Fake Princess

Fake Princess
Chapter DLXXIX


Eneas menggelengkan kepalanya, “aku hanya bertemu denganmu, Sachi nee-chan.”


Aku mengembuskan napas dengan mendongakkan kepala ke atas ketika Eneas mengatakannya, “di mana mereka?” gumamku, aku kembali menurunkan pandangan sambil menggigit ibu jariku sendiri.


“Bagaimana, Lux? Apa kau tahu?”


“Aku tidak tahu, terlalu banyak manusia yang berkerumun. Aku mengetahui Eneas, karena tubuhnya samar-samar tercium bau racun,” balas Lux berbisik di telingaku.


“Eneas, kita harus mencari mereka,” ujarku, aku meraih tangan Eneas dengan menariknya untuk berjalan mengikutiku.


Kami berdua, berjalan beriringan membelah kerumunan. Sesekali, aku melirik ke sekitar dengan langkah kaki yang terus berlanjut. “Nee-chan, haruskah kita berteriak? Aku pikir, kita akan mudah menemukan mereka jika berteriak.”


“Haru nii-chan, akan mengetahui jika kita mencoba untuk mengikutinya. Kau sudah pasti bisa membayangkannya, bukan? Bagaimana dia saat sedang marah?”


Aku menoleh ke arah Eneas yang menghela napas di sampingku, “aku justru tidak ingin membayangkannya,” jawab Eneas menimpali perkataanku.


Mataku, bergerak melirik bayangan seseorang yang baru saja melewati kami. Dengan cepat aku menarik tangan Eneas lalu mempercepat langkah mengikuti sosok pemuda yang aku maksudkan. “Nee-” perkataan Eneas sekejap langsung berhenti saat jari telunjukku terangkat mengatup bibir.


Aku kembali membuang pandangan ke depan, menatap punggung laki-laki tersebut yang terus berjalan melewati kerumunan. Genggaman tanganku pada Eneas semakin menguat, napasku kembang-kempis setelah kami berhasil melewati kerumunan. Aku meneguk ludah dengan kembali melanjutkan langkah mengikuti pemuda itu yang terus berjalan hingga berhenti di sebuah gubuk yang sangat jauh dari pusat kota.


Aku mengajak Eneas untuk berjalan mendekati gubuk tersebut ketika laki-laki yang kami ikuti tadi masuk ke dalam, “Lux,” bisikku pelan saat kami telah berdiri menempelkan diri di dinding rumah yang terbuat dari anyaman.


“Aku mengerti,” sambung Lux berbisik diikuti sayapnya yang mengembang itu keluar dari penutup kepala jubahku.


Aku terus berdiri tanpa mengeluarkan suara, begitu pun dengan Eneas yang juga ikut berdiri di sampingku. Samar-samar, suara perempuan yang saling bercengkerama dari dalam, semakin jelas terlihat. Aku mengangkat telapak tangan menekan dadaku sendiri, semakin lama aku berdiam diri … Semakin itu juga, aku merasa ada sesuatu di sini.


Apa ini? Hatiku menolak, jika ini sebuah kebetulan. Semuanya terlalu jelas untuk dikatakan sebuah kebetulan.


Aku menarik napas dalam dengan mengembuskannya kembali, “Eneas, tunggu di sini! Jangan ke mana-mana! Jaga aku dari sini, apa kau mengerti?!” bisikku yang disambut anggukan kepala dari Eneas.


Aku mengusap wajahku yang penuh keringat itu sebelum melangkah lalu berhenti di depan pintu gubuk. Kutarik napas sedalam mungkin sambil tanganku terangkat mengetuk pintu yang ada di hadapanku. Bibirku terus mengatup, tatkala suara yang terdengar dari dalam semakin jelas.


Pintu terbuka, tubuhku mematung saat sebuah senjata bergerak lalu berhenti di samping leherku. Aku mengangkat wajah, saat dia beberapa kali berteriak, apa yang ingin aku lakukan di sini … Aku mengangkat tangan kananku, menarik turun penutup kepala yang menutupi wajah, “Amanda, ini aku, Sachi,” ungkapku, masih kutatap matanya yang membelalak, seakan tak mempercayai apa yang ia lihat.


Dia menjatuhkan pisau yang ada di tangannya, “aku tersesat, lalu tak sengaja melihatmu berjalan melewatiku di pasar. Jika kau mencari saudaraku, mereka tak ada di sini,” ungkapku ketika kepalanya itu celingak-celinguk di depanku.


“Apa yang kau lakukan di sini?”


