
“Aku akan memberikan apa pun yang kau inginkan setelah kita pulang ke Yadgar, kau mendengar perkataanku atau tidak?”
Aku berdeham, menjawab pertanyaannya. “Apa kau marah?” suaranya yang terdengar kembali mengusik telingaku.
“Aku sama sekali tidak marah, sama sekali tidak,” ungkapku mencoba untuk beranjak duduk.
“Apa yang kau lakukan di sana?”Aku balik bertanya, saat kedua mataku itu terjatuh ke arahnya yang duduk menyandarkan dirinya di sudut kamar.
“Kau tidak ingin mencium bau tubuhku. Namun di sisi lain, aku ingin selalu melihatmu. Jadi ini satu-satunya cara.”
“Bagaimana tidurmu? Apa salah satu bagian tubuhmu itu ada yang sakit? Apa ada sesuatu yang ingin kau makan hari ini? Aku telah meminjam sedikit uang dengan Haruki semalam, jadi … Jika ada sesuatu yang ingin kau makan-”
“Jangan bersikap berlebihan seperti itu, apa kakakku mengatakan sesuatu kepadamu semalam?”
Zeki beranjak berdiri dengan sedikit memajukan langkahnya, “Haruki meminta kita untuk mengikuti makan pagi atas permintaan Raja sebelum kita melanjutkan perjalanan. Kemungkinan, mereka semua sudah berkumpul sekarang,” tukasnya yang kembali menggerakkan langkah kakinya sedikit.
Aku beranjak turun dari ranjang, “baiklah, aku akan membersihkan tubuh sebentar. Bisakah kau membantu mengambil pakaianku di dalam tas?” tukasku, aku tertunduk dengan mengusap mata sebelum akhirnya berjalan menjauhinya.
____________.
Aku menarik napas dalam, kugenggam erat kedua tanganku dengan menoleh ke belakang, “apa yang kau lakukan? Kenapa kau berjalan sejauh itu? Apa kau pengawalku? Atau apa kau pelayanku?”
Dia turut menghentikan langkahnya membalas tatapanku, “apa kau pikir aku menginginkan ini? Kau sendiri yang mengatakan, jika tidak ingin berdekat-dekatan denganku-”
“Aku sungguh-sungguh geram sekali dengan tingkahmu, dituruti salah, tidak dituruti pun salah,” ungkapnya yang berjalan lalu berhenti di sampingku, “berikan jari kelingkingmu!” tukasnya lagi dengan melirik ke arahku.
Dia melingkarkan jari kelingkingnya itu ke jari kelingkingku, “jika aku menggandengmu seperti ini, bau tubuhku tidak akan terlalu menempel di tubuhmu, bukan? Jadi cepatlah! Kita sudah sangat terlambat,” ungkapnya kembali, jari kelingkingku tertarik kedepan saat dia melanjutkan langkah.
Bibirku tersenyum saat pandangan mataku itu terjatuh ke arah jari kelingkingku itu, “laki-laki atau perempuan, yang mana yang lebih kau inginkan?” tukasku pelan dengan mengangkat pandangan.
“Jika dia laki-laki, aku akan memiliki teman untuk menjaga Ibunya. Jika dia Perempuan, maka sudah menjadi tugasku sebagai seorang Ayah untuk memperkuat diri dan Kerajaan, agar dapat melindungi kalian. Laki-laki atau perempuan, aku tak peduli … Asalkan dia terlahir sehat, itu sudah cukup untukku.”
“Kau membuat semua mimpiku mendekati kenyataan, aku selalu menginginkan sebuah rumah sebagai tempatku kembali. Dan kau membawakan itu semua untukku, terima kasih karena telah memilihku dari banyaknya laki-laki. Hanya kali ini,” ucapnya, aku ikut menghentikan langkah saat dia turut menghentikan langkahnya di sampingku.
Aku tertegun saat wajahnya itu mendekat, diikuti bibirnya yang mengecup bibirku, “aku mencintaimu, aku sungguh-sungguh jatuh cinta padamu. Terima kasih, karena telah bersedia menjadi Ibu untuk anak-anak kita,” ucapnya tersenyum sebelum mengangkat kembali wajahnya menjauhiku.
Aku menggerakkan tanganku itu, menggenggam kuat tangannya. Langkah kaki kami terus berlanjut, hingga akhirnya kami sampai di suatu ruangan tanpa pintu. Kami berjalan masuk dengan memberikan salam kepada Raja sebelum akhirnya kami duduk di dekat Haruki yang melambaikan tangannya.
“Kenapa seorang Pelayan harus duduk di sampingmu?”
