Fake Princess

Fake Princess
Chapter CLXXIII


"Nii-chan," ucapku seraya ikut berdiri di samping Haruki.


"Apa kau melihat panahku?" sambungku seraya kuarahkan pandanganku menatapnya.


"Panahmu ada padaku, akan kuberikan nanti setelah aku memeriksanya," ungkap Izumi, kualihkan pandanganku padanya yang tengah membuka lembaran kulit pembungkus ujung tombak besar miliknya.


"Apa kau yakin dapat menggunakan benda berat itu nii-chan?"


"Jangan samakan tubuhku dengan tubuhmu yang lemah itu, lagipun bukan hanya aku... Haruki, Zeki bahkan Adinata juga akan menggunakan senjata yang sama," ungkap Izumi, kualihkan pandanganku pada pisau besar seperti kapak yang menjadi ujung tombak miliknya, digerakkannya tombak tadi hingga kilapan sinar matahari yang jatuh padanya menyilaukan sedikit mataku.


"Kau juga bisa menggunakan tombak Haru nii-chan? Bukankah kau hanya menggunakan pedang selama ini?"


"Kami Pangeran, sudah sepantasnya seorang Pangeran menguasai berbagai macam senjata. Dan masalah tombak? Aku dan Izumi seringkali berlatih berdua saat kau pulas tertidur saat di Istana dulu," ucapnya seraya mengusap pedang yang ada di tangannya dengan sebuah kain kecil berwarna putih.


"Nii-chan," ucapku lagi padanya.


"Ada apa?"


"Kau mengatakan bukan jika seorang Jenderal adalah pemimpin mutlak dalam pertarungan, lalu siapa Jenderal di Kerajaan kita?"


"Tentu saja Ayah, akupun mengetahuinya dari Tatsuya dahulu. Jika Ayah kita, selalu terjun langsung memimpin pertempuran, itulah kenapa? Dia sangat dihormati oleh para Kesatria dan juga Duke berserta pasukannya," sambung Haruki menjawab perkataanku.


"Berbicara tentang Duke, apa Kerajaan kalian tidak mempunyai seorang Duke?"


"Tentu saja punya, tapi dia ditugaskan Ayahku untuk menjemput calon isterinya Danur. Aku pikir kabar yang diterima Ayah, berasal langsung dari Duke," ucap Adinata seraya memasukkan kembali pedang yang ia genggam ke dalam sarung yang ada di sebelah tangan lainnya.


__________________


Kuarahkan kakiku keluar dari dalam tenda kain yang dibuat oleh para Kesatria untukku, kutatap para Kesatria, para perompak, dan para rakyat biasa yang berbaur di sepanjang bukit...


Tong-tong kayu berisi Alkohol tampak berbaris rapi di dekat mereka, kutatap beberapa dari mereka yang berjalan mendekati tong-tong kayu tersebut. Suara riuh keramaian yang mereka hasilkan memecah keheningan malam...


Kualihkan pandanganku pada Zeki yang berjalan mendekati, kutatap piring besar berisi penuh makanan yang ada di tangannya lengkap dengan sebuah cangkir besar di tangan satunya...


Berjalan dan duduk ia di sampingku, kuarahkan pandanganku padanya yang terlihat meletakkan piring berisi penuh makanan tadi ke atas rumput yang ada di sampingnya seraya diarahkannya telapak tangannya menepuk-nepuk rumput yang ada di dekatku...


Kugerakkan tubuhku duduk di sampingnya, bergerak ia ke samping seraya mengarahkan piring berisi makanan tadi kepadaku. Kuarahkan kedua telapak tanganku meraih piring yang ada di tangannya tadi...


"Kau tidak minum-minum alkohol seperti mereka bukan?" ucapku menatapnya dengan kedua mataku yang menyipit.


"Kau bisa menciumi seluruh tubuhku, apakah ada bau alkohol di sana ataupun tidak," ucapnya seraya mengangkat kepalanya ke atas.


"Kau benar-benar tidak melakukannya bukan?"