“Lalu apa yang kau lakukan di sini? Bukankah, kakakku Haruki memerintahkanmu untuk membantunya menjaga para penduduk dulu?” Aku balas bertanya kepadanya.


“Putri, apa terjadi sesuatu?”


“Putri?”


Dia menghentikan langkah dengan genggaman tangannya padaku ikut terlepas, “di mana tepatnya kalian menginap? Aku, akan mengantarkanmu ke sana, Sachi. Tapi sebelum itu-”


“Tapi sebelum itu, aku harus merahasiakan keberadaanmu? Kenapa? Kenapa aku harus melakukannya?”


Dia membuang pandangannya ke samping, “ini bukan urusanmu.”


“Baiklah, aku hanya akan mengganti pertanyaan … Kenapa, kau memotong rambutmu lalu menyamar menjadi seorang laki-laki? Apa ini juga, bukan urusanku?”


Dia menundukkan kepalanya dengan kedua tangan terangkat mengusap rambutnya sendiri. “Apa ini berhubungan dengan peringatan hari lahir Raja?”


Dia tidak bisa menyembunyikan ekspresi di wajahnya itu dengan baik. Apa yang berkecamuk di pikiranku saat ini, benar?


“Kak Luana, apa kakak terlahir kembali di tubuh ini?”


Dia kembali membuang pandangannya ke samping, menatap kosong pepohonan yang mengelilingi kami, "seperti yang diharapkan dari gadis jenius sepertimu."


“Bagaimana keadaan kakakmu? Dan juga, Ayah berserta Ibu? Aku terlahir bukan kembali menjadi Luana, itu berarti Luana telah meninggal, bukan?”


“Apa yang kakak maksudkan?”


Dia sedikit berdiri menyamping sambil mendongakkan kepalanya, “entahlah, yang paling aku ingat hanyalah … Hari di mana, para Manticore yang kau pinta untuk menjaga kami, mati mendadak tanpa sebab. Hari di mana, Istana hancur diserbu oleh makhluk besar bukan manusia … Dan aku mati, setelah beberapa saat sebelumnya berhasil menyelamatkan kedua anak kami.”


Dia menundukkan kepala dengan kedua tangannya terangkat menutup mata. Kugigit kuat bibirku sebelum aku berjalan lalu memeluk erat tubuhnya, “aku meninggalkan kedua anak kami di sana, padahal aku sudah berjanji kepadanya untuk menjaga mereka. Ibu macam apa aku ini?” Pelukanku padanya semakin erat saat tangisannya itu semakin menjadi-jadi.


“Miyu, Hikaru … Aku bahkan tidak memiliki kesempatan bertemu dengan mereka kembali, karena aku terlahir di tubuh perempuan lain. Aku benci takdirku sendiri, aku sungguh-sungguh membencinya,” tangisnya, aku mengangkat telapak tangan menepuk pelan punggungnya saat dia juga balas memeluk erat tubuhku.


Aku turut melepaskan pelukanku saat dia telah melakukannya. Dia berjalan mundur sedikit ke belakang, “rahasiakan apa yang aku katakan sebelumnya dari siapa pun, Sachi. Kumohon, anggap saja kau tidak pernah mendengarnya,” tukasnya, dia mengusap mata sebelum melangkah maju melewatiku.


“Kak!” panggilku dengan mengejar lalu menarik tangannya.


“Setidaknya, berikan aku penjelasan kenapa aku harus melakukannya? Jika aku menceritakan hal ini kepada Kakakku, dia pasti akan mengerti!”


“Apa yang kau maksudkan dengan mengerti? Sepertinya kau tidak mengingat apa yang terjadi di masa lalu, Sachi … Walau kami menikah, hubungan kami tidak didasari cinta. Lebih tepatnya, dia tidak pernah jatuh cinta padaku,” ungkapnya yang tersenyum menatapku.


“Kami menikah, karena dia seorang Putra Mahkota yang setidaknya harus memiliki Isteri dari Kerajaan yang besar. Apa yang bisa dilakukan oleh seorang Amanda? Takdir kami berdua sekarang berubah, itu berarti … Dia akan bertemu dengan seorang perempuan yang jauh lebih baik dariku.”


“Aku berharap, dia bisa menemukan seseorang yang akan ia cintai dengan tulus. Aku selalu dan selalu, mendoa’akan kebahagiaan untuknya. Karena itu, jangan mengganggunya dengan kehidupan sebelumnya … Kakakmu, pantas untuk bahagia.”


“Ikutlah denganku! Aku akan memasakkanmu sesuatu sebelum mengantarkanmu kembali ke penginapan,” sambungnya yang lagi-lagi tersenyum sebelum berbalik lalu berjalan perlahan menjauh.