Fake Princess

Fake Princess
Chapter CLXXVII


"Apa ikatannya terlalu kencang untukmu?" ucapku seraya kugerakkan jari-jemariku mengikat kain yang menyelimuti tubuh Zeki.


"Kau mengikatnya terlalu kencang, apa kau ingin membuatku mati karena kehabisan napas," ucapnya seraya kualihkan pandanganku menatap wajahnya yang ia gerakkan menoleh ke belakang.


"Kalau seperti ini?" ungkapku seraya membuka kembali ikatan pada kain lalu mengikatkannya lagi, kuarahkan pandanganku padanya yang mengangguk membalas perkataan dariku.


"Beristirahatlah. Aku telah meninggalkan air minum untukmu, panggil aku jika kau membutuhkan sesuatu," ungkapku seraya beranjak berdiri.


"Kau mau kemana?" ucapnya, kuarahkan pandanganku padanya yang menggenggam lenganku.


"Menemui Kakakku, dan memberikan waktu untukmu beristirahat," tukasku padanya.


"Tidak bisakah..." ucapnya terhenti, diangkatnya kepalanya itu menatapku.


"Kau di sini saja, kumohon," ucapnya lagi seraya dialihkannya pandangannya dariku.


"Aku tidak tahu kau akan bertingkah seperti anak kecil saat sedang terluka, Kapten," ungkapku seraya kugerakkan tubuhku berjongkok di hadapannya.


"Kau tidak ingin melakukannya?"


"Aku mengerti, berbaringlah... Aku akan menjagamu," ucapku lagi padanya.


Beranjak berdiri aku seraya kugerakkan lenganku membantunya membaringkan tubuhnya dengan posisi terlungkup. Kugerakkan kedua kakiku mendekati sebuah kotak kayu berisi penuh kain, kuambil sehelai selimut di dalamnya seraya kembali kulangkahkan kakiku mendekati Zeki...


Kubuka lipatan pada selimut berwarna cokelat tersebut seraya kuarahkan selimut tadi menyelimuti ujung kaki hingga pinggangnya... Kembali berjalan dan duduk aku di samping kepalanya yang telah dibaringkannya di bantal...


Kugerakkan jari-jemariku mendekati kunciran yang masih mengikat kuat rambutnya seraya kubuka dengan sangat perlahan kunciran tersebut... Jari-jariku kembali bergerak menyusuri rambut hitamnya yang sedikit panjang tersebut sembari sesekali kutepuk-tepuk pelan kepalanya.


"Zeki, apa kau telah tertidur?" ucapku pelan seraya kualihkan telapak tanganku mengusap pipinya.


"Ada apa?"


"Entahlah, aku hanya berpikir... Jika saja aku tidak lahir di dunia ini, mungkin kedua Kakakku tidak akan berambisi untuk memberontak pada Kekaisaran. Dan mungkin sekarang, mereka yang mati di luar sana masih bisa berkumpul bersama keluarga mereka masing-masing sekarang..."


"Lalu, bagaimana denganku?" ucapnya memotong perkataanku.


"Entahlah, karena kadang aku merasa tidak pantas mendapatkan kasih sayang dari siapapun. Karena pada awalnya, aku tidak pernah memberikan kebaikan pada seseorang, aku hanya memanfaatkan banyak orang untuk kepentinganku sendiri."


"Aku hanya menginginkan kebahagiaan, tidak bisakah aku mendapatkannya dengan mudah?" ungkapku lagi padanya.


"Kemarilah, berbaringlah di sampingku. Aku tidak bisa melihat wajahmu," ucapnya, kualihkan pandanganku pada telapak tangannya yang ia gerakkan menepuk-nepuk kain yang ada di sampingnya.


"Aku tidak mau," balasku padanya.


"Takaoka Sachi, jangan membuatku bergerak menarikmu, apa kau ingin membuat luka yang ada di punggungku kembali terbuka?"


"Kau tidak akan membunuhku bukan karena mengucapkan kata-kata tadi?"


