
Nenek Serkan terlihat marah saat Rania Serkan ibunya Emir memberitahukan tentang konferensi pers yang baru saja dilakukan Emir. Wanita tua itu duduk dengan ditemani Elisha dan ibunya.
“Apa maksud Emir melakukan ini? Apa dia mau mempermalukan keluarga ini?” ucap Nenek Serkan penuh amarah menghentakkan tongkat kayunya.
“Bu, ini tidak bisa dibiarkan! Apa tanggapan orang-orang setelah ini? Menantu Keluarga Serkan hanya seorang wanita dari desa! Meskipun dia adalah putri kandung keluarga Rafaldi! Ini benar-benar buruk bu.” ujar Rania pada ibu mertuanya itu.
“Nenek! Sebaiknya jangan lakukan apapun. Apa yang salah dengan mengumumkan status Arimbi dan Emir? Coba lihat dari sisi lain, jaman sekarang ini pengaruh media sosial sangat besar. Berita pernikahan Emir dan Arimbi pasti akan berpengaruh positif pada keluarga ini.” ujar Elisha yang selalu membela Arimbi.
“Eli! Jangan ikut campur urusan ini! Kamu tidak tahu apa-apa.” ujar Rania memarahi putrinya.
“Ibu! Yang kukatakan ini benar! Pengaruh opini publik itu sangat besar, Keluarga kita adalah keluarga terkenal dan terkuat. Pasti selama ini orang-orang berpikir bahwa aturan untuk menjadi anggota keluarga kita sangat ketat dan pasti harus berasal dari keluarga berstatus tinggi seperti kita.” ucap Elisha diam sejenak sebelum melanjutkan kata-katanya.
“Dengan kehadiran Arimbi, dia juga berasal dari keluarga kaya meskipun dia dibesarkan di pedesaan. Ini akan membuat opini publik berubah! Mereka akan senang bahwa keluarga seperti keluarga Serkan tidak membedakan status! Dulu Arimbi pernah bilang pada nenek, bahwa kekuatan opini publik itu lebih kuat daripada kekuatan dari semua orang-orang kaya. Kita lihat saja setelah ini.”
“Bicara apa kamu? Mereka itu hanya orang-orang bodoh yang tidak tahu apa-apa.” ujar Layla Serkan.
“Nenek, tidak boleh bicara begitu! Zaman sekarang kekuatan publik di media sosial sangat kuat, makanya banyak orang yang menggunakan media sosial untuk menguatkan status mereka! Memperkuat bisnis mereka!” ujar Elisha lagi.
“Coba Nenek dan Ibu lihat komentar para netizen diseluruh negara tentang berita ini. Semuanya komentar positif, hanya beberapa saja yang berkomentar negatif. Mereka menyanjung dan memuji keluarga kita yang rendah hati.” Elisha menunjukkan ponselnya pada neneknya.
“Pokoknya ibu tidak setuju! Selamanya ibu akan menentang Arimbi! Dia tidak pantas jadi menantu di keluarga ini! Lihatlah, baru menikah sebulan lebih dia sudah membuat Emir hampir bangkrut!”
“Ibu! Apa maksud ibu bicara begitu?” tanya Elisha.
“Benar kan? Pasti dia yang merayu Emir untuk memberikan pusat perbelanjaan itu padanya!” ucap Rania yang masih marah.
Perdebatan panjang berlangsung di rumah utama keluarga Serkan. Layla Serkan sebagai tetua keluarga sangat marah dengan tindakan Emir. Dia tidak keberatan jika Arimbi menjadi istri Emir tapi jangan sampai diketahui publik tapi sekarang Emir malah mengumumkannya sehingga timbul kehebohan dimana-mana.
“Elisha, kembalilah ke kamarmu. Nenek ingin bicara berdua saja dengan ibumu.” ucap Layla Serkan.
“Baiklah, Nek.” Elisha pun pergi ke kamarnya. Tapi dia sebenarnya bersembunyi, ingin mencuri dengar pembicaraan nenek dan ibunya.
“Apa yang kamu lakukan soal ini?” tanya Layla Serkan pada menantunya itu.
“Bu, aku menemui Zivanna. Aku sudah memberitahunya tentang status Emir dan Arimbi. Dia berjanji akan melakukan sesuatu mengenai itu. Aku juga memberitahunya kalau besar kemungkinan Emir akan kembali normal. Dia juga bersemangat tentang itu. Bu, aku rasa Zivanna adalah orang yang tepat jika Emir sudah sembuh nanti.”
