
“Fuuuhhh! Oke, anggaplah aku percaya pada ceritamu. Kamu sudah menjelaskannya sedetail mungkin. Reza jika kamu bisa memegang janjimu maka aku tidak akan membatalkan pernikahan kita, meskipun saat ini hatiku masih sakit tapi aku akan memaafkanmu!” ucap Ruby.
Mata Reza langsung berbinar dan hatinya sangat senang hingga hampir melompat! Dia langsung memeluk Ruby dan menciumnya. Wanita itu kaget setengah mati mendapat perlakuan seperti itu dari Reza. Selama ini biasanya Reza hanya mencium pipinya saja tapi kali ini pria itu mencium bibirnya.
Bukan hanya sekedar ciuman biasa, Reza sangat bergairah dan ******* bibir Ruby. Didalam hatinya Ruby merasa senang, ‘Ah…..begini rasanya dicium seorang pria! Dia mencuri ciuman pertamaku! Manis sekali…..ahhh…..aku senang sekali! Oh Reza andai kamu tahu kalau aku sudah memaafkanmu sejak tadi. Aku mencintaimu dan aku tidak akan pernah melepaskanmu.’
...*******...
“Bagaimana?”
“Ehm? Apanya yang bagaimana? Sayang, kalau bicara itu yang jelas! Jangan bikin aku tambah pusing, aku ini kan tidak pintar sepertimu jadi kalau bicara harus jelas!” ujar Arimbi mengerucutkan bibirnya. Emir tersenyum lalu menarik istrinya mendekat dan menciumnya.
“Eugghhh….”
“Kenapa kamu tidak meneleponku hari ini? Hm? Apa kamu tidak merindukanku?” tanya Emir.
“Sayang, aku selalu merindukanmu! Setiap tarikan napasku selalu ada namamu, bagaimana mungkin aku tidak merindukanmu sedangkan setengah dirimu ada didalam tubuhku.”
“Arimbi, berhentilah menggodaku! Kamu tahu kemampuanku, hmm?”
“Kamu juga tahu kemampuanku kan? Apa kamu lupa siapa yang dulu sering menodaimu?” Arimbi mencium bibir Emir dengan penuh gairah dan tangannya dengan cepat membuka satu persatu kancing piyama suaminya. Tangannya menyentuh dada Emir hingga turun kebagian bawah, lalu Arimbi mencubit roti sobek di perut suaminya.
“Kamu terlalu tampan dan terlalu seksi untuk tidak kurindukan,” bisik Arimbi sesaat setelah melepas ciumannya. “Emir, apakah kamu tidak merindukanku hari ini?”
“Aku sibuk! Aku bahkan tidak sempat minum kopi!”
“Emir! Kamu benar-benar tidak bisa romantis! Bisa tidak kamu itu belajar bicara manis sedikit? Aku ini sedang mengandung? Aku ingin mendengar suamiku merayuku dan berbisik kata-kata cinta.”
“Apa kamu tidak keberatan kalau posisimu ku ambil alih?”
“Maksudmu?” Arimbi mengerutkan alisnya dan memasang wajah cemberut.
“Bukankah sudah jadi tugasmu menjadi seorang penggoda dan perayu ulung? Aku bisa memberimu mahkota sebagai penghargaan wanita paling penggoda.”
“Emir! Aku bukan wanita penggoda! Kapan aku menggoda pria? Apa kamu pernah melihatku merayu dan menggoda pria selama ini?”
“Ada! Aku! Kalau bukan karena kamu menggodaku, apakah kita menikah?”
“He he he…..ya benar juga! Tapi kamu suka kan? Berarti kamu memang menyukai wanita penggoda! Kalau kamu tidak menyukaiku menggodamu, kamu pasti sudah menolakku saat itu.”
“Sebenarnya aku mau menolak saat itu, tapi----”
“Tapi apa? Cepat katakan!” Arimbi mendesaknya dan langsung menduduki Emir yang saat ini dalam keadaan duduk sambil bersandar di tempat tidur.
“Tapi rasanya rugi kalau aku kehilangan mainan menyenangkan!”
“Apa? Jadi kamu menganggapku mainan?”
“Ya, waktu itu! Aku senang akhirnya aku punya mainan baru dirumah yang menyenangkan. Tidak tahu malu dan cantik pula!” ujar Emir sejujurnya karena saat itu dia memang menikahi Arimbi untuk membalas dendam dan menjadikannya mainan saja. Tidak disangka dia malah jatuh semakin dalam pada pesona Arimbi.
“Oke, aku terima alasanmu karena kamu mengakui aku cantik.” ucap Arimbi tersenyum.
“Kenapa kamu suka sekali menaikiku Arimbi? Apa kamu pikir aku ini kuda?”
