
“Ya, ibu angkatku dan keluarganya sudah mengurusku dengan baik dan keuangan mereka juga baik. Mereka tidak butuh bantuan keuangan dariku karena setiap kali aku ingin membantu mereka selalu menolaknya.” Arimbi ingat kembali saat dia memaksa orang tua angkatnya menerima bantuan uang darinya.
“Terlebih lagi alasan aku bekerja karena aku bosan dirumah saja karena Emir selalu pergi kekantor setiap hari jadi aku memutuskan untuk mencari kerja dan menghasilkan uang sendiri. Lagipula gaya hidup seperti ini membuatku senang dan aku bisa membuat hidupku jauh lebih baik.”
“Apakah kakakku mengizinkanmu bekerja?” tanya Elisha lagi.
“Tentu saja! Kalau dia tidak setuju, aku tidak mungkin diizinkan masuk kembali ke villa ini.”
“Wow! Kakakku benar-benar memperlakukanmu dengan baik ya? Aku ingin bekerja tapi kakakku tidak mengizinkanku. Mereka mengirimkan uang yang banyak ke rekeningku setiap bulan. Mereka pikir aku ingin bekerja karena kehabisan uang.” ucap Elisha dengan iri.
“Bukankah itu membuatmu bahagia? Aku berharap bisa hidup sepertimu yang bisa menghamburkan uang tanpa repot-repot bekerja. Tapi sayang sekali aku tidak punya kakak yang bisa membantu keuanganku.” jawab Arimbi tersenyum.
“Ya kamu ada benarnya juga. Aku harus bersyukur atas hidup yang aku punya ini. Mungkin aku adalah wanita paling beruntung dan bahagia didunia ini. Nona Arimbi, kenapa kamu tidak menyalakan alarm dan tidur disini? Saat nenek akan bangun kamu bisa menunggu diluar ruangannya dan berpura-pura mengantuk agar nenekku berpikir kalau kamu sudah menunggunya diluar semalaman. Dengan begitu, aku yakin nenek akan cepat melunak karena dia benar-benar menyukai gadis-gadis muda.”
Arimbi tahu dari cerita Emir kalau di keluarga Serkan lebih banyak pria dibandingkan wanita. Namun Arimbi tampaknya tidak terlalu yakin dengan sikap Layla padanya. “Tidak peduli seberapa besar Nenek Serkan menyukai gadis-gadis muda, aku yakin dia tidak akan menyukaiku. Aku pernah menolak lamaran Emir dan melakukan sesuatu yang buruk. Kalaupun Emir melepaskanku tapi keluarga Rafaldi akan menerima konsekuensinya bersamaku.”
‘Sialan! Dasar bodoh! Aku pasti sudah melakukan hal paling bodoh dikehidupanku sebelumnya. Bagaimana bisa aku menolak lamaran Emir setelah mendengar apa yang dikatakan Amanda? Mungkin waktu itu aku masih dibutakan cinta pada Reza yang membuatku ingin menikahinya. Huh betapa bodohnya aku waktu itu.’ gumamnya didalam hati.
Tapi Elisha tahu kalau Emir tidak akan menyerah begitu saja atas Arimbi. Menurut Elisha kakaknya itu bahkan berencana untuk membalas dendam pada Arimbi dengan cara membawa Arimbi kembali ke Keluarga Serkan. Setelah itu, kapanpun dia mau dia bisa mengerjainya sampai puas. Elisha bisa saja mengatakan pada Arimbi kalau kondisinya akan semakin memburuk tapi dia tidak bisa mengatakan itu karena dia tidak ingin mengkhianati Emir. Kakak yang paling dia hormati.
Mereka pikir Emir membawa Arimbi kembali hanya untuk membalaskan dendamnya.
“Oh iya, sepertinya tinggimu sama denganku. Mungkin piyamaku pas untukmu. Kamu ahrus mandi dulu sekarang dan aku akan ambilkan piyama untuk kamu pakai.” ucap Elisha sembari berjalan menuju walk in closet dan mengeluarkan baju dari salah satu lemari pakaiannya.
“Terimakasih Nona Elisha.” ucap Arimbi.
Ketika Elisha berbalik dia sadar pada sepatu yang dipakai oleh Arimbi dan tersenyum. “Kamu tahu tidak? Kakakku tidak pernah mengambil apapun dariku kecuali sepasang sepatu yang kamu pakai itu. Karena itu aku akan membantumu melepasnya.”
“Ya. Aku masih berhutang budi padamu.”
“Jangan begitu,” Elisha meraih piyama miliknya dan berjalan kearah Arimbi sebelum menyerahkan piyamanya. “Pakailah ini. Kamar mandi sudah menunggumu.”