"Cerewet? Apa kau lebih memilih perempuan seperti Putri Khang itu, yang hanya mengangguk menerima apa yang kau katakan?"


"Makan, makanlah yang banyak! Buatlah otakmu itu berpikir sedikit lebih jernih," ucapnya, seraya sebelah tangannya mengapit mulutku sedangkan tangannya yang lain mengarahkan potongan daging yang ada di dalam piring ke mulutku.


"Apa kau ingin membunuhku?" ucapku seraya mengambil potongan daging dari mulutku tadi, kugerakkan mulutku mengunyah sedikit daging yang telah aku gigit sebelumnya.


"Kemarilah!" ucapku lagi seraya sebelah tanganku lainnya menepuk-nepuk pelan pahaku.


"Kau belum beristirahat bukan?" sambungku lagi padanya.


"Minum untukmu," ucapnya seraya mengarahkan sebuah cangkir besar padaku, kuletakkan piring yang ada ditanganku ke atas rumput seraya kuraih cangkir besar yang ada di tangannya tadi.


Digerakkannya tubuhnya mendekat seraya diarahkannya kepalanya bersandar di atas pahaku. Kuarahkan sebelah tanganku yang memegang daging sebelumnya seraya kubasuh tanganku tadi menggunakan sedikit air yang kutuangkan dari dalam cangkir...


Kuletakkan cangkir tadi di samping piring berisi makanan tadi, kualihkan pandanganku padanya yang telah memejamkan matanya. Kugerakkan telapak tanganku mengusap-usap pelan rambutnya seraya sebelah tanganku yang lain menepuk-nepuk pelan pundaknya.


________________


"Panahmu," ucap Izumi, menoleh aku ke arahnya yang tengah berjalan mendekat dengan sebuah busur berada di tangannya.


"Terima kasih," ungkapku meraih busur panah tadi darinya.


"Apa kau memperbaiki talinya nii-chan?" ucapku lagi, seraya kuarahkan sebelah tanganku mengapit dan menarik tali yang ada di busur itu.


"Aku memperbaikinya sedikit, agar anak panahmu melesat sedikit lebih jauh dari biasanya," ungkapnya seraya berbalik membelakangi.


"Apa kau telah siap, Sachi? Musuh kemungkinan besar akan datang sebentar lagi..."


"Semuanya sudah berada di posisi yang kau perintahkan, semua senjata dan juga jebakan yang kau inginkan telah kami selesaikan. Masalahnya, apa kau sudah siap melihat ribuan nyawa menghilang karena semua rencana yang kau buat?" ucapnya lagi tanpa menoleh ke arahku.


"Aku takut, dan aku mengakuinya. Tapi aku lebih takut kehilangan orang yang aku sayangi karena sifatku ini, apa kau pikir aku dapat melakukannya nii-chan?"


"Entahlah, selama ini kau dapat mengambil keputusan dengan baik karena selalu ada Haruki yang menuntunmu. Tapi sekarang, kami memang mendukungmu... Tapi kami tidaklah berada di sampingmu, karena itu Adikku, tidak akan ada yang membencimu jika kau menghilangkan sedikit kebaikanmu..."


"Lakukan apa yang menurutmu harus kau lakukan, dibunuh maupun membunuh itu sudah biasa di zaman ini. Tidak akan ada kedamaian sempurna karena setiap manusia pasti bersikeras untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan... Apa kau masih mengingat perkataanku dulu?" ucapnya lagi seraya tersenyum menatapku.


"Hanya pikirkan saja senyum dari orang-orang yang kau sayang, pikirkan bagaimana caramu melindungi senyum mereka," ungkapku membalas perkataannya.


"Kau mengingatnya?" ucapnya, mengangguk aku membalas perkataannya.


"Jadi hanya pikirkan saja hal itu, kau akan tumbuh kuat seiring waktu. Dan sudah tugas kami sebagai Kakak, untuk selalu bersamamu sampai saat itu datang," sambungnya tersenyum menatapku.