
“Turuti saja perkataanku. Segera suruh Reza datang kesini! Hanya dia yang bisa aku kendalikan selama aku berada didalam sini.” ujar Yuda Lavani dengan suara pelan.
Arini Lavani mengangguk lalu memberikan kode pada pelayannya agar pergi meninggalkan tempat itu. Saat dia bangkit dari duduknya dia menatap suami dan kedua anaknya.
Lalu Arini menoleh kearah tim kuasa hukum keluarganya dan berkata, “Aku percayakan pada kalian! Segera bebaskan suami dan anakku. Aku tidak mau tahu bagaimanapun caranya.”
“Baik Nyonya. Serahkan saja semuanya pada kami. Akan kami lakukan semampunya untuk membebaskan suami dan kedua putra anda.” ujar salah satu tim kuasa hukum.
Arini pergi meninggalkan kantor polisi, sambil menghapus airmatanya yang sejak tadi tak henti-hentinya mengalir. Anak perempuannya saja belum ketemu tapi masalah lain sudah datang. Dia benar-benar lelah dan tertekan, selama ini Arini Lavani hanya tahu hidup senang dan berfoya-foya. Kini dia membayangkan seandainya dia kehilangan semuanya.
Bagaimanapun dia seorang wanita yang lahir dengan sendok emas dimulutnya. Tak biasa hidup susah, mengingat semua perkataan pengacara keluarganya tadi membuatnya pusing. Dia memijat pelipisnya lalu dengan suara lirih dia berkata kepada supirnya.
“Kita pergi ke rumah keluarga Kanchana sekarang.” lalu dia memalingkan wajah memandang keluar kaca jendela.
Sementara itu dikediaman keluarga Serkan.
“Nyonya Besar. Apa semua perhiasannya mau diletakkan disini?” tanya Yaya kepada Layla Serkan.
“Ya letakkan saja semuanya diatas meja. Pergilah ke villa dan panggil Arimbi untuk datang kesini.”
“Baik Nyonya.” jawab Yaya lalu meninggalkan Nenek Serkan.
“Bu, apakah ibu memesan semua perhiasan ini? Untuk siapa?” tanya Rania Serkan pada mertuanya.
“Untuk Arimbi! Aku dengar dari Beni kalau dia meminta perhiasan pada Emir. Mungkin keinginan bayinya jadi ini untuknya sebagai hadiah.” jawab Layla Serkan dengan santai dan tampak sudut bibirnya melengkung.
Rania mendengus kesal, “Huh! Pasti dia sengaja membawa-bawa kehamilannya untuk meraup harta sebanyak-banyaknya dari keluarga kita! Bu tidak seharusnya memberikan perhiasan semahal ini untuknya.” protes Rania.
“Sudah selesai bicaranya?” tanya Layla Serkan.
“Dia sedang mengandung keturunan Serkan! Cicit pertamaku! Kalau aku mau memberikan semua hartaku pada cicitku, memangnya kenapa?”
“Hah? Bu! Anaknya juga belum lahir! Masih lama lagi baru lahir! Itupun kalau anaknya bisa lahir! Bukankah lebih baik memberinya hadiah setelah bayinya lahir? Lagipula, aneh saja ya bu. Dulu waktu aku hamil dan melahirkan Elisha saja aku tidak mendapat sebanyak ini! Padahal Elisha cucu perempuan satu-satunya dikeluarga ini.”
“Oh jadi kamu iri? Begitu? Dulu kamu juga menerima banyak hadiah dari keluarga Serkan! Bahkan lebih banyak dari ini, ini hadiah pertama untuk Arimbi! Kenapa kamu protes dan bilang kalau bayinya belum tentu lahir? Rania! Kalau sampai terjadi sesuatu pada kandungan Arimbi maka kamu adalah orang pertama yang akan jadi tersangka!”
“Loh? Mana bisa begitu bu? Kenapa jadi menyalahkan aku? Aku kan cuma bilang begitu karena tidak ada seorangpun yang tahu masa depan?”
“Selama Arimbi menjaga kandungannya dengan baik, tidak akan terjadi apa-apa kecuali ada orang lain yang sengaja ingin menyakitinya dan kandungannya. Emir memberikan pengawal untuk menjaga Arimbi. Lalu apa kamu pikir kandungannya akan kenapa-napa? Rania! Sebagai mertua seharusnya kamu itu senang akan menjadi seorang nenek.”
“Ada apa ini ribut-ribut Rania? Apa masih belum puas juga kamu membicarkan hal buruk tentang Arimbi?” Alarik yang sejak tadi mendengar percakapan ibu dan istrinya pun muncul. Dia sudah tidak tahan lagi dengan sikap istrinya yang terus menerus memusuhi Arimbi.
