Yadid menghapus Amanda dari keluarga Rafaldi! Kini dia sudah tidak menyandang nama keluarga Rafaldi lagi!”
“Lalu?”
“Itu berarti statusnya tidak selevel dengan keluarga kita! Apa kamu pikir kedua orang tua kita akan menyetujui hubunganmu dengan Amanda?”” ujar Zivanna mendengus. Bahkan sekarang pun dia merasa tidak ingin berteman lagi dengan Amanda. Setelah Amanda bukan lagi putri keluarga Rafaldi, maka dimata Zivanna, dia hanyalah orang biasa.
“Aku tidak peduli pada status sosialnya! Aku mencintainya dan itu sudah cukup! Asalkan Amanda juga tetap menerimaku!”
“Jangan bodoh Gio! Apa kamu ingin merusak nama baik keluarga kita?”
“Bagaimana denganmu? Kamu bahkan tidak bisa mendapatkan pria yang kamu sukai! Ck!” sindir Gio.
“Tidak ada hubungannya denganku! Aku bicara tentangmu!”
“Sama saja! Seharusnya kamu sudah punya kekasih, tapi lihatlah! Tuan Emir bahkan menikahi Arimbi! Dan kamu? Apa yang kamu lakukan? Mengejar Tuan Dion yang juga menolakmu?”
“Gio! Seharusnya kamu mendukungku bukan malah mengejekku.”
“Dia tidak pergi keluar negeri!” jawab Zivanna singkat. Mendengar itu Gio mengeryitkan keningnya.
“Maksudmu?”
“Amanda tidak pergi ke luar negeri! Mungkin dia sengaja berbohong, kemungkinan dia pergi ke desa ketempat orang tua kandungnya. Kemana lagi dia pergi kalau bukan kesana?”
“Apa kamu tahu alamat mereka? Aku akan mencarinya kesana.” tanya Gio.
“Aku tidak tahu! Ponselnya tidak bisa dihubungi!” ujar Zivanna. Dan baru saja dia selesai bicara, ponselnya berbunyi dan muncul nama orang yang sejak tadi mereka bicarakan.
“Amanda?” gumam Zivanna lirih. “Halo! Amanda kamu dimana?”
“Zivanna! Ehm…..”
“Katakan kamu dimana, aku dan Gio akan datang menjemputmu sekarang! Jangan takut, kami akan membantumu!” ujar Zivanna lalu melirik Gio.
“Ini bicaralah dengan Gio.” dia memberikan ponselnya pada Gio.
“Amanda! Tolong katakan dimana kamu? Kami semua mengkhawatirkanmu dan mencarimu kemana-mana tapi tidak ketemu! Amanda! Ada hal yang ingin kusampaikan padamu, tentang---”
“Aku sudah tahu! Terima kasih Gio!” ucap Amanda yang tak tahu harus berkata apa. Dia masih merasa malu pada Gio karena insiden yang terjadi padanya dan Reza.
“Jangan pikirkan apa-apa! Yang penting sekarang katakan dimana kamu? Kita masih punya kesepakatan yang harus kita kita laksanakan segera! Apa kamu hanya akan diam saja? Amanda! Mereka memperlakukanmu tidak adil! Mereka sudah menipu dan mengkhianatimu!”
Amanda hanya menghela napas panjang, ingin rasanya dia meminta bantuan pada Gio untuk mendapatkan kembali apa yang menjadi miliknya.
“Katakan padaku, apa yang kamu mau. Maka aku akan melakukannya untukmu!” ujar Gio berusaha menyemangati Amanda.
“Aku akan kembali sore ini! Gio! Aku minta maaf soal---”
“Sssttt! Sudah jangan diingat lagi, Amanda! Aku tahu kamu tidak salah! Siapapun yang menjebakmu malam itu akan segera kita cari orangnya. Sekarang, kamu bersiaplah! Kami menunggumu disini! Apa perlu aku menjemputmu?”
“Tidak usah! Aku bukan wanita lemah yang akan menangis! Aku bisa mengemudi sendiri! tapi---aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan saat kembali ke kota nanti.”
“Amanda! Ini Zivanna! Kamu harus temui orang tuamu dan minta penjelasan dari mereka! Seenaknya mereka membuangmu setelah semua pengorbananmu selama ini.” Zivanna berusaha mengobarkan kemarahan Amanda.
“Oh iya! Tadi asistenmu Sandra juga menghubungiku karena dia tidak bisa menghubungimu! Ada hal penting yang ingin dia bicarakan denganmu! Apa kamu tahu kalau dia juga sudah dipecat dari kantor?”
“Ya aku tahu! Aku akan meneleponnya sekarang.”
...*****...
“Siapa yang mengirimkan bingkisan ini?” Joana memperhatikan bingkisan yang lumayan besar yang diletakkan pelayan diatas tempat tidurnya. Dengan sedikit ragu dia membuka pita pengikat lalu membuka kotaknya. Tangannya menyingkirkan kertas penutup didalam kotak.
“Ah! Gaun?” Joana terperanjat saat melihat gaun mewah berwarna salem. Tangannya menyenth gaun itu, ‘Lembut! Indah sekali? Siapa yang mengirimkan ini padaku?” Joana mencari jika ada nama pengirim, dia menemukan sebuat kartu berwarna abu-abu. Dia mengeryitkan keningnya menatap kartu itu karena sesuatu yang tidak romantis.
‘Semoga kamu menyukai gaunnya! Sampai jumpa di pesta nanti!’
Joana membolak balikkan kartu itu namun tidak ada nama pengirimnya.
“Siapa yang mengirim ini? Aneh! Kenapa dia bisa tahu kalau aku akan pergi ke pesta perjamuan bisnis bersama ayahku?”
Bodoh amat! Joana mengeluarkan gaun itu, cantik dan elegan.
'Ah, bagus sekali gaunnya! Aku coba dulu. kebetulan sekali aku punya gaun baru untuk nanti malam.'
'Atau, jangan-jangan Tuan Dion yang mengirimkan gaun ini? Aihhhh.....kenapa aku jadi kepikiran dia terus?"