Fake Princess

Fake Princess
Takaoka Izumi (Side story') III


Kulangkahkan kakiku hendak kembali ke kamar, langkahku terhenti melihat Ratu tengah berjalan dengan membawa sebuah nampan besar. Kutatap perutnya yang sudah semakin membesar tersebut, Tabib Istana sendiri memperkirakan jika ia akan melahirkan tepat sebelum akhir musim gugur ini...


Perlahan aku mengikuti langkah kakinya, berjalan ia melangkahkan kaki menuju ke sebuah Istana kecil yang khusus dibangun untuk Haruki. Didorongnya pintu besar tersebut menggunakan punggungnya seraya masuk ia kedalam...


Ikut masuk aku kedalamnya, walaupun aku dapat melihat jelas apa yang terjadi tapi tetap saja aku tahu jika tak ada sedikitpun cahaya yang masuk kedalam. Aku tidak tahu, bagaimana caranya Haruki dapat bertahan selama ini...


"Haru-chan."


Melangkah aku perlahan mengikuti arah suara tersebut, bersembunyi aku seraya menatap mereka berdua yang tengah duduk di pinggir ranjang. Kuarahkan pandanganku ke sebuah lilin kecil yang diletakkan jauh dari tempat tidur...


"Kau datang Ibu?" ucap anak laki-laki tersebut.


Apa itu Haruki? Aku hanya sering mendengar namanya, tapi ini pertama kalinya untukku melihatnya langsung seperti itu. Dia laki-laki bukan? tapi wajahnya anggun sekali seperti perempuan.


"Ibu datang, apa kau lapar?" ucap Ratu meraba-raba telapak tangannya ke meja yang ada di sebelah tempat tidur Haruki lalu meletakkan nampan tersebut diatasnya.


"Apa yang kau bawakan untukku hari ini, Ibu?"


"Aku membawakanmu sup Ayam, Strawberry kesukaanmu, lalu roti, dan juga secangkir susu. Ibu akan menyuapimu sup Ayam," ucap Ratu, diarahkannya telapak tangannya kembali seraya meraba-raba sebuah mangkuk lalu meraihnya.


"Buka mulutmu," ucap Ratu seraya mengarahkan sendok berisi sup ke arah Haruki, diangkatnya telapak tangan Haruki seraya meraba dan meraih lengan Ratu. Didekatkannya bibirnya berusaha mencari sendok tersebut lalu dimasukkannya perlahan ke mulutnya...


"Ini enak sekali Ibu, Apa kau sendiri yang memasaknya langsung untukku?"


"Tentu, apapun untuk Putraku," tukas Ratu, diletakkannya kembali sendok tersebut ke mangkuk. Diangkatnya telapak tangan kanannya seraya meraba-raba wajah Haruki, sedangkan tangan kirinya seraya mencoba meletakkan mangkuk sup tersebut kembali ke atas nampan.


"Apa aku akan sembuh, Ibu? Aku ingin sekali keluar dari sini. Ibu sering sekali menceritakan tentang Izumi, aku ingin bermain bersamanya Ibu, aku ingin mengenal adikku. Aku ingin sembuh, Ibu," tangis Haruki, digenggamnya telapak tangan Ratu yang memegang pipinya.


"Kau akan sembuh, Ibu pastikan itu. Haruki sayang pada Ibu kan?" ucapnya seraya memeluk Haruki.


"Kau yang merawatku selama ini, bagaimana mungkin aku tidak menyayangimu."


Berbalik dan berjalan aku meninggalkan mereka, kubuka perlahan pintu tersebut seraya berjalan keluar. Kuarahkan pandangan mataku yang mengabur keatas, sinar matahari terasa sangat menusuk kedua mataku... Kurasakan air mengalir menyusuri kedua pipiku.


_____________


"Izumi, apa kau didalam?" kembali terdengar suara Ratu diiringi ketukan di pintu kamarku.


"Masuklah!" ucapku sambil tetap membolak-balik halaman buku yang ada di pangkuanku.


"Aku membawakanmu sesuatu, apa kau lapar?" ucapnya, masuk ia dengan sebuah nampan hampir sejajar dengan perutnya yang kian membesar.


"Apa yang kau bawa?" ucapku kembali mengalihkan pandangan darinya.


"Apa yang satunya untuk Haruki?" ucapku menatapnya, menggeleng ia menjawab pertanyaan dariku.


"Ini khusus untukmu, punya Haruki telah habis sejak tadi sore. Dan aku memasaknya lagi untukmu," ucapnya, diletakkannya nampan berisi ayam bakar dan ikan bakar tersebut diatas meja.


"Aku akan memakannya setelah selesai membaca buku."


"Apa ada hal yang ingin kau katakan?" sambungku menatapnya.


"Jangan terlalu memaksakan diri. Aku tidak ingin kau jatuh sakit," ungkapnya balas menatapku.


"Aku tidak akan jatuh sakit semudah itu," ucapku kembali mengalihkan pandangan darinya.


"Aku tahu, tapi tetap saja... Aku mengkhawatirkanmu," ucapnya lagi.


Berbalik ia seraya berjalan keluar dari kamarku, kututup buku yang belum habis kubaca. Kuarahkan pandanganku pada nampan yang ia bawa sebelumnya, beranjak aku seraya duduk menghadap makanan yang ia bawakan. Kuraih sumpit seraya kuarahkan mengapit ikan bakar yang tergeletak di atas piring...


Kuambil sedikit daging ikan bakar tersebut menggunakan sumpit yang aku pegang. Kuarahkan ikan bakar tersebut ke dalam mulutku, wangi asap yang menyelimuti daging ikan terasa memenuhi mulutku...


"Aku, tidak akan memilih sembarang wanita untuk menjaga anak-anakku," kata-kata Ayahku yang dulu sempat ia ucapkan kembali berdenging di telingaku.


"Ibu kah?" ucapku seraya kembali melahap daging ikan tersebut.


_____________


"Ayah, kau memanggilku?" ucapku, kuketuk pintu ruang kerjanya berulang kali.


"Masuklah," terdengar suaranya dari dalam, menoleh aku ke arah Tsutomu, dibukakannya pintu tersebut olehnya.


Masuk aku kedalam beserta Tsutomu yang ikut berjalan di belakangku, melangkah aku mendekati meja kerjanya. Berbalik ia menoleh menatapku, diangkatnya tubuhku seraya diletakkannya di pangkuannya.


"Tsutomu telah menceritakan semuanya padamu bukan?" ucapnya, mengangguk aku membalas perkataannya.


"Ayah harus menyelesaikan masalah yang terjadi di wilayah selatan Kerajaan kita, jadi kemungkinan Ayah tidak akan bisa berada disini dalam beberapa Minggu..."


"Aku akan membantumu mengawasi mereka semua Ayah, kau memintaku untuk menjaga Ratu dan juga kedua kakakku bukan?"


"Maaf, tapi Ayah tidak punya pilihan selain meninggalkan kalian semua untuk sementara waktu," ucapnya, diletakkannya kepalanya di punggungku.


"Tidak apa-apa Ayah, aku akan selalu berusaha membantumu." ucapku seraya menatap lurus kedepan.