Fake Princess

Fake Princess
Chapter CCLXXXI


Yoona duduk kembali ke kursi yang sebelumnya ia duduki. Aku membalas tatapannya yang sedari tadi menatapku, kepalaku mengangguk mencoba menyakinkan nya.


Yoona menarik napas dalam-dalam, diembuskannya kembali napasnya itu dengan kepala tertunduk. Yoona kembali mengangkat kepalanya menatapku dengan sebelah tangannya tergenggam erat di dada...


"Ketika aku pertama kali datang ke sini, aku sudah mengatakan jika kondisi di sini sangatlah buruk bukan?"


"Saat itu, Ayahku menata ulang tempat ini sehingga dapat sedikit layak seperti saat ini. Dulu, tempat ini melarang keras seorang pendatang atau orang asing yang mendekat. Kata Ayah, jika ada yang mendekat... Mereka akan langsung dibunuh, karena ini adalah wilayah khusus milik Kekaisaran."


"Akan tetapi, kondisi para penduduk yang awalnya tidak lain Kesatria yang pernah melayani Kekaisaran malah berakhir dengan sisa hidup yang tidak layak. Jika kau seorang Kesatria yang melayani Kekaisaran, maka kau akan menghabiskan sisa waktumu di sini, dan itu perintah mutlak Kaisar."


"Dengan kata lain, semua penduduk di sini adalah para Kesatria Kekaisaran?"


"Bisa dikatakan seperti itu," sambung Yoona mengangguk membalas perkataan Haruki.


"Karena mereka dilarang melakukan perdagangan maupun interaksi pada dunia luar, tempat ini hancur dari dalam. Apa kalian pernah melihat bangunan kayu mewah yang dijadikan penginapan?"


"Bangunan tersebut milik Ayahku. Ayah, sengaja membangunnya untuk dijadikan tempat para pendatang menginap. Karena bagi Ayah, pendatang diperlukan untuk untuk kesejahteraan tempat ini."


"Tapi selayaknya manusia pada umumnya, para penduduk tidak tahu berterima kasih. Mereka menghujat, mereka mencaci Ayahku di belakangnya."


"Mereka mengatakan, kami tidak butuh para pendatang! Kami ingin desa kami yang dulu!"


"Ayahku mencoba memberi pengertian kepada mereka. Ayahku menjelaskan, jika tak ada pendatang... Mereka akan musnah, mereka akan mati karena tidak ada pemasukan untuk mereka bertahan hidup."


"Para penduduk desa seakan... Baiklah, kami terima, atau kami akan menuruti semua perkataanmu jika memang itu benar. Tapi sayangnya, itu hanya di depan Ayahku... Kebaikan atau sanjungan tersebut hanya mereka lakukan di depan Ayahku, sedangkan di belakangnya..."


"Mereka menghujat keputusan Ayahku, dan itu dilakukan berulang-ulang walau Ayahku telah berusaha memperbaiki semuanya. Walau Ayahku telah berusaha mengabulkan setiap permintaan mereka."


"Dan saat Ayahku meninggal, mereka baru menyesal, mereka baru menangis. Apa kau pikir aku akan memaafkan mereka?"


"Kalian tidak bersalah. Mereka, para penduduk desa inilah... Pembunuh Ayahku yang sebenarnya," tangis Yoona kembali dengan telapak tangan menutupi wajahnya yang tertunduk.


"Yoona," ucapku, ia mengangkat kepalanya menatapku dengan kedua matanya yang memerah.


"Apa kau pernah mendengar cerita ini?" Ucapku tertunduk, kugerakkan kedua tanganku yang memeluk Cia saling menggenggam satu sama lain.


"Dahulu, ada seorang gadis yatim piatu. Saat dia kecil, ia selalu membayangkan... Bagaimana rasanya, jika aku disayang kedua orangtuaku seperti mereka, saat gadis kecil itu memperhatikan orang yang berlalu-lalang tengah bercengkerama dengan keluarga mereka."


"Ketika gadis kecil itu mulai sedikit dewasa, dia yang kesepian... Mencoba untuk mencari teman. Seperti yang diharapkan, gadis itu mendapatkan teman yang ia inginkan. Tapi sayang, karena kelebihan yang gadis itu miliki, semua teman yang ia percaya, semua teman yang ia perlakukan baik dengan segenap hatinya... Malah meninggalkannya."


"Gadis tersebut bingung, gadis tersebut kecewa, gadis tersebut tidak tahu harus melakukan apa. Apakah salah jika aku memiliki sedikit kelebihan Deus? Apakah mereka tidak tahu, jika aku lebih iri dengan kehidupan mereka. Akhirnya, gadis tersebut kembali menarik dirinya..."


"Dia menyimpan semua kelebihan yang ia miliki. Jika ada yang mencoba berbicara dengannya, dia akan memasang topeng hingga orang lain tidak mengetahui... Siapa sebenarnya gadis itu."


"Lalu, apa selanjutnya?" Ucap Yoona menatapku.


"Kelanjutannya, gadis tersebut kehilangan nyawanya. Ia dibunuh oleh seorang penjahat yang tidak dikenal, ia mati... Tanpa mengucapkan selamat tinggal pada mereka yang semasa gadis itu hidup, membantunya menjadi sosok manusia pada umumnya."


"Jadi, tidak ada kebahagiaan untuknya?"


"Ada, ada kebahagiaan lain untuknya. Gadis tersebut, terlahir kembali di keluarga yang sangat menyayanginya, dengan teman-temannya yang senantiasa mendukungnya, serta seorang pasangan yang akan melakukan apapun untuk kebahagiaannya. Aahh maafkan, aku terlalu terbawa suasana menceritakannya," ucapku mengusap air mataku yang tiba-tiba jatuh.


"Aku tidak tahu, cerita tadi ada hubungannya atau tidak dengan kehidupan Ayahmu. Akan tetapi, manusia memanglah terlahir seperti itu..."


"Saat seorang pelayan, memberikan dua buah handuk padamu. Handuk yang satu putih bersih tanpa sedikitpun kotoran, sedangkan yang satunya terdapat sedikit sekali kotoran. Handuk yang mana yang akan menjadi perhatian pertamamu? Tentu saja yang kotor bukan?"


"Kau akan marah kepada pelayan itu, kau akan membentaknya dengan kata-kata seperti... Kenapa kau memberikan handuk kotor padaku, kenapa dan kenapa... Padahal, masih ada handuk satunya yang bersih tanpa kotoran."


"Manusia, lebih terfokus melihat satu keburukan dari seseorang, lalu melupakan semua kebaikan yang ia lakukan. Kecewa? Tentu, setiap manusia pasti merasakannya. Yang membedakan, hanya bagaimana kita menghadapinya..."


"Bertahan dengan berharap semua akan segera membaik, atau pergi saat kau rasa sudah tidak ada lagi yang dapat kau lakukan."


"Pilihan kedua, terdengar seperti pengecut bukan? Akan tetapi, bukan senjata yang lebih ampuh membunuh seseorang. Melainkan kata-kata yang keluar tanpa memikirkan orang yang mereka bicarakan lah yang sangat ampuh membunuh orang yang dimaksud..."


"Semua akan berakhir seiringnya waktu, itu benar... Akan tetapi jika dirimu tak mampu menyembuhkan luka itu sendiri, maka lukanya tidak akan sembuh sampai kapanpun."


"Ayahmu pasti orang yang sangat bijaksana. Andaikan dia sekarang masih hidup, aku ingin sekali belajar apapun darinya," ucapku kembali dengan kepala tertunduk.