GADIS BERGAUN MERAH

GADIS BERGAUN MERAH
BAB 387. INGIN JADI WANITA TERKAYA


Damian:


“Kakak ipar, apa yang kamu rencanakan setelah melahirkan nanti?” tanya Agha saat seluruh keluarga besar Serkan berkumpul dirumah utama setelah kepulangan Emir dan Arimbi.


“Aku lihat dulu berapa anak yang akan kulahirkan dan berapa banyak uang yang kudapatkan!” ucap Arimbi sejujurnya karena dia mengingat aturan keluarga Serkan.


“Hahahaha……kakak ipar sungguh realistis.” sahut Elisha tertawa terbahak-bahak. Dari semua orang yang ada diruangan itu hanya Rania saja yang tidak tertawa, dia mendengus kesal dan mencibir. Apa yang dikatakan oleh Arimbi memang yang ada dalam pikirannya. Mengingat kondisinya yang hamil muda tapi perutnya sudah membesar.


Dia berpikir mungkin bayinya bukan hanya satu saja. Karena terakhir kali mereka melakukan checkup dokter sempat bilang kalau sepertinya bayinya lbih dari satu. Tapi belum terlihat jelas karena tertutup, tidak menutup kemungkinan dia mengandung bayi kembar. Arimbi juga sudah membayangkan berapa banyak uang yang akan dia peroleh dari setiap bayi yang dilahirkannya.


“Kakak ipar, apa kamu berencana mempunyai banyak anak?” tanya Elisha lagi.


“Ehm…..tergantung permintaan Emir! Semampuku asal jangan terlalu banyak hehehe.”


“Wah hebat kakak ipar! Kalau sudah dapat uang bonus melahirkan, mau buat apa lagi?”


“Kembali bekerja dan mencari uang lalu menjadi wanita kaya raya serta terhormat.” jawab Arimbi dengan penuh keyakinan.


“Itu sama anehnya dengan jalan pikiran realistismu.” sindir Emir. Arimbi yang mendengar ucapan suaminya langsung menoleh dan memelototinya.


“Aku akan mewujudkannya agar kamu percaya!” sahut Arimbi lagi.


“Aku percaya, hanya saja kenapa kamu masih harus memikirkan semua itu sedangkan kamu adalah istri dari putra pertama keluarga Serkan? Bahkan hanya tidurpun kamu bisa mendapatkan uang jika kamu mau.”


“Tapi itu bukan kekayaanku. Bukan milikku, bukan dari hasil kerja kerasku. Yang kuinginkan adalah harta yang kudapatkan dari kemampuan dan kerja kerasku sendiri. Seperti Nenek yang dulu membangun kerajaan bisnis keluarga Serkan! Jadi aku bisa menjadi ibu dan istri yang membanggakan untuk suami dan anak-anakku kelak.”


“Lagipula, aku ingin balas dendam pada mereka yang sudah menyakitiku dengan cara menjadi hebat. Dengan uang aku bahkan bisa membeli segalanya termasuk nyawa mereka.” ucap Arimbi yang membuat semua orang terdiam. Bahkan Emir pun terpana mendengar ucapan istrinya yang menurutnya aneh itu.


Tapi bagi keluarga Serkan lainnya, cara pikir Arimbi cukup menarik. Meskipun aturan dalam keluarga itu bahwa para istri tidak boleh bekerja tapi hanya Arimbi yang mampu mendapatkan pengecualian itu.


“Kalau begitu, maka kamu harus segera mewujudkan semua impianmu dan ingat ya bahwa kamu juga adalah istri dan menantu dikeluarga ini!” kata Layla Serkan.


“Tentu saja nenek. Aku janji tidak akan melupakan tanggung jawabku sebagai istri.”


Emir tertawa bahagia, perkumpulan keluarga yang biasanya terasa membosankan karena dia selalu saja menjadi korban dan harus berusaha keras untuk mendapatkan perhatian dari kedua orangtua dan neneknya, kini semuanya berubah menjadi menyenangkan setelah kehadiran Arimbi.


Wanita yang awalnya dia pikir cukup gila dengan caranya menikahi Emir, wanita yang dia pikir akan sulit didekati, sombong dan dinging ternyata cukup menyenangkan untuk dijadikan teman bicara meskipun harus pandai-pandai, kalau sampai ketahuan Emir maka dia akan mendapatkan hukuman dari saudara laki-lakinya itu.


“Apa yang sedang kalian bicarakan? Ibu juga mau mendengarnya.” kini Rania yang bersikap seolah seorang ibu mertua yang baik ikut mendekati Agha putranya. Sedangkan Emir dan ayahnya dudu sedikit jauh karena mereka sepertinya sedang membicarakan bisnis keluarga.


“Arimbi, bagaimana dengan kandunganmu? Apakah calon bayimu baik-baik saja?” Rania menatap Arimbi yang diam sejak ia bergabung dengan mereka. Arimbi masih belum sepenuhnya terbuka dengan ibu mertuanya yang juga memang masih menjaga jarak dengan Arimbi. Hanya didepan keluarga saja Rania terpaksa bersikap baik.


Kalau tidak maka Layla Serkan, ibu mertuanya akan memarahinya dan suaminya juga akan mengusirnya seperti terakhir kali.


