
“Putri,” tukas suara laki-laki yang terdengar.
Aku mengangkat wajahku, menoleh ke arah suara lak-laki tadi, “Tsu nii-chan,” ucapku menatapnya, “bisakah, Tsu nii-chan membantuku mengangkat adikku?” tanyaku kembali kepadanya.
Tsubaru masih tertegun, dia tak bersuara, hanya kedua matanya saja yang melirik ke arah kanan dan kiri tubuhku bergantian. Tsubaru berjalan maju lalu menekuk kakinya, berlutut di hadapan Ibuku, “Salam Ratu. Tsubaru, saya yang ditugaskan untuk menjaga Putri Takaoka Sachi semenjak dia kecil,” ucap Tsubaru meletakkan telapak tangannya ke dada dengan kepalanya yang tertunduk.
“Terima kasih, karena telah menjaga Putriku. Aku, benar-benar berterima kasih, kepadamu,” ungkap Ibu dengan suaranya yang terdengar bergetar.
"Ibu," bisikku pelan di sampingnya, aku melirik ke arah Tsubaru saat dia menoleh ke arahku.
"Berdirilah kembali," tukas Ibuku yang seakan mengerti apa yang aku maksudkan.
"Sebelah sini, Yang Mulia."
“Ku- Kudou,” aku melirik ke arah Ibuku, lalu menggerakkan wajahku ke arah yang ia tatap.
Aku menganggukkan kepala saat Ayah melirikkan matanya ke arahku. Aku kembali menoleh ke arah Ibuku lalu menganggukkan kepala, saat dia menoleh ke arahku ketika aku menyentuh punggungnya. Aku berjalan sedikit mundur saat Ayah berjalan mendekat, lama mereka saling tatap sebelum Ayah memeluk kuat Ibu.
“Kau, benar-benar, Ardella?” tanya Ayahku dengan suara yang bergetar, Ibuku mengangguk sebelum dia membenamkan wajahnya di dada Ayahku.
“Apa kau, sungguh-sungguh Ardella?” sambung Ayahku lagi dengan meletakkan telapak tangannya di pipi Ibu.
“Apa kau, telah melupakanku?”
"Bagaimana bisa aku melakukannya," tukas Ayah sambil menempelkan keningnya di kening Ibu
“Tapi, bagaimana?” sambung Ayah kembali saat lirikan matanya beralih kepadaku.
“Sachi akan menjelaskan semuanya, Ayah. Dibandingkan itu, aku membawakanmu satu lagi, Putra,” ucapku sembari berjongkok di samping saudaraku dengan merangkul pundaknya menatap Ayah, “dia kembaranku, wajah kami terlihat mirip, bukan?” tukasku kembali sambil tersenyum menatapnya.
Ayah melepaskan pelukannya pada Ibuku, dia berjalan mendekati kami saat Ibu menganggukkan kepalanya ketika Ayah mengalihkan wajahnya menatap Ibu. Ayah berjongkok, saudaraku itu langsung bergerak memeluk tubuhku saat telapak tangan Ayah bergerak mendekatinya. “Tidak apa-apa, dia Ayah kita. A-yah,” ucapku kepadanya menggunakan bahasa Latin.
“Dia tidak mengerti bahasa kita, dan kakinya tidak bisa berjalan karena terlalu lama dipasung,” ungkapku lagi dengan mengalihkan pandanganku kepada Ayah.
Ayah menyentuh pelan pipinya, “tidak apa-apa. Kau aman di sini, Ayah, akan menjagamu,” ungkap Ayahku sambil tersenyum menatapnya.
“Kita aman di sini, Ayah, akan menjaga kita,” lanjutku tersenyum mengulangi perkataan Ayah menggunakan bahasa yang berbeda.
Ayah beranjak berdiri dengan menoleh ke arah Tsubaru, “persiapkan kamar untuk Putri Sachi tempati dan juga,” ungkap Ayahku berhenti sejenak dengan melirik ke arah saudaraku itu, “persiapkan juga kamar, untuk ditempati Pangeran Ryuzaki. Untukmu Arata, aku memerintahkanmu untuk menjadi Pengawal pribadi Pangeran Ryuzaki,” ucap Ayahku sambil melemparkan pandangannya ke arah Arata yang berdiri bersamaan dengan beberapa Kesatria yang lain.
“Laksanakan, Yang Mulia,” tukas Tsubaru dan juga Arata bersamaan dengan membungkukkan tubuh mereka ke arah Ayahku.
“Putri, izinkan kami untuk membantunya.”