Arimbi mengambil piyama dan masuk ke kamar mandi. Sesaat Arimbi menutup pintu kamar mandi, Elisha bergumam, “Emir akan datang menjemputmu setengah jam lagi Arimbi.”
Dan Elisha tidak sabar menunggu waktunya tiba dimana Emir akan membahas hubungan antara dia dan Arimbi di hadapan seluruh keluarganya. Elisha tidak sabar ingin melihat bagaimana respon seluruh keluarganya nanti kalau mendengar bahwa Emir menikahi Arimbi.
Selain itu Elisha juga ingin melihat Arimbi melakukan hal yang mengancam hidupnya hidupnya seperti sebelumnya jika keluarganya menolak Arimbi. Itu akan menjadi drama yang sangat menyenangkan.
Meksipun Emir mengatakan terang-terangan bahwa dia ingin dirawat oleh Arimbi karena ingin membalas dendam padanya tapi Elisha sangat yakin kalau Arimbi akan mencoba membuat mereka berdua semakin dekat dan semakin mengenal satu sama lain sehingga Emir akan jatuh cinta padanya dan membuat Emir menikahinya.
Kalau tidak, mana mungkin Emir memberikan begitu banyak keistimewaan pada Arimbi? Bahkan Elisha dengan bangga menyakini kalau Arimbi satu-satunya wanita yang tahu bagaimana cara meluluhkan hati kakaknya dengan sikapnya yang tulus.
Sementara itu, Emir baru saja keluar dari kamar mandi, dia duduk dikursi rodanya saat dia mendnegar ketukan di pintu kamarnya. “Tuan Muda Emir? Apa anda sudah tidur?” suara Beni terdengar dari balik pintu, lalu Emir menggerakkan kursi rodanya menuju pintu dan membukanya.
“Tuan, Nyonya Arimbi belum kembali ke rumah dan ini sudah jam 11.30 malam. Nenek Serkan pasti sudah tidur saat ini.”
Emir menaikkan alisnya dan bertanya, “Kenapa nenek memanggil Arimbi? Kamua harusnya bilang padanya kalau aku akan menjalani perawatan fisioterapi kan?”
“Maafkan saya, Tuan.” Beni menyadari kalau dia baru saja membuat Nyonya Mudanya berada dalam masalah. Sejak awal, Layla Serkan tidak senang dengan Arimbi, kepulangannya yang telat menambah ketidakpuasannya terhadap Arimbi. Beni yakin jika Layla pasti marah besar makanya Arimbi sampai dikunci di rumah utama. Beni tidak berani membayangkan hukuman apa yang akan menanti Arimbi.
Sedangkan Emir tidak terlihat menyalahkan semua yang terjadi pada Beni, sebaliknya dia menyuruh kepala pelayan itu membawa Arimbi kembali. Pergilah kesana dan bawa istriku pulang. Katakan pada Yaya kalau aku lapar dan aku ingin Arimbi membuatkan makanan untukku.”
“Baik Tuan. Saya akan pergi kesana sekarang.” Beni pun sudah punya alasan untuk menjemput Arimbi keluar dari rumah utama.
Sementara itu Arimbi yang tidur dikamar Elisha, tiba-tiba keduanya terbangun karena terdengar suara ribut-ribut dari luar. “Ada apa diluar?” Elisha langsung berdiri dan meraih jubah tidurnya lalu memakainya. Lalu dia menoleh pada Arimbi dan berkata, “Kamu tunggu disini saja. Biar aku lihat keluar untuk memastikan apa yang terjadi.”
“Aku ikut denganmu.” Arimbi juga merasa penasaran dan ingin tahu keributan apa yang terjadi diluar.
Tidak berselang lama, rumah utama sudah terang benderang karena semua lampu dinyalakan. Semua pelayan sibuk mencari Arimbi ke setiap sudut rumah kecuali kamar Layla Serkan dan Elisha Melike Serkan. Setelah mencari beberapa saat mereka tidak menemukan keberadaan Arimbi dan semua orang mulai panik.
“Sssttt….pelankan suaramu! Kamu tidak mau membangunkan Nenek Serkan dan Nona Elisha kan?” ucap Yaya pada semua pelayan untuk memelankan suara mereka.
“Yaya, apa yang akan kita lakukan kalau kita tidak bisa menemukan Nona Arimbi? Tuan Emir memintanya segera pulang.” Desi merasa sangat khawatir dan ketakutan hingga ekspresi wajahnya berubah. Dia yang membawa Arimbi pergi dari villa Emir.