
Aku kembali tersenyum dengan menatapnya, “seperti yang diharapkan dari seorang Ratu, aku benar, bukan? Maafkan aku, seharusnya aku mengatakan, Ibu Ratu,” ungkapku hingga kedua matanya itu membelalak besar ke arahku.
Aku menghela napas dengan membuang tatapan ke atas, “aku sangatlah heran dengan manusia yang tidak tahu malu sepertimu. Dengan bersikap mencampuri urusan, apa kau pikir bisa menutupi kebusukan yang kau perbuat?”
Helaan napasku yang keluar kali ini lebih kuat dibanding sebelumnya, “padahal aku sudah berniat untuk menyembunyikannya. Aku akan menutup mulutku, asal kalian hanya membiarkan kami pergi dengan membawanya.”
“Kau, kemarilah!” panggilku sambil melambaikan tangan ke arah perempuan yang berkerja sama denganku itu.
“Setetes saja darahnya jatuh ke tanah, aku akan memusnahkan Kerajaan kalian dalam waktu kurang dari sehari. Aku, sudah berjanji untuk membawanya pergi dari sini,” ancamku dengan menatap tajam ke arah seorang laki-laki yang mengacungkan pedang ke arah leher perempuan tersebut.
Laki-laki itu menurunkan kembali pedangnya tatkala embusan udara dingin tiba-tiba menerpa. Aku menoleh ke samping, ketika perempuan yang aku selamatkan itu menggenggam kuat tanganku dengan mengucapkan terima kasih beberapa kali. “Apa kau yakin hanya ingin membawanya seorang?”
“Apa aku boleh mengajak empat perempuan yang lain, nii-chan?” Aku balas bertanya kepada Haruki, bibirku kembali tersenyum ketika dia menganggukkan kepalanya.
“Kalian dengar apa yang kakakku katakan? Jika kalian ingin pergi dari sini, ini kesempatan terakhir kalian! Karena kami belum tentu akan kembali ke sini lagi nanti.”
Keempat perempuan yang berdiri di belakang Raja, menggerakkan kepala mereka … Menatap satu sama lain dengan sangat lama, sebelum satu per satu dari mereka berjalan mendekati perempuan yang aku selamatkan. “Kami hanya akan membawa mereka berlima. Dengan balasan, kami tidak akan membocorkan apa yang kalian perbuat di sini, dan yang lebih penting … Hubungan kerja sama di antara kita, tidaklah berakhir.”
“Penawaran yang sangat menarik, bukan?” sambungku, aku masih menatap mereka tanpa ekspresi saat tatapan Sang Ratu terlihat marah kepadaku.
“Aku mendengar dari Kak Sasithorn, jika Ibunya … Merupakan wanita yang baik. Aku tak bisa mengelak apa yang ia katakan, karena pada dasarnya yang ia katakan memang benar … Ibunya sangat baik, hingga saking baiknya ia menjadikan Putranya sendiri sebagai Suami.”
Oh astaga bibirku, kau semakin lancar saja berbicara dari waktu ke waktu.
“Menghasut Putranya untuk tidak menerima pertunangan. Aku bisa memahami jika perlakuan yang dilakukan Raja terdahulu sangatlah buruk kepada kalian, tapi bukan berarti kau harus membesarkan Putramu sendiri sebagai laki-laki yang menggantikan sua-”
“Tahu apa orang luar sepertimu?!”
“Aku, memanglah tidak tahu apa-apa. Namun, apa yang harus aku katakan kepada calon Kakak Iparku itu … Apakah aku harus mengatakan, jika Adiknya sekarang telah menjadi Ayahnya?” tukasku membalas bentakan dari Ratu yang wajahnya kian merah melihatku.
“Nii-chan, aku sudah tidak tahan berlama-lama di sini. Bisakah, aku pergi terlebih dahulu membawa mereka menemuinya yang menunggu kita di luar?” tukasku dengan beralih menoleh kepada Haruki.
“Kita akan pergi bersama, ada beberapa kata yang ingin aku katakan kepada mereka,” ungkap Haruki menimpali perkataanku.
“Adikku telah mengatakannya bukan? Aku pun, akan menjamin apa yang ia katakan. Kabar mengenai kalian ini, tidak akan keluar dari bibir kami ataupun dari mereka berlima. Dan juga, atas sikap lancang yang adikku perbuat, kami akan memberikan satu wilayah subur yang ada di Sora sebagai permintaan maaf. Bagaimana? Tidak ada masalah dengan tawaran yang kami berikan, bukan?” ucap Haruki, dia tersenyum dengan melirik ke arah mereka yang mengelilingi kami.
______________.
“Nii-chan, apa kita harus pergi dari sini secepat ini?” tanyaku sambil melirik ke arah Izumi yang berkuda dengan menarik gerobak berisikan para perempuan di belakang kami.
