
Sebenarnya, dunia apa ini?
Kelahiranku di dunia ini saja memang tidak masuk akal, namun apa yang diceritakan mereka … Lebih tidak masuk akal lagi.
Aku mengangkat kembali kepalaku saat terdengar suara dari balik pintu, pintu itu terbuka … Diikuti Haruki dan juga Izumi yang berjalan masuk. “Kalian, mendiskusikan sesuatu tanpa mengajak kami?” ucap Izumi sambil berjalan lalu duduk di sudut kamar.
“Kami mendengar, apa yang kalian bicarakan … Ada beberapa hal yang ingin sekali aku tanyakan,” timpal Haruki yang berjalan lalu berhenti di samping Ryuzaki.
“Kau, jangan berpura-pura tertidur dengan memeluk adikku, Zeki!”
“Aku sedang tidak tertidur, aku hanya memejamkan mata. Hanya tanyakan saja apa yang ingin kau tanyakan,” timpal Zeki, aku melirik ke arahnya yang masih berbaring dengan memejamkan matanya di dekatku.
“Kenapa, kau menyembunyikan semuanya dari kami?”
“Aku tidak bermaksud menyembunyikan apa pun, lagi pun … Apa kalian akan percaya jika aku memberitahukan hal itu? Aku bisa saja dengan memberikan bukti berupa apa yang terjadi di masa lalu, namun setiap kehidupan mengalami perubahan yang tak bisa aku sangka. Bagaimana jika aku mengatakan sesuatu yang tidak kalian alami? Kepercayaan kalian menjadi taruhannya.”
“Dan lagi pun, aku selalu di Yadgar ketika kalian berpetualang. Apa yang dapat aku ketahui, bahkan Kaisar pun sulit menemukan keberadaan kalian,” jawabnya sambil membuka sedikit matanya menatap Haruki.
“Yang hanya dapat aku beritahukan hanyalah, semua kekalahan berasal dari keluarga kalian yang terlalu mempercayai sesuatu. Ryu pasti telah mengatakannya kepada kalian, bukan? Ini kesempatan terakhir, jangan berbuat kesalahan jika tidak ingin berakhir buruk seperti sebelumnya. Terutama kau, Izumi … Aku, hanya memperingatkan,” tukas Zeki, ikut kurasakan rangkulannya di pinggangku semakin menguat dibanding sebelumnya.
“Jika kalian, tidak mengindahkan apa yang aku peringatkan. Aku, akan membawanya pergi jauh lalu menyembunyikannya di suatu tempat yang tidak akan kalian ketahui. Aku, sudah tidak ingin lagi membunuh pasanganku sendiri … Jika itu tidak menyangkut soal Sachi, aku tidak akan pernah peduli,” ungkapnya sembari memejamkan kedua matanya secara perlahan.
“Haruki, apa kau pun sama seperti mereka?”
Pandangan mataku beralih kepada Izumi yang membuang tatapannya kepada Haruki, “apa kau, mencurigai aku? Apa kau berpikir aku memiliki ingatan yang sama seperti mereka?” Haruki balas bertanya sambil menunjuk ke arah dirinya sendiri.
“Jika aku memilikinya, aku telah menyelamatkannya … Apa kau lupa?” tukasnya yang mengatup bibir kami bersamaan.
“Apa kalian, bisa memberitahukan, siapa yang harus kami waspadai,” ucapku dengan melirik ke arah Ryuzaki dan juga Zeki bergantian.
“Kami tidak bisa melakukannya. Jika kami memberitahukannya, kehidupan tidak akan berjalan. Dan takutnya, apa yang terjadi justru lebih buruk dibanding apa yang kita dapatkan dulu. Biarkan waktu yang menjawab, sama seperti aku dan juga Zeki lakukan sekarang,” ungkap Ryuzaki membalas tatapan mataku.
“Sachi, menikahlah denganku! Kita bisa mampir sejenak ke Sora untuk mengadakan upacara pernikahan,” gumam Zeki, aku berbalik menatapnya yang masih memejamkan matanya.
Aku menatap Haruki, “baiklah, kita menikah,” ucapku dengan mengusap kepalanya saat Haruki membalas tatapanku dengan anggukan kepalanya.
“Kau, bersungguh-sungguh mengatakannya, bukan?” Zeki kegirangan sambil mengangkat wajahnya itu menatapku.