“Ah,” ungkapku menatap Tsubaru saat dia dan Arata telah berdiri di hadapan kami. “Mereka akan menolongmu, mereka semua baik, jadi jangan Takut, Ryu,” sambungku sembari beranjak berdiri hingga Tsubaru dapat berdiri di sampingnya.
Ryu menoleh ke arahku ketika Tsubaru dan Arata memapah tubuhnya. Kepalaku mengangguk pelan, berusaha untuk menyakinkannya agar dia tidak takut. “Bawa dan tuntun Ratu ke kamarku, persiapkan semua kebutuhannya sesegera mungkin," ucap Ayah yang membuatku menoleh ke arahnya.
Aku masih menatapnya yang tengah berdiri di samping Ibuku, Ayah menoleh ke arahnya dengan menyentuh punggung Ibu, “ikutilah mereka. Aku akan segera menyusul setelah berbincang dengan Putrimu,” tukas Ayah yang dibalas anggukan kepala oleh Ibu.
Ayah berjalan mendekat, dia terdiam diikuti wajahnya yang terlihat menyimpan banyak sekali pertanyaan di dalamnya. “Ayah,” ucapku merangkulkan tangan di lengannya, “bagaimana jika kita berjalan-jalan di taman sambil membicarakannya?” ungkapku yang dibalas anggukan pelan dari Ayahku.
Kami berjalan berdampingan, Ayah masih terdiam tanpa mengeluarkan suara apa pun dari bibirnya, “aku, tidak sengaja menemukan suku berisi mata hijau sepertiku, Ayah. Apa Ayah telah mengetahui, jika Ibu bukanlah manusia?” tanyaku dengan tetap mengarahkan pandangan ke depan.
“Ayah tahu, sejak pertama kali Ayah menemukannya … Ayah sudah tahu dengan hanya melihat telinganya. Ibumu, selalu berusaha menutupi telinganya itu, karena itulah … Ayah berpura-pura tidak mengetahuinya,” jawab Ayahku yang pelan terdengar.
“Di sana, mereka berdua dikurung. Tapi, aku tidak ingin jika Ayah menyimpan dendam pada mereka yang bermata hijau itu … Karena walau bagaimana pun, mereka membiarkan Ibu dan Adikku tetap hidup, itu sudah lebih dari cukup. Dan juga, Kakek mengatakan … Jika aku dapat meminta bantuannya saat terjadi sesuatu,” ungkapku dengan mengangkat pergelangan tangan yang dililit gelang akar pemberian Kakek.
“Kakakmu, bagaimana dengan mereka?”
“Aku meninggalkan mereka di Yadgar, aku sudah meminta Kou untuk menjemput mereka. Mereka, belum mengetahui hal ini, Ayah.”
“Ayah?” tukasku ikut menghentikan langkah saat dia telah menghentikan langkah kakinya.
“Ayah, tidak tahu … Harus bagaimana berterima kasih kepadamu, Putriku,” ungkapnya tertunduk dengan menutup wajah menggunakan sebelah telapak tangannya.
"Ayah, selalu menyalahkan diri sendiri. Jika saja Ayah becus menjaga Ibu-ibu kalian, kalian tidak akan menderita seperti sekarang," sambungnya dengan mengusap telapak tangannya ke matanya.
Aku bergerak dengan menjinjitkan kaki memeluknya, “jangan berkata seperti itu, Ayah. Kalian keluargaku, aku sungguh-sungguh bahagia melihat keluargaku bahagia. Asalkan, Ayah tidak akan tertukar antara aku dan juga Ibu,” ungkapku yang langsung dibalas oleh pukulan pelan Ayahku di kepala.
“Ayah tidak akan tertukar, kalian berdua terlihat berbeda di mata Ayah. Ibumu terlalu anggun untuk diikuti Putri yang tidak bisa berdiam diri sepertimu,” ungkap Ayahku dengan mencubit kuat hidungku.
“Aku menyayangimu, Ayah. Jangan bersedih lagi, karena aku telah membawa kembali Isterimu. Jika Ayah ingin menambah anak, pastikan berikan aku seorang adik perempuan yang cantik,” ungkapku berjalan mundur berusaha menghindarinya.
“Apa seperti itu, caramu berbicara kepada Ayahmu. Kemarilah, Ayah akan menghukummu,” tukasnya dengan berjalan mengikutiku dari belakang.
“Ayah, Ibu pasti telah menunggumu. Nikmati waktu kalian berdua sebanyak mungkin, sebelum kedua kakakku itu pulang,” ungkapku berbalik lalu tersenyum menatapnya.
“Beristirahatlah. Kau juga pasti lelah, bukan? Ayah akan memerintahkan para koki untuk memasak makanan kesukaanmu,” tukas Ayahku, dia balas tersenyum dengan menghentikan langkahnya menatapku.