Fake Princess

Fake Princess
Chapter CDLXXIX


“Kalau kau berani mengintip, aku akan mencongkel kedua matamu itu,” ucapku dengan melirik ke arahnya yang berdiri membelakangi di dekat pintu.


“Aku tidak akan melakukannya. Cepatlah ganti pakaianmu,” ungkapnya yang menunduk dengan mengenakan pakaian yang ia genggam sebelumnya.


Aku mengarahkan tanganku ke arah punggung, berusaha untuk membuka ikatan gaun yang aku kenakan itu. Setelah gaun tadi jatuh ke lantai, aku berjalan mendekati tumpukan pakaian yang sebelumnya dibawa oleh Kabhir lalu memakainya dengan cepat. Aku berjalan mendekati gaun yang sebelumnya aku kenakan, berjongkok di hadapan gaun tadi lalu melipatnya kembali rapi.


“Kemarikan pakaianmu! Aku akan melipatnya,” ucapku dengan beranjak berdiri lalu berjalan mendekati meja seraya meletakkan gaun yang ada di tanganku itu.


Aku mengangkat tanganku meraih tumpukan pakaian yang sebelumnya ia kenakan, aku duduk di salah satu kursi dengan meletakkan tumpukan pakaian yang ia berikan di dekatku. “Apa ada tempat yang ingin kau kunjungi di sini? Atau makanan yang ingin kau makan?”


Aku mengangkat wajahku menatapnya sambil tanganku bergerak melipat pakaian miliknya, “apa kau telah memberitahukan Kabhir permintaanku?”


Dia duduk di lengan kursi seraya menatapku, “aku sudah mengatakannya. Tapi dia mengatakan, jika Isterinya sejak semalam kurang sehat, jadi dia tidak bisa ikut dengan kita,” ungkapnya sembari mengangkat tangan menguncir rambut hitamnya.


“Ini semua pasti karena mereka. Beraninya mereka merendahkan kami,” ungkapku geram dengan mencengkeram rompi bulu milik Zeki.


“Apa kau ingin membuat botak rompiku itu?”


Aku melirik ke arahnya yang tengah bersandar melirikku, “maaf,” ungkapku dengan kembali melirik ke arah rompi yang aku cengkeram-cengkeram tadi.


“Tapi mereka benar-benar menjengkelkan. Mereka mempermalukan kami, padahal aku ingin sekali mencicipi makanan yang ada di sana,” ungkapku sambil melipat kembali rompi yang ada di tanganku itu.


“Mereka siapa?” Dia balas bertanya menatapku.


“Pelayan yang berkerja di tempat makan yang hanya melayani perempuan dan juga … Teman masa kecilmu berserta ibunya.”


Zeki mengerutkan keningnya menatapku, “Laila? Selama aku mengenalnya, dia bahkan tidak pernah berbicara banyak. Apa kau yakin?”


Aku menghela napas lalu melemparkan pakaian miliknya yang ada di tanganku ke arahnya, “kau lebih mempercayainya dibandingkan aku?” tukasku beranjak berdiri lalu berjalan meninggalkannya.


“Sachi!”


Aku terus berjalan walau dia tak henti-hentinya memanggil namaku, kubuka pintu yang ada di hadapanku itu lalu kubanting pintu tersebut dengan sangat kuat saat aku telah berjalan melewatinya. “Sachi, jangan berjalan sendirian,” ucapnya yang terus terdengar mengikutiku.


Aku tetap melanjutkan langkah dengan kadang-kadang melirik ke arah beberapa orang laki-laki yang ada di dalam ruangan yang membungkukkan tubuh mereka. Aku berbelok ke kiri saat aku telah keluar dari tempat tersebut, langkah kakiku terus berlanjut menyusuri jalan yang dipenuhi pedagang di kanan dan kirinya.


“Jangan coba-coba berjalan sendirian tanpa didampingi siapa pun,” ucapnya, langkahku terhenti saat kurasakan tarikan di lenganku.


“Aku tidak pernah berjalan sendirian, aku selalu didampingi oleh dia yang bisa membekukan apa pun,” jawabku dengan membuang sedikit pandangan darinya.


“Bertingkah aneh?” tukasku dengan mengipas diri menggunakan telapak tangan, “bagaimana denganmu? Apa yang akan kau rasakan saat aku lebih membela laki-laki lain dibandingkanmu?!”


