GADIS BERGAUN MERAH

GADIS BERGAUN MERAH
BAB 224. MOBIL UNTUK MERTUA


Dihadapkan dengan ekspresi Arimbi yang meragukan niat Emir, Emir pun memelototinya dan dengan cepat dia tersenyum dan berkata, “Baiklah, aku memang sudah seharusnya segera mempertemukanmu dengan ibukudan memberitahunya siapa menantunya.”


Emir dengan penuh kasih sayang menjawab, “Tenang saja. Aku tidak akan mempermalukanmu.”


Arimbi pun berdiri dan menghampiri Emir lalu membungkuk dan memeluknya. Dia mencium Emir lalu dengan percaya diri berkata, “Suamiku adalah pria terbaik di dunia. Aku pasti telah menyelamatkan banyak orang di kehidupan sebelumnya makanya bisa menikahimu.”


Kehidupan sebelumnya terlalu tragis, jadi Arimbi tidak ingin mengatakannya. Dia pasti telah menyelamatkan seisi galaksi di kehidupan sebelumnya untuk bisa mendapatkan Emir di kehidupan sekarang ini. “Baiklah sayang. Aku pergi dulu ya. Ingatlah untuk selalu memikirkanku.”


“Aku tidak punya banyak waktu untuk selalu memikirkanmu.” balas Emir.


“Tidak apa -apa. Tenang saja sayangku. Akulah yang akan terus memikirkanmu. Kalau begitu aku pamit dulu ya. Sampai jumpa nanti, sayang.”


Arimbi melambaikan tangannya pergi meninggalkan paviliun.


Emir menatap Arimbi yang pergi mengambil tas kerjanya dan cepat-cepat masuk ke mobilyang sudah disiapkan Beni untuk mengantarkannya setiap hari. Setelah mobil yang dinaiki Arimbi pergi, barulah Emir kembali fokus pada sarapannya.


Tadi Emir terlalu fokus melihat Arimbi yang pagi ini terlihat lebih cantik dari biasanya. Auranya bersinar dan pakaian serta riasannya pun sangat natural  membuat wajahnya yang cantik terlihat tambah cantik. Emir benar-benar tidak paham kenapa istrinya sekarang terlihat lebih cantik dari biasanya. Tubuhnya juga semakin seksi dan menarik.


Saking fokusnya menatap istrinya tadi, Emir jadi tidak makan banyak. “Rino, kemarin pusat servis sudah mengirimkan mobil baru kan?” tanya Emir.


Rino yang berdiri berjaga diluar paviliun menjawab Emir dengan cepat, “Iya Tuan.”


“Kamu kendarai mobil itu nanti dan kirimkan mobil itu untuk ibu mertuaku.”


Arimbi telah merusah mobil BMW ibunya dan meskipun mobil itu sudah berhasil diderak untuk reparasi tapi Mosha mungkin sudah tidak mau mengendarai mobil itu lagi. Memang anaknya sendiri yang menghancurkan mobil itu tapi Mosha tidak pernah meminta mobil itu.


Tapi Emir masih mengingatnya. Apapun itu, dia harus memberikan mobil baru untuk mertuanya. Setengah jam sudah berlalu dan Emir bersama rombongannya pergi meninggalkan Villa Serkan menuju kediaman Rafaldi. Saat mereka sudah sampai, Yadid dan Amanda sudah pergi bekerja jadi yang ada dirumah hanya Mosha yang sedang menata bunga.


Seorang pelayan mendatangi Mosha dan melaporkan, “Nyonya Rafaldi. T---Tuan Emir kembali lagi.”


Bagi pelayan Keluarga Rafaldi bahwa Emir terlalu sering mendatangi mereka. Dulu mereka merasa bahwa Emir adalah seorang legenda dan tidak mungkin bagi seorang pelayan biasa untuk melihatnya dalam kehidupan mereka.


Tapi sekarang mereka bisa melihat sang legenda itu secara teratur. Mosha terkejut dan panik lalu berkata, “Cepat suruh dia masuk.”


Yang paling ditakutkan oleh Mosha adalah anaknya terlibat masalah dan menantunya datang untuk komplain seperti sebelumnya. Karena sekarang anaknya menikah dengan orang yang memiliki keluarga yang kuat, Mosha selalu merasa khawatir anaknya akan mengalami banyak hal buruk dan dia tidak bisa berbuat apa-apa dihadapan keluarga sekuat Keluarga Serkan.


