Fake Princess

Fake Princess
Chapter CCLXXVIII


Aku berdiri di samping Haruki, sesekali mataku melirik ke arah Lux yang tengah mengusap-usap kepala Uki di dalam tas yang aku bawa. Pandangan mataku kembali teralihkan pada Izumi yang berjalan mendekat dengan Cia di gendongannya dan Eneas berjalan di sampingnya.


Suara kuda terdengar dari kejauhan, kepalaku menatap pada barisan laki-laki yang berjalan mendekat dengan sebuah kereta kuda berserta sebuah gerobak dengan tubuh seseorang berselimut kain putih kemerahan di atasnya.


Kereta kuda tersebut berhenti di depan kami, laki-laki kepala botak itu melangkah lalu membukakan pintu kereta kuda itu. Haruki berjalan dengan menarik pelan tanganku menuruni tangga bangunan pertarungan...


"Kami akan ikut berjalan bersama kalian," ucap Haruki saat anak tangga tersebut berakhir.


"Apa kau tidak mempercayai kami?" Ucap laki-laki berkepala botak menatap Haruki.


"Kami hanya ingin memberikan penghormatan padanya," jawab Haruki berbalik ke kanan.


Suara helaan napas keluar diikuti suara pintu tertutup memenuhi keadaan sekitar. Bunyi lonceng yang menggantung di atas kereta berbunyi tatkala kuda yang menariknya bergerak. Suara sesenggukan masih terdengar sepanjang hari ini...


Beberapa laki-laki yang berjalan di hadapan kami menundukkan kepala mereka. Bahkan, beberapa laki-laki yang berdiri di tepi jalan ikut menunduk. Anak-anak kecil yang sebelumnya tak pernah aku lihat, ikut berdiri di tepi jalan dengan suara tangis yang ikut terdengar.


Apa aku masih berada di tempat sebelumnya? Apa, aku masih berada di tempat yang disebut-sebut surga itu? Pemandangan apa ini? Kenapa semuanya terlihat berbeda sekali dari sebelumnya.


Izumi bergerak menyamping, kepalanya tertunduk dengan sebelah telapak tangannya memegang kepala Cia. Kutatap pakaian yang ia kenakan telah basah, sebuah mangkuk tembikar yang terpecah dua telah jatuh di samping kaki Kakakku itu.


"Pembunuh!"


"Kalian tidak diinginkan di sini!"


"Enyahlah!"


"Tuan," tangis dan ucap beberapa orang mengusik telinga.


"Nii-chan," ucapku menggerakkan telapak tangan menyentuh pundaknya.


"Aku baik-baik saja," ucap Izumi berbalik lalu berjalan kembali.


Gerobak dengan mayat Hanbal berjalan lalu berhenti di sebuah bangunan luas terbuat dari tanah. Tidak seperti bangunan lainnya, bangunan luas yang ada di hadapan kami itu dibatasi sebuah tembok yang tidak terlalu tinggi.


Gerobak tersebut masuk melewati sebuah gerbang tanpa pintu pada tembok yang mengelilingi bangunan itu. Pandangan mataku membesar saat kami berjalan masuk...


Seorang perempuan bergaun hijau terduduk lemas dengan kedua tangannya menutup mulut. Kepalanya tertunduk diikuti tangisan keras yang keluar darinya, perempuan tersebut kembali beranjak lalu berlari mendekati gerobak tersebut.


"Ayah," tangisnya kuat, dia berlutut dengan kedua tangan memeluk jasad Hanbal yang terbaring di atas kereta.


Haruki melangkah maju, langkahnya terhenti ketika beberapa pria yang menarik gerobak sebelumnya berdiri menghalanginya. Empat laki-laki tadi bergerak ke samping saat Haruki menatap lama mereka.


"Apa kau anaknya?" Ucap Haruki menghentikan langkah kakinya di samping perempuan tadi.


Perempuan itu beranjak berdiri, kedua tangannya mengusap kedua matanya beberapa kali. Dia berbalik menatap Haruki, matanya yang merah... Jelas sekali terlihat walau dari kejauhan.


"Jika kau ingin membunuhku. Kau bisa melakukannya saat ini juga," ucap perempuan tersebut dengan kepala tertunduk, kedua tangannya kembali bergerak menutupi wajahnya.


"Aku tidak akan membunuhmu," ucap Haruki melangkah melewati perempuan tadi.


"Jadi kau, mempertahankan aku untuk menjadi seorang budak," tukas perempuan itu dengan suara bergetar.


"Aku paham. Tapi izinkan aku, memakamkan Ayahku terlebih dahulu," ucap perempuan itu kembali, kali ini suaranya terdengar lebih bergetar dari sebelumnya.


"Kau dapat mengundang para penduduk untuk menghadiri pemakaman," ucap Haruki membalas perkataan perempuan tersebut.


"Jangan bercanda!" Teriak perempuan tadi membalikkan tubuhnya menatap punggung Haruki.


