
“Arimbi, kamu tidak perlu berkompromi oke? Tidak peduli siapa dan apa latar belakang mereka, tidak ada yang tidak bisa aku bereskan. Jadi kamu tidak perlu berkompromi karena mempertimbangkan posisi orang lain.” ucap Emir lagi.
Arimbi mengangkat dagunya, menyipitkan matanya dan berbicara pelan dan malu-malu tapi mau, “Sayang, aku sangat tersentuh hingga ingin menciummu.”
Tanpa mengatakan apapun, Emir langsung menghapus jarak diantara mereka hingga bibir mereka bertemu. Meskipun ini bukan pertama kalinya mereka berciuman, tetapi setiap kali mereka melakukannya, hati Emir masih berdebar.
Dia benar-benar menyukai ciuman yang penuh gairah, apalagi kalau mereka bercinta penuh gairah seperti yang biasa mereka lakukan. Teringat soal bercinta, otak Emir dipenuhi pertanyaan karena kondisi Arimbi yang sedang hamil.
Apakah dia masih bisa melakukan itu? Dengan kondisinya sekarang tak memungkinkan jika,Arimbi berada diposisi atas seperti biasanya. Emir pun jadi galau disela-sela ciumannya yang bergairah.
Ketika ciuman itu berakhir, jari-jarinya yang ramping masih menempel dibibir Arimbi yang berkilauan. Dia menatap istrinya dengan penuh cinta. 'Hidupku benar-benar beribah sejak dia hadir! Kini semakin sempurna dengan kehadiran calon anak ksmi.' bisik hatinya.
“Sayang, kurasa aku jatuh cinta padamu.” bisiknya terengah-engah.
Emir malah bertanya lembut, “Apakah kamu tidak mau mencintaiku?” dia tidak akan membiarkan istrinya jatuh cinta pada orang lain! Apalagi sekarang kondisinya sedang mengandung buah cinta mereka. Emir sudah membayangkan dirinya menggendong bayi mungilnya nanti!
Dia bisa melupakan fakta bahwa Arimbi dulu mencintai Reza, tetapi mulai sekarang dirinya adalah satu-satunya pria dihidup Arimbi.
“Tidak! Aku tidak bisa berhenti mencintaimu. Kamu terlalu hebat dan bahkan baik padaku. Aku terus menginginkanmu. Ketika malam hari aku memimpikan betapa baiknya kamu padaku. Aku bahkan bisa tersenyum dalam tidurku.”
“Tapi aku sering melihatmu menggigau saat tidur.” ujar Emir. "Tidurmu juga tidak ada cantik-cantiknya."
Arimbi membisu sejenak lalu berkata, “Kamu benar-benar tidak pandai bicara Emir!”
“Hahaha….benar aku tidak pandai bicara karena biasanya aku hanya memberi perintah dan bernegosiasi.”
Pembicaraan bisnis sama dengan negosiasi, baik diperusahaan maupun dirumah, dialah yang memberi perintah. Dia sering memposisikan dirinya diatas orang lain, hanya teman baiknya yang bisa mengobrol dengannya.
Teman baik…… Cahaya matanya meredup. Sejak lumpuh, meskipun teman-temannya masih memperlakukannya sama seperti dulu, tetapi rasa rendah diri mulai tumbuh dalam hatinya.
Hal itu membuatnya tidak ingin bergaul dengan mereka lagi. Bahkan Aslan mengatakan bahwa dia sudah lama tidak berhubungan dengan teman-temannya.
“Arimbi, apakah kamu ingin jalan-jalan akhir pekan ini? Apa kamu mau kuajak ke istal keluargaku untuk menunggang kuda?” tanya Emir.
“Eh….tidak...tidak bisa. Kamu sedang mengandung sekarang. Menunggang kuda bukan hal yang bagus untuk orang hamil.” ucapnya lagi setelah sadar kondisi istrinya yang sedang hamil muda.
Wajah Arimbi yang tadinya sudah senang berbinar-binar kembali redup. Dia pun kembali tersenyum, ya benar sekarang dia sedang hamil dan ada anaknya didalam perutnya. Dia harus mulai berhati-hati sekarang. “Aku ingin sekali menunggang kuda.”
“Tapi itu bukan ide bagus. Kamu tidak mau sesuatu terjadi pada anak kita kan?” ujar Emir.
