
Zivanna pura-pura panik dan berlagak membersihkan tubuhnya yang basah. Tapi dia malah menuangkan sisa minumannya ke tangan Arimbi. Hal itu membuat Arimbi basah kuyup karena anggur merah. Dalam hitungan detik gaun putihnya berubah menjadi kain kumal menjadikannya bahan tertawaan para tamu.
Meskipun dia murka tapi dia tidak bisa melampiaskannya pada Zivanna. Tapi itu terjadi dikehidupan sebelumnya, dimana Arimbi masih orang yang polos dan tak tahu bagaimana membela dirinya sendiri.
Sekarang, apakah masa lalu itu akan terulang kembali? Tapi sekarang Arimbi tak lagi mengenakan gaun putih seperti dikehidupan sebelumnya. Dia mengenakan gaun merah yang sangat cantik dan seksi.
“Hai Arimbi! Apakah kamu sendirian?” tanya Amanda memihak Arimbi. Dia berbisik ditelinganya, “Ini Zivanna. Ucapkan selamat padanya jika kamu ingin akur dengan semua orang.”
“Baiklah.” jawab Arimbi dengan lembut.
Setelah Zivanna dibimbing ke pojok ruangan seperti bersulang kepada para tamu, Arimbi meletakkan piringnya dan menyeka mulutnya sebelum mengangkat gelas. Dia berdiri sambil melemparkan senyuman pada Zivanna. “Selamat ulang tahun Nona Zivanna! Semoga Tuhan memberimu kesehatan, harta dan kemakmuran sepanjang hidupmu.”
Para tamu hanya melihatnya dengan angkuh tapiA rimbi tetap tenang dan tersenyum sopan.
“Nona Zivanna, Nona Arimbi mendoakan anda.” Elisha mengingatkan karena dia tidak tega melihat kakak iparnya direndahkan. Bagaimanapun dia harus menjaga dan membela kakak iparnya itu.
Lalu Zivanna tersenyum dan menjawab, “Terima kasih doanya Nona Arimbi. Bersulang.” Zivanna dan Amanda mengangkat gelasnya. ‘Terulang lagi, kurasa aku tak bisa lari dari takdirku,’ ucap Arimbi dalam hati.
Arimbi berlagak terkejut dan mengangkat gelasnya kearah Zivanna lalu berkata, “Semoga semua harapanmu trwujud Nona Zivanna.” Saat gelas mereka berdenting, mata Arimbi terpaku pada Zivanna dan dia melihat saat Zivanna memiringkan gelasnya untuk menuangkan anggur ke gaun Arimbi seperti di kehidupan sebelumnya. Untungnya, Arimbi cepat menghindar dan berhasil menyelamatkan gaunnya.
Sementara itu amarah yang tersulut dalam diri Zivanna terpancar dari matanya sebelum dia menyembunyikannya dengan ekspresi bersalah, “Nona Arimbi, maafkan aku. Syukurlah gaunmu baik-baik saja.” ujarnya lalu melirik ke gaun yang dipakai Arimbi. Zivanna tidak suka karena gaun merah Arimbi jauh lebih bagus dan mahal daripada gaun yang dipakainya. Zivanna iri!
“Tidak apa-apa.” jawab Arimbi tenang.
Arimbi kembali memilih menjadi seorang pemaaf lagi seperti sebelumnya daripada mengubah sifatnya didepan orang banyak. Bagaimanapun dia harus terlihat sebagai orang yang baik dan rendah hati, sebelum waktunya tiba untuk membalas Zivanna. Permainan Arimbi sangat cantik untuk membalas satu persatu orang yang menyakitinya di kehidupan sebelumnya.
“Silahkan nikmati pestanya Nona Arimbi. Aku akan menyapa tamu lain.” Zivanna tersenyum lalu berpaling dan melangkah pergi. Dia hendak berpaling untuk melangkah perlahan menjauh dari Arimbi. Arimbi tetap waspada dan menatap Zivanna tanpa berkedip.
Sesuai dugaannya, dia tak sengaja terpeleset saat berpaling. Demi menghindari tumpahan anggur, Arimbi melangkah mundur hingga menabrak seseorang dan menginjak kakinya dengan tumit sepatunya.
“Zivanna.” Arimbi mengulurkan tangannya lalu memegang bahunya mencoba menopang Zivanna agar tidak terjauh tetapi itu hanya untuk pencitraan. Arimbi tahu bahwa Zivanna tidak akan mempermalukan dirinya di pestanya sendiri dengan jatuh ke lantai.