"Ayahku tidak melakukan kesalahan apapun. Semuanya, aku mengawasinya selama ini... Semua yang ia lakukan tidak lain untuk para penduduk yang hidup di sini," sambungnya kembali menutup wajah menggunakan telapak tangannya.


"Ayahmu membunuh banyak sekali orang, dia bahkan membuang banyak sekali mayat dengan memberikannya pada beberapa burung liar," ucap Haruki berbalik menatapi perempuan itu.


"Kau salah. Semua yang dibuang, mereka adalah para pengacau dari luar yang ingin membuat rusuh di tempat ini..."


"Tempat ini dahulu adalah wilayah kekuasaan Kaisar. Kaisar..."


"Nona," ucap laki-laki berkepala botak menghentikan ucapan perempuan itu.


"Tidak apa-apa Jabari. Lagi pun, dia akan memimpin tempat ini dan memimpin kalian semua setelah upacara pemakaman selesai," ucap perempuan tersebut dengan tetap menundukkan kepalanya.


"Lanjutkan. Ceritakan semuanya padaku, tapi sebelum itu... Kalian, bawa jasadnya ke dalam lalu persiapkan semua hal untuk pemakamannya," ucap Haruki menatapi beberapa laki-laki yang ada di hadapannya lalu bergerak kembali melirik pada mayat Hanbal.


Para laki-laki tersebut berjalan mendekati gerobak, lalu bergotong royong mengangkat jasad Hanbal masuk melewati pintu rumah tanah yang yang telah terbuka. Beberapa laki-laki yang berdiri di belakang dan samping, mereka semua berbalik meninggalkan kami, ada yang berjalan dengan menarik gerobak bahkan kusir yang membawa kereta kuda... Kembali menggerakkan kudanya berjalan meninggalkan kami.


"Nona," ucap laki-laki berkepala botak tersebut, matanya masih tertuju menatapi punggung perempuan muda itu.


"Pergilah Jabari, tolong bantu aku mengurusi semua keperluan untuk upacara pemakaman Ayahku," jawab perempuan tersebut padanya, diikuti laki-laki berkepala botak itu berjalan meninggalkan kami.


"Aku akan mengantarkan kalian ke dalam rumah," ucap perempuan itu kembali, dia berjalan melewati Haruki dengan kepala tertunduk.


"Maaf. Maaf, karena telah membunuh Ayahmu," ucap Haruki berbalik lalu membungkukkan tubuhnya ke arah perempuan tadi.


"Kumohon, jangan meminta maaf."


"Aku paham benar bagaimana ditinggal oleh orang yang sangat berharga untuk kita. Aku, akan memberikanmu kebebasan setelah acara pemakaman berakhir," ucap Haruki beranjak lalu berjalan meninggalkan perempuan tersebut.


Izumi berjalan melewati diikuti oleh Eneas di belakangnya. Kedua kakiku ikut melangkah mengikuti mereka, kulirik perempuan tadi yang masih tertunduk dengan kedua tangan menutupi wajahnya.


Kuhentikan kedua langkah kaki, aku berbalik dengan helaan napas yang kuat terdengar. Kakiku kembali bergerak mendekati perempuan itu, lama aku berdiri di hadapannya... Menatapnya yang masih terisak.


"Apa kau tahu? Ayahmu, sebelum kematiannya... Dia menginginkan kami untuk menjadi budaknya," ucapku, perempuan itu mengangkat kepalanya menatapku.


"Apa kalian mencoba untuk membalas semua yang Ayahku ucapkan?"


"Bukan seperti itu. Akan tetapi, aku sepertinya paham benar, apa alasannya... Kau kesepian bukan?"


"Kau membutuhkan seorang teman bukan?" Ucapku lagi padanya, perempuan itu menatapku dengan kedua matanya yang sedikit membesar.


"Apa maksudmu?"


"Ayahmu, dengan kata lain... Ia sangat memikirkan mu. Dan, aku berharap kau jangan menyimpan dendam apapun ke depannya... Karena bagaimanapun, pertarungan yang terjadi sebelumnya telah menjadi kesepakatan di antara mereka."


"Aku memahami benar apa yang kau rasakan, karena jika Ayahmu yang menang... Maka aku, akan kehilangan Kakakku."


"Aku tahu, aku tidak pantas melakukannya. Tapi, Takaoka Sachi," ucapku kembali padanya, kuarahkan telapak tangan kananku ke arahnya.


"Alih-alih menjadi budak, atau dibebaskan oleh Kakakku begitu saja di dunia yang sangat berbahaya ini. Lebih baik, berteman denganku saja bukan? Namamu, aku ingin mengetahui namamu," sambungku kembali menatapnya.


"Yoona. Bae Yoona," ucapnya berjalan melewatiku.


"Bae? Bae Yoona? Keluarga Kerajaan?" Tukasku berbalik menatap perempuan tadi yang telah menghilang dari pandangan.