“Kalau kamu tidak senang dan tidak suka, kamu boleh pergi kemanapun kamu mau!”
“Aku sudah capek dan muak dengan sikapmu! Aku sudah tua, mau hidup tenang dan damai bersama keluarga! Bukan malah mendengar keributan melulu! Apa kamu mau keluarga ini berantakan seperti keluarga Lavani, hah?”
“Kenapa jadi bawa-bawa keluarga Lavani? Mereka tidak bisa dibandingkan dengan kita.” ujar Rania.
“Memang betul! Keluarga kita jauh lebih hebat dan baik dibandingkan mereka! Tapi bukankah kamu yang paling gencar menjodohkan Zivanna dengan Emir selama ini? Cih! Sejak awal aku sudah tidak suka pada gadis itu! Sekarang terserah kamu Rania! Mau terima Arimbi sebagai menantumu atau tidak!” ujar Alarik lagi.
“Yang pasti, aku akan melindungi menantu dan calon cucuku! Kalau kamu tidak mau melihat keluarga ini hidup tenang dan bahagia, aku bisa kembalikan kamu pada keluargamu! Atau mau aku kirim ke luar negeri?” ancam Alarik yang sontak membuat Rania membelalakkan mata tak percaya. Apa ini benar suaminya? Alarik bahkan mengancam mau berpisah darinya?
“Sudah….sudah…...ibu pusing!” ujar Layla Serkan. “Aku hanya mau memberi hadiah untuk Arimbi kenapa malah jadi ribut begini?” protesnya menatap tajam pada Rania.
“Kalau kamu masih keras kepala, saat cucumu lahir nanti kamu tidak perlu datang dan melihat mereka! Aku ingin lihat bagaimana hidupmu nanti dibenci cucumu!”
“Nenek….” panggil Arimbi yang baru saja memasuki rumah utama diikuti Yaya dibelakangnya.
“Kemarilah.” panggil Nenek Serkan menepuk sofa disebelahnya.
“Ada apa nenek memanggilku kesini?” tanya Arimbi menatap kotak perhiasan yang memenuhi meja.
“Pilihlah mana yang kamu suka! Kalau tidak ada yang cocok biar nenek suruh toko mengantarkan perhiasan lain untukmu.” ujar Layla Serkan tersenyum. Melihat nenek mertuanya yang tersenyum membuat hati Arimbi meleleh.
Untuk pertama kalinya Nenek Serkan tersenyum padanya. “Nenek, aku masih punya perhiasan. Emir membelikan beberapa set perhiasan untukku dan belum kupakai. Lagipula aku jarang menghadiri perjamuan jadi aku tidak perlu perhiasan baru.”
“Jangan menolak! Ini adalah hadiah dari keluarga kami untuk calon bayimu. Ayo…..pilihlah mana yang kamu suka. Kalau kamu suka semuanya boleh kamu ambil.”
Mata Rania melotot tak percaya, bagaimana bisa ibu mertuanya memberikan semuanya pada Arimbi? Sedangkan harga satu set perhiasan itu saja sangat mahal. Paling murah sebesar lima ratus juta, jika Arimbi mengambil semuanya sudah bisa dipastikan berapa banyak uang yang dihamburkan Layla Serkan hanya untuk hadiah pertama.
“Bu…..ap---”
“Cukup Rania! Sebaiknya kamu pergi dari sini! Jangan ganggu ketenangan dirumahku.” Layla Serkan langsung memotong perkataan menantunya itu.
Sedangkan Alarik langsung melotot dan menatap tajam pada istrinya. Menyuruhnya segera pergi dari sana, dia juga ingin memberikan hadiah pada menantunya. Tapi tak ingin momen itu diganggu oleh istrinya.
“Rania…..kembalilah kerumah kita dulu.” ucap Alarik. Tanpa menunggu diusir kedua kalinya Rania pun bangkit berdiri dan dengan ekspresi kesal dia meninggalkan kediaman utama. Sedangkan Alarik tersenyum pada Arimbi lalu dia mengeluarkan ponselnya dan menghubungi seseorang.
“Arimbi…..dimana Emir?” tanya Alarik.
“Tadi dia ada diruang kerjanya ayah, ada pekerjaan yang harus diselesaikannya sebelum berangkat ke luar negeri lusa.” jawab Arimbi.
“Oh begitu! Apa kamu akan mengikuti suamimu ke luar negeri nanti?” tanya Layla Serkan.
“Hm…..iya nek. Aku akan ikut kemanapun Emir pergi.” jawab Arimbi tersenyum malu sambil menundukkan wajahnya. Dia tidak bisa jauh-jauh dari Emir apalagi sejak dia hamil, dia selalu ingin dekat-dekat dengan suaminya.