Emir berpikir sejenak lalu mengingat kalau dokter mengatakan kandungannya cukup kuat. Mungkin ini juga keinginan ibu hamil akhirnya dia pun setuju, dia akan meminta seseorang untuk memilihkan kuda poni saja untuk dinaikinya.
“Oke, aku akan memberitahu istal untuk mempersiapkannya. Kita kan pergi kesana akhir pekan ini. Kita akan mengajak beberapa teman untuk bersenang-senang bersama. Siapa temanmu selain Nona Joana?” ujar Emir bertanya.
“Temanku di Metro hanya dia. Yang lain membenciku dan tak mau berteman denganku karena aku anak desa. Teman lamaku jauh dipedesaan jadi sulit untuk mengajak mereka pergi. Terlebih lagi, mereka juga sibuk mengurus anak-anak mereka.”
Teman-temannya menikah pada usia yang lebih muda dan beberapa teman sebayanya sudah memiliki dua anak. Ketika dia dibawa pulang oleh orang tua kandungnya, ada kesenjangan yang kuat dalam kehidupan asmaranya.
“Emir, apa kamu akan meremehkan Joana? Sebenarnya dia sangat baik. Hanya saja hobinya sepertinya tidak cocok denganmu.”
“Aku tidak akan berani merendahkan sahabat istriku. Ajak saja dia kalau begitu. Oh ya omong-omong apa kamu sudah menemukannya?” tiba-tiba Emir ingat tentang Joana yang hilang.
“Sudah! Dia bilang batere ponselnya habis dan dia tidak punya uang sepeserpun. Setelah pergi dari kediaman Harimurti, dia berjalan pulang kerumah tapi dia salah jalan. Jadi dia baru pulang pagi ini.”
Sebenarnya Arimbi tidak mempercayai cerita itu, tetapi dia tidak menemukan kejanggalan. Sebenarnya dia masih meragukan Dion.
“Apakah kamu jadi menemui Dion Harimurti?” tanya Emir.
“Ya, aku menemuinya dan dia berjanji akan membantuku mencari Joana. Tapi tidak lama setelah aku pergi, aku menerima telepon dari Nyonya Ganesha. Dia bilang Joana sudah ada dirumah. Emir, aku mencari Dion karena mengkhawatirkan Joana. Kalau tidak, aku akan jauh-jauh darinya. Jangan salah paham. Aku tidak punya perasaan padanya.”
Meskipun berkata begitu, dia agak takut dengan sikap Dion terhadapnya.
Wajah Emir agak muram, meskipun istrinya sudah meminta ijin padanya untuk menemui pria itu tapi dia masih cemburu. Butuh beberapa saat untuk menahan rasa cemburunya. “Aku tahu kalau kamu menemui Dion karena Nona Joana.”
“Maaf.”
“Kamu tidak perlu minta maaf padaku karena kamu melakukan ini demi temanmu. Aku sama sekali tidak akan menyukaimu kalau kamu orang jahat.” Emir mempedulikannya lalu berkata, “Ayo kita turun. Kita sudah sampai, aku punya janji dengan Tuan Hirawan pukul dua siang ini.”
“Terima kasih Emir. Kamu terlalu baik padaku. Kamu mengatur semuanya untukku dengan sangat tepat.” Arimbi mengucapkan terima kasih pada suaminya.
Keputusan terbaik yang dia ambil setelah hidup kembali adalah mendekati Emir dan menikahinya. Kini posisinya akan semakin aman dan kuat karena dia sudah mengandung keturunan Serkan.
Emir mencubit bibir Arimbi dengan lembut. Dia merasa itu sangat lembut jadi dia menundukkan kepalanya dan mendaratkan ciuman lagi dibibirnya. Ciuman begitu dalam sehingga Arimbi terengah-engah setelahnya. Arimbi melupakan hal yang ingin dia katakan lalu mendorongnya dengan lembut.
Kemudian pasangan itu turun dari mobil. Agha sedang menunggu mereka disana. Setelah melihat mereka, dia mendekat dan menyambut mereka dengan senyuman.
“Apa belakangan ini kamu sangat senggang?” tanya Emir pada adiknya dengan dingin. Dia tidak suka kalau adiknya terus menampakkan diri didepan Arimbi.