“Mereka tidak akan bertindak, selama Kou menjaga mereka. Setidaknya, kabar mengenai kita tidak akan tersebar keluar. Hal ini, justru menguntungkan kita … Jika aku menjadi mereka, mana mungkin aku melepaskan orang-orang yang memegang rahasia mereka di wilayah mereka sendiri. Lebih cepat kita pergi, itu lebih baik … Kita tidak akan tahu, kapan mereka akan menyerang kita tiba-tiba,” ungkap Haruki yang mulai berjalan menaiki kapal saat papan jembatan yang ada di kapal diturunkan.
Kudaku ikut mengikuti langkah kaki kudanya dari belakang dengan sesekali melirik ke arah Izumi dan juga Eneas yang membantu kelima perempuan itu turun dari atas gerobak. Langkah kaki kudaku berhenti, aku turun dari atas kuda tersebut sembari memberikan tali kekang yang mengikat kudaku itu kepada seorang laki-laki yang berjalan mendekat.
Aku berbalik, menoleh ke arah Izumi yang berjalan mendekat dengan menarik kuda berwarna hitam di belakangnya. “Izumi, jangan sekarang!” suara Haruki yang terdengar membuat pandangan mataku kembali teralihkan, aku lagi-lagi menggerakkan kepalaku menoleh ke arahnya yang tengah berbicara dengan seorang laki-laki paruh baya di hadapannya.
Izumi yang menghentikan langkahnya di depanku itu, menoleh ke samping dengan memberikan tali kekang kuda miliknya kepada laki-laki yang menerima tali kekang kudaku sebelumnya. Aku mendongakkan kepala tatkala suara kecil terdengar samar-samar dari atas, kuangkat kedua tanganku saat titik hitam yang ada di langit itu kian terbang mendekat seiring waktu.
“Bagaimana Lux? Apa kau mendapatkan sesuatu?”
Lux berbaring di telapak tanganku dengan dadanya yang kembang-kempis naik-turun, “ini gawat Sachi. Sepertinya mereka membesarkan hewan besar dengan hidung yang panjang-”
“Maksudmu, gajah?”
“Mungkin,” timpal Lux yang kembali beranjak duduk.
“Apa yang kalian bicarakan?” Aku mengangkat pandanganku ke arah Haruki yang berjalan mendekati kami.
“Eneas, tuntun kelima perempuan itu ke kamar kosong yang ada di dalam! Kau bisa melakukannya, bukan?”
“Laksanakan, nii-san!”
Haruki kembali menoleh ke arah kami saat perintahnya dibalas Eneas, “kenapa kalian terdiam? Jelaskan padaku apa yang terjadi!” sambung Haruki menatap kami bergantian.
“Aku, tadi ditugaskan Sachi untuk mengawasi sekitar Istana. Di sana, aku melihat para Kesatria tengah memberikan makan kepada hewan yang Sachi sebut dengan gajah, bahkan beberapa gajah tersebut memegang tombak besar dengan hidungnya yang panjang itu.”
“Apa kau yakin, Lux?”
“Apa kau meragukan apa yang aku lihat, Izumi?” Lux balas bertanya sambil menyilangkan kedua lengannya menatap Izumi.
“Lalu Haruki, apa yang akan kau lakukan?”
“Apa kau yakin Izumi akan mendengar apa rencanaku? Karena, semenjak apa yang Sachi katakan di Istana, membuatmu tak banyak bicara.”
Izumi menghela napasnya, “aku tidak memperdulikan mereka, hanya saja … Mungkin sama seperti Sachi, aku kehilangan kata-kata untuk menjelaskan apa yang terjadi kepada Sasithorn.”
“Untuk masalah gajah, aku sudah mengetahui hal ini dari Sud. Karena, beberapa Kesatria yang bertugas di Istana, adalah anak buahnya. Begitu pun, dengan kabar hubungan terlarang itu, aku merahasiakannya karena aku ingin kalian dapat melihat dan menilainya sendiri.”
“Aku, memang akan mengirimkan utusan dari Sora, dan aku tidak berbohong akan hal itu. Namun, yang akan datang adalah pasukan Balawijaya yang akan menghancurkan mereka … Kau seorang Pangeran, Izumi. Menikahi perempuan yang memiliki aib keluarga memalukan seperti itu, tak akan bisa diterima.”
“Satu-satunya cara agar aku dapat merestui pernikahan kalian, hanyalah menghancurkan aib tersebut hingga ke akarnya. Kau paham posisiku sebagai Pangeran pertama dan juga Putra Mahkota, bukan? Jika keputusanku dan Ayah bertolak belakang, maka hal itu tidak akan terjadi.”
“Aku tidak peduli,” ungkap Izumi menimpali perkataan Haruki, “hancurkan saja jika kau ingin menghancurkannya, kakak. Itu lebih baik, jadi aku tidak akan terlalu pusing memikirkan alasan apa yang harus aku katakan kepadanya.”