“Kalian boleh menikah, asal memenuhi syarat dariku … Pertama, upacara pernikahan hanya boleh dihadiri oleh keluarga. Kedua, tidak boleh tidur bersama walau sudah menikah.”
“Kau bisa melakukannya, jika Sachi tidak berniat lagi untuk berpetualang.”
“Tapi aku masih harus berpetualang untuk mengumpulkan sekutu,” timpalku ketika tatapan Zeki telah beralih kepadaku.
“Menjengkelkan sekali,” ucapnya yang kembali berbaring di dekatku, “pasangan macam apa, yang nantinya baru menikah sudah langsung ditinggal kembali,” tukasnya sambil membenamkan wajahnya ke kasur.
“Sebenarnya, apa tujuanmu menikahi adikku?!”
“Aku ingin memiliki keluarga bahagia bersamanya. Aku ingin memiliki setidaknya sepuluh anak bersamanya, bagaimana aku bisa mewujudkannya jika kenyataan yang harus aku hadapi seperti ini.”
Pandangan mataku beralih ke arah Izumi yang telah beranjak berdiri dengan menggenggam kedua tangannya, “aku, telah menahan hal ini beberapa saat yang lalu. Kemarilah Zeki! Setidaknya, hatiku bisa lapang jika membuat berdarah wajahmu itu,” ucap Izumi sambil menggerakkan kedua kakinya mendekati.
“Kenapa semuanya berusaha menahan pernikahan kami? Aku, hanya ingin memberitahukan kepada laki-laki lain, dia isteriku … Menyerahlah! Cari saja perempuan lain.”
“Jadi Sachi, kita menikah ya. Kau mau, kan?” sambungnya tanpa memperdulikan Izumi yang telah menghentikan langkah di samping Ryuzaki.
“Astaga, lihatlah kelakuannya yang menggelikan itu,” gerutu Izumi, aku melirik ke arahnya yang bersilang dada menatapi kami.
“Kau tahu jika dia berbeda dari perempuan lain, bukan?” Zeki mengangkat wajahnya menatap Haruki yang tiba-tiba bersuara, “aku tidak ingin jika nanti pernikahan kalian justru membuat apa yang akan kita lakukan terhambat. Namun, selama aku memperhatikan semua ini … Aku, tidak ingin jika kalian menyesali sesuatu karena menunda semuanya hanya untuk melawan Kaisar.”
“Kita, tidak tahu nasib kita kedepannya. Apa kita akan berakhir dengan nasib baik atau tidak, jadi … Jika memang kalian ingin menikah, aku sebagai kakak akan mendukung. Ayah dan Ibu pun, pasti akan mendukung sama sepertiku,” ucap Haruki dengan menatap ke arahku dan juga Izumi.
“Sachi,” aku melirik ke arah Zeki yang menatapku dengan tatapan penuh harap, “apa kau tidak mendengar kata-kataku sebelumnya? Ayo kita menikah, jika kau memang ingin kita menikah,” ucapku mengangkat kedua jari mengapit pipinya.
“Tapi aku tidak bisa berjanji akan menahan diri setelah kita menikah,” timpalnya, kedua matanya yang menatapku itu tak bergeming.
“Kau, menyetujui syarat dari nenekku karena ingin mencari kebahagiaan, bukan? Aku tidak mempermasalahkannya, jika kita akan menikah saat ini atau nanti. Tapi, karena suatu keadaan … Walau kita menikah, aku belum bisa berjanji untuk selalu bersamamu,” ungkapku sambil meraih lalu menggenggam tangannya.
“Aku, tidak peduli. Aku, telah menunggu untuk menikahimu sejak lama. Dengan kita menikah, semua hal menyangkut mata hijaumu itu akan sia-sia. Aku, tidak ingin terjadi sesuatu padamu lagi,” tukasnya sambil mengangkat sebelah tangannya menyelipkan sedikit rambutku di telinga.
“Di dalam kamar ini masih ada kami bertiga-”
“Berempat, Lux pun ada di samping pundakku,” ucap Ryuzaki menimpali perkataan Izumi.
“Berempat, jadi ada enam orang di dalam kamar ini. Astaga, seakan-akan dunia ini hanya milik mereka berdua saja,” sambung Izumi menggerutu dengan melirik ke arah kami.
“Jadi Zeki, bagaimana? Apa kau ingin menerima tawaran dariku, atau tidak?” ungkap Haruki, kedua lengannya bersilang di dada menatapi kami.