“Aku baik-baik saja Nona Arimbi. Apa kamu juga baik-baik saja?” tanya Zivanna malu-malu serasa tidak berdosa. Lalu tiba-tiba matanya terbelalak, “Direktur Harimurti!”
Direktur Harimurti?…..Arimbi berbalik dan mendapati mata Dion yang indah. Kono pria yang memiliki mata indah itu tak memiliki batas dan tak setia. Tapi dia adalah pengecualian karena sampai saat ini Dion masih melajang. Meski pun dia terlibat dalam sejumlah skandal dengan selebriti wanita yang berada didalam naungan manajemen Harimurti Enterprise.
Para pebisnis di sekitarnya melihat kejadiannya saat Arimbi menabrak Dion. Dia tidak mendekati Arimbi tetapi Arimbi yang menabraknya dan menginjak kakinya.
“Saya minta maaf direktur Harimurti. Saya sangat menyesal, saya tidak sengaja menginjak kaki anda.”
Zivanna pun mendekat dan meminta maaf, “Direktur Harimurti, ini semua salah saya. Saya terpeleset dan hampir menumpahkan anggur padanya. Dia hanya berusaha menghindar. Itu tidak disengaja, bisakah anda tidak menyalahkannya?”
Setelah mendengar permintaan maaf Zivanna pada Dion, Arimbi terkejut melihat Zivanna lalu dia menatap pria acuh yang dapat membuat wanita manapun jatuh cinta dengan wajah tampannya itu. ‘Apakah Zivanna menyukai pria ini?’ pikir Arimbi.
Zivanna bukanlah wanita lugu yang menghabiskan kebahagiaan hidupnya demi Emir yang sekarang cacat. Meningat status keluarganya maka Dion adalah calon terbaik untuk menjadi menantu baru Keluarga Lavani.
Benar-benar wanita yang rasional! Arimbi tiba-tiba merasa iba pada Dion.Nona “Arimbi, diinjak dengan tumit sepatumu sangat sakit.” ujar Dion. Sepertinya dia tidak berencana melepaskan Arimbi begitu saja. Pria itu sangat licik sama seperti Emir suaminya.
“Kalau begitu….bagaimana kalau anda menginjak kaki saya juga?” Arimbi mengujinya dan sinar matanya meredup. Membuat ekspresi wajahnya sukit untuk ditebak. Arimbi tidak tahu apa yang direncanakan oleh Dion tapi sejak pria itu mendatangi perusahaan ayahnya, Arimbi juga teringat ucapan Emir padanya diapun semakin yakin kalau pria itu sengaja mendekatinya.
Sadar bahwa Dion menatap Arimbi sangat lama, Zivanna merasa tak senang lalu berkata, “Direktur Harimurti, dia tidak sengaja. Bagaimana kalau kuminta seseorang membantumu agar kakimu bisa diobati?” Zivanna menawarkan karena dia tak ingin ada interaksi antara Dion dan Arimbi. Dia merasa kalau pria itu sepertinya menyukai Arimbi. Ini tidak boleh terjadi karena hanya dia yang berhak menjadi pendamping Dion Harimurti.
Dion menatap Zivanna dengan tatapan hangat, “Tidak perlu Nona Zivanna. Terimakasih.”
“Aku memaafkanmu kali ini demi Nona Zivanna! Tapi kamu harus bertanggung jawab jika kakiku bengkak besok.” ujar Dion semakin menampakkan sifatnya.
Arimbi pun tak bisa berkata-kata lagi. Mengingat dia lebih memilih menghadapi masalah daripada lari dari masalah. Disamping itu, dia harus bertanggung jawab jika kakinya bengkak besok.
Setelahnya Dion berpaling dan melanjutkan percakapannya dengan para pebisnis sehingga membuat masalah itu selesai dan tak ada pembahasan lagi. Pada saat yang sama Zivanna menatap Arimbi tajam sebelum dia pergi menuju tempat lain dimana teman-temannya berada.
“Apa kamu baik-baik saja?” tanya Elisha pada Arimbi. Dia tetap berada disamping kakak iparnya karena dia mencemaskannya.
“Ya, aku baik-baik saja.”
Elisha mengedarkan pandangannya ke sekeliling lalu berbisik ditelinga Arimbi, “Mulai sekarang tetaplah disisiku. Jangan menyendiri lagi. Meskipun kamu ada dipojok ruangan mereka akan tetap merundungmu kalau mereka mau.”
Ya, Elisha benar. Meskipun Arimbi tak mengganggu siapapun di pojok ruangan tapi Zivanna tetap mendatanginya. Belum lagi Dion Harimurti yang harusnya tidak ada di dekatnya tapi kenapa bisa kebetulan sekali ada didekatnya bersama para pebisnis lainnya?