
Lebih sebulan Amanda tidak bertemu dengan Reza, masalah yang menghantamnya bertubi-tubi dan kondisi mentalnya yang down membuatnya enggan bertemu dengan siapapun. Tapi hari ini dia berniat untuk menemui kekasihnya itu. Setelah sekian lama tidak bertemu, Amanda ingin meminta pertanggung jawaban Reza.
Sesuai dengan janji mereka sebelumnya, bahwa pernikahan Reza dan Ruby hanyalah untuk sementara saja. Tapi mungkinkah apa yang diharapkan oleh Amanda sesuai dengan kenyataan yang harus dihadapinya nanti? Satu persatu orang yang dekat dengannya pergi meninggalkannya.
Zivanna entah dimana keberadaannya sekarang, terakhir kali dia mendengar kabar kalau Zivanna hilang dari hotel dan sampai sekarang belum diketemukan. Gio masih berada didalam tahanan dan sepertinya setelah sidang nanti akan sulit bagi pria itu untuk menjalani kehidupan bebas padahal Amanda sempat berharap jika Gio bisa membantunya.
Tadi pagi Amanda pergi kekediaman keluarga Lavani tetapi rumah itu sudah dikelilingi dengan garis polisi dan ada tanda pemberitahuan kalau rumah itu berada dalam pengawasan.
“Fuuuhhhh! Kemana Reza? Kenapa ponselnya tidak bisa dihubungi? Apa sebaiknya aku pergi ke Kanchana Group? Pasti dia ada disana sekarang.”
Setelah berpikir sekian lama, akhirnya Amanda memutuskan untuk pergi ke perusahaan keluarga Kanchana. Setengah jam kemudian mobilnya sudah memasuki parkiran perusahaan itu. Setelah dia turun dari mobilnya dia melangkah menuju ke lobi.
“Selamat siang, saya ingin bertemu dengan Reza Kanchana.” ucapnya.
“Maaf Nona. Tuan Kanchana sudah tidak ada diperusahaan ini lagi. Beliau bekerka di Lavano Indoraya sejak menikah.” ujar resepsionis itu yang sontak membuat Amanda kaget.
‘Lavani indoraya? Kenapa dia bisa bekerja disana sekarang?” pikirnya.
“Oh begitu ya? Terima kasih.” jawab Amanda lalu berbalik dan pergi.
Amanda duduk dibelakang kemudi sambil berpikir, ‘Apa mungkin Reza yang mengambil alih perusahaan keluarga Lavani? Mengingat mereka semua masih berada didalam tahanan. Apalagi bukti-bukti yang dimiliki pihak berwajib pasti akan membuat mereka mendekam dipenjara untuk waktu yang lama.’ gumam hatinya.
Dia mengambil ponselnya lalu mengulir berita terbaru, matanya terbelalak saat melihat berita tentang Emir dan Arimbi yang berada di luar negeri. ‘Cih! Lihatlah gadis udik itu! Hidupnya bak cerita cinderella yang berubah dalam semalam! Baju pengantinnya saja dipesan khusus dari desainer international yang terkenal.’
‘Menurut ayah, kalau Emir menempatkan orang-orang kepercayaannya diperusahaan! Kenapa sepertinya Emir yang malah menguasai Rafaldi group? Apa benar itu karena dia hanya ingin membantu saja atau dia punya motif lain? Jika dia menguasai Rafaldi Group maka kekuatannya akan semakin besar dan tak bisa ditandingi.’
‘Fuuuhhh! Pantas saja ayah memilih Arimbi sebagai pewaris Rafaldi Group! Ck! Apa yang harus aku lakukan sekarang? Kenapa sulit sekali mendapatkan pekerjaan? Ah…..sebaiknya aku menemui Reza! Dia tidak akan bisa menolak membantuku karena selama ini aku yang sudah banyak membantu perusahaan keluarganya.’
Amanda memantapkan hatinya lalu menyalakan mobil dan melaju menuju ke perusahaan milik keluarga Lavani. Setelah memarkirkan mobilnya, Amanda keluar dan memandang gedung tinggi didepannya. Meskipun gedung perusahaan ini tidak sebesar dan semewah milik Serkan Group tapi boleh dibilang cukup besar.
Dengan langkah pasti dan percaya diri, Amanda masuk kedalam perusahaan. Dia sudah sering datang keperusahaan ini sebelumnya dan banyak staf disana yang sudah mengenalinya. Sehingga saat dia datang, dua gadis di meja resepsionis tersenyum menyapanya. ‘Sepertinya mereka masih memperlakukanku seperti biasa.’ gumam hatinya.
Amanda yakin jika Reza pasti sedang berada diruang direktur saat ini menggantikan Tuan Lavani. Setelah dia keluar dari lift, seorang wanita yang adalah sekretaris direktur langsung menyapa Amanda. “Selamat siang Nona Amanda. Lama tidak melihat anda.”