"Kemarilah sayangku, aku tidak akan melakukannya padamu," ucapnya lagi, seraya kembali ia menggerakkan telapak tangannya.


"Sakit," ungkapku, kuarahkan telapak tangan kananku mengusap pelan pipiku.


"Buang pikiran jelekmu, buang pikiran jelekmu itu... Kau bodoh," ucapnya, kembali kurasakan rasa sakit di dahiku akibat pukulan dari jari-jari tangannya.


"Banyak sekali orang yang merasa tertolong olehmu, tidak peduli kebaikan yang kau lakukan itu palsu ataupun tidak. Asalkan, memberikan arti kepada orang lain... Itu sudah lebih dari cukup..."


"Sikap pesimis yang kau punya ini benar-benar..." ucapnya lagi seraya kembali ia mencubit kuat pipiku.


"Dengarkan aku," sambungnya, dilepaskannya cubitan yang ia lakukan seraya kutatap ia yang beberapa kali tak henti-hentinya menghela napas.


"Semua orang ingin kau bahagia, aku, Ayahmu, kedua Kakakmu... Kami menginginkan hal yang sama untukmu, jika kau lelah hanya bersandar di salah satu pundak kami..."


"Jika kau muak, hanya sembunyikan dirimu di salah satu punggung kami. Kau sendirilah yang selalu menarikku tiap kali aku mencoba menjauh Sachi, jadi pertanggung-jawabkan semuanya..."


"Jika kau ingin menghilang, sembuhkan dulu hatiku. Jika tidak, aku tidak akan melepaskanmu. Kebahagiaan? Apapun itu, aku akan mewujudkannya..."


"Kau ingin menghancurkan Kekaisaran bukan? Kau ingin membahagiakan semua orang bukan?" ucapnya lagi, kurasakan telapak tangannya menyentuh pipiku.


"Jadi percayakan semuanya padaku, aku akan mewujudkannya. Aku akan mewujudkan semuanya... Mimpimu, angan-angan milikmu..."


"Apa kau membenci sikap pesimis ku ini?" ungkapku memotong perkataannya.


"Akupun seringkali merasa pesimis, dan setiap manusia pasti akan merasakannya. Jadi, jika kau memunculkan sikap pesimis itu lagi... Aku hanya tinggal memukul-mukul kepalamu lagi..."


"Aku menyukai setiap kelebihan maupun kekurangan yang kau punya, karena jika kau tidak punya kelemahan... Aku tidak akan punya kesempatan untuk bersanding denganmu, karena itu.... Tidurlah, kau membuat waktuku untuk beristirahat berkurang..."


"Aku mengerti," ucapku seraya berusaha beranjak duduk.


"Kau mau kemana?" ungkapnya seraya meletakkan lengannya menahan pundakku.


"Keluar, meninggalkanmu berisitirahat," ucapku menoleh menatapnya.


"Tidurlah di sini, di luar terlalu banyak laki-laki."


"Tapi kau juga laki-laki."


"Apa yang bisa dilakukan oleh laki-laki yang punggungnya terluka sepertiku?"


"Tidurlah, aku mengkhawatirkanmu. Kau pun pasti lelah bukan?" sambungnya lagi padaku.


"Aku mengkhawatirkan hari esok, aku tidak tahu... Semua rencanaku akan berhasil kembali ataupun tidak nantinya."


"Apa kau kehilangan kepercayaan dirimu? Bagaimana jika kukatakan, aku menyerahkan hidupku pada semua keputusanmu... Apa kau masih akan kehilangan kepercayaan dirimu itu?"


"Kau mengatakannya karena kau sendiripun telah mengetahui jika aku akan merubah sikapku jika itu menyangkut nyawa seseorang bukan?"


"Jangan salahkan aku, kau sendirilah yang menunjukkan sifatmu yang sebenarnya padaku," ungkapnya, kembali dicubitnya pipiku seraya tersenyum ia menatapku.