“Hehe….” Arimbi terkekeh lalu melingkarkan tangannya dileher Emir. “Ya, aku suka begini! Aku bisa menatap wajah tampanmu lebih dekat.”
“Arimbi, jujur padaku! Bagaimana perasaanmu sekarang?”
“Masih sama! Aku sudah pernah bilang kalau aku menyukaimu, aku mencintaimu! Emir, kamu itu tidak adil! Cintaku bertepuk sebelah tangan!”
“Aku sangat mencintaimu tapi kamu sampai sekarang belum pernah mengungkapkan perasaanmu padaku. Sedangkan aku sudah mengandung anakmu! Huh! Kalau kamu tidak mencintaimu, tidak masalah! Ada anakku yang akan selalu mencintaiku, kalau kelak kamu masih tidak mencintaiku maka aku akan bilang pada anakku!”
“Jangan bicara macam-macam! Aku akan mendidik anakku dengan baik dan menyayanginya melebihi diriku sendiri! Aku tidak mengijinkanmu mengajari anakku yang tidak-tidak!”
“Aku kan tidak mengajarinya hal buruk, paling aku cuma bilang padanya kalau papa nya tidak mencintaiku. Supaya dia memberikan cintanya full untukku!” Arimbi menjulurkan lidahnya.
“Dasar istri nakal! Turunlah, apa kamu tidak merasa sesak seperti ini Arimbi?”
“Hemmm….aku mau tidur! Jangan ganggu aku.” ucapnya lalu meletakkan kepalanya didada Emir.
“Sayang, kamu belum lihat foto USG anak kita ya? Besok aku tunjukkan. Sekarang aku mengantuk sekali.” ujar Arimbi memejamkan mata.
‘Aneh sekali wanita ini! Tadi bicara bersemangat sekali, eh sekarang malah mau tidur! Apa-apaan ini? Dia sudah mulai berat! Makan apa dia hari ini?’
“Arimbi….” panggilnya tapi yang dipanggil tidak menyahut. Hanya terdengar dengkuran ringan pertanda dia sudah tidur lelap.
Perlahan Emir memeluk Arimbi lalu membaringkannya dengan hati-hati. Lalu dia menyelimuti wanita itu dan mengecup keningnya.
“Aku mencintaimu Arimbi! Sangat mencintaimu.” ucapnya pelan. Namun sayangnya Arimbi sudah terbang ke alam mimpi dan tak mendengar ucapan Emir.
Tangan Emir turun menyentuh perut Arimbi dan mengelusnya pelan sambil tersenyum. ‘Selamat malam anakku!’ lalu dia pun membaringkan tubuhnya disamping Arimbi.
...*****...
“Hueekkss…...huekkksss…...”
Arimbi mengerjapkan matanya, perlahan dia membuka mata sembari tangannya meraba disampingnya. Tidak ada Emir disana. Samar-sama dia mendengar suara dari dalam kamar mandi.
‘Dia kenapa?’ Arimbi mendengar suara seperti orang sedang muntah, dia bergegas turun dari tempat tidur dan berjalan cepat memasuki kamar mandi.
“Emir! Kamu kenapa?” tanya Arimbi terkejut saat melihat Emir yang sedang membungkuk di toilet dan sedang muntah-muntah. “Kamu sakit, sayang?” tangannya memeriksa kening Emir tapi suhu tubuhnya normal.
“Aku merasa mual-mual.”
“Tunggu sebentar aku ambilkan obat.”
“Arimbi!”
“Hem?” dia langsung menoleh saat hendak pergi.
“Ada apa?”
“Tidak usah. Nanti juga baikan. Selalunya begitu.”
Arimbi mengeryitkan keningnya lalu sebuah pemikiran muncul. Dia ingin perkataan dokter waktu itu yang bilang kalau suami bisa mengalami ngidam menggantikan istri.
Lalu dia menatap Emir dengan perasaan kasihan. ‘Apa dia ngidam? Memang aku tidak pernah merasakan mual dan muntah-muntah.’
“Sudah berapa lama kamu seperti ini?” tanya Arimbi penasaran.
“Ehmm…..sekitar dua minggu. Tapi hilang sendiri.” Emir berdiri lalu mencuci mulutnya. Saat dia menatap cermin didepannya, dia melihat Arimbi tersenyum. “Kenapa? Ada yang lucu?”
“Sayang…..maaf ya?”
“Kamu buat salah apa?”
“Ehm….itu---sepertinya kamu yang gantikan aku ngidamnya.” ucap Arimbi. “Kamu mengalami syndrome couvade! Begini, aku yang hamil tapi kamu yang mengalami ngidamnya! Kemarin dokter ada menjelaskan tentang itu. Karena aku pernah melihatmu muntah-muntah.”