“Semuanya baik-baik saja bu. Kandunganku sehat dan menurut dokter kemungkinan bayinya kembar. Cuma belum jelas terlihat.” jelas Arimbi sebisa mungkin bersikap biasa saja.


“Oh begitu? Kenapa belum pasti? Harusnya kamu mencari dokter lain dan memeriksakan kandunganmu lagi!” ucap Rania dengan suara agak keras sehingga ucapannya didengar oleh Layla Serkan yang duduk agak jauh dari mereka.


“Ehm…..begini nek. Pada pemeriksaan terakhir dokter bilang kalau aku kemungkinan hamil anak kembar. Tapi belum jelas terlihat karena tertutupi.”


“Ah mana ada yang seperti itu.” sahut Rania yang tanpa sadar berkata ketus lagi.


“Rania! Apa maksudmu bicara begitu? Kamu yang tidak pernah hamil anak kembar mana tahu apa-apa? Aku dulu hamil anak kembar! Kehamilan pertamaku persis seperti Arimbi! Dokter bilang ada kemungkinan kembar tapi masih samar-samar.”


Nenek Serkan terdengar marah dengan sikap Rania. “Sepertinya kamu tidak senang mau punya cucu? Jangan datang dan jangan pernah melihat cucumu nanti saat mereka lahir! Orang tua macam apa kamu bicara pada menantumu seperti itu!” kekesalan Layla Serkan semakin menjadi-jadi. “Lebih baik kamu diam daripada bicara menyakitkan hati!”


“Bu, jangan buat keributan dan membuat Arimbi tertekan! Kalau sampai dia stress garagara ulah ibu dan mempengaruhi kandungannya, jangan salahkan aku jika aku terpaksa mengusir ibu dari rumah ini.”


“Apa kamu bilang Emir? Berani kamu mau mengusir ibumu sendiri?” Rania berkata dengan suara bergetar. Kini semua orang dikeluarga itu tidak ada lagi yang membelanya.


“Ya, bukan Emir yang akan mengusirmu! Tapi aku yang akan mengusirmu! Berhenti membuat drama dan membuat masalah dengan Arimbi! Lebih baik kamu tinggal diluar negeri sementara waktu daripada disini, kerjaanmu hanya membuat masalah dan mencari ribut saja.” ujar Alarik menatap tajam pada Rania istrinya.


Wanita paruh baya itu membuka mulutnya tapi tak ada satu kalimatpun yang keluar dari bibirnya. Apakah dia sedang bermimpi? Selama ini dia adalah menantu kesayangan dikeluarga Serkan sehingga Rania selalu merasa lebih hebat dari iparnya yang lain. Tapi keadaannya berubah sekarang sejak kehadiran Arimbi.


Dia selalu merasa kalau seluruh keluarga Serkan mengacuhkannya. Apapun yang ingin dia lakukan selalu salah dimata mereka. Dia memang tidak menyukai Arimbi sejak awal karena menurut standard keluarga Serkan wanita itu tak pantas untuk menjadi menanti dikeluarga mereka.


Tapi seiring berjalannya waktu, Emir yang bisa pulih kembali berkat bantuan Arimbi membuat penilaian seluruh keluarga Serkan pun berubah apalagi Layla Serkan sang nenek. Yang dulunya selalu bersikap kasar dan menentang keras Arimbi, tapi sekarang malah bersikap sebaliknya. Dia sangat menyayangi dan memanjakan Arimbi.


Layla Serkan bahkan sering memarahi Rania menantunya yang dianggapnya bersikap buruk pada Arimbi. Layla Serkan pun bahkan memaksa Rania untuk membelikan hadiah mahal untuk Arimbi sebagai ucapan syukur atas kehamilannya. Rania tak mampu menolak karena ancaman dari suami dan ibu mertuanya.


Dan barusan terulang lagi, ancaman itu dilemparkan lagi padanya. Rania bukan lagi menantu kesayangan Layla Serkan. Dan hal ini membuat wanita itu merasa tak senang pada Arimbi. Rania adalah putri dari keluarga kaya raya dan dia membandingkan diri dan latar belakang keluarganya dengan Arimbi.


‘Fuuuhhhh! Mereka selalu saja mengancamku akan mengirimku keluar negeri! Suamiku bahkan tidak pernah lagi membelaku dan lebih menyayangi menantunya! Apa hebatnya Arimbi? Dia memang putri dari keluarga kaya tapi kekayaan keluarganya tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan keluargaku.’


‘Sayangnya, hanya dia saja yang mau menikahi Emir saat putraku masih dalam kondisi lumpuh. Dan sekarang Emir sudah pulih kembali tapi aku bahkan tidak bisa memisahkan mereka! Alarik mengancam akan menceraikanku! Aisssss…….kenapa semuanya jadi seperti ini? Andai ada gadis lain dari keluarga kaya raya, aku pasti dekatkan dengan Emir.’


Pikiran Rania kembali merencanakan sesuatu. Saat ini dia merasa tidak senang karena kehilangan kontrol dikeluarga Serkan. Apalagi dengan menantu seperti Arimbi yang sama sekali tidak bisa dia kendalikan membuat suasana hatinya semakin buruk. ‘Tapi tidak ada keluarga kaya setara keluarga Serkan lagi.’ bisik hatinya.