
“Calon menantumu bahkan belum bergabung dalam keluargamu tapi kamu sudah berjaga-jaga, Nyonya Kanchana,” goda Nyonya Sarwito. “Aku pernah bertemu dengan wanita itu sebelumnya, dia sangat cantik dan bisa membawa dirinya dengan baik. Setidaknya dari segi penampilan dia sepadan dengan Reza. Iyakan?”
“Betul sekali! Reza juga anak yang baik.” seru wanita yang lain menimpali. Para wanita ini sangat memperhatikan hingga menyanjung Arimbi usai mereka mengetahui Yessi yang berniat menikahkan Reza dan Arimbi. Mereka semua mulai mencari muka dengan menyanjung Yessi dan keluarganya yang baik hati karena tidak memandang status Arimbi yang dibesarkan didesa.
“Reza selalu pandai dalam bergaul dan dia mudah berteman dengan siapa saja.” Yessi tertawa, “Aku berbicara pada Nyonya Rafaldi pagi ini untuk membahas kapan acara lamaran untuk pernikahan, tapi dia belum memberikan jawaban. Barangkali dia ingin meminta pendapat Yadid!”
Tepat saat Yessi selesai bicara, ponselnya berdering dan wajahnya ceria saat melihat nama penelepon. Dia yang ingin pamer pada teman-temannya pun langsung menyalakan pengeras suara.
“Nyonya Rafaldi! Panjang umur sekali, aku baru saja mau menghubungimu.”
Nyonya Sarwito tersenyum dan berbisik, “Bisa jadi Nyonya Rafaldi akan memintamu agar segera menyetujui lamaran itu.”
Yessi pun berpikir sama seperti Nyonya Sarwito. Suasana hatinya semakin baik maka dia pun memutuskan langsung menanyakan itu agar semua teman-temannya bisa mendengar langsung.
“Nyonya Rafaldi! Kamu sudah makan malam?”
“Ya sudah. Bagaimana denganmu Nyonya Kanchana?”
“Aku juga sudah. Sebenarnya aku masih bermain kartu bersama teman-temanku. Ngomong-ngomong, Nyonya Rafaldi apakah keluargamu sudah membahas hal yang kusampaikan padamu tadi pagi? Supaya aku bisa mengatur semua rencana persiapan acaranya.”
“Hehe….maaf Nyonya Kanchana karena aku terlalu sibuk hari ini dan lupa soal itu. Aku baru saja mengingatnya makanya aku segera menghubungimu kembali. Yadid bilang kalau Arimbi baru saja kembali pada kami dan dia tidak tahan jika harus berpisah dengan Arimbi lagi. Untuk saat ini kami tidak memikirkan soal pernikahannya. Kami mau menghabiskan banyak waktu dengan Arimbi.”
Sejak awal Mosha memang tidak menyukai Reza dan menolak keinginan keluarga Kanchana untuk menikahi Arimbi. Dan setelah hari inipun dia bahkan lebih menentang lagi lamaran keluarga itu. Dimata Mosha, Reza adalah seorang penipu dan tidak bisa dipercaya bagaimana mungkin dia rela menyerahkan putrinya untuk dinikahi pria itu?
“Nyonya Rafaldi?’ Yessi merasa dia salah dengar. ‘Keluarga Rafaldi menolak lamaran pernikahan mereka? Bukankah Arimbi menjadi budak cinta Reza setelah jatuh cinta pada pandangan pertama? Kenapa bisa jadi begini?’ ucapnya didalam hati.
“Nyonya Rafaldi, apa kalian sudah bertanya pendapat putrimu? Kurasa yang baru saja kamu ucapkan hanya keputusanmu dan suamimu, bukan? Kamu mengira bahwa keluarga kami tidak sebaik keluarga Serkan?” Yessi merasa terhina dengan cara teman-temannya menatapnya. Dia pun langsung mematikan mode pengeras suara sebelum melangkah pergi.
“Nyonya Kanchana! Ini adalah keinginan Arimbi juga, aku sudah menanyakan padanya berkali-kali dan dia berkata bahwa dia tidak ingin menikahi Reza! Saat ini dia tidak tertarik dengan masalah percintaan dan dia ingin fokus dalam pekerjaan. Nyonya Kanchana, kamu tahu betapa besarnya aku berhutang pada Arimbi. Tidak peduli apa yang ingin dia lakukan, aku akan selalu menghormati pilihannya. Dan saat ini dia lebih memilih pekerjaan dan mungkin meneruskan pendidikannya.”