Aku melirik ke arah Vartan yang tiba-tiba berbicara saat bokongku baru saja hendak menempel di kursi. “Pelayan? Siapa yang kau panggil pelayan?” tukas Zeki yang balik bertanya.
“Yang aku maksudkan itu adalah kau! Kenapa, seorang pelayan sepertinya harus selalu mengikutimu?”
“Kau menganggap aku seorang pelayan?”
Aku melirik ke arah Haruki ataupun Izumi yang tertunduk, berusaha keras untuk tak mengeluarkan tawa. Eneas melirik ke arah Izumi, saat aku menyipitkan mata ke arahnya. “Jaga perkataanmu itu! Apa kau iri dengan ketampanan yang aku miliki ini?”
“Apa kau tidak mengajari pelayanmu dengan baik? Haruskah aku membantumu untuk memberikannya pelajaran sopan santun?”
Aku menarik napas panjang saat Vartan mengucapkannya dengan melirik ke arahku, “Raja, perkenalkan. Laki-laki yang ada di sebelahku ini adalah suamiku, Raja Zeki Bechir, Raja dari Kerajaan Yadgar,” ucapku yang sedikit membuat hening ruangan.
“Maafkan atas kedatanganku yang tiba-tiba, hanya saja aku datang ke sini hanya untuk menjemputnya pulang kembali ke Yadgar. Kami akan segera memiliki anak, karena itu aku ingin membawanya pulang,” sahut Zeki, dia mengelus perutku sambil mengatakannya.
“Suami? Anak?”
“Apa kau, salah satu laki-laki yang termakan rayuannya? Berhenti bermimpi! Dia milikku.”
“Itu, tidak benar, bukan? Jangan katakan, kau mencoba mempermainkanku!”
Kepalaku bergerak ke samping dengan cepat saat Zeki merangkulnya lalu menariknya dengan cepat mendekati tubuhnya. Tubuhku terdiam, saat suara pecahan terdengar kuat dari arah belakangku. “Tahan dia, Izumi!” bentakan Haruki membuatku kembali tersadar.
Aku dengan cepat mengalihkan pandangan ke arah Zeki yang telah melompat dari atas meja, berjalan mendekati Vartan dengan sebuah pisau yang entah dari mana ia dapatkan. “Beraninya, kau mencoba untuk menyakitinya di depanku!”
“Zeki, ingatlah sekarang kau ada di-”
“Izu-nii!” Aku beranjak lalu berlari mendekatinya, dia berdiri tertunduk dengan menekan lehernya menggunakan telapak tangan.
“Aku tidak apa-apa, pisaunya hanya sedikit menggores leherku."
"Berikan aku kain untuk menutupi lukanya, Eneas!” timpal Haruki, dia mengangkat tangannya ke arah Eneas yang berdiri di sampingnya.
“Sialan! Bisa-bisanya aku lengah, aku pikir dia akan langsung mendengarkan perkataanku seperti biasanya,” gerutu Izumi, saat Haruki melilitkan kain yang ia dapat dari Eneas ke lehernya.
Aku kembali beranjak lalu berjalan mendekati Zeki yang telah dikepung oleh banyak sekali Kesatria, “Zeki, jangan lakukan itu! Kendalikan dirimu, aku tidak terluka sama sekali … Zeki, kau mendengarku, bukan?”
“Minggir kalian semua! Aku tidak akan menyakiti Pangeran lemah sepertinya, jadi enyahlah dari hadapanku! Beraninya kalian, memperlakukan kami seperti ini!” tukas Zeki, aku mengangkat tanganku meraih tangannya saat para Kesatria tersebut memberikan jalan untuknya.
“Kau terluka Izumi? Maafkan aku, seharusnya kau jangan menghalangiku tadi,” sambungnya, tubuhku sedikit bergidik saat dia mengucapkannya dengan sangat datar sekali.
“Aku, akan menganggap kejadian ini tidak pernah terjadi sebelumnya. Namun, jika Putramu bertingkah seperti itu lagi kepada Istriku. Jangan menyesal, jika Robson akan hancur di tangan Yadgar. Laki-laki sepertinya, tidak pantas menyandang gelar sebagai Putra Mahkota,” tukas Zeki sebelum akhirnya dia mempererat genggaman tangannya padaku.
“Tinggalkan saja barang-barangmu, segera panggil Kou, aku tidak ingin kau berlama-lama di sini,” sambungnya, dengan menarik tanganku berjalan di belakangnya.
“Zeki, maafkan aku … Itu semua, karena aku-”
“Jelaskan nanti setelah kita pulang, jelaskan nanti setelah amarahku ini hilang,” ucapnya, yang berjalan tanpa sedikit pun menengok.