“Aku tidak tahu soal itu! Emir sangat keras kepala dan dia tidak akan meninggalkan Arimbi begitu saja. Hanya jika ada sesuatu yang terjadi yang membuat Emir meninggalkan Arimbi.” ujar Layla lagi.
...******...
“Apa kamu bilang? Jadi benar Arimbi mengandung anak Emir?” teriak Dion penuh amarah. Setelah dia mendengar jika Emir dan Arimbi sudah menikah lebih dari sebulan, dia segera memerintahkan anak buahnya untuk mendapatkan informasi langsung dari rumah sakit tempat Arimbi memeriksakan kandungannya. Setelah di ancam akhirnya dokter itupun mengakui kalau bayi itu adalah milik Emir.
Dion tidak terima, hari ini dia dikejutkan beberapa kabar yang membuatnya marah dan terpuruk. Dia hanya duduk diam di meja kerjanya dan tak menyentuh saru pekerjaanpun. Pikirannya dipenuhi oleh bayangan wajah Arimbi.
“Jadi ini alasanmu selalu menghindariku selama ini? Tapi, waktu itu aku memintanya untuk diperiksa dan hasilnya dia masih perawan! Sekarang dia hamil dan baru saja mengumumkan status pernikahannya dengan Emir? Huuuhhh…..aku belum kalah Emir! Meskipun dia istrimu, aku masih bisa merebutnya! Ini akan semakin menarik!” gumamnya.
Dion memanggil anak buahnya dan memberikan perintah. “Awasi Arimbi. Cari tahu jadwal hariannya dan segera laporkan padaku!”
Sedikit bingung, pengawal itu hanya bisa mengangguk. “Baik Tuan.” lalu dia segera meninggalkan ruang kerja Dion yang berantakan.
...********...
Setelah konferensi pers, situasi di pasar saham langsung bergejolak. Emir secara langsung mengumumkan hubungannya dengan Yadid Rafaldi membuat harga saham perusahaan itu naik, begitu pula dengan harga saham Serkan Global Group. Spekulasi pun bermunculan di kalangan bisnis dengan kerjasama yang baru saja di umumkan oleh Emir.
Hal itu sontak membuat beberapa perusahaan yang membatalkan kerjasama dengan Rafaldi Group pun jadi ketar ketir ketakutan. Emir yang dikenal sebagai si raja bisnis dan bisa membolak balikkan perusahaan dalam hitungan detik membuat banyak perusahaan ingin menjalin kerjasama bisnis lagi dengan Rafaldi Group.
Ponsel Yadid tak berhenti berdering sejak tadi, tapi dia tidak mengindahkan. Saat ini mereka berempat sudah berada kembali di presidential suite untuk membahas hal penting.
“Ayah, dari tadi ponsel ayah berdering terus. Kenapa tidak diangkat?” tanya Arimbi.
“Nanti saja. Itu telepon dari perusahaan yang membatalkan kerjasama dengan kita. Mungkin mereka sudah melihat berita hari ini dan berubah pikiran.” ucap Yadid.
“Jangan khawatir ayah. Biarkan saja mereka untuk beberapa hari ini. Aku sendiri yang akan menangangi mereka semua.” ucap Emir menatap ayah mertuanya itu.
“Emir, tidak apa-apa. Aku akan mengatasi masalah ini nanti. Ehm….hal apa yang ingin kamu bicarakan denganku?” tanya Yadid.
“Aku ingin menanyakan pada ayah. Apa yang akan ayah lakukan pada Amanda?”
“Amanda? Memangnya ada apa dengan Amanda?” tanya Yadid mengeryitkan keningnya.
“Aku menyuruh orang untuk mengikuti Nona Zivanna untuk melindungi Arimbi. Kemarin anak buahku melaporkan kalau Amanda bertemu dengan Nona Zivanna dan Tuan Gio disebuah restoran.”
“Lalu? Apa yang mereka bicarakan?” tanya Mosha dengan serius.
“Menurut pengamatan anak buahku, mereka bersekongkol untuk menyerang Rafaldi Group. Amanda hanyalah bidak yang dimainkan oleh keluarga Lavani untuk mengambil alih Rafaldi Group.”