Yessi benar-benar kehilangan kata-kata karena syok, dia tidak menyangka semuanya berubah secepat ini. Dia sudah berangan-angan tentang hidup putranya yang akan menguasai perusahaan Rafaldi Group dan membuat keluarga mereka bertambah kaya tapi kini semuanya hancur.
“Aku benar-benar minta maaf Nyonya Kanchana.” ucap Mosha tersenyum karena dia tahu apa yang sedang terjadi diseberang telepon.
“Apa benar ini yang Arimbi inginkan?” tanya Yessi Kanchana lagi. Dia masih tidak mempercayainya sama sekali.
“Baiklah.” ucap Yessi tak bisa mendesak Mosha lagi.
ijjSetelah menutup panggilan, wajah Yessi berubah muram bagaikan langit kelabu hendak turun hujan badai dan petir. Karena seperti itulah suasana hatinya saat ini, bergejolak!
Lalu dia menoleh pada teman-temannya, “Sebaiknya kita sudahi permainan ini. Aku akan mengundang kalian saat aku ada waktu.”
Kemudian Yessi memanggil pelayan untuk mengantar teman-temannya keluar. Para wanita itu mendengar semua pembicaraan Yessi dan Mosha sebelumnya. Mereka tahu jika saat ini suasana hati Yessi pasti buruk makanya mereka tidak mau berlama-lama lagi disana.
“Nyonya Sarwito! Tolong jangan katakan apapun yang kamu dengar barusan.” ucap Yessi.
“Hanya kalian berempat yang tahu kejadian tadi. Jika ada orang lain yang mengetahui itu, aku tahu bahwa itu pasti salah satu dari kalian yang menyebarkannya. Aku tidak ingin mengakhiri pertemanan dengan kalian.” kata Yessi yang tiba-tiba saja memanggil teman-temannya setelah mereka berada diluar rumah dan bersiap memasuki mobil.
“Jangan khawatir Nyonya Kanchana! Kami tidak akan mengatakan pada siapapun tentang hal itu.”
“Benar! Kita sudah berteman sejak lama, kami tidak akan membuatmu malu atas penolakan itu.” ujar temannya yang lain menimpali. Setelah mendengar ucapan teman-temannya dan melihat mereka sudah pergi, Yessi bergegas naik ke lantai atas.
Begitu tiba didepan pintu kamar putranya, dia langsung masuk tanpa mengetuk pintu. Reza baru saja
keluar dari kamar mandi dan masih bertelanjang dada. Dia terperanjat ketakutan saat ibunya masuk dan langsung melingkarkan lengannya didadanya, “Kenapa ibu masuk tanpa mengetuk pintu dulu?”
“Kamu itu putraku, ibu yang memandikanmu ketika kamu kecil, lantas kenapa kamu harus malu? Reza, ibu sangat marah sekarang!”
Yessi melangkah menuju sofa dan duduk dengan geram.
“Ada apa ibu? Siapa yang membuat ibu marah? Katakan paadaku, aku akan memberi mereka pelajaran!” ujar Reza. Dia pun segera meenyimpulkan dan bertanya, “Apakah ibu kehilangan semua uang yang ibu menangkan tadi? Uang itu hanya bermilai beberapa juta saja, aku akan mengirimkan uang pada ibu. Besok ibu bisa main kartu dan mengalahkan mereka.”
“Ini bukan tentang uang, Reza! Nyonya Rafaldi baru saja menghubungi ibu dan berkata bahwa Arimbi tidak ingin menikahimu! Mereka menolak lamaean pernikahan dengan keluarga kita.” Yessi semakin marah, “Arimbi itu pikir dia siapa? Apa dia kira dia satu-satunya wanita didunia ini? Kalau dia bukan anak kandung keluarga Rafaldi yang akan mewarisi kekayaan keluarganya, dia bahkan tidak sepadan untuk jadi istrimu. Beraninya dia meremehkanmu?”
“Oh itu. Aku kira apa.” Reza sudah mengetahui lebih dulu.
“Ibu jangan marah-marah begini. Anggap saja begini, Arimbi bahkan menolak lamaran keluarga Serkan , bagaimana mungkin kita bisa dibandingkan dengan Keluarga Serkan? Jadi tidak perlu heran kalau dia menolak keluarga kita.”
“Bagaimana bisa sama, he? Keluarga Serkan memang keluarga paling kaya tapi Emir Serkan itu lumpuh dan duduk dikursi roda! Dia bahkan tidak bisa berperan sebagai pria umumnya. Tentu saja Arimbi itu akan jadi jandi kalau menikahinya, dia sudah tidak waras kalau dia tidak menolak pria itu!”