Sesaat setelah Mosha keluar dari kediaman utama, dia melihat pengawal bernama Rino sedang mendorong kursi roda Emir. “Tuan Emir.” Mosha memaksakan dirinya untuk tersneyum. Dia menyadari bahwa semua mobil Emir dan pengawalnya diparkir di gerbang kediaman kecuali satu mobil yang berhenti di lahan parkir utama.


“Ibu,” Emir ingin membuat dirinya terlihat ramah. Mungkin dia sudah terlalu lama bersikap dingin dan cuek, karena keramahannya sekarang terlihat seperti acuh tak acuh dimata orang lain. Ketika Mosha tidak melihat anaknya,dia sedikit bergeser selagi tersenyum dan mempersilahkan Emir dan Rino masuk kedalam kediamannya.


Lalu Mosha bertanya, “Tuan Emir, dimana Arimbi? Apa dia tidak datang bersamamu?”


“Arimbi sudah pergi kerja. Aku hanya datang mampir sebentar sekalian pergi kerja. Ibu, bagaimana kabarmu?” tanya Emir.


“Oh, aku baik-baik saja.” jawab Mosha dengan cepat. Dia tidak percaya Emir memang datang hanya untuknya. Andaipun benar Emir datang untuk menemui Mosha, dia akan benar-benar tersanjung.


Meskipun Emir terus memanggilnya ibu, Mosha masih tidak berani menganggap dirinya sebagai seorang mertua dari Emir Rayyanka Serkan. Setelah Emir dan Rino masuk kedalam rumah, Mosha ingin pergi mengambilkan minuman. Tapi dengan cepat Emir mencegahnya untuk mengambil minum.


“Ibu, aku baru saja sarapan jadi aku tidak begitu haus, tidak perlu repot-repot menghidangkan apapun. Aku datang kesini untuk melihat apakah ibu baik-baik saja demi Arimbi dan untuk memberi ibu kompensasi mewakili Arimbi.”


“Tuan Emir, anda bilang kompensasi untukku mewakili Arimbi?” tanya Mosha bingung. “Sepertinya aku tidak mengerti maksud anda.” ujar Mosha lagi tersenyum malu.


Emir mengambil kunci mobil dari Rino dan meletakkannya di meja dan berkata, “Ibu, saat Arimbi mengendarai mobilmu ke bandara untuk menjemput Joana, dia menghancurkan mobil ibu. Meskipun mobil itu diderek untuk direparasi, tetap saja mobil itu sudah menjadi keberuntungan buruk.”


“Sebaiknya ibu tidak mengendarai mobil itu lagi. Ini adalah kunci mobil baru yang aku berikan kepadamu mewakili Arimbi. Model mobilnya sama dengan mobil ibu sebelumnya. Mohon diterima ya Bu. Semoga ibu menyukainya, mobil ini pemberian dari kami.”


Mosha tidak bisa berkata apa-apa, “Tuan Emir, anda terlalu baik. Aku dan Arimbi adalah ibu dan anak. Meskipun dia menghancurkan mobilku, aku masih punya banyak mobil. Tuan Emir tidak perlu memberikanku mobil baru begini.”


“Sudah sepantasnya aku melakukan ini. Jika Arimbi mendapatkan masalah, aku sebagai suaminya harus membantunya menyelesaikan masalahnya.”


Mosha tertawa bahagia. Melihat Emir saat ini, dia bisa melihat bagaimana kelakuannya terhadap anaknya dan pastinya sebagai seorang ibu, dia akan merasa bahagia dengan menantu sebaik ini untuk anaknya. Inilah yang memang diharapkan untuk Arimbi, suami yang menyayanginya.


“Gadis itu! Arimbi, juga berkata kepadaku bahwa dia akan membeli mobilnya sendiri diam-diam tapi aku menghentikannya.” dengan hatinya yang dipenuhi kebahagiaan, Mosha dengan semudah itu mengkhianati ibunya sendiri dan mengatakan yang sebenarnya pada menantunya itu.


Mata Emir berseri selagi dia mengerjapkan mata, tapi ekspresinya masih tetap tidak berubah dan berkata, “Arimbi memang suka mengebut saat dia mengendarai mobil. Aku tidak melarangnya untuk menyetir sendiri karena aku tidak ingin mengekang kebebasannya. Tapi aku mengkahwatirkan keselamatannya. Untung ibu menghentikan Arimbi dari membeli mobil diam-diam tanpa sepengetahuanku.: