Fake Princess

Fake Princess
Chapter DXLV


“Sachi!”


Aku menghentikan langkah lalu menoleh ke sekitar, “ di arah sana,” tukas Zeki sambil menunjuk ke arah kanan tubuhnya.


Aku sedikit melangkah maju dengan membuang pandangan ke arah yang ia tunjuk. Pandangan mataku itu, terjatuh kepada Adinata dan juga Julissa yang berjalan mendekati kami. “Kami mencari kalian berdua ke mana-mana,” ucap Julissa berdiri di dekat kami sambil merangkul lengan Adinata.


“Dia hanya sedikit kelelahan tadi, jadi aku memintanya untuk beristirahat,” timpal Zeki diikuti tangannya yang bergerak memainkan rambutku.


“Lebih baik kita bergabung bersama yang lain saja, Julissa. Jika mereka berdua telah bertemu, dunia bagaikan milik mereka berdua saja.”


Wajahku terangkat, menatap Adinata dan juga Julissa yang telah berbalik, melangkahkan kaki mereka membelakangi kami. Aku menoleh ke arah Zeki ketika kurasakan sesuatu menggenggam erat tanganku, “jangan terlihat sedih lagi, atau keluargamu akan langsung membunuhku,” ucapnya, kepalanya sedikit bergerak ke samping, seakan memintaku untuk kembali melanjutkan langkah.


Aku balas menggenggam erat tangannya, sedang kedua kakiku bergerak mengikuti langkahnya di sampingku. “Dari tadi, aku tidak melihat Aydin … Bukankah kalian pergi bersama?”


“Aku tidak tahu di mana dia, dia mungkin sedang sibuk menghibur kesepuluh Isterinya, atau mungkin sedang mencari calon isteri yang kesebelas. Lagi pun, aku tidak suka jika kau membahas laki-laki lain saat kau sedang bersamaku seperti sekarang,” tukasnya seraya melemparkan pandangan ke depan.


“Zeki, jawab pertanyaanku ini dengan jujur.”


“Kau dulu sempat mengatakan. Jika para Putri dan Pangeran, diberikan hidangan berisi sihir oleh Kaisar. Lalu kenapa? Kau membiarkan Putri Khang Hue untuk tinggal di Yadgar?”


“Pertanyaan yang sama, kau tahu jika perempuan yang kalian bawa ke kapal tempo dulu adalah seorang Putri. Lalu kenapa? Kalian membawanya ke Sora? Aku memaklumi jika itu kau, namun Haruki telah mengetahui masalah hidangan tersebut sejak awal, bukan?”


Aku terdiam saat mendengarkan apa yang ia ucapkan. “Di Yadgar, aku memerintahkan Kabhir untuk membedakan tugasnya sebagai penasihatku, dan suami dari Putri Khang Hue. Aku memerintahkan Kabhir, untuk jangan pernah membahas permasalahan di Istana di rumahnya, itu sudah menjadi perjanjian kami … Sebelum mereka meminta izin untuk menikah kepadaku.”


“Aku, tak akan melakukan tindakan ceroboh kembali. Terlebih, jika itu menyangkut keselamatanmu, Sachi.”


“Aku, hanya mempercayai sesuatu yang aku lihat menggunakan mata kepalaku sendiri,” ungkapku seraya melemparkan pandangan ke depan.


“Lalu, hanya berikan aku waktu untuk membuktikan semuanya kepadamu. Bukankah itu, yang selalu aku lakukan sedari dulu?”


“Aku mencintaimu. Dari dulu, hingga sekarang.”


Zeki membuang pandangannya saat aku mengangkat kembali wajah menatapnya. “Jika takdir tercipta untuk memisahkan antara aku denganmu. Aku, dengan sangat senang hati akan menghancurkan dia yang disebut takdir tersebut. Aku berjanji, kepada diriku sendiri,” sambungnya lagi, Zeki mengangkat tangannya yang menggenggam tanganku lalu menciumnya.


“Kalian lama sekali, acaranya akan segera dimulai.”


“Aku menunggunya pulih, aku tidak ingin membebani kesehatannya … Hanya karena harus mengikuti kegiatan seperti ini,” jawab Zeki ketika kami berdua menghentikan langkah di dekat mereka semua yang telah berkumpul.


“Pangeran Haruki, apa kau dapat menjelaskan padaku apa yang terjadi?”


Haruki berbalik menatapi Raja Piotr, “maaf, karena tidak sempat mengabarimu, Raja Piotr. Tapi mereka, teman-temanku … Mereka, mendengar kabar mengenai festival di Kerajaan kalian, jadi mereka datang ke sini untuk menghadirinya.”


“Aku belum memperkenalkan diri, Pangeran Adinata Pangestu. Pangeran pertama dari Kerajaan Balawijaya, dan yang di sampingku ini, Putri Julissa Laura, calon isteriku,” ucap Adinata, dia tersenyum saat Julissa mengangkat wajah menatapnya.


Pandangan mataku dengan cepat menoleh ke arah Pangeran Ryszard yang berbicara. “Zeki Bechir, Raja dari Kerajaan Yadgar. Dan yang di sebelahku ini, tidak lain tidak bukan, adalah calon isteriku sendiri, Putri Takaoka Sachi,” tukas Zeki yang juga telah melemparkan pandangan matanya ke arah Pangeran Ryszard.


“Balawijaya? Yadgar? Bukankah mereka? Kerajaan yang besar?”


“Kerajaan kami memang besar, namun dibandingkan dengan Sora. Mereka lebih besar,” sahut Adinata menjawab perkataan Raja Piotr.


Aku menoleh ke arah Zeki saat kurasakan tangannya merangkul pundakku, “kau kekanakan sekali,” bisikku ketika ikut kurasakan ciuman yang menyentuh rambutku.


“Aku tidak peduli, aku tidak menyukai tatapan matanya yang mengarah kepadamu itu,” Zeki balas berbisik dengan kembali menciumi kepalaku.


“Para perempuan yang ingin mengikuti festival, dipinta untuk mengambil benih tanaman dan juga cermin yang ada di atas meja!”


Kuarahkan pandanganku ke arah seorang perempuan yang berteriak dengan iringan suara gong yang dibunyikan oleh beberapa orang laki-laki. Aku melangkah, mendekati meja yang dimaksudkan perempuan itu, saat sebelumnya … Haruki menggerakkan kepalanya ketika mata kami saling bertemu.


Aku menghela napas dengan melirik ke arah kanan dan juga kiri, menatap para perempuan yang berkumpul … Berebut satu sama lain. Kutarik napas sedalam mungkin sebelum aku masuk ke dalam kerumunan itu, rasanya sesak sekali ketika tubuhku terdorong ke kanan dan ke kiri bergantian oleh para perempuan yang tak ingin saling mengalah.


“Sebenarnya apa yang mereka makan? Kenapa? Tenaga mereka terasa kuat sekali.”


Suara Julissa menggerutu terdengar, aku tidak bisa memastikan di mana dia berada oleh banyaknya perempuan yang berbaris di sekitarku. Aku mengangkat kedua tanganku, meraih tumpukan benih dan juga tumpukan cermin yang tergeletak di atas meja. Kupeluk dengan erat kedua benda tersebut, sebelum tubuhku kembali terombang-ambing keluar dari kerumunan.


“Astaga … Di mana hiasan kepalaku?” gumamku pelan sambil meraba ke atas kepala.


“Kau keluar sendirian?”


Wajahku terangkat, menatap mereka semua yang telah berdiri berbaris di hadapanku, “aku tidak bisa memastikan, di mana-mana saja mereka berada,” ucapku sambil membalas tatapan Izumi.


“Jika dapat jujur, aku lebih memilih bertarung satu lawan satu menggunakan pedang atau panah. Dibanding harus masuk kembali ke dalam kerumunan itu,” gumamku, aku menunduk dengan meraih cermin yang aku jepit di lengan kananku.


“Apa yang kau dapatkan?”


“Cermin,” ucapku sambil mengangkat cermin di tangan kiriku, “lalu benih-benih tanaman,” sambungku sembari membuka telapak tangan kananku yang berisi penuh biji-bijian.


“Untuk apa kedua benda ini?” tanya Zeki kembali sambil menatapi cermin yang ada di tanganku.


“Untuk meramal masa depan perempuan yang dimaksud bersama pasangannya,” tukas Raja Piotr yang membuatku mengalihkan pandangan ke arahnya.


“Sebaiknya para laki-laki menyiapkan diri, karena selepas perempuan mendapatkan benih dan cermin di tangan mereka. Giliran para laki-laki yang akan berebut menangkap seekor ayam untuk pasangannya.”


“Maksudnya, kami akan menangkap seekor ayam?” timpal Izumi sambil menunjuk dirinya sendiri.


Raja Piotr menganggukkan kepalanya membalas kata-kata Izumi. “Zeki, jika kau mendengarnya! Jangan membuatku malu sebagai pasanganmu, apa kau paham?” Zeki melirik ke arahku, dia lama menatapku sebelum kepalanya itu mengangguk pelan.