“Ehm…..aku mau bertemu dengan Reza! Apa dia ada diruangannya?” tanya Amanda.
Belum sempat sekretaris itu menyelesaikan kata-katanya, Amanda sudah langsung melenggang pergi menuju keruang direktur. Pintu ruangan tidak tertutup rapat sehingga Amanda bisa mendengar percakapan dua orang yang berada didalam ruangan itu.
“Amanda sengaja menguping melalui celah pintu yang terbuka. Dia tidak bisa melihat siapa orang yang berada didalam bersama Reza. Tapi dari suaranya sepertinya perempuan. Amanda mengeryitkan dahinya semakin penasaran. Terdengar suara Reza yang lembut sedang berbicara dengan wanita itu tanpa menyadari kehadiran Amanda.
“Sayang, apa yang ingin kamu makan? Sejak kamu hamil, selera makanmu memburuk! Itu tidak baik untuk perkembangan calon anak kita.” Reza membujuk Ruby yang saat ini memang sedang hamil. Amanda yang mendengar itupun langsung emosi dan dadanya terasa sesak! Ini bukan seperti di perjanjian mereka.
Mereka saling berjanji jika Reza hanya menikahi Ruby dan tidak boleh menyentuhnya. Dasar bajingan! Pria laknat! Benar-benar binatang! Dikasih sampah pun ternyata dia tidak menolak!
BRAKKKK!
Amanda mendorong pintu ruangan itu dengan keras, membuat kedua orang yang sedang berpelukan itupun kaget melihat kehadiran Amanda.
“Reza! Apa-apaan ini? Lepaskan perempuan tidak tahu diri ini!” Amanda mengamuk dan menarik Ruby agar terlepas dari pelukan Reza. Tapi bukannya melepaskan, Reza malah semakin mempererat pelukannya yang membuat Amanda semakin marah.
“Apa yang kamu lakukan Reza? Kenapa kamu menyentuhnya?”
Mendengar perkataan Amanda, membuat Ruby mengeryitkan dahi dan menatapnya bingung. “Amanda! Apa hakmu melarang suamiku untuk menyentuhku? Aku dan Reza adalah pasangan suami istri yang sah! Jadi wajar kalau dia menyentuhku! Kenapa kamu yang mengamuk kesini? Pergi dari sini sebelum aku meminta satpam mengusirmu.
Reza yang melihat jika kedua perempuan itu akan saling serang pun hanya diam menatap. Dia melepaskan pelukannya pada Ruby, disatu sisi dia merasa bersalah pada Amanda karena mengingkari janjinya. Tapi disisi lain, dia harus melakukan itu agar Ruby tetap berada disampingnya. Apalagi keluarga Lavani kini mempercayainya.
Pria itu pun merasa dilema sekaligus ada kebanggaan didalam hatinya. Dia merasa sebagai pria yang beruntung karan diperebutkan oleh dua perempuan. Yang satu adalah istri sahnya dan yang satunya lagi adalah kekasihnya. Reza memang tidak mempunyai perasaan apapun pada Ruby, tapi sejak menikah Ruby memperlakukannya dengan baik.
Pria mana yang bisa menolak saat pulang kerja, dia mendapati istrinya yang selalu menyambutnya dan menyiapkan makanan untuknya. Belum lagi saat dia mengetahui kalau Ruby ternyata masih perawan, kebanggaaan Reza semakin besar! Dia dulu mendapatkan yang pertama dari Amanda dan setelah menikah dia menjadi yang pertama bagi Ruby.
Belum lagi sikap Ruby yang selalu penuh perhatiaan, perlahan mulai menyentuh hati Reza. Berbeda jauh dengan sikap Amanda yang selalu bersikap lebih superior dan jarang memperlakukannya layaknya seorang pria yang butuh dihargai. Amanda terlalu sombong karena dulu dia adalah putri satu-satunya keluarga Rafaldi yang kaya raya.
“Reza! Kamu pembohong! Aku mengijinkanmu menikahi wanita ini karena kita sudah sama-sama sepakat bahwa kamu hanya boleh menikahinya dan tidak boleh menyentuhnya! Dasar keparat kamu Reza!” Amanda menghampiri Reza lalu menari tangannya dengan kasar. “Aku sedang mengandung anak Reza! Kamu harus mengugurkan kandunganmu.”
Amanda menunjuk wajah Ruby dengan jari telunjuknya. Namun wanita itu sepertinya tidak takut sama sekali. Dia malah terkekeh mendengar perkataan Amanda.
"Apa kamu bilang barusan? Mengandung anak Reza? Cih! Hanya kamu yang tahu anak siapa yang kamu kandung itu! Sedangkan selama ini kamu banyak bertemu pria lain selain Reza.”
“Apa katamu? Jangan sembarangan kalau bicara! Apa kamu merasa hebat karena berhasil menikah dengan Reza, hah? Ruby! Dengar baik-baik ya! Kamu tidak akan pernah berhasil! Reza hanya mencintaiku!camkan itu baik-baik!”