“Kenapa kalian menatapi kami? Apa kalian tidak pernah melihat pasangan beradu pendapat?!” bentakku dengan melirik ke sekitar saat pandangan mereka semua mengarah kepada kami.


Aku kembali mengarahkan pandangan kepada Zeki saat orang-orang yang ada di sekitar kembali mengalihkan pandangan mereka. “Hanya ceritakan padaku apa yang terjadi?” tukasnya meraih tanganku.


Aku tertunduk dengan menggaruk bagian atas kelopak mataku sendiri, “dia merendahkan kami, jadi aku menamparnya langsung di tempat,” ungkapku dengan kembali berjalan saat dia melepaskan genggaman tangannya di lenganku.


“Kau ingin aku mengurus mereka yang mempermalukan kalian?”


Aku kembali menoleh ke arahnya yang berjalan di sampingku, “tidak perlu! Terima kasih sudah bertanya,” ungkapku dengan kembali membuang pandangan ke depan.


Kepalaku sedikit bergerak ke samping dengan sendirinya saat rangkulan yang ada di kepalaku itu mendorongnya ke samping kanan, “aku akan memerintah Kabhir untuk membuat mereka semua meminta maaf kepada kalian,” ucapnya yang diikuti kecupan di kepalaku.


“Kenapa tidak mengatakannya dari awal, kau membuatku hampir saja menggunakan Kou untuk membekukan mereka semua,” ucapku sambil menggigit bibirku, berusaha menahan senyum yang hampir saja terukir.


“Apa kau ingin mengunjungi tempat tersebut?”


Aku menoleh lalu menggeleng ke arahnya, “aku sudah tidak tertarik untuk makan di sana,” jawabku sambil kembali membuang pandangan ke depan.


“Kalau begitu, ingin mengunjungi makam ibuku?”


______________.


Zeki menggenggam tanganku dengan sebelah tangannya yang lain memegang karangan bunga, aku melirik ke arah kanan … Menatap matahari yang kian condong sedikit ke Barat. Pandangan mataku berbalik ke arah kereta kerajaan yang kian terlihat jauh di bawah tebing. “Berhati-hatilah, jangan sampai tergelincir,” ungkap Zeki dengan semakin mempererat genggaman tangannya padaku.


“Ini pertama kalinya untukku, melihat makam yang berbaris di pinggir tebing,” ungkapku sembari membuang pandangan ke atas.


“Benarkah? Tapi kau tidak perlu melihat terlalu ke atas, karena tingkat paling atas hanya berisi makam untuk para Raja, di bawahnya hanya untuk bangsawan-bangsawan yang melayaninya. Sedangkan makam ibuku, hanya berada di kaki tebing … Bahkan saat mati pun, semua ditentukan oleh jabatan dan kekayaan yang kau miliki selama hidup,” ucapnya, kuarahkan pandanganku kepadanya yang membuang tatapannya itu ke depan.


Zeki menghentikan langkahnya di salah satu terowongan berbentuk kotak yang ada di tebing, dia menarik pelan tanganku saat dia berjalan masuk ke dalam. Keadaan temaram yang ada di sekitar, sedikit membuatku bisa melihat peti memanjang terbuat dari tanah yang ada di hadapan kami.


Aku ikut duduk di sebelah Zeki saat dia meletakkan karangan bunga yang ia bawa ke dekat peti tersebut, “ibu, aku akhirnya mengajak perempuan yang sering aku ceritakan setiap ke sini,” ucapnya yang membuatku melirik ke arahnya.


“Aku memberikan hormat kepadamu, Ibu,” ungkapku sembari membungkukkan tubuh di hadapan makam tadi, “ini pertama kalinya kita bertemu. Aku tidak tahu, apa yang ia katakan kepadamu … Aku hanya berharap jika semua yang ia katakan adalah pujian,” ungkapku saat aku kembali mengangkat tubuhku.


“Dia sekarang tumbuh menjadi laki-laki yang tampan nan gagah. Jika Ibu terkejut, maka aku pun sama terkejutnya. Aku,” ucapku menoleh ke arah Zeki yang juga telah memandangku, “berjanji akan selalu menemaninya saat dia suka maupun duka. Aku, akan selalu mendukungnya hingga tidak ada siapa pun yang bisa meremehkannya lagi. Percayakan dia padaku, aku bersumpah akan membuatnya menjadi laki-laki menakjubkan yang akan membuat semua perempuan iri dengan mengatakan, jika saja dia menjadi pasanganku,” sambungku dengan kembali menoleh ke arah makam